
Geo mendekat pada Zea, lalu melihat apakah ada perubahan pada diri Zea. Tapi pria itu tak menemukan apapun kecuali fakta bahwa kulit Zea sedikit menggelap dari pada dulu.
"Lama tak bertemu Geo" sapa Zea pada pria itu.
Geo membalas Zea dengan senyuman.
"Ayo, bicara sambil jalan. Aku temani, lagian bukannya kau kesini untuk mencari udara segar" tawar Geo mempersilahkan.
Zea mengangguk dan kemudian mereka berdua berjalan bersama di sepanjang pantai.
"Lo_!" keduanya berbincang secara bersamaan membuat perkataan mereka terputus.
"Lo duluan!" ujar Geo mempersilahkan.
Zea berdehem karena canggung, "Gue udah denger dari Abang gue, dia bilang lo banyak membantu dalam usaha kepergian gue" ujar Zea menyampaikan pikirannya.
"Terimakasih" lanjut Zea dengan tulus.
Keduanya terus berjalan di sepanjang pantai sambil menikmati semilir angin yang menerpa wajah mereka.
Geo sepertinya merenung dengan dalam sampai akhirnya ia membuka mulut.
"Sama sama. Walau dibilang membantu pun sepertinya juga tak banyak membantu. Buktinya kau sampai ditemukan dalam waktu sesingkat ini" ujar Joe.
"Jika saja kau pergi ke luar negeri, mungkin saja kau bisa menghindar dari Alvin sampai Alvin melupakan keberadaan mu. Kalaupun tidak bisa, paling nggak kau bisa hidup tanpa Alvin selama beberapa tahun kedepan. Selama Alvin belum mendapat sepenuhnya kekuasaannya, kau masih bisa bebas. Tapi sayang sekali akhirnya malah menjadi seperti ini!!" tutur Geo menyayangkan.
Zea mencerna perkataan Geo. Ia tahu betul apa yang Geo katakan.
"Aku tahu! Tapi bukannya ujung ujungnya sama saja? Jika aku pergi ke luar negeri seperti yang kau katakan, mungkin setiap hari aku akan dalam kondisi gelisah dan waspada jika suatu hari akan ada yang datang padaku. Aku tak ingin menunggu dalam kegelisahan seperti itu terlalu lama, jadi aku memilih hal yang mudah saja. Pergi tak terlalu jauh, pergi ketempat tenang, tanpa ada ricuh disekitar" ujar Zea mencurahkan diri.
"Jadi kau sudah memantapkan diri untuk bersamanya?" tanya Geo pada Zea mengambil kesimpulan.
"Tak ada cara lagi! Lagipula dulu aku juga yang pertama kali tertarik padanya. Walau aku sempat dalam kondisi shock karena terus menerus dibohongi dan selalu terancam, jadi yah!! Aku kabur" ujar Zea kembali memikirkan masa lalu.
Setelah melihat lebih jauh, Zea memikirkan dari sudut pandang Alvin. Berpenampilan sebagai nerd waktu pertama kali masuk juga kebebasan untuk Alvin. Alvin juga sepertinya tidak ada niat untuk membohonginya. Ia sendiri yang takut ketika melihat Alvin dalam kondisi bruntal.
Setelah bercakap cakap dengan Geo cukup lama. Zea semakin mengerti tentang Alvin. Geo juga menceritakan bagaimana asal mula Alvin bisa berpenampilan nerd dan faktanya membuat Zea tertawa.
"Hahahaha jadi gara gara itu Alvin muncul ke sekolah dengan penampilan seperti itu!" seru Zea tertawa.
"Habis itu kekalahan pertama untuk Alvin dan Julian juga sepertinya sudah memikirkan dengan matang" ujar Geo meneruskan.
Keduanya benar benar hanyut dalam pembicaraan hingga tanpa sadar waktu berlalu dengan cepat dan dari sisi kanan mereka, matahari tampak mulai tenggelam.
Zea yang tersadar seketika melihat ke pergelangan tangannya yang menempel jam.
__ADS_1
"Gawat! Gue lupa waktu" seru Zea menengok kanan kiri.
Ini sudah 2 jam semenjak dirinya pergi. Zea meraba ke sakunya hendak menelpon, namun ia tak menemukan handphonenya. Ia lupa bahwa ia meninggalkan handphonenya ditas yang Ayu bawa.
"Kenapa?" tanya Geo.
"Handphone gue ketinggalan, gue takut temen temen gue nyariin!" jawab Zea.
