
Zea yang kini satu mobil dengan Alvin diam tak bersuara dan sesekali melirik kearah Alvin.
"Kenapa? Ada yang mau kamu omongin?" tanya Alvin masih fokus menyetir melihat jalan didepan.
"Ah! Nggak" jawab Zea.
Ia kembali merenung memainkan jarinya. Melihat bagaimana jarinya bertautan.
Alvin melirik kearah Zea, melihat bagaimana gabutnya gadis itu bermain dengan jari tangannya sendiri.
"Asik sendiri! Lagi meragain apa kamu?" tanya Alvin membuat Zea menoleh pada pria itu.
"Ng, enggak meragain apa apa kok" jawab Zea gugup.
"Bo'ong banget" sanggah Alvin.
Zea-pun terdiam sambil mengulum bibirnya. Pandangannya lurus kedepan melihat jalan.
"Nanti mau pakai baju apa?" tanya Alvin membuat Zea menoleh.
"Belum tau" jawab Zea.
"Jangan pakek baju yang terbuka, aku gak suka" ujar Alvin.
"Iya" balas Zea.
"Jangan pakek dress, rok, baju ketat, baju rendah, jeans atau pakaian lainnya yang memperlihatkan tubuhmu" tambahnya.
'Lah terus gue pakek apa dong? Masa gue pakai piama kesana?' batin Zea mengeluh.
Zea diam tak menjawab.
"Kenapa gak dijawab!" seru Alvin.
"Ah iya" balas Zea tersadar.
"Kamu denger kan apa yang aku omongin?!" tanya Alvin.
"Denger kok!" jawab Zea.
"Good" ujarnya.
Zea diam merenung sambil berpikir pakaian apa yang nanti ia pakai. Hingga tanpa sadar mobil Alvin kini berhenti di depan rumahnya
"Nggak turun?" tanya Alvin melihat Zea asik merenung.
"Apa mau ikut lagi?!" lanjutnya menggoda.
"Ah! enggak" Zea gelagapan sambil melihat sekitar. Ia lantas turun dari mobil. Alvin yang melihat Zea terburu buru, terkekeh geli.
"Makasih Al udah dianter! Aku masuk dulu ya!" pamit Zea pada pria itu.
Alvin mengangguk pelan, "Sama sama" balasnya.
Zea terdiam sejenak dengan bingung menatap Alvin. Ia berpikir sejenak lantas berbalik masuk kedalam rumah. Setelah memberi lambaian tangan pada Alvin.
Zea menutup pintu rumah. Beberapa saat kemudian Ia mendengar deru mobil Alvin yang sudah meninggalkan rumahnya. Lantas ia naik ke lantai dua, ke kamarnya berada.
Zea langsung membuka lemarinya, ia memilah milah pakaiannya. Mengeluarkan helaian helaian kain itu dan jika menurutnya tak cocok Zea akan meletakannya di atas tempat tidur.
Mata Zea mengernyitkan dan berpikir pakaian mana yang akan ia pakai. Apalagi mengingat larangan Alvin tadi.
Bukk
"Hah! Gue pusing" ujar Zea merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang kini sudah tertumpuk pakaian pakaiannya.
Ia memejamkan mata sejenak sembari berpikir. No dress, no rok, no baju ketat, no baju rendah, no jeans, no pakaian lainnya yang memperlihatkan tubuh, no no no! Ia menatap kearah langit langit kamarnya.
__ADS_1
"Akhh udahlah! Ngapain gue mikirin Alvin. Bodo amat! Orang cuma mau makan aja kok ribet!" keluh Zea sembari bangkit.
Ia mengamati tumpukan bajunya juga lemari pakaiannya. Lalu pandangannya tertuju pada sebuah dress yang menggemaskan menurut Zea.
"Pakai ini aja kali ya?" gumam Zea, menempelkan pakaian yang digantung itu di tubuhnya sambil memandang dirinya di kaca.
"Bagus kok lucu! Pakai ini aja, toh cuma makan doang!" ujar Zea menempatkan baju itu ditempat semula.
