
Alvin melangkahkan kakinya menuju ruangan pribadinya. Ruangan di paling pojok ditempat itu. Dibelakangnya Satya, Julian, Geo dan Kenan juga mengikuti langkah Alvin.
Alvin membuka pintu ruangan itu sebagian lalu menoleh kearah kawan kawannya itu. Dahinya mengernyit.
"Mau apa kalian?" tanya Alvin dengan wajah datarnya.
"Eh, mau ikut!" jawab Julian gugup.
"Nggak! Jangan ada yang masuk atau ngintip. Lo ikut gue!" ujar Alvin menujuk Satya.
Alvin masuk kedalam diikuti Satya yang juga masuk.
"Tutup!" perintah Alvin pada Satya.
Dibalik pintu Geo dan Kenan menempelkan telinganya kepintu.
"Ge, Ken, ngapain? Alvin kan ngelarang kita!" seloroh Julian.
"Alvin ngelarang kita buat gak masuk dan ngintip, tapi gak ngelarang kita buat nguping!" balas Kenan.
"Oh bener juga, gue ikut. Geser geser!" ujar Julian menyenggol tubuh Geo dan Kenan menempatkan dirinya di tengah.
"Ish" desis keduanya akan kelakukan Julian.
"Stt!" Julian menempelkan jari telunjuknya dibibir menyuruh Geo dan Kenan agar tetap tenang.
Mereka melanjutkan aksinya menempelkan telinga ke pintu. Berharap pembicaraan Alvin dan Satya terdengar ditelinga mereka.
Sedangkan didalam ruangan itu Alvin duduk di single sofa. Ia menatap tajam kearah Satya yang kini berdiri. Mana berani ia duduk jika sedang berhadapan dengan Alvin yang kini menatapnya tajam apalagi raut wajah pria itu yang terlihat sedang tida bersahabat.
Satya hanya bisa diam sampai Alvin berbicara.
"Lo tau kan gue bukan orang yang suka ikut campur masalah orang lain, jika itu tak melibatkan diri gue sendiri!" ujar Alvin.
"Ya, gue tau" jawab Satya.
"Lo tau kenapa gue manggil lo kesini?!" tanya Alvin berbasi basi.
Satya menggeleng, "Gue gak tau" jawabnya.
Alvin tersenyum sinis, "Gue kasih lo waktu 3 menit buat lo berpikir, kenapa gue panggil lo kesini. Kalau lo gagal, lo bakal kena murka gue! Gue gak main main!" ujar Alvin dengan kalimat tajam diakhir.
Satya menegak ludahnya mendengar penuturan Alvin.
"Waktu dimulai sekarang!" ujar Alvin melihat kearah jam dipergelangan tangannya.
Satya lantas memutar otak berpikir dimana letak kesalahannya.
"Apa ini ada hubungannya dengan anak buah gue?" tanya Satya sembari berfikir.
"No!" jawab Alvin.
"Apa ini tentang mobil lo yang gue modifikasi bareng Julian?"
"No!"
"Apa ini tentang gue sama Julian yang berisik nganterin hadiah taruhan lo kerumah?"
"No!" Alvin menjawab membuat Satya gelisah.
'Njir, apa sih salah gue!' umpat Satya dalam hati.
"Satu menit berlalu" ujar Alvin membuat Satya membelak dan memutar otaknya keras.
"Apa ini karena gue datang ke apartemen lo tadi?" tanya Satya kembali.
"..." Alvin tak menjawab menatap Satya dengan pandangan menelisik. Satya bernafas berat karena ia merasa Alvin tak puas.
"Apa ini tentang pekerjaan gue?" Satya masih bertanya dengan kemungkinan kemungkinan yang ada.
__ADS_1
"Bukan!" jawaban Alvin masih sama.
'terus apaan njir! Gue ngerasa gak buat salah apa pun' ujar Satya kembali dalam hati.
"Waktu lo kurang 45 detik lagi" ujar Alvin kembali membuat Julian tersentak kaget.
'Apa ya? Apa ya? Masa tentang Icha yang marah sama gue tadi sih? Alvin kan bukan orang yang suka ikut campur! Sh¡t gue bingung!' seru Satya dalam hati.
"20 detik lagi" Alvin kembali memperingati.
'Ah apaan njirrr!' Satya mengacak acak rambutnya sembari berpikir.
"15 detik lagi!" ujar Alvin.
'Bodo amat, gue nyerah. Kalaupun salah dan Alvin ngamuk tinggal gue terima aja!'
"10 detik lagi!" Alvin kembali bersuara.
'Gue akan jawab asal tentang Icha aja. Kalaupun gue mati, tinggal dikubur aja, so easy!' seru Satya dalam batin.
"Ini tentang Icha?" Satya berujar sambil memejamkan mata siap menerima murka Alvin.
"Tepat waktu!" ujar Alvin dengan smirk dibibirnya.
Satya membuka matanya perlahan melihat Alvin yang duduk dimeja dengan senyum yang dirasa manis tapi mengerikan bagi Satya.
'Jadi bener tentang Icha?!' Satya mengeryit. Ia mengira hal ini ada hubungannya dengan Alvin ternyata tidak. Ia salah memahami ucapan Alvin diawal.
Alvin bangkit dari duduknya berjalan menuju kearah Satya. Langkah kakinya terhenti disamping Satya, mencengkeram bahu Satya erat membuat Satya menggertak gigi menahan sakit.
"Lo! Selesaikan masalah tuh cewek yang dirundung gara gara lo"
Deg.. Jantung Satya seakan berhenti berdetak detik itu juga. Matanya membelak seakan akan keluar dari sana. Nafasnya tercekat. Ia shock.