"Oh! Kalau gitu ayo gue temenin balik kesana. Gue juga gak bawa hp buat ngehubungi" ucap Geo.
"Oke" Zea menerimanya.
Lalu keduanya berjalan kembali ke tempat semula.
...****************...
Zea dan Geo berjalan dengan langkah cepat. Mereka menyusuri arah dimana mereka berjalan tadi hingga mereka bisa melihat Keyla, Icha, Ayu, dan beberapa teman Geo yang seperti sedang bingung.
"Key!!" panggil Zea melambaikan tangan membuat mereka menoleh.
"Zea!!" pekik Keyla melihat keberadaan Zea. Para gadis itu langsung berlari menghampiri Zea dengan wajah cemas.
"Maaf!! Gue tau gue salah" seru Zea angkat bicara dengan rasa menyesal.
"Lo habis dari mana sih Ze?! Kita dari tadi nyariin loh. Takut lo kenapa-napa" ujar Icha bertanya.
Zea diam saja, ia mendengarkan mencerna setiap ucapan yang para sahabatnya itu katakan karena peduli padanya.
Setelah mereka selesai berceloteh baru Zea angkat bicara.
"Maaf, gue gak sengaja. Gue tadi lupa waktu. Gue baru sadar kalau udah lama pergi. Sekali lagi gue minta maaf guys!!" pinta Zea.
Para gadis itu bersitatap.
"Okelah!! Yang penting lo udah balik dan lo gak papa. Itu cukup" tambah Keyla menengahi.
"Thanks" balas Zea.
"Oh ya!! Gue mau hubungi Alvin bentar. Dia tadi ikut nyariin dan khawatir karena tau lo hilang" ujar Satya lalu mengambil handphone dari saku dan menghubungi nomor Alvin.
"Halo Al!" sapa Satya saat panggilan terhubung.
"Zea udah ketemu" panggil Satya menginfokan.
"..."
__ADS_1
"Oke, oke" balas Satya lagi.
"Alvin mau kesini" tutur Satya. Kemudian diantara para laki laki itu, Zea dapat merasakan keadaan yang tidak mengenakan. Sepertinya ada yang berubah dari persahabatan mereka yang sudah lama terjalin.
Apa karna dirinya? Zea tak sepercaya diri itu untuk membuat sebuah persahabatan yang erat terjalin menjadi putus.
Mereka duduk di tepi pantai sambil menunggu kedatangan Alvin.
Hingga tak lama Alvin datang. Raut wajah pria itu tak kalah cemas dengan kawan kawan Zea. Kemudian dibelakang pria itu muncul Joe yang mengikuti.
Dan seketika Zea dapat merasakan perubahan atmosfer termasuk pada Julian yang biasanya selalu tertawa.
"Saya akan pergi tuan!" ujar Joe lalu berbalik meninggalkan mereka.
Alvin mengangguk singkat, lalu mendekat kearah teman temannya. Terutama kearah Zea.
"Dari mana saja?" tanya Alvin dengan raut wajah biasa namun terkesan galak.
"Dia habis sama gue" ujar Geo menjawab.
Alvin melirik kearah Geo seperti meminta penjelasan kenapa Zea bersama pria itu. Tapi Alvin mencoba abai. Alvin mengulurkan tangannya pada Zea.
"Ayo!" ajak Alvin.
Zea yang sedang santai duduk, melihat kearah pria itu.
"Kemana?" tanya Zea menerima uluran tangan Alvin.
Alvin membantu Zea dengan pelan untuk bangkit.
"Gue pergi dulu!" tutur Alvin lalu menggenggam tangan Zea untuk pergi.
"Zea handphone!" teriak Ayu mengingat bahwa Zea kembali meninggalkan hpnya padanya. Ayu bangkit lalu berlari, memberikan Zea handphonenya.
"Makasih!" ujar Zea.
Lalu gadis itu kembali digenggam oleh Alvin, mengikuti langkah Alvin yang membawanya pergi entah kemana.
Alvin membawanya berjalan. Ia tak kembali ke hotel, bahkan Zea tak tahu kawasan ini karena sepertinya berlawanan dengan arah hotelnya berada.
"Kita mau kemana?" tanya Zea penasaran.
"Kamu lihat aja! Pasti kamu suka" ujar Alvin menjawab. Dan mendengar nada suara Alvin sepertinya pria itu tak lagi marah. Zea menantikan apa yang ingin Alvin tunjukkan padanya.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