
Bel pulang sekolah berbunyi. Zea dan Alvin keluar dari kelas bersama dengan Keyla dan juga Icha.
Disepanjang perjalanan menuju tempat parkir yang awalnya bercanda tiba tiba Icha menyela.
"Oh ya, gue mau ngingetin. Besok jangan ada yang keluar rumah, apa lagi malem malem" pesan Icha.
"Emang kenapa Cha?" tanya Keyla dan Zea penasaran.
"Gue dapat info dari anak mami, besok malam itu acara tahunan antar geng, yang jelas jalanan di kota ini bakal bahaya. Pokoknya hati hati aja!" jawab Icha memberi peringatan.
"Emang segitu bahayanya ya?" tanya Zea penasaran.
"Ish lo mah kudet Ze" sebal Icha membuat Zea bungkam.
"Jelas bahaya Ze bahkan gue pernah denger ada yang sampe koma. Ish udah pokoknya nurut aja deh! Bingung juga gue jelasinnya" ujar Icha. Zea mengangguk anggukan kepalanya.
"oke" ucapnya.
Tidak keluar semalaman bukan masalah buatnya. Itu adalah hal yang mudah. Ngapain juga keluar malem malem, mending rebahan dirumah sambil ditemani selimut nyaman miliknya.
Mereka kini sudah sampai diparkiran yang lumayan ramai karena banyak murid murid yang juga ingin pulang.
"Gue sama Alvin balik dulu ya Key Cha!" pamit Zea melambaikan tangan ke sahabatnya.
"Hati hati Ze"
"Alvin jagain sahabat gue" ujar keduanya. Alvin diam tak menjawab.
Alvin yang sedari tadi berwajah datar mulai menaiki motornya diikuti Zea yang juga menaiki motor Alvin. Sebelum Alvin melajukan kendaraannya menuju rumah Zea. Gadis itu meminta ia berbicara ditaman dekat rumahnya, karena itu tujuannya sedari awal meminta dijemput Alvin. Zea tak ingin menunda misinya lebih lama lagi.
__ADS_1
Motor butut Alvin terparkir di pinggiran taman. Keduanya menelusuri taman mencari tempat yang tepat untuk berbincang. Beberapa pengunjung tampak menikmati suasana taman yang menenangkan. Zea mencari cari posisi yang pas untuk berbincang serius dengan Alvin. Kemudian sampailah mereka dibangku taman yang sedikit sepi akan pengunjung, hanya ada beberapa orang saja yang berlalu lalang.
Saat keduanya duduk, keduanya diam membisu tak ada yang angkat suara. Sesekali Zea melirik kearah Alvin. Saat pandangan keduanya bertemu jantung Zea rasanya berdetak kencang, dirinya gugup apakah Alvin akan menerima keputusannya ini atau tidak dan takut Alvin akan melakukan hal hal nekat pada dirinya. Tapi untuk hal itu Zea sudah menguatkan mental, bahwa misinya untuk lepas dari Alvin hari ini tak boleh gagal.
Zea angkat suara setelah beberapa menit terjabak dalam keheningan.
"Alvin!" panggil Zea dengan pandangan melihat kedepan. Ia tak berani menatap Alvin langsung karena dirinya takut jika melihat Alvin maka dirinya akan terbuai akan wajah nerd itu. Apalagi Alvin yang terkadang menunjuk raut wajah dan sikap dominan membuatnya tak bisa membantah pria itu.
"Kenapa?" tanyanya menjawab panggilan Zea.
Zea memejamkan mata, dadanya terus berdetak kencang. Kemudian gadis itu berdiri, Alvin yang melihat Zea berdiri ikut berdiri.
'Oke Zea, lo bisa!' batin Zea menyemangati dirinya sendiri. Sembari mengingat ingat nasehat dari sang papa.
Raut wajah manis Zea yang biasanya menampilkan senyum mengembang kini sudah tidak ada. Apalagi Zea yang semula gugup kini kian sirna.
Zea yang melihat kearah taman berbalik memandang Alvin. Keduanya saling berhadapan.
"Alvin, kita baru berpacaran selama beberapa minggu" Zea menjeda ucapannya.
"Awalnya gue bener bener ngerasa kalau gue baik baik aja nerima cinta lo" ujarnya lagi. Alvin mengernyitkan karena Zea mulai merubah cara berbicaranya.