"Apa?" tanyanya tak percaya melihat kearah Alvin.
Satya meringis tertahan akan rasa sakit yang kini ia terima.
"Gue gak akan ngehajar lo untuk kali ini karena tebakan lo benar! Tapi gak dengan lain kali saat lo melakukan kesalahan. Lo tau seberapa sensitifnya gue kan?!" Alvin berujar dengan penuh penekanan.
"Ya!" jawabannya.
"Bereskan masalah lo itu dengan baik!" ujar Alvin kembali.
"Akan gue lakukan!" Satya menjawab sembari menunduk. Ia tak percaya kenyataan yang ada. Kenyataan yang membuatnya dan Icha menjauh.
"Good" ujar Alvin melepaskan cengkeramannya dibahu Satya. Alvin berjalan kearah pintu membuka pintu itu.
brak
Geo, Kenan, dan Julian tersungkur saat pintu dibuka. Alvin menatap datar ketiga pria itu. Dengan buru buru mereka bangkit dan merapikan pakaiannya.
"Al!" sapa mereka.
"Kunci" ujar Alvin tak memperdulikan apa yang mereka lakukan.
"Kunci apa?" tanya Geo memastikan.
"Motor lo!" jawab Alvin.
Geo mengambil kunci motornya disakunya yang nampak penuh. Ia memberikannya pada Alvin.
"Nih!" Geo memberikan dan Alvin menerimanya.
"Lo pakai mobil gue, gue pakai motor lo!"
"Oh oke" balas Geo.
Alvin meninggalkan mereka yang berdiri tegak disamping pintu. Begitu juga dengan Satya yang masih tak dapat menerima keterkejutan yang ia dapat dari Alvin. Satya masih termenung diruangan itu.
__ADS_1
Alvin pergi menjauhi mereka
Geo, Kenan, dan Julian saling tatap melihat Satya yang termenung didalam.
"Sat!" panggil Julian dari luar membuat Satya tersentak dan tersadar segera keluar dari ruangan itu dengan langkah pelan seakan dirinya kini linglung.
Tangan Satya terulur menutup pintu ruangan Alvin.
"Lo kenapa?" tanya Kenan penasaran melihat raut wajah Satya yang tak seperti biasa.
"Lo ada masalah apa sih sama Alvin Sat?" tanya Julian.
"Gue gak papa" jawab Satya tersenyum getir.
"Yang bener lu?!" seru Geo memegang bahu Satya.
"Aww" pekik Satya merasakan perih dibahunya. Buru buru Geo menyipak baju Satya.
"Njirr" pekik Julian melihat bahu Satya yang membiru. Begitupula dengan Kenan dan Geo yang membelakkan mata.
"Sh*it! Lo harus kasih tau kita apa masalah lo sampai buat Alvin ngelakuin ini sama lo Sat!" tutur Geo.
"Sumpah gue gak papa beneran!" kekeh Satya.
Pakk
"Aww, Jul!" teriak Satya memelototi Julian saat pria itu memukul bahunya.
"Lo tadi bilang gak papa kan!" Julian menatap Satya bengis.
"Ya gak gitu juga! Sakit bego!" keluh Satya meniup niup bahunya.
"Tau sakit kan? Bilangnya gak papa! Lagian lo anak geng luka gitu aja njerit! Cemen lu!" ujar Julian membuat Satya mendengus.
"Coba lo buat Alvin marah! Lo bakal ngerasain apa yang gue rasain sekarang!" ujar Satya merasa geram.
"Nah kan! Lo ada masalah sama Alvin. Ngaku kan lo?!" Julian berseru.
"Udah! Gak usah berisik. Ayo kedepan! Kompres dulu, bahu lo! Setelah itu lo cerita ama gue, lo buat masalah apa sama Alvin!" ujar Geo melerai.
"Cih!" Satya berdecih namun menurut.
Mereka pergi keluar dari lorong itu menuju tempat biasanya mereka berkumpul.
"Gue ambilin kompres sama obatnya dulu" ucap Kenan pergi ketempat biasanya obat obatan tersedia di basecamp itu.
"Buru!" ujar Julian pada Kenan.
"Hm!" balas Kenan.
Mereka sampai diruangan mereka biasanya berkumpul. Mereka duduk disofa yang ada disana. Kenan yang sudah mengambil tas kesehatan itu meletakannya dimeja membuka isi didalamnya.
"Lepasin baju lo, biar gue obati!" titah Geo.
Satya menurut karena ia memang memerlukannya sekarang. Apalagi bahu sampai tangannya sekarang terasa ngilu akibat pukulan tambahan dari Julian. Walau sebelumnya pun bahunya sudah nyeri karena Alvin.
"Lo cerita sambil gue obati!" tutur Geo.
"Buru Sat!"
Satya menghela nafas berat. Mau tidak mau Satya menceritakan apa yang terjadi padanya. Ia memberitahukan bahwa masalah ini dimulai karena Icha dan hal ini justru melibatkan Zea. Dan saat itu Alvin marah padanya karena Zea ikut terlibat.
Satya memijat kepalanya yang mulai berdenyut. Ia merasa bersalah akan apa yang dialami Icha sampai kini karenya.
Membayangkan apa yang telah terjadi pada Icha karena dirinya selama ini membuat Satya geram. Ia tak akan memaafkan orang yang telah menyakiti teman masa kecilnya itu. Ia tak akan tinggal diam. Ia akan membalas. Belum tau mereka bagaimana bengisnya Satya di geng Aodra!!
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1