
"Permisi sudah buat reservasi?" tanya seorang pelayan mendatangi ketiganya.
"Ah" ketiganya saling tatap.
"Atas nama pak Burhan" ujar Keyla menjawab.
"Eh bukannya yang reservasi itu kepala sekolah?" ujar Icha menyela.
"Sama aja lah Cha" balas Keyla.
"Beda lah Key! Beda orang!" balas Icha.
"Sama aja gue bilang!" ujar Keyla.
"Maaf! Atas nama pak Burhan tidak tersedia kak!" ujar pelayan itu menyela.
"Nah kan apa gue bilang!" seru Icha.
"Kenapa?" tanya Alvin muncul di belakang mereka. Zea, Keyla, Icha dan pelayanan itu langsung menoleh tanpa menjawab. Alvin memperhatikan mereka menelisik.
"Immanuel school" ujar Alvin kepada pelayan di depannya.
Pelayan itu menunduk sopan, mengarahkan mereka. "Immanuel school, Silahkan lewat sini" ujarnya.
Ketiganya langsung menatap kearah Alvin kagum akan cepat tanggapnya Alvin.
Pelayan itu kemudian jalan didepan mereka. Mereka pun langsung mengikuti langkah pelayanan itu. Dibelakang mereka, beberapa orang mengikuti termasuk Julian, Satya, Kenan, dan Geo.
Pelayan itu mengarahkan kesebuah ruangan membukakan pintu untuk mereka. Mereka melihat kedalam, disana sudah ada beberapa orang yang datang lebih awal termasuk pak Burhan.
"Pak Burhan!" sapa Keyla dan Icha melambai menghampiri pria paruh baya itu.
"Kalau begitu saya tinggal dulu, permisi!" ujar pelayan itu.
"Terimakasih" ujar Zea tersenyum pada pelayan itu.
"Ayo!" ajak Alvin menggandeng tangan Zea masuk.
"Pak Burhan" Sapa Zea menyalimi pria didepannya ini.
"Oh Zea, Alvin, duduk dulu, duduk. Kita nunggu yang lain sebentar ya" ujar Pak Burhan mengarah keduanya.
"Iya pak, makasih" jawab Zea mengikuti arahan pak Burhan. Zea dan Alvin duduk. Disamping Zea, sudah ada Icha yang nampak antusias juga Keyla di samping gadis itu.
"Hai lagi Al" Sapa Shasya duduk disamping Alvin. Zea, Icha, dan Keyla menoleh melihat ke datangan gadis itu.
"Ngapain tuh cewek nyapa cowok lo Ze?!" ujar Icha setengah berbisik pada Zea. Zea menggeleng hanya melirik sekilas kesampingnya melihat Alvin yang nampak tak peduli pada gadis itu.
"Al aku kok dicuekin sih" ungkap Shasya cemberut.
__ADS_1
"Ekhm" suara deheman di belakang Shasya membuat mereka menoleh.
"Bisa lo pindah! Itu tempat gue" ujar Julian bersidekap mengamati gadis didepannya.
"Tapi_" ujar Shasya terhenti saat melihat Julian yang menggerakkan kepalanya mengusir gadis itu dari sana.
Dengan sangat terpaksa akhirnya Shasya bangkit, pindah dari sana. Dan tempat duduk perempuan itu kini diduduki oleh Julian yang melempar senyum pada mereka.
"Baik kan gue! Udah ngusir pengganggu itu dari lo" sombong Julian menaik turunkan aslinya. Alvin hanya bisa bersikap acuh. Sedangkan Keyla dan Icha memutar bola mata mereka malas.
"Halo semua!" ujar Vara dan kawan-kawan datang dengan sorak riang.
"Wah sumpah nih resto keren banget, oh my god!" pekik Sisi teman Vara, di samping gadis itu.
"Diem Si! Norak banget sih lo!" sahut Vara mendelik kesal pada gadis itu.
"He-he-he, gue bicara fakta Var!" bela Sisi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Ketiganya langsung berjalan ketempat duduk yang tersedia. Saat mata Vara bertemu dengan Zea, ia menatap Zea sinis membuang muka. Zea hanya bisa mengantupkan bibirnya akan perlakuan vara padanya.
"Ini udah kumpul semua kan?" tanya Pak Burhan datang sambil memperhatikan murid muridnya.
"Sudah semua kok pak!" jawab salah satu diantara mereka.
"Yaudah! Sebelum makanan diantar, bapak mau menyampaikan beberapa hal dulu dari kepala sekolah! Sebentar!" ujar pak Burhan mengambil handphonenya membaca chat yang dikirim kepala sekolah.
"Bapak mulai!" ujar pak Burhan memberi jeda.
"Dan sebagai bentuk rasa terima kasih bapak, bapak dan sekolah akan traktir kalian di restoran ini. Bapak nggak akan banyak ngetik lagi karena kalian pasti sudah menanti nanti, Dan kasihan pak Burhan jika baca kepanjangan. Maka dari itu silahkan dinikmati hidangannya dan semoga kalian suka. Terima kasih!" ucap Pak Burhan membacakan chat dari kepala sekolah.
