
"Jangan terlalu memikirkan hal yang nggak penting!" ujar Alvin melihat Zea yang merenung dari balik kaca spion saat ia mengantar Zea pulang.
"Em" Zea tak bisa berkata kata.
"Dia emang pantas mendapatkan hal itu" lanjut Alvin. Suara Alvin masih terdengar oleh Zea karena jalanan yang lenggang dan Alvin yang melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Tapi, itu keterlaluan Al!" ujar Zea seakan berbisik di telinga Alvin.
Citt
Alvin menggerem motornya dipinggiran jalan.
Alvin menoleh, "Nggak ada kata keterlaluan pada orang yang berani menyentuh milikku. Dia pantas mendapatkan itu semua" tutur Alvin menatap serius Zea.
"Lagi pula aku masih bersikap baik pada pria itu dengan tidak membuatnya cacat" lanjutnya. Zea menelan ludah kemudian menunduk.
"Iya, maaf" ujar Zea.
"Kamu harus beradaptasi dengan diriku yang sekarang" ujar Alvin seakan memberi penegasan.
"Iya" jawab Zea.
Alvin kembali melihat depan. Mulai menggas stir motor, melajukannya kembali. Zea yang ada dibonceng Alvin menatap kearah wajah Alvin dari spion yang terlihat datar dan biasa saja.
Zea ingin menghela nafas tapi ia takut Alvin akan mendengarnya kemudian tersinggung. Alvin memang terlihat biasa saja sekarang tapi tahukah sifat Alvin yang sekarang membuat Zea kini terkekang. Zea seperti akan tercekik dan tak bisa berbuat jika suatu hari ada pria lain yang mendekatinya tanpa sengaja, ia takut Alvin akan bermain main pada pria itu. Walau sekarang pun Zea tidak ada minat sedikitpun dengan laki laki lain.
"Oh ya! Besok aku ada latihan basket. Kamu mau nungguin?!" ujar Alvin.
Sebagai informasi kini Alvin ikut bergabung dengan tim basket immanuel school atas desakan para teman teman segengnya. Alvin yang terus di desak dan merasa risih akan rengekan mereka akhirnya mengiyakan. Yah walau tak sepenuhnya karena hal itu, Alvin hanya ingin bermain main saja dan menikmati masa sekolahnya dengan bergabung di tim basket. Tapi dari hasil main main Alvin itu, Zea pun juga ikut terlibat. Gadis itu harus selalu menemani Alvin jikala Alvin sedang ada latihan. Zea hanya bisa pasrah dan mengiyakan.
"Iya" jawab Zea.
Alvin tersenyum senang, salah satu tangannya terulur mengusap lembut kedua tangan Zea yang kini berpegang di pinggangnya.
Sesampainya di depan rumah Zea, Alvin ikut turun mampir masuk kedalam rumah Zea
Keduanya masuk disambut oleh mama Tia yang kebetulan sedang ada di rumah.
"Ma" keduanya menyalimi tangan Mama Tia.
"Duduk duduk, pasti capek kan" tutur mama Tia.
"Aku mau langsung ke kamar ma, mau ganti baju" ujar Zea.
Gadis itu menatap Alvin dan diangguki oleh Alvin.
"Yaudah biar mama yang nemenin Alvin ngobrol, ya kan Al?" ujar Mama Tia tersenyum kearah Alvin.
"Iya Ma" jawab Alvin.
Zea langsung melangkah menuju kamarnya. Membiarkan mamanya menemani Alvin. Tapi sesampainya dikamar, gadis itu tak lantas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri walau hanya sekedar mencuci muka. Zea memilih berbaring diranjang sambil melihat langit langit kamarnya.
Hingga tanpa sadar Zea yang tadinya menatap ke arah atap kamarnya ingin rehat sejenak kini mulai memejamkan mata. Pikiran Zea yang terlalu berat membutuhkan ketenangan dan akibatnya Zea tidur dengan nafas yang teratur.
Alvin dan Mama Tia yang sedari tadi berbincang ria sambil menunggu Zea ikut dibuat bingung ketika Zea lama dan tak kunjung kembali.
"Biar Mama panggil Zea dulu ya Al!" ujar Mama Tia hendak bangkit.
__ADS_1
"Alvin ikut ya ma" ujar Alvin ikut bangkit.
Keduanya ikut penasaran apa yang membuat Zea lama sekali didalam kamar.
tok tok tok
Tak ada sahutan dari dalam kamar Zea. Mama Tia sudah memanggil manggil nama Zea tapi juga tak ada jawaban. Mama Tia meraih hendel pintu mendorongnya sedikit dan rupanya pintu Zea tak terkunci.
Mama Tia masuk dengan pelan dan seketika matanya tertuju pada seorang gadis yang tidur terlentang dikasur.
"Astaga, Zea!" tekan mama Tia berkacak pinggang.
Alvin yang berada di belakang mama Tia ikut melihat kemudian terkekeh.
"Hahahaha, biarin deh Ma. Mungkin Zea lagi capek" ujar Alvin mengulas senyum.
Mama Tia sontak menoleh kearah Alvin, "Maaf ya Alvin, Zea emang gitu anaknya" ujar Mama Tia tak enak hati. Anak perempuannya kembali berulah.
Alvin kembali terkekeh, "Gak papa kok Ma, Alvin masih suka!" ujar Alvin.
Alvin mendekat kearah Zea.
