
Sebuah perusahaan game yang berdiri tegak mendadak dibuat tegang oleh kedatangan pria yang kini sedang menahan emosinya. Para karyawan yang berada disana tak ada seorang pun yang berani menyapa. Mereka membungkukan badan kepadanya. Memberikan segala rasa hormat kepada pria itu.
Ketenangan sebelum badai datang. Itulah yang cocok dengan situasi mereka saat ini. Alvin memasuki lift pribadi yang disiapkan khusus untuknya. Setelah pintu lift tertutup mereka seperti mendapatkan udara segar dan menghembuskan nafas mencairkan suasana dingin yang terlintas.
Dengan pakaian casual sederhana namun harga yang fantastis membuat aura dominasi dari Alvin tak dapat hilang begitu saja. Walaupun banyak yang menghela nafas setelah melihat Alvin masuk kedalam lift tapi mereka tau bahwa kelegaan yang mereka dapat hanya bersifat sementara.
Pintu lift terbuka. Alvin disambut oleh Jovan dan Geo yang sudah menunggu dirinya disana. Geo yang bahkan belum sempat menganti seragamnya menatap kearah pria yang terlihat berbeda hari ini.
Alvin yang selalu tenang jika ada masalah diperusahaan memaparkan raut muka dengan emosi yang tertahan. Mata pria itu tajam,rahangnya mengeras, bibirnya yang tertutup rapat itu juga membuat semua orang disekitarnya bungkam.
Tanpa basa basi mereka memasuki sebuah ruangan yang didalamnya terdapat berbagai teknologi yang menjalankan perusahaan. Sebuah layar monitor yang luas langsung terpampang didepan pria itu dimana segala aktivitas berjalan perusahaan terlihat jelas dimatanya.
Para pekerja yang tak pernah berhenti bekerja sebelum waktunya dibuat berdiri dan diam melihat kedatangan Alvin. Aktivitas yang biasa mereka lakukan tertunda oleh masalah yang terjadi.
Alvin duduk disofa dengan angkuh. Matanya menelisik disekitar ruangan. Semua orang tak ada yang berani angkat suara. Matanya masih tertuju oleh deretan angka yang teracak tak beraturan.
Suara ketukan pintu terdengar, namun tak ada yang berani menoleh. Jovan selaku penanggung jawab perusahaan berinisiatif membukakan pintu.
Kedua penjaga keamanan masuk dengan membawa seorang pria dengan muka babak belur yang menyebabkan situasi sekarang ini terjadi. Pria itu dibuat berlulut didepan pria yang masih bungkam itu.
"Tuan mohon ampuni keluarga saya" mohon pria itu bertekuk lutut.
Pria itu tahu bahwa dirinya tak akan bisa lolos dalam masalah ini. Alvin dimata mereka adalah sosok yang keji, Arogan, dan perfeksionis. Dia tak menginginkan ada satupun kesalahan, bahkan sekecil apapun.
"Geo" panggil Alvin membuka suara.
"Ya Al?" Geo mendongak.
"Panggil Joe dan berikan pria ini kepadanya.Dia harus membayar kerugian yang dia perbuat"
"Baik" Geo hendak meninggalkan ruangan untuk menghubungi Joe seperti yang diperintahkan. Tapi suara tegas Alvin menahan langkahnya.
"Bilang padanya jangan ampuni siapapun yang berhubungan dengan sampah itu" tekan Alvin, orang yang ada disana menenggak ludahnya kasar. Perkataan Alvin membuat orang yang berlutut itu berteriak meronta.
"Tuan mohon ampuni keluarga saya! Saya memiliki anak perempuan kecil yang tidak bersalah tuan, mohon belas kasihan anda" Mohon pria itu dengan suara keras mencoba berdiri menghampiri Alvin namun ditahan oleh dua penjaga keamanan.
"Bawa kotoran menjijikan ini pergi!" perintah Alvin menatap jijik dan hina kepada pria itu. Pria itu memberontak saat dibawa pergi.
"Tuan Alvin, anda akan mendapatkan balasan atas apa yang anda perbuat. Anda akan mendapatkan karma anda" ucap pria itu sebelum meninggalkan ruangan itu.
Bertepatan dengan Geo yang kembali memasuki ruangan. Geo langsung menghampiri pria itu.
"Ekhem, sorry Al. Lo harus ngerubah kekacauan yang terjadi sekarang sebelum terlalu parah"
"Kenapa harus gue yang turn tangan? Apa gunanya aku menggaji mereka jika masalah seperti ini saja mereka tidak becus?! Haruskan aku memecat mereka semua" sindir Alvi membuat para pegawai semakin menunduk.
