
"Dadah kak, kapan kapan mampir lagi ya!" seru mereka melambaikan tangan kearah Zea, saat mobil yang dinaiki Zea mulai meninggalkan bangunan itu.
Zea sedikit tidak rela berpisah dengan mereka hanya menatap sendu dan membalas lambaian tangan mereka. Setelah asik bermain dengan anak anak yang berada di yayasan, ia juga sudah bertemu dengan Wily dan ketiga anak itu menceritakan tentang kehidupannya disana membuat Zea bahagia karena mereka hidup dengan baik. Tak perlu bersusah susah mengemis maupun berjualan seperti dulu.
"Makasih udah bawa aku kesini!" ujar Zea melihat kearah Alvin dengan senyuman.
"Sama sama" balasnya menggenggam tangan Zea.
Zea menikmati perjalanan ditemani dengan iringan lagu. Bahkan bibirnya bergerak mengikuti lagu yang terputar.
Suara merdu Zea membuat Alvin semakin terpukau oleh gadis itu. Apalagi melihat Zea yang menghayati lagu yang ia nyanyikan dan melampiaskan begitu saja membuat ia tertawa kecil.
Sampai Zea terdiam karena suaranya yang sudah habis dan memilih bersandar melihat jalanan didepannya. Dengan Alvin yang menggenggam tangannya.
Mereka sampai didepan rumah Zea.
"Makasih untuk hari ini!" ucap Zea tulus pada Alvin.
"Cuma makasih doang?!" ujarnya dengan smirk.
Zea memutar bola matanya, "terus kamu mau apa?" tanya Zea ketus.
Alvin menampilkan senyum menggoda, Zea peka akan apa yang dimaui Alvin tapi ia pura pura tak dapat memahami.
"Ayolah Ze!" pinta Alvin memajukan wajahnya menahan tangan Zea agar gadis itu tak kabur.
"Dipipi ya?" Alvin mengangguk menyetujui.
Zea memajukan wajahnya kearah pipi Alvin.
Cup
Bibirnya mendarat dipipi Alvin. Alvin mengulum senyum. Tak masalah hanya kecupan singkat, suatu hari dia akan meminta ciuman yang lebih mendalam.
Zea menjauhkan wajahnya dari Alvin. Melihat kearah rumahnya.
"Mau mampir?" tanya Zea. Alvin menggeleng.
"Besok aja! Sampaikan salam ku ke Mama, papa, sama bang Arka" Zea mengangguk.
"Kalau gitu aku masuk dulu ya!" pamit Zea.
Zea keluar dari mobil lalu berdiri disamping mobil Alvin. Melambaikan tangan dan dibalas oleh pria itu. Kemudian ia masuk kedalam rumah dengan buru buru. Dari luar terdengar deru mobil Alvin yang mulai meninggalkan rumahnya.
Zea bersandar dibalik pintu
Deg deg
Zea mendekap tangannya ke dada. Merasakan jantungnya yang berdebar kencang. Padahal ia sudah pernah berciuman lebih dari itu dengan Alvin, tapi masih saja ia gugup.
__ADS_1
"Neng udah pulang?" tanya Bi Jum menyambut Ze.
"Eh udah mbok, mama mana mbok?!" tanya Zea karena saat dia pulang sang Mama yang biasa menyambutnya.
"Oh mama neng Zea tadi pesen kalau sedang ada urusan, ada yang minta desainin gaun gitu katanya!" jawab Mbok Jum. Zea mengangguk mengerti.
"Yaudah kalau gitu Zea keatas dulu ya mbok"
"Silahkan neng!"
Zea naik menuju lantai 2. Ia masuk kedalam kamar merebahkan tubuhnya dikasur dan memejamkan mata. Rasa lelah dan letih selama perjalanan mengkikis tenaganya.
Dilanda rasa kantuk membuat Zea berkelana kealam mimpi dengan nyenyak.
"Ze, Zea" panggil seseorang. Zea merasa mengenali suara yang memanggilnya. Suaranya seperti seseorang yang selalu membangunkannya dipagi hari. Wanita itu menggoyang goyangkan tubuhnya membuat ia merintih.
"Ehm!"
Zea bangun dari tidurnya, memposisikan dirinya duduk diatas kasur. Ia mengerjapkan matanya berkali kali menyesuaikan indra penglihatannya dengan lampu kamar.
Zea mendongak dan menengok kearah seseorang yang memanggilnya.
"Kenapa Ma?" tanya Zea dengan suara serak.
"Bentar lagi makan malam, kamu buruan mandi sana!" titah Mama Tia.
Mama Tia yang tak kunjung melihat Zea turun kebawah. Membuatnya naik keatas kembali untuk mengecek kondisi putri tercintanya itu. Ia membuka pintu kamar dan membelak melihat sang putri yang kembali tidur dengan nyenyak dikasur.
"Astaga Zea! Ini kenapa malah molor lagi! Bangun bangun!" pekik Mama Tia menepuk nepuk tubuh Zea, membuat Zea meringis dan mengerjapkan matanya kembali. Zea bangun dibantu Mama Tia yang menarik tangannya membuat ia duduk.
"Siapa coba yang mau nikahin anak mama kalau begini modelannya?!" tanya Mama Tia berkacak pinggang memperhatikan perilaku Zea.
Zea mendongak menatap Mama Tia, "Siapa coba yang mau nikah? Zea masih kecil ma, belum mau nikah" jawab Zea beranjak dari kasur. Zea berjalan seperti orang mabuk dengan langkah kaki sempoyongan kearah kamar mandi. Mama Tia menggeleng gelengkan kepalanya, harus extra sabar menghadapi Zea jika sudah berhubungan dengan kasur.
