
"Bajingan sialan!" umpat Vini mengepalkan tangan saat ruangan itu menjadi gelap.
"Kata katamu sungguh kasar! Ibuku bilang itu adalah kata kata yang tidak baik untuk diucapkan oleh anak kecil seperti kita" tutur Joe menasehati.
Vini menoleh mendekat kearah Joe yang terbaring di lantai, "Kau punya ibu?" tanyanya penasaran dengan wajah polos. Ia melihat Joe yang berganti posisi menjadi berbaring, nampak mengistirahatkan tubuhnya yang selesai diobati.
"Tentu saja aku punya!" jawab Joe menyahut.
"Lalu, dimana dia?" tanya Vini.
"Aku tidak tahu" jawabnya. Vini mengernyitkan dahi lalu membuang nafas kasar.
"Kau sungguh bodoh! Ini tak tahu! Itu tak tahu cik!" kesal Vini melipat kedua tangannya di dada.
Joe hanya bisa tersenyum tipis karena mengira Vini memujinya.
"Terima kasih" ucap Joe.
Vini kembali melirik, "Untuk apa? Aneh!" tanyanya.
"He-he-he Karena kau memujiku" jawabnya tersenyum manis dalam kegelapan.
"Ha? Siapa yang memujimu?" tanya Vini heran dan bingung.
"Kau" jawabnya cepat.
"Dimana aku menyebutkan kata kata bahwa aku memujimu?" tanya Vini berpikir keras.
"Kau menyebutku bodoh! kata ibuku itu berarti pujian yang menyatakan aku hebat, makanya aku berterima kasih" jawabnya sembari berseru.
Vini hanya bisa menatap aneh pada Joe. Sebagai anak yang peka, Vini tau kalau ibu Joe mengelabui Joe dengan kebohongan.
"Kau juga menyebutku bodoh saat aku memperfokasi penjaga? Apa ucapanmu itu bermaksud sebuah pujian?" tanya Alvin kembali mengingat saat Joe menyebutnya bodoh. Ia mencoba memahami lawan bicaranya.
"Tentu! Aku memujimu karena kau hebat berani memperfokasi penjaga, sama seperti ibuku. Padahal aku saja tak berani!" ujar Joe
Vini diam dan mencoba mencerna ungkapan Joe.
"Dasar bodoh!" ungkap Vini. Joe tersenyum.
"Bodoh! Kau bodoh karena percaya dengan ucapan ibumu! Ibumu juga bodoh!" tutur Alvin geram dan marah.
"Apa maksudmu? Kenapa kau marah?" tanya Joe.
"Biar ku beri tahu! Bodoh itu kata hinaan bukan pujian. Ibumu itu berbohong padamu!" tutur Vini menjelaskan.
"Hei! Kau ini masih anak kecil. Ibuku jauh lebih tau dari pada kau, tak mungkin ibuku berbohong. Kau mungkin yang salah!" ujar Joe tak terima jika ibunya disebut pembohong.
"Terserah jika kau tak percaya, yang penting aku sudah memberi tahumu jika ibumu berbohong. Lagian mulai sekarang jangan menyebut ku bodoh, karena itu terasa menghinaku" tutur Vini acuh. Ia tak peduli dengan tanggapan lebih lanjut Joe, yang penting ia sudah mengatakan yang sebenarnya pada Joe.
Keduanya saling diam dalam gelapnya ruangan.
...****************...
Hingga hari berlalu dan pagi hari sekali, sang penjaga yang tak Vini tau siapa namanya datang dengan membawa nampan makanan.
prangg
"Nih makananmu!" ujar sang penjaga meletakan nampan yang ia bawa dengan kasar di lantai, disamping Vini.
Vini menatap kearah nampan yang berantakan. Bisa ia lihat makanan didalamnya seperti makanan sisa. Jelas hal itu membuat Vini enggan menyentuhnya.
__ADS_1
"Bawa kembali! Aku tak memakan, makanan menjijikkan seperti itu!" ujar Vini sinis.
"Hei bocah!" tegur sang penjaga.
"Aku punya nama, jangan memanggilku bocah!" seru Vini tak terima. Ia tak suka perasaan diremehkan oleh orang lain. Ia masih kesal karena sepanjang malam, ia mendengar ocehan Joe yang terus membela ibunya.
Penjaga itu seketika menyeringai.