"Gue ngerasa gue bisa ngejalanin hubungan yang baru dengan lo. Awalnya gue rasa semuanya bakal baik baik aja, tapi semenjak kita pacaran" nafas Zea memberat, dia menggeleng dengan air mata yang menggenang, ia berusaha menahannya "Gue bener bener sudah berusaha"ujarnya lagi. Alvin diam mendengarkan, berusaha mencerna apa yang akan Zea katakan.
"Dan sekarang gue gak sanggup lagi. Semakin gue pertahanin, semakin sakit yang gue rasain. Alvin kita putus aja!" akhirnya Zea mengungkapkan keinginannya.
Tubuh Alvin menegang, terkejut mendengar penuturan Zea. Sampai dia tak bisa mengungkapkan kata-kata. Dirinya terus berpikir 'Apa yang salah dengan gadisnya itu, kenapa ini semua bisa tiba-tiba terjadi' Alvin terus berpikir dimana letak kesalahannya. Sampai suara Zea membuat fokusnya kembali pada gadis itu.
"Mulai sekarang hubungan kita berakhir. Terima kasih atas apa yang lo lakukan selama ini. Gue pergi dulu!"
__ADS_1
Zea membalikkan badannya meninggalkan Alvin. Zea tersenyum getir, dadanya sesak. Ia tak bisa menahan perasaan yang mendalam dihatinya. Bahkan kini dia berharap Alvin mencegahnya, namun itu semua tak terjadi. Zea sama sekali tak mendengar suara Alvin memanggilnya.
Zea terus melangkah kakinya keluar area taman. Ia terus berjalan menelusuri jalan untuk pulang. Sampai rintikan hujan jatuh kebumi.
Zea mendongakkan wajahnya, membiarkan air hujan membasahi. Apakah tuhan mengirim hujan ini untuk menjadi penguat baginya? Kalau itu benar dia merasa bersyukur. Dengan air hujan yang turun membuat Zea tak bisa lagi menahan air matanya. Ia terisak meratapi nasibnya ini. Dia masih berharap dan berandai andai bahwa Alvin bukannya pemimpin geng Aodra, melainkan Alvin murid baru yang memang seorang nerd dengan penampilan culun dan cupunya itu. Tapi itu semua tak mungkin, karena fakta sudah ia dapatkan.
Disisi lain dia sedih, tapi di sisi lain dia senang. Dia bisa lepas dari Alvin. Itu bagus dia bisa lepas dari pria itu tanpa masalah apapun. Tak perlu ada yang ditangasi. Zea mengusap kedua matanya, menghapus air mata yang bercampur dengan air hujan.
'Gak, gue gak boleh sedih. Gue harus bahagia karena dengan ini gue bisa aman! Gue gak mau Mama, Papa, dan Bang Arka menjadi khawatir karena masalah gue lagi' batin Zea berujar.
Dengan hati yang sudah tenang, Zea terus melangkah kakinya menuju rumah tak memperdulikan tubuhnya yang basah akan air hujan. Dia berharap air hujan yang menerpa tubuhnya menjadi penyemangat untuk dirinya melangkah.
...****************...
Zea sampai dirumah dan dengan keadaan basah kuyup jelas membuat Mama Tia khawatir.
"Kok kamu bisa kehujanan Ze? Mana Alvin bukannya kamu tadi pagi berangkat bareng dia?" tanya Mama Tia sambil memperhatikan apakah Alvin berada dibelakang gadis itu
Zea tersenyum, mencoba memperlihatkan wajah baik baik saja, "Zea tadi pulang sendiri Ma, Alvin ada urusan. Zea yang emang pengen hujan hujanan kok!" jawab Zea dengan kekehan.
Mama Tia mendesis, "Ish kamu ini udah besar masih aja suka main hujan hujanan. Udah sana naik, jangan sampe kamu sakit karena masuk angin" omel Mama Tia mendorong sedikit tubuh Zea. Membuat Zea tersenyum, lalu naik keatas.
Sampai dikamar Zea menghela nafas lega. Ia merasa semua beban pikirannya telah sirna. Rasa sedih akan putus dari Alvin itu ada karena ia tidak dapat berbohong bahwa ia menyukai pria itu. Namun kini rasa senangnya lebih mendominasi karena setelah tahu siapa Alvin sebenarnya. Ia dapat lepas dari pria itu dengan mudah.
Zea masuk kedalam kamar mandi. Ia merendam tubuhnya di bathtub. Kini yang menjadi pr untuknya adalah bagaimana cara menghilangkan rasa dihatinya yang sudah tertulis nama Alvin disana. Zea akan berusaha melupakan mantan pacarnya itu. Dan memulai hari yang baru.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1
Happy Reading ♡