Zea kemudian masuk kedalam kamar mandi guna membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian. Zea keluar dengan mengenakan handuk ditubuhnya sedangkan kedua tangannya mengusap usap rambutnya yang basah.
"Zea, Zea!" panggil suara yang ia kenal dari balik pintu.
"Ze, Lo ada di dalem nggak! Gue masuk ya! Gue belum mandi nih" ujar suara itu dari luar.
"Masuk aja Cha!" sahut Zea.
Orang yang ada luarpun langsung masuk kedalam kamar dengan terburu buru.
"Astaga" ujarnya tersentak kaget akan tumpukan baju diatas ranjang.
"Habis ngapain lo Ze!" tukasnya.
"Habis pindahan gue" jawab Zea bergurau.
"Ck ck ck ck, yaudah deh! Gue mau ke kamar mandi dulu! Mau berendam gue" ujar Icha langsung masuk kedalam kamar mandi Zea tanpa menunggu jawaban Zea.
Ia menutup pintu kamar mandi Zea tanpa menguncinya. Suara gemericik air pun mulai terdengar dari dalam.
Sedangkan Zea mulai mengeringkan rambutnya. Setelah itu memakai pakaiannya.
...(Gambar from pinterest: Irregular Black Dress and Plaid Crop Shirt)...
"Bagus kok! Lucu" ujar Zea.
Ia melangkah kembali menuju meja riasnya hendak memakai bedak hingga handphonenya berbunyi membuat Zea menunda aktivitasnya.
Gadis itu mengambil handphone dan melihat ada sebuah panggilan video call masuk dari Alvin. Zea menekan tombol, menggesernya untuk menerima panggilan.
Saat panggilan tersambung yang pertama kali Zea lihat adalah wajah Alvin yang nampak segar tanpa kacamata bulat yang bertengger dihidungnya.
"Udah siap?" tanya Alvin.
Zea menggeleng, "Belum, baru ganti baju" ujar Zea terlampau jujur.
"Ohw! Coba, Arahin kamera kamu ke cermin! Aku mau lihat, apa kamu denger ucapanku tadi atau enggak!" ujar Alvin membuat Zea menelan ludah. Hati Zea seketika meringis akan apa yang akan Alvin katakan nanti.
"Kenapa? Kok gitu ekspresinya?" tanya pria itu melihat wajah Zea yang seakan gugup. Zea seakan lupa bahwa kini mereka sedang Vidio call.
Zea menggigit bibirnya dengan perasaan gelisah ia mengganti posisi kamera dan ia melangkah ke dekat cermin memperlihatkan dress yang kini ia pakai.
Zea memejamkan mata, menutupi wajahnya dengan handphone agar Alvin tak melihat ekspresinya. Alvin yang melihat apa yang Zea kenakan seketika mengernyit. Wajah pria itu seakan merah padam.
"Ganti" ujarnya dingin. Zea sontak membuka matanya melihat kearah layar handphonenya.
"Tapi Al!" mohon Zea memelas. Alvin tak peduli.
"Gak! Ganti sekarang juga!" tegasnya tak ingin dibantah.
Zea seketika menatap Alvin nanar, juga tumpukan baju di tempat tidurnya. Wajah Zea seketika berubah cemberut.
"Ish kamu ini mah! Aku tuh bingung pakai pakaian yang mana. Lihat nih tempat tidur ku sampai jadi kapal pecah gini. Lagian bajuku itu kebanyakan dress sama pakaian santai. Masa kamu mau aku dateng pakai pakaian santai gitu! Yang bener aja!" keluh Zea berdecak kesal memperlihatkan kondisi tempat tidurnya yang sekarang pada Alvin.
Alvin seketika diam, ia berdehem sejenak akan keluhan yang Zea lontarkan. Zea sepertinya sudah kesal dan capek karena sedari tadi tenaganya sudah terkuras karena sibuk memilih milih pakaian.
__ADS_1
"Boleh ya Al pakai ini, Please!" mohon Zea sekali lagi.
"Nggak Ze! Ganti yang lain, yang sedikit lebih panjang. Aku nggak mau, kalau kamu duduk nanti paha kamu terekspos! Dengerin apa yang aku bilang!" ujar Alvin masih kekeh, namun ia mencoba memahami Zea sekarang.