"Ohw kau tak suka ku panggil bocah" ujar sang penjaga.
"Kalau begitu haruskah ku panggil Vini" lanjutnya menampilkan senyum seringai dibibirnya.
Vini mengernyit melihat ada yang aneh dengan penjaga itu. Ia bersikap waspada.
"Jangan memanggilku seperti itu! Hanya mommy ku yang boleh memanggil ku seperti itu!" tutur Vini tak terima.
"Ha? Benarkah? Vini oh Vini!" ujar sang penjaga berjongkok tepat di depan Vini. Kedua mata sang penjaga menatap tajam menyalang kepada Vini.
Tak ingin terlihat lemah, Vini balik menatap tegas menunjukkan ketegasan dan keangkuhannya. Melihat tatapan mata Vini, penjaga itu menjadi geram.
"Aku tak suka matamu itu! Mata yang sama yang dimiliki keturunan keluarga Immanuel! Angkuh, dingin, dan tak berperasaan, selalu merasa bahwa kalian hebat. Kami semua muak dengan kalian!" tutur sang penjaga merasa kesal.
Mendengar hal itu Vini mengernyitkan dan semakin heran dengan kata kami? Itu artinya yang terlibat bukan hanya karena kemauan satu orang yaitu sang bos, tapi banyak orang. Vini jadi semakin bertanya tanya.
"Kau kesal dengan keluarga ku?" tanya Vini berusaha bersikap polos dan mengendorkan keangkuhannya.
"Bukan hanya kesal bocah! Aku sangat membenci keluargamu terutama ayahmu" jawab sang penjaga.
Joe yang sedikit jauh dari Vini masih bisa mendengarkan apa yang keduanya perbincangkan.
"Kenapa?"
"Kenapa kau membenci keluargaku?" tanya Vini.
"CK!" Vini berdecak lalu membuang muka, " Kalau tidak mau bicara ya sudah! Aku juga tak butuh!" ujar Vini telak, tak sesuai harapannya.
Melihat sikap acuh Vini yang seperti mencerminkan keluarga Immanuel yang ia kenal, penjaga itu kembali geram. Padahal ia sudah memendamnya dari lama, tapi keturunan Immanuel itu malah acuh.
"Baiklah! Akan ku beri tahu kenapa aku dan semua orang yang ada di Mension ini membenci keluargamu" tutur penjaga itu.
Vini menyeringai, sikap acuhnya berhasil membuat penjaga itu membuka mulut.
"Aku tak butuh yang lain! Ceritakan saja tentang dirimu" tutur Vini, ia tak ingin sang penjaga curiga bahwa ia sedang menggali informasi.
"Baiklah! Seperti yang kau lihat! Gara gara daddymu itu, hidup ku jadi menderita! Diriku harus terjerat oleh bos sialan yang memerintahkan untuk menculikmu itu sepanjang hidupku! Kau dengar? Sepanjang hidupku! Dan tak hanya aku saja , Mereka semua yang ada di tempat ini juga sama. Mereka semua adalah korban keangkuhan Daddy bajingan sialanmu itu" ujarnya bercerita sembari menggertak gigi.
'Padahal aku tak bertanya tentang yang lain, tapi yasudah lah' batin Vini cuek.
"Ji-, Jika saja daddymu itu tak membuang ku dan mau memaafkan ku, aku tak akan tinggal di ruangan gelap ini selama bertahun tahun. Kau tau seberapa menyiksanya hidup ku terus berada disini selama bertahun-tahun!" lanjutnya lagi.
Vini yang mendengar itu membungkam mulutnya.
'Jadi dia orang buangan daddy' batin Vini berseru.
"Pftt!" Vini membungkam mulut dan menahan tawa.
"Kau tertawa?" tanya penjaga itu melihat. Ia geram sembari melotot.
"Hahahaha, kau sangat lucu!" ujar Vini. Tawanya meledak.
Mendengar ia ditertawakan penjaga itu mengepal kedua tangannya.
__ADS_1
"Ku kira alasan apa! Ternyata itu karena kau serangga bodoh yang telah dibuang oleh daddyku!" hina Vini menyeringai.
"Immanuel bajingan!" umpat Penjaga itu.
Bughh
Tangannya menghantam wajah Vini, membuat Vini memegang kepalanya karena berdenyut dan pusing akan hantaman sang penjaga. Tapi ia tak takut.
