
Sudah beberapa hari Alvin masih belum juga kembali dari luar negeri. Zea masih beraktivitas seperti biasa disekolah. Tapi beberapa hari sebelumnya, tanpa kehadiran Alvin, membuat hidup Zea seperti ada yang kurang.
Bahkan kini Alvin jarang menghubungi, hanya sesekali saja ia mengirim pesan begitu pula sebaliknya. Zea masih saja tidak bisa melupakan tentang sosok cewek yang ia dengar dari balik telpon waktu itu.
"Kenapa Ze? Masam banget" ujar Keyla menoleh kearah Zea yang terlihat kurang bersemangat beberapa hari ini. Padahal awal awal ditinggal oleh Alvin, gadis itu tampak begitu ceria bahkan teramat ceria.
"Gue gak papa! Cuma lagi suntuk aja" jawab Zea.
"Lo suntuk?" tanya Icha. Zea mengangguk namun enggan menoleh.
"Sama gue juga" ujar Icha ikut mendaratkan tangan dan wajahnya di meja Zea.
Zea dan Icha sama sama merenung.
"Yaelah kok pada lesu gitu sih. Nanti pulang sekolah kita ke mall gimana? Biar kalian nggak boring!" tanya Keyla meminta pendapat.
"Bosen Key ke mall mulu, isinya cuma pakaian sama makanan, kalau nggak nonton film ya shopping. Itu itu mulu, kayak gak ada yang lain!" seru Zea sambil cemberut.
"Betul" sahut Icha menyetujui.
"Ya terus gimana dong? Kan gue juga bingung" ujar Keyla.
Ketiganya sama sama diam karena mereka juga sama, sama sama suntuk.
"Aha! Gimana kalau kita camping aja?" tanya Icha memberi saran bangkit dengan penuh semangat.
"Ck ngaco lu Cha! Bahaya tau, apalagi kita cewek cewek. Nggak nggak nggak, saran di tolak" seru Zea dengan tegas.
Icha cemberut kembali duduk, "Ya terus gimana dong?" Icha menggusap tenguknya ikut frustasi.
"Hah!" ketiganya sama sama menghela nafas tak menemukan jalan tengah.
"Guys guru seni gak masuk kelas. Sebagai tugasnya kita disuruh ke ruang seni. Lukis patung yang sudah di taruh di tengah, lebih jelasnya kalian lihat aja sendiri ke ruang seni. Jam seni habis, tugasnya pun harus langsung di kumpulan, tanpa ada perpanjangan waktu. Itu katanya" ujar Niko menginformasikan apa yang di sampaikan murid kelas lain yang juga memiliki jadwal pelajaran seni yang sama.
"Yah! Kirain jamkos" ujar salah satu murid.
__ADS_1
"Hooh kalau jamkos mah enak, gue bisa langsung pulang aja karena jam pelajaran terakhir, eh ekspektasi tak sesuai harapan, Karena nyatanya malah dikasih tugas" ujar sedih murid yang lain.
"Udah guys, ayo semangat. Kalau selesai, kalian bisa langsung pulang lo!" ujar Niko memberi tahukan membuat beberapa murid yang tadinya asik tertunduk hingga tenggelam di meja harus bangkit menuju ruangan seni, termasuk Zea, Keyla, dan Icha. Mereka berjalan dengan terpaksa membawa tas masing-masing.
Langkah kaki mereka sampai di depan pintu ruangan seni. Mereka melihat dari balik jendela, beberapa patung yang ditempatkan ditengah dengan beberapa penyangga kayu yang masing masing sudah ada kertas gambar yang disediakan.
"Kalian bagi sendiri ya guys, jadi beberapa kelompok. Terserah mau pilih patung yang mana. Asal jangan rebutan" ujar Niko sekali lagi mengkoordinir.
"Iya Nik siap!" ujar Dimas mendahului masuk.
Mereka mulai masuk satu persatu duduk mengelilingi patung.
"Gue disini" ujar Shasya dengan terburu buru mengambil tempat yang mau Zea duduki sambil menatap Zea sinis.
Zea hanya bisa berdecak kesal kemudian pindah tempat duduk, mengalah pada Shasya. Zea mengambil tempat tepat berdampingan dengan tempat Shasya. Mereka menggunakan patung yang sama sebagai objek lukisan. Disisinya juga ada Keyla kemudian dilanjut dengan Icha, Niko serta 3 orang lainnya yang sama sama mengelilingi patung berbentuk kepala manusia itu.
