
Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, Alvin akhirnya dapat melihat jalanan rata. Kini ia melajukan mobilnya ke sebuah minimarket yang sempat ia lihat saat diperjalanan.
Mobilnya terus berderu seiring bertambah kencangnya laju mobil yang ia naiki. Baru sebentar dirinya meninggalkan Zea, namun kini ia sudah merasa rindu. Setelah identitasnya ketahuan bukannya merasa terbebani kini Alvin merasa lega. Karena dirinya tak lagi berpura-pura menjadi Alvin si culun yang selalu menahan diri, kini dirinya bisa bebas menjadi Alvin Exelino Immanuel yang sesungguhnya.
Mobilnya terhenti tepat di depan minimarket. Suasana pagi hari yang dingin terasa menyentuh di tubuhnya. Alvin memasuki minimarket dengan elegan.
Pandangannya tertuju kepada karyawan minimarket yang berjenis kelamin pria, seketika Alvin menghela nafas panjang.
Dengan terpaksa Alvin mengambil keranjang dan memilih sendiri.
Alvin melangkahkan kakinya menuju bagian khusus wanita itu. Dirinya dibuat tertegun sejenak melihat deretan roti khusus wanita itu.
Tangan Alvin terulur mengambil salah satu pembalut yang ada di etalase.
"Ukuran 350 cm, dari warnanya dan gambar produknya ini buat malam!" gumam Alvin meletakan apa yang dia pegang kedalam keranjang.
Mata melihat lihat lagi dan mengambil satu produk yang mirip dengan yang ia ambil tadi.
"Ini sama tapi ukurannya beda, Zea pakai yang mana ya?" tanya Alvin bingung.
"Haishh, beli semua aja deh!" ujar Alvin frustasi mengambil semua yang ada disana masing masing 1 setiap jenis.
Keranjang belanja Alvin yang penuh, tak dapat menampung apa yang ia beli. Dengan susah payah Alvin meletakan pembalut yang ia beli ke meja kasir.
Sontak membuat penjaga kasir yang berjenis kelamin pria tersentak kaget.
"Ini semua mas?" tanya penjaga kasir memastikan.
"Iya, itu hitung dulu, saya masih cari yang lain!" perintah Alvin masih dengan wajah coolnya kepada penjaga kasir.
Alvin pergi meninggalkan meja kasir mengambil keranjang belanja yang baru. Ia mengambil berbagai camilan yang dirasa akan Zea suka.
"Cewek biasanya suka apa?" tanya Alvin kembali kepada penjaga kasir yang sibuk menscan belanjaannya.
"Kalau lagi berhalangan biasanya cewek suka coklat sama es cream mas!" jawabnya.
"Kok lo bisa tau?" tanya Alvin curiga.
"Saya punya adik perempuan, adik saya juga begitu kalau lagi musimnya!" jelasnya.
"Ohw!" seru Alvin tak lagi banyak bertanya mengambil beberapa untuk Zea.
Setelah semua barang yang Alvin beli sudah masuk ke kantong. Alvin mengeluarkan beberapa uang lembar merah memberikannya kepada penjaga kasir.
Alvin mengambil dua kantong belanjaannya yang ada di meja kasir, berlalu pergi begitu saja.
"Permisi, kembaliannya!" panggil sang penjaga kasir setengah berteriak.
"Ambil aja!" ucap Alvin menoleh sejenak kemudian pergi meninggalkan minimarket. Menaiki mobilnya menuju ke tempat dimana ia mengurung Zea.
__ADS_1
Disisi lain saat Alvin sedang dalam perjalanan pulang.
Zea yang termenung merasa tenggorokannya kering. Zea menatap kearah pintu. Walau sudah mendapat peringatan dari Alvin, Zea masih berinisiatif mencoba apakah ada cara untuk dirinya bisa melarikan diri.
Zea melangkahkan kakinya kearah pintu, membuka handel pintu. Saat dirinya ingin maju, dirinya tertahan oleh dua orang yang menjaga di pintunya.
"Maaf nona, tuan melarang anda keluar kamar, anda bisa mengatakan pada kami jika membutuhkan sesuatu?!" ucap salah satu penjaga di samping kanannya.
"Ehm gue haus!" ucap Zea menatap kedua orang itu.
"Anda bisa kembali kedalam, nanti akan saya antarkan pada anda!"
"Gue mau ambil sendiri" tolak Zea.
"Maaf nona! Tuan bisa murka jika mengetahui anda keluar kamar!"
"Iya nona, lebih baik anda kembali masuk kedalam. Nanti akan saya antarkan! Saya mohon!" ujar Kedua pria itu meminta Zea kembali ke dalam kamar.
Zea merapatkan bibirnya dan menurut melihat pintu kamar yang kembali tertutup.
Zea menatap hal itu tak habis pikir.
'Apakah sekarang pergerakannya hanya sebatas di dalam kamar saja?!' batin Zea berseru.
Dengan pasrah Zea kembali ke ranjangnya. Saat ini dirinya tak bisa berbuat apa apa, untuk bergerak saja terkadang perutnya nyeri.
...****************...
Alvin memasuki rumah dengan beberapa penjaga yang khusus ia tugaskan untuk memastikan Zea tidak kabur.
Pintu kamar yang Zea tempati terbuka. Ia masuk tanpa mempedulikan kedua penjaga yang ia tempatkan untuk Zea disana.
Kedua netranya melihat Zea yang sedang termenung bersandar dikasur.
"Maaf lama!" ujar Alvin mendekat.