Ia membetulkan letak tidur Zea kemudian menyelimuti gadis itu. Mama Tia kembali terpukau dengan Alvin. Wanita paruh baya itu kembali merasa yakin bahwa Alvin adalah pria yang amat sangat tepat untuk Zea. Bahkan sudah lewat 100%.
"Kalau gitu Alvin pamit pulang dulu ya ma" ujar Alvin saat mereka telah keluar dari kamar Zea.
"Udah mau pulang?" tanya Mama Tia. Alvin menggangguk.
"Alvin lagi banyak urusan soalnya" ujar Alvin.
Alvin menyalimi mama Tia kemudian keluar dari rumah ditemani mama Tia.
"Alvin pulang dulu ma" ujar Alvin diangguki oleh mama Tia.
Alvin lantas melajukan motornya menjauhi rumah Zea. Sedangkan mama Tia kembali kedalam rumah.
...****************...
Zea mengerjapkan mata sambil merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Zea menoleh kearah jam yang tertempel didinding matanya membelak.
"Serius?!" ujar Zea kaget saat jam menunjukan pukul setengah 1 dini hari.
"Kok mama nggak bangunin gue sih?!" seru Zea seraya bangkit.
Gadis itu mulai masuk kedalam kamar mandi, mencuci muka dan menggosok gigi. Melepaskan seragamnya meletakan di keranjang pakaian kotor.
"Apa sekalian gue mandi aja ya?" gumam Zea.
Zea yang merasa risih langsung menyalakan kran air membasahi dirinya dengan air hangat yang mengalir dari shower.
Zea keluar dari kamar dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
Ting
Sebuah pesan masuk berbunyi dari handphonenya. Zea memilih mengabaikan, ia akan berganti pakaian lebih dahulu.
Setelahnya Zea turun kebawah. Rumahnya sudah gelap tidak ada penerangan sedikitpun. Zea meraba raba tembok dapur mencari keberadaan saklar lampu berada.
__ADS_1
Tek
Lampu dapur berhasil menyala. Zea berjalan kearah meja makan dan tak menemukan lauk apapun disana. Kemudian Zea berjalan kearah lemari es. Zea membuka pintu itu mencari cari sesuatu.
Zea seketika tersenyum senang. Ia mengeluarkan beberapa kotak makan yang didalamnya Zea yakin adalah sisa lauk kamarin malam.
Zea mulai meletakannya dipiring kemudian memasukannya kedalam mesin pemanas mulai menghangatkan lauk pauknya.
Zea bersandar di meja dapur sembari menunggu. Beberapa saat kemudian mesin pemanas berbunyi. Zea mengeluarkan isi didalamnya.
Bau ayam goreng dan perpaduan udang saus tiram seakan menyerbak di Indra penciuman Zea. Zea lantas membuka ricecooker dan mengambil nasi dari dalam sana yang masih hangat.
Tak lupa Zea juga mengambil sendok. Zea duduk dikursi meja makan. Menuangkan air ke gelas dari teko yang diletakan di tengah tengah meja.
Zea lantas mulai menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Baru bangun Ze!" ujar Arka datang. Membuat Zea menoleh.
"Eh iya bang" balas Zea melihat kedatangan Arka.
Arka masuk kedalam dapur mengambil gelas mulai menyeduh secangkir kopi hangat.
"Banyak tugas ya bang?" tanya Zea menatap Arka yang kini duduk disebelahnya.
"Iya" jawab Arka sambil menyeruput secangkir kopi hangatnya. Zea menyuap makanannya dan Arka meminum kopinya.
"Gimana Alvin?" tanya Arka sambil memandang Zea.
"Baik" jawab Zea.
"Yakin? Gak ada masalah kan kalian?" tanya Arka lagi.
"Ng, Yakin! nggak ada masalah kok bang. Emang kenapa?" jawab Zea bertanya balik. Menoleh melihat Arka.
"Nggak papa, Abang cuma pengen tahu aja. Kalau kamu ada masalah sama Alvin, kamu bisa langsung bicara ke Abang. Abang selalu ada di pihakmu!" ujar Arka mengulas senyum.
Zea mengangguk singkat kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Iya Bang" ujar Zea.
Keduanya kemudian saling diam tak berbicara. Zea merenung sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Jangan terlalu dipikirkan, itu kalau semisal aja. Lagian Abang percaya kok sama Alvin!" ujar Arka bangkit, sambil mengacak acak rambut Zea.
"Abang!" ujar Zea mendengus kesal dengan makanan dimulutnya.
Arka tertawa, "Udah nggak usah marah. Buruan habiskan makanmu, terus balik tidur lagi sana. Masih jam segini juga" ujar Arka. Laki laki itu kemudian mulai meninggalkan Zea yang sudah memasuki suapan terakhir.
Zea buru buru menelan makanan didalam mulutnya kemudian minum di gelas yang ia siapkan. Zea bangkit sambil cemberut, membawa gelas dan piring kotor meletakannya di wastafel dapur. Gadis itu mulai membersihkan piring dan gelasnya kemudian mengelapnya dan menatap di rak.
Zea berjalan menuju saklar lampu mematikan lampu dapur dan ruangan makan. Kemudian balik menuju kamarnya.
Zea duduk di atas kasur menyandarkan kepalanya disandar kasur. Membiarkan makanan yang sebelumnya ia masukan tercerna terlebih dahulu.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1