Mereka mulai menggoreskan pensil mulai membuat sketsa dari patung yang berada didepan mereka. Hingga beberapa menit berlalu.
srett
Keyla dan Icha yang berada di dekat Zea menatap Shasya tajam. Keduanya bangkit.
"Lo pasti sengaja kan Sya?" sentak Keyla tak terima dengan apa yang dilakukan Shasya karena terkesan kekanak-kanakan.
"Gue nggak sengaja! Kan gue udah bilang sorry tadi" ujar Shasya membela diri masih dengan kepura-puraanya.
"Kenapa Key?" tanya Niko datang menghampiri karena ada ribut ribut dari teman sekelasnya itu.
"Nih Nik! Si resek! Dia pasti sengaja nyenggol bahu Zea buat gambar dia kecoret" ujar Keyla tak terima.
"Udah Key! Gue nggak papa, masih bisa di perbaiki kok" ujar Zea menahan Keyla yang emosinya menggebu agar tak timbul masalah.
"Nggak bisa gitu Ze, dia itu emang suka bikin masalah sejak dulu" sahut Icha ikut marah.
"Hey kalian berdua! Temen lo aja bilang nggak papa. Kok lo yang sewot!" seru Shasya kepada Keyla dan Icha.
__ADS_1
"Hey Shasya! Gue nahan mereka berdua agar nggak timbul masalah ya. Jangan suka ngompor ngomporin deh lo! Gue tau, lo sengaja kan nyenggol gue, lo pikir gue gak tau akal bulus lo dari tadi. Lo lakuin itu sengaja kan? Lo iri sama gue karena punya lo nggak sebagus punya gue! Ngaku deh lo!" sentak Zea membuat Shasya kalah telak karena apa yang dikatakan Zea itu fakta karena sedari tadi ia merasa geram karena punya Zea melebihi miliknya. Apalagi melihat betapa gesitnya Zea menggores pensil di kertas.
"Lo!" gumam Shasya mengepalkan tangan tak terima. Ia maju hendak menjambak Zea
"Udah Sha! Udah! Lo kekanak-kanakan banget sih. Lebih baik sekarang lo kembali ke tempat lo dan selesaiin pekerjaan lo! Jangan sampai keributan yang lo buat ini ganggu aktivitas yang lain" ujar Niko melerai.
Shasya menghentak hentakan kakinya kesal. Walau Niko itu tipe cowok yang terkenal ramah dan muda bergaul terutama pada perempuan. Tapi di sisi lain Niko itu cowok yang tegas. Selama Niko bersekolah, ia selalu dipilih menjadi ketua kelas bahkan ketua osis.
Oh ya! Sekedar informasi, kini Niko telah resmi menjabat menjadi ketua osis yang baru menggantikan Rey ketua osis yang lama.
Rey sang mantan ketua osis kini jauh dari kenyamanan yang dulu ia dapat. Walaupun kini sudah tidak ada yang menyiksa fisiknya, tapi kini Rey sudah terkenal pendiam karena sudah tidak ada lagi yang mau berteman dengannya. Apalagi setelah mereka mengetahui lengser Rey itu karena mengganggu ketua geng Aodra. Menyedihkan sudah nasib Rey!
"Kalian juga lebih baik kembali. Ze Lo kembali ketempat lo, kalian juga. Buruan, waktunya nipis" ujar Niko lagi juga pada Keyla dan Icah.
"Iya pak ketua osis, siap" ujar ketiganya mencebik kesal namun tetap mahmse3
Mereka kembali ketempat masing masing. Hingga bel berbunyi dan semuanya selesai dengan aman dan damai. Untung saja Shasya tidak kembali berulah.
Zea, Keyla, dan Icha sudah sampai ke parkiran hendak pulang ke rumah masing masing. Ingin mereka main, tapi rasanya bosan. Hingga mereka hanya ingin rebahan sejenak di kamar masing masing menghilangkan letih.
Zea yang telah sampai dirumah melihat abangnya kini sedang berbondong bondong, keluar masuk kamarnya yang ada disebelahnya dengan barang barang yang membuat Zea mengernyit.
"Abang lagi ngapain?" tanya Zea di depan pintu, tubuhnya condong masuk, melihat kearah Arka yang memasukan panci kedalam tas besar yang biasanya dipakai untuk mendaki gunung.
"Lagi kemas kemas" jawab Arka dengan paksa memasukan barang barangnya kedalam tas.
"Abang mau kemana?" tanya Zea lagi penasaran pada Arka.
"Gunung! Abang mau mendaki sama teman teman Abang" Zea yang mendengar hal itu sontak berbinar antusias.
"Mau ikut!" ujar Zea langsung menghampiri kearah Arka.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1