"Al, please" Geo memohon. Indeks perusahaan semakin menurun berkat beberapa data yang dicuri oleh perusahaan lain dan orang yang menyebabkan itu adalah orang yang berlutut tadi. Walaupun hanya beberapa data kecil yang dicuri namun itu benar benar mengguncang perusahaan sampai hampir ketitik fantastis. lantaran sekecil apapun data yang ada disana adalah data penting dengan keuntungan miliaran rupiah.
Alvin berdiri memasuki ruangan dimana tempat biasanya dia bekerja. Teknologi tertinggi berada diruang itu. Alvin berkutat dengan angka angka dan data data itu membuat indeks perusahaan naik. Hal itu membuat semua orang bernafas lega. Alvin juga memperbaiki beberapa komponen yang bermasalah.
Tak hanya sampai disitu Alvin tak akan membiarkan siapapun yang bermain main dengannya lolos begitu saja. Alvin menyerang balik perusahaan itu, membuat perusahaan itu bangkrut hanya dalam beberapa jam.
Alvin beranjak dari tempatnya, "Panggil semua karyawan berkumpul" perintah Alvin pada Jovan.
"Baik Tuan"
__ADS_1
Alvin meninggalkan ruangan itu ke kantornya yang berada dilantai teratas perusahaan dengan Geo yang mengikuti. Alvin duduk dikursi kebesarannya menghela nafas kasar. Emosinya masih belum sirna dia butuh pelampiasan.
"Apa Joe sudah sampai?" tanya Alvin pada Geo.
"Sudah Al, gue akan suruh dia naik" Geo meninggalkan Alvin memanggil Joe yang menunggu dilobi.
Tak berapa lama kedua orang yang merupakan tangan kanan dan kirinya itu datang. Alvin segera bangkit menghampiri keduanya. Joe nampak bingung dengan kondisi tuannya yang dia rasa aneh.
"Kalian berdua hadapi gue, gue butuh pelampiasan"
Geo dan Joe tertegun mendengar perkataan Alvin. Tak berapa lama mereka dibuat tersadar dan bersiap dengan kuda kuda masing masing. Menghadapi Alvin bukanlah sesuatu yang gampang bagi keduanya walaupun bekerja sama.
Pertarungan tak terelakkan. Seperti layaknya acara MBA mereka bertarung dengan beringas. Alvin menyerang keduanya menggebu gebu, Geo dan Joe menjadi kewalahan menghadapi sikap bringas Alvin.
Apa yang terjadinya dengannya? pikir keduanya. Tak pernah mereka melihat Alvin sekalut ini. Ruangan yang mereka tempati sekarang ini bahkan layak jika disebut kapal pecah.
Dilain sisi dalam pikiran Alvin,
"Halo nama gue Zea, nama lo?"
"Lo mau ikut gak? gue kenalin sama anak anak gue"
"Zea itu gak suka sama cowok yang ganteng abis, tajir abis, yang perfeksionis gitu lah"
"Dasar anak geng, gak ada yang baik"
"Makin lama gue kenal Lo, Lo makin aneh Al"
"Stop, lo disitu aja. Jangan dekat dekat"
"Siapa bilang? gue terima lo kok"
"Tapi gue lebih suka motor lo Al, gue lebih suka yang sederhana. Gak suka yang serbah mewah, walaupun indah dan menakjubkan gue tetep nggak suka"
Bayangan akan kebersamaannya dengan Zea melintas begitu saja. Dirinya juga mengingat akan penolakan gadis itu jika mengetahui dirinya yang sebenernya. bahkan kata kata bang Arka juga sempat terbesit dipikirannya.
Alvin semakin kalut menyerang keduanya tanpa ampun. Dirinya seakan tak memperdulikan kondisinya saat ini yang sangat kacau. Namun dibandingkan Alvin kondisi orang yang mencoba bertahan menghadapinya kini sudah kacau total bahkan lebih para darinya.
Bughh
Pukulan itu mengenai Geo dan membuat pria itu terkapar. Joe yang tahu kehebatan Alvin mulai menyerang Alvin dengan intens layaknya dia ingin membunuh musuhnya.
Joe mengeluarkan pisau lipat dari balik bajunya dan mengarahkannya kepada Alvin namun Alvin berhasil menahan membuat pisau itu terlempar. Alvin menarik tangan Joe membuat pria itu hampir menubruk kearahnya namun bahu Joe ditahan oleh Alvin dan dengan posisi itu Alvin menendang perut Joe dengan lututnya. Joe sekatika memegangi perutnya merintih disebelah Geo yang terkapar. Kedua orang itu sudah kehabisan tenaga. Mereka tak sanggup menghadapi Alvin.
tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan Alvin. Alvin menarik nafasnya dalam dalam mencoba mengontrol emosinya sebelum membiarkan orang yang mengetuk diluar masuk.