Zea menatap kearah sumber suara yang ia kenali terdiam tak bersuara. Pandangan gadis itu menatap kantong belanjaan yang Alvin bawa.
"Aku gak tau kamu pakek yang mana, jadi aku beliin tiap jenis. Kamu pilih aja!" ujar Alvin menyerahkan apa yang Zea butuhkan.
Zea menerimanya tanpa mengucap apapun.
Kedua mata Alvin menatap mata Zea yang sembam, 'Apakah gadisnya itu menangis lagi?' pekik Alvin dalam batin.
"Kamu mau mandi? Kalau mau mandi, baju kamu udah aku siapin di lemari. Peralatan mandi kamu juga udah ada di kamar mandi. Kalau butuh sesuatu, panggil aja aku. Aku ada diluar" jelas Alvin mengalihkan perhatian.
"Ya, makasih!" ucap Zea.
"Aku keluar dulu!" ucap Alvin sebelum keluar dari kamar meninggalkan Zea sendirian.
__ADS_1
Zea menghela nafas berat. Dirinya mencoba menguatkan diri untuk tidak terpuruk dengan keadaan.
Agar dirinya kembali berpikir jernih lagi, pertama tama dirinya harus membersihkan diri terlebih dahulu. Menghilangkan rasa risih di bagian bawahnya yang sedari tadi ia tahan.
Zea keluar kamar mandi dengan perasaan lega. Tubuhnya kini terasa lebih segar kembali. Ia menatap ke sekeliling kamar dan pandangannya tertuju pada kasur yang sudah rapi, tidak ada bercak darah yang tertinggal disana.
Ia mulai menyelusuri sekeliling kamar dengan pakaian yang sudah lengkap karena saat Alvin pergi tadi ia langsung menuju ke lemari dan mendapati berbagai pakaian lengkap dengan dalaman yang sudah siap tersedia. Zea sempat bingung apakah Alvin sudah merencanakan kedatangannya kesini. Tapi kebingungannya kian sirna karena setelah diingat ingat, Zea pernah mendengar percakapan Alvin akan menyekapnya jika dirinya mengetahui identitasnya.
Dan kini terbukti. Ia terkurung di sini. Tanpa tahu dimana ia berada.
Zea melangkah kearah jendela yang ada dikamarnya. Ia menatap pemandangan diluar hanya ada pepohonan lebat didepannya. Melihat itu mengingatkannya saat dimana Zion mengurungnya dulu.
"Ukhh!" pekik Zea tiba tiba kepalanya berat. Ia kembali mengingat ingat kejadian lampau.
Dimana ia menggigil kedinginan di sebuah rumah kecil yang lebih seperti gubuk tapi sedikit mewah. Disana gelap tidak ada cahaya sedikitpun. Tangannya terikat membuatnya tak dapat bergerak. Semua yang ia rasakan beberapa hari itu membuatnya kacau.
Walaupun saat itu Zion menyiapkan pengurus untuknya disana, tapi pengurus itu tak menjaganya dengan baik. Dirinya hanya diberi makan satu kali setiap hari dan itupun tak layak dimakan. Pengurusnya itu menyiksanya dengan memaki maki dengan kata kata yang tak mengenakan. Bahkan perlakuan padanya terbilang kasar. Belum lagi saat Zion datang kepadanya membuat dirinya bertambah hancur.
Zea merasa tertekan bahkan setelah kejadian hari itu. Jika bang Arka tak datang saat itu juga, mungkin dirinya nyaris dapat disamakan seperti pasien sakit jiwa. Walaupun memang jiwanya sakit saat itu, namun untungnya dia tak separah itu karena kedatangan bang Arka membuat ia tersadar kembali akan harapan yang datang padanya.
Kembali ke kondisi saat ini, Zea memukul mukul dadanya yang ia rasa sesak.
Jglekk
Pintu kamar terbuka membuat seseorang dibalik pintu tersentak kaget berlari kearahnya.
"Zea, Hey hey kamu kenapa?!" tanya Alvin memegang kedua bahu Zea.
"Hah hah! Pergi! Pergi!" rintih Zea mendorong dada Alvin untuk menjauh darinya.
"Ze, coba tenangin diri kamu dulu!" pinta Alvin khawatir dengan keadaan Zea sekarang.
"Jangan! Jangan! Pergi! Pergi! Kamu pergi Zion!" teriak Zea lantang mendorong dada Alvin dengan kencang membuat Alvin terjungkal kebelakang. Laki laki itu tertegun sesaat menyadari apa yang terjadi.
Alvin kembali mendekap tubuh Zea, memegang wajah Zea agar menatap dirinya.
"Ze! Sayang! lihat, aku Alvin bukan Zion!" ucap Alvin dengan nada lembut kearah Zea.
"Euhmm Alvin?!" tanya Zea memastikan.
"Ya, Alvin. Lihat disini terang Ze, bukan gubuk tempat dimana Zion mengurung mu" tutur Alvin mengarahkan Zea melihat keadaan sekitar. Lambat laun nafas Zea kembali teratur. Alvin mendekap gadis itu kepelukannya.
"Ingat orang yang memelukmu saat ini adalah Alvin Exelino Immanuel Ze, bukan Zion. Alvin! Pria yang akan ada di sampingmu. Alvin! Pria yang menjadi masa depanmu untuk saat ini dan selamanya" lirih Alvin ditelinga Zea.
"Ingat itu Ze!" tambah Alvin semakin mendekap erat Zea. Zea memejamkan matanya mendengar suara yang menenangkannya kini. Suara pria yang terngiang dikepalanya 'Alvin'.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1