"Bajingan sialan! Bajingan sialan! Bajingan sialan!" umpat sang penjaga menginjak injak tubuh Vini. Vini menerimanya begitu saja. Membuat makanan yang berada di dekat Vini ikut berceceran akan aksi sang penjaga.
Sang penjaga menatap kearah makanan yang berceceran di lantai. Dengan ide jahat ia mengambil makanan yang ada dilantai, menggenggam dengan tangannya.
"Makan ini! Seorang immanuel pasti akan kehilangan harga dirinya ketika memakan makanan yang berceceran dilantai seperti ini kan?" ujarnya, menarik rambut Vini memaksa pria kecil itu membuka mulut.
"Kau harus merasakan apa yang pernah kurasakan!" gumamnya memaksa.
Joe yang juga ada disana seketika panik. Ia gemetaran ketakutan. Rasanya ingin ia membantu Vini, tapi ia tak bisa. Ia tak memiliki secercah kekuatan untuk melawan.
Sedangkan Vini yang dipaksa tak tinggal diam. Ia mencari cara untuk bisa lepas, tapi sayang tenaganya tak sekuat orang dewasa. Ia yang berusaha menahan dengan merapatkan bibirnya, menahan agar makana di genggam tangan pria itu tak masuk ke mulutnya.
"Makan bajingan kecil!" teriak penjaga itu masih memaksa.
Semakin lama Vini semakin kesusahan untuk bertahan. Mata Vini mengedar ke sekeliling mencari sesuatu untuk bisa membantunya, hingga ia melihat nampan yang tergeletak dilantai. Vini berusaha meraih di sela sela perjuangannya menolak dengan jari jemari kecilnya. Hingga,...
Pakkk!!
Nampan itu berhasil ia raih dan memukul telak di wajah penjaga itu. Membuat pegangan pada rambut Vini lepas. Tak menyia-nyiakan kesempatan membalas, Vini balik memukul wajah penjaga dengan nampan membuatnya meringis kesakitan.
"Setan kecil!" umpat Penjaga murka ketika Vini melakukan hal yang pria itu tak berhasil ia lakukan padanya, yaitu memasukan makanan yang sudah kotor ke mulut sang penjaga.
Brakk
Sang penjaga mendorong tubuh kecil Vini hingga terjungkal kebelakang.
"Hoekk hoekk!" sang penjaga memuntahkan makanan yang masuk kedalam mulutnya.
Vini dengan wajah yang penuh lebam, memasang kuda kuda jika penjaga kembali melawan dengan nafas ngos ngosan. Ia puas karena berhasil memasukan makanan kotor kemulut penjaga itu.
Hingga Mata Vini memincing, melirik kearah Joe yang bersembunyi di pojokan ruangan, " Kau dengar dan lihat tadi? Aku mengatainya bodoh dan ia marah! Itu tandanya aku benar, alright?!" cetus Vini menujukan bukti pada Joe.
Joe dalam kegelapan mengangguk pelan, ia percaya pada Vini.
Penjaga bangkit dengan wajah yang juga membiru seperti milik Vini. Vini kembali waspada dengan tubuh yang lemas.
"Kau! Kau selalu mencari masalah denganku! Berani beraninya kau! Akan ku habisi kau!" ujar sang penjaga dengan kedua mata yang memerah karena merasakan murka.
Penjaga itu berjalan mendekat dengan langkah cepat kearah Vini. Vini lantas mundur, karena ia yakin ia tak akan bisa melawan dengan kondisi tubuhnya yang sudah lemas.
Hap!
"Vini cepat panggil penjaga lain atau kita akan mati disini!" ujar Joe panik membantu Vini menahan penjaga itu.
"Dasar bocah sialan! Berani sekali kau ikut campur!" penjaga itu semakin murka berusaha menyingkirkan Joe yang memeluk kakinya era.
Melihat itu Vini langsung cepat tanggap. Ia berlari dan menggedor-gedor pintu agar seseorang dari luar dapat mendengarnya.
"Hahaha! Percuma saja bocah! Ruangan ini kedap suara! Orang diluar tak akan bisa mendengar suara kita dari dalam" ujar sang penjaga datang.
Vini lantas menoleh kebelakang. Ia melihat Joe yang terkapar dengan shock. Tubuhnya menegang.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