"Masuk"
Jovan yang memasuki ruangan dibuat kaget lataran melihat ruangan berantakan dengan dua orang terkapar disana. Jovan menghampiri kedua orang tadi memeriksa keadaan keduanya. Sedangkan Alvin kini dengan santainya duduk di kursi kebesarannya.
Jovan bernafas lega, jantungnya terasa mau copot. Untung saja dua orang tadi baik baik saja karena Alvin terkadang mengontrol kekuatan disela sela dia terlepas dari emosinya.
"Kalian baik baik aja?" tanya Jovan kepada dua yang mencoba duduk dengan memar dibeberapa bagian. Terlebih lagi wajah tampan keduanya.
__ADS_1
"Aku baik baik saja Tuan Jovan" jawab Geo.
"Tunggu sebentar saya akan mengambilkan kotak obat" Jovan keluar ruangan mencari kotak obat setelah menemukannya dia kembali dan memberikan kepada kedua orang itu.
"Perlu saya bantu?" tawarnya.
"Tidak perlu" jawab Geo.
Berbeda dengan Geo yang mengobati lukanya Joe berjalan mendekati Alvin yang duduk dengan mata terpejam namun dahinya mengerut.
Sepertinya ada sesuatu yang menggangu pikirinnya, pikir Joe.
Jeo menatap kearah tangan dan wajah Alvin, "Biarkan saya obati luka anda tuan!" Ijin Joe.
Geo yang melihat kearah pria itu berdecih. "Cih, Dasar Anjing pencarian perhatian" gumam Geo pelan.
Joe tak mendapat jawaban berinisiatif mengobati luka di tangan Alvin. Alvin membuka matanya dirasa hawa dingin berada di pergelangan tangannya.
"Al" Panggil Geo yang sudah selesai mengobati lukanya. Alvin menoleh dengan pandangan dingin.
Joe menyelesaikan mengobati pergelangan tangan tuannya itu.
"Jovan, apakah semua karyawan sudah berkumpul?" tanya Alvin bernada dingin.
"Sudah tuan, mereka sudah menunggu"
Alvin beranjak dari duduknya, "ayo kita kesana!" Ajak Alvin.
"Tapi tuan luka diwajah anda belum diobati" cegah Joe.
"Tidak perlu, gue hanya perlu cuci muka. Dan kau obati lukamu dan bawa orang yang mengacau perusahaan kemarkas. Pastikan dia membayar mahal atas kelakuannya itu" titah Alvin diangguki Joe.
"Baik tuan"
Alvin menuju ke toilet yang berada diruangan itu untuk mencuci muka dan segera berkumpul ditempat dimana semua karyawannya berkumpul.
"Jangan kira aku akan mentolerir sikap cerobohmu ini Jovan" tutur Alvin sambil berjalan mendekat kearah lift diikuti Jovan dan Geo.
"Saya akan menerima keputusan anda tuan"
Alvin sampai ditempat semua karyawannya berkumpul. Dirinya menatap dingin dan tajam kearah mereka. Merekapun dibuat bertanya tanya apa yang terjadi dengan wajah atasannya itu.
"Aku tak akan banyak bicara. Penghianat terjadi dalam perusahaan dan itu sering terjadi. Uang dan kekuasaan bisa membutakan siapapun. Aku tak akan mempermasalahkan atas kekacauan hari ini" ucap Alvin membuat gemuruh suara senang dari para pegawai.
"Tapi" Alvin menjeda ucapannya membuat semua orang terdiam kembali.
"Masalah perusahaan yang kalian perbuat mengganggu waktuku. Hari ini adalah hari yang penting buatku namun kaliam mengacaukannya. Aku tak bisa mentolerir untuk hal ini. Maka dari itu Aku mengumumkan pemotongan gaji selama 2 bulan dan untukmu Jovan, gajimu akan ku potong selama 3 bulan. Dan tak ada bonus untuk bulan ini. Aku tak akan menerima bantahan apapun" ucap Alvin seketika meninggalkan ruangan itu. Dirinya membiarkan Geo mengambil alih.
Alvin berjalan kearah parkiran motornya. Dirinya menatap wajahnya di spion.
"Sial!! tak mungkin gue ketemu Zea dengan muka lebam begini" umpat Alvin meninggalkan perusahaan.
Alvin memacu motornya cepat kembali ke kediaman Immanuel. Dirinya tak akan menemui Zea hari ini. Alvin harus mengurus luka lukanya dulu karena Alvin tak ingin saat menjemput Zea besok, gadis itu berprasangka buruk jika luka ini dia dapatkan dari King. Dirinya yang sebenernya dan merupakan tipe pria yang Zea hindari.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Happy Reading。◕‿◕。