"Ish yaudah iya! Tunggu!" ujar Zea kembali memilah milah pakaiannya.
Zea mengambil satu pakaian diantara tumpukan pakaian di kasur itu.
"Yang ini!" tunjuk Zea mengarahkan kamera dikaca menunjukannya pada Alvin.
"No! Bahu kamu terekspos, aku gak suka. Pilih yang lain" tolak Alvin.
Zea meletakkan pakaian itu kembali dikasur, memilih pakaian yang lain. Kemudian ia kembali mengambil sebuah dress.
"Yang ini!" tunjuk Zea menempelkan dress dengan lengan panjang ketubuhnya pada Alvin.
"Coba pakai" tutur Alvin.
"Oke" balas Zea meletakan handphonenya, membalikkan layarnya. Zea lantas mengganti pakaiannya. Zea menata pakaiannya sedemikian rupa. Lantas mengambil handphonenya kembali.
"Gini" ujar Zea menunjuk.
Mata Alvin seketika membelak, "Nggak, big no! Lihat itu belahan dada kamu hampir terekspos. Buang itu pakaian, nanti aku ganti yang baru" ujar Alvin bernafas berat.
Zea hanya bisa cemberut akan kata kata Alvin, 'Enak aja suruh buang! Ogah! Ini kan di beliin Mama waktu pulang dari acara fashion show. Mahal pula! Lagian ini termasuk salah satu baju kesayangan gue, hish!' cetus Zea namun didalam hati.
Zea tak menghiraukan kalimat akhir Alvin, meletakan handphonenya membaliknya. Melepas pakaian yang ia pakai menggantinya dengan baju dan celana pendek. Kemudian ia kembali memilah milah pakaiannya.
Zea mengambil sehelai pakaian yang berbeda langsung memakainya. Sebelum ia mengambil handphonenya, ia sekilas menoleh kearah kamar mandi dan Icha yang kini memakai kamar mandinya masih juga belum keluar dari sana. Betah sekali rupanya gadis itu di dalam.
Zea menunjukkan pakaian yang ia kenakan pada Alvin. sambil ia sendiri memutar mutar panggulnya menilai pakaian yang kini ia kenakan.
"Gimana?" tanya Zea.
Alvin menggeleng, "enggak! Lihat itu kaki kamu " ujar Alvin. Dress yang Zea kenakan memang memiliki belahan dan tentu saja Alvin menolaknya.
Wajah Zea semakin tertekuk memilih satu pakaian lagi dan mengenakannya. Ia kembali mengambil handphonenya yang terhubung dengan Alvin.
"Ini yang terakhir ya Al! Kalau ini kamu tolak, aku gak jadi dateng aja. Capek!" keluh Zea sudah tak bernafsu. Ia lantas mengarahkan ponselnya ke cermin menunjukan pakaian yang ia kenakan pada Alvin.
...(Gambar from pinterest)...
Alvin memperhatikan pakaian yang Zea kenakan laku mengangguk anggukan kepala, "Cantik" ujar Alvin dengan senyum.
Zea pun akhirnya menghembuskan nafas lega. Kemudian ia kembali melihat Alvin dilayar handphonenya.
"Beneran, Boleh ini?" tanya Zea memastikan sekali lagi.
"Iya boleh!" jawab Alvin. Zea kembali menghela nafas dan memegang dadanya.
'Syukur deh' batinnya.
"Yaudah! Kamu siap siap aja dulu gih! Nanti aku jemput kamu satu jam lagi" tutur Alvin.
"Iya" balas Zea.
"Bye, love you" pamit Alvin. Zeapun terdiam dan Alvin juga ikut terdiam menunggu balasan Zea.
"Emm, love you too" balas Zea.
Alvin tersenyum dan mematikan panggilan Vidio diantara keduanya. Dan yang tersisa dikamar itu adalah keheningan. Zea meletakan handphonenya, kembali memperhatikan pakaian yang sedang ia kenakan. Lalu ia melanjutkan aktivitasnya kembali.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1