Kemudian suara gemericik air terdengar dari kamar mandi. Mama Tia yang merasa Zea sudah terkondisi dengan baik turun kebawah.
Dengan handuk yang melilit ditubuhnya Zea berjalan kearah lemari pakaian memilih baju yang akan dia kenakan. Karena Zea bukan orang ribet dalam berpakaian Zea menggunakan pakaian santai ala rumahan.
Zea mengoleskan pelembab dan bedak diwajahnya kemudian ia membuka pintu kamarnya, turun kebawah menggunakan tangga kearah ruang makan didekat dapur.
"Nah si bocil baru datang! Dari mana aja?" tanya Bang Arka melihat kehadiran Zea.
"Habis ngebo dia" jawab Mama Tia melirik sekilas, sambil menyajikan hidangan dia meja.
"Kebiasaan!" papar Bang Arka terkekeh. Zea yang baru datang hanya mengerucut bibir mendengar ejekan yang terlontar untuknya.
"Udah udah, lihat tuh bibir anak papa. Udah kayak bebek!" tegur Papa Hendra membuat semua yang ada dimeja makan kecuali Zea tertawa.
Zea semakin manyun melihat papanya ikut mengejek.
__ADS_1
"Ish papa ini! Kasihan anak mama. Orang cantik gini dikatain mirip bebek" bela Mama Tia merangkul Zea menuntunnya ke kursi disampingnya.
"Tauk nih papa, walaupun anak papa modelannya kayak gini. Terbukti dia ada yang mau!" Bang Arka ikut membela.
"Lah kok ini jadi papa yang disalahin?" heran Papa Hendra. Mama Tia mengedipkan mata untuk menerimanya. Papa Hendra mengantupkan bibir tak bisa berkata kata.
"Iya ini salah papa, yaudah yuk makan, papa udah laper!" ajak Papa Hendra.
Keluarga yang selalu harmonis itu makan dengan lahap, menikmati masakan sang mama yang dibantu oleh mbok Jum.
Selesai makan mereka menghabiskan waktu berkumpul diruang keluarga sambil menonton tv. Zea tidur dipangkuan sang papa yang mengusap rambutnya.
"Alvin gimana?" tanya sang Papa pada Zea.
"Baik" jawab Zea menikmati usapan lembut sang papa dirambutnya.
"Zea! Kamu ini putri papa tersayang!" ujar Papa Hendra.
"Yaiyalah pa, kan putri papa cuma satu" tukas Bang Arka menyahut. Mama Tia menepuk pundak bang Arka yang duduk dibawah, menyuruh laki laki itu diam.
Papa Hendra hanya tersenyum menanggapi ucapan bang Arka dan kembali fokus ke Zea.
"Papa cuma mau memberi nasehat. Jika Zea merasa Alvin adalah pria yang tepat untuk Zea, papa ijinkan dan papa tidak melarang hubungan kalian. Tapi kamu harus tahu satu hal. Jika suatu hari pria itu menyakitimu atau melakukan hal hal yang diluar batas, tinggalkan dia. Bilang ke papa, bakal papa bantu. Sejujurnya papa sangat sayang sama kamu, papa tidak ingin putri kesayangannya papa ini kenapa napa" Mata Zea mengkilap dirinya berusaha menahan air mata yang tidak jatuh.
"Hari itu papa sangat ingat bagaimana kamu menderita, papa merasa gagal menjadi orang tua" Zea menggeleng dengan air mata berlinang.
"Papa gak gagal, itu salah Zea"
"Nggak itu salah papa, papa yang gagal menjaga kamu" Zea bangun dari pangkuan papa Hendra, menggengam tangannya. Ia menggeleng menolak bahwa papa Hendra lalai menjaganya.
"Tidak! Papa tidak gagal, Papa adalah papa terbaik yang Zea miliki. Jadi jangan salahkan diri papa atas kejadian itu. Sekarang dia sudah tidak ada, dia sudah tak pernah muncul lagi. Zea pun juga tidak kenapa-napa, jadi Zea mohon agar papa tidak menyalahkan diri papa. Zea sayang papa!" ujar Zea. Ia menghambur memeluk sang Papa.
Papa Hendra balik memeluk Zea.
"Papa gak akan biarkan Zea, putri kesayangannya papa ini menderita lagi. Jadi jika Zea ada masalah Zea harus beritahu papa. Papa akan melakukan segala hal untuk melindungi Zea" ucap Papa Hendra lirih ditelinga putrinya. Zea mendesir mendengar perkataan papa Hendra.
Papa Hendra melepaskan pelukannya pada Zea, menangkup wajah sang putri, mengusap kedua mata Zea yang berlinang air mata.
"I love you my little princess" ujar Papa Hendra
"I love you too Pa!" balas Zea dengan senyuman.
Kedua pasang ayah dan anak itu kembali saling berpelukan menikmati moments kebersamaan. Papa Hendra mengecup kening Zea lama.
Mama Tia yang melihat moment itu juga tak kuat menahan air mata yang berlinang, sejujurnya Mama Tia juga merasa bersalah karena tidak dapat melindungi Zea dengan baik. Keduanya sempat takut bahwa Zea trauma terhadap laki laki, namun kini semua baik baik saja. Zea bahkan sudah dekat dengan pria yang mereka tahu adalah anak yang baik, sopan dan pria yang tidak tergabung dalam grup grup yang dapat membahayakan kembali putri mereka.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1