"Sama sama pak terima kasih kembali" sahut beberapa murid.
"Ayo pak segera makan!" ujar mereka lagi.
"Tunggu masih ada tambahan. Maaf mengganggu kembali! Sebelum kalian makan jangan lupa untuk berdoa terlebih dulu. Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa dimulai!" ujar pak Burhan melanjutkan membaca chat. Semua murid terdiam membaca doa.
"Oke selesai!" ujar pak Burhan kembali menyimpan handphone. Pak Burhan kemudian melangkahkan membuka pintu ruangan itu. Para pelayan dengan makanan makanan yang menggugah selera berdatangan. Makanan itu dengan segera dihidangkan didepan mereka.
Mereka bersorak gembira dan antusia. Tanpa sungkan mereka melahap makanan didepannya.
"Sumpah ini apa njirr! Enak banget" puji salah salah satu murid mulai menyantap hidangan didepan mereka.
"Emm yummy" seru Icha dan Keyla karena memang seenak itu hidangan yang mereka makan.
"Sayang porsinya dikit!" seru salah satu murid saat makanan di piringnya sudah habis.
Setelah itu beberapa makanan lain datang. Para murid disana amat senang menikmati hidangan yang mereka makan bahkan ada yang sampai menggoyangkan badan.
Hingga tak terasa tibalah di makanan terakhir yaitu berupa dessert dengan lava coklat didalamnya. Juga ada stroberi diatasnya sebagai penghias. Matanya berkilauan melihat betapa cantiknya cake didepannya ini.
__ADS_1
Namun berbeda dengan Alvin yang nampak mengernyit melihat makanan didepannya. Alvin menggeser dessert itu ke arah Zea. Zea menoleh.
"Kenapa?" tanyanya.
"Buat kamu" jawabnya.
"Aku nggak suka yang manis manis" lanjut Alvin menjelaskan.
"Beneran?" tanya Zea melihat Alvin. Alvin mengangguk. Zea mengendikan bahu mulai membelah cake cantik miliknya. Meleleh. Cake Zea meluber diatas piring.
Vara dari jauh memperhatikan apa yang Zea lakukan. Kedua matanya menajam melihat dua piring dessert di depan Zea.
"Rakus banget sih tuh cewek!" seru Vara dengan suara keras yang dapat di dengar semuanya.
"Siapa Var?" tanya Nia disebelahnya.
"Siapa lagi kalau bukan cewek sok itu. Lihat tuh semua dapet satu dia dua sendiri!" tunjuk Vara pada Zea. Membuat yang lain menoleh kepada Zea.
Zea yang merasa ditatap menatap sekitar. Ia melihat dua piring dessert di dekatnya kemudian menoleh pada mereka lagi.
"Itu punya gue! Gue yang kasih ke Zea" ujar Alvin bersuara, sebelum Zea sempat membuka mulut. Bibir Zea kembali bungkam.
"Tapi nggak boleh gitu dong! Dia harus menghargai yang lain! Jangan mentang-mentang lo mau nyenengin cewek lo, Lo bisa berbuat kayak gitu!" seru Vara tak mau kalah.
"Itu jatah gue! Terserah gue mau kasih ke siapa! Bahkan jika gue mau nyenengin cewek gue, nggak ada urusannya sama lo! Ngerti nggak?! " seru Alvin menajam.
Vara yang ditatap tajam oleh Alvin seketika terdiam. Ia geram, Ingin dia marah marah secara beruntal tapi jika ia melakukan itu imagenya akan hancur dimata anggota geng Aodra. Lagi lagi Vara menahan diri, Padahal Anggota geng Aodra itu sendiri tak peduli dengan keberadaan Vara.
"Udah udah! Jangan ribut, lanjutkan saja makan kalian. Setelah ini kalian bebas keliling resto. Di belakang resto ada taman, kalian bisa ke sana. Tapi inget jangan ganggu pengunjung lain!" pesan pak Burhan pada mereka.
"Iya pak! Siap" jawab mereka serempak.
Zea bingung haruskan ia melanjutkan makannya dalam suasana canggung ini?
"Kenapa berhenti?" tanya Alvin menatap Zea.
"Habiskan itu! Kalau kurang bilang, nanti aku beliin" ujar Alvin pada Zea. Zea menggangguk sekilas mulai menyuap dessert kembali.
"Ssttt sssttt Ze!" panggil Keyla dan Icha membuat Zea menoleh.
"Bagi Ze, bagi!" ujar keduanya dengan suara pelan.
Zea langsung menggeser piring Alvin yang masih utus membaginya menjadi tiga. Ia ambil bagiannya dan memberikan lebihannya pada kedua sahabatnya itu. Dengan tanggap kedua sahabatnya meletakan potong cake itu ke piring masing masing. Mereka makan dengan nikmat tak tersisa sedikitpun. Bersih!
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1
Dessert lava cake yang mereka makan, ngiler ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