My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
90. Lapangan


__ADS_3

Geo yang masuk kedalam kelas mendapat soratan semua orang. Termasuk para cewek cewek dikelas itu yang mengaggumi Geo, walau tidak semua.


Geo melihat nama nama yang tertulis dipapan lalu tersenyum membuat beberapa perempuan dikelas itu menjerit.


"Kyaa ganteng banget sumpah!" bisik para gadis dikelas itu.


"Hooh Gans parah!" balas temannya masih dengan berbisik.


"Geo lo mah pakek acara ninggalin kita segala" ujar Satya dari belakang.


"Hai ladies!" seru Julian menggoda dengan melambaikan tangan membuat para gadis itu kembali berteriak.


"Kyaa!!"


Plak


"Gak usah tebar pesona" ujar Kenan memukul kepala Julian dari belakang membuat Julian mengusap kepalanya namun masih belum menghentikan aksinya untuk tebar pesona. Pria itu bahkan mengedipkan sebelah matanya pada para wanita disana.


"Kyaa!!"


"Eoo!" seru Keyla dan Icha dari bangku belakang.


"Lo ketua kelasnya kan?" tanya Geo pada Niko didepan.


"Iya!" jawab Niko berusaha tegar menunjukan bahwa dia adalah pemimpin kelas.


"Jersey basket bisa lo ambil diruang ganti club untuk anggota lo! Kalian bisa pakek itu untuk tanding nanti. Untuk yang cewek bebas mau ngelakuin apa aja yang penting harus tetap ganti baju olahraga" ujar Geo. Niko mengangguk mendengar dengan seksama.


"Wih keren gila, gue juga pengen pakai jersey basket immanuel. Tau gitu gue ngajungin diri!" ujar salah satu murid disana.


"Emang lo mau dipermaluin gara gara skor kelas kita jauh sama mereka"


"Yah kalau itu berat juga sih, patut dipertimbangkan. Gue gak mau malu maluin diri hanya demi bisa nyoba jersey anak basket sekali" ujarnya lagi.


"Cemen kalian pada!" ujar para gadis membuat para pria itu mencebik sebal. Para gadis dikelas itu menoleh pada anggota Aodra yang ada didepan.


"Geo! Nanti kalian mainnya jangan serius serius ya!" celetuk salah satu gadis.


Geo menoleh pada gadis itu kemudian menoleh kearah teman temannya.


"Wah kalau itu gak bisa!" jawab Geo.


"Ayolah Ge, kita kan udah jelas kalah. Beri keringanan dikit" ujar gadis lain dengan wajah memelas yang dibuat sok imut.


"Masalahnya bukan karena gak mau!"


"Tapi gak bisa"


"Pro basketnya kan ada dikelas kalian. Kalau kami ngalah, kami kalah dong!" ujar Geo menjelaskan membuat mereka diam tak mengerti maksud ucapan Geo.


"Maksudnya?" tanya Niko


"Kalian bakal tahu nanti!" Satya, Kenan, Julian, Geo tersenyum penuh arti pada pria itu


"Oke Bro! Suruh teman sekelas lo buruan ganti. Kita tunggu di lapangan!" ucap Geo membuat Niko mengangguk tak bisa menolak.

__ADS_1


"Bye girls" ujar Julian melambaikan tangan keluar kelas mengikuti Geo.


Para murid kelas kemudian saling berbincang satu sama lain karena tak mengerti maksud ucapan Geo. Sebelum Niko berteriak.


"Guys mohon tenang!" ujar Niko.


"Sekarang kalian ganti pakaian olahraga dulu, nanti kita ketemu di lapangan. Bagi yang gue tulis namanya dipapan ikut gue ke ruang ganti anak basket! Udah itu aja GPL ya guys, Gak pakek lama" lanjutnya.


"Oke Nik siap!"


"Iya Nik, bawel lo mah"


Itu tanggapan warga kelas. Kemudian satu persatu murid dikelas itu mulai menuju ruang ganti begitu pula dengan Keyla, Icha, dan Zea yang berpisah dengan Alvin.


...****************...


Setelah mengganti pakaian beberapa saat semua murid gabungan dua kelas langsung berkumpul dilapangan sesuai intruksi. Zea melihat Alvin yang sudah disana dengan jersey basket yang melekat ditubuhnya.


"Ayo anak anak kalian kumpul dulu!" teriak pak Reno.


Semua murid yang ada dilapangan berkumpul membentuk beberapa barisan.


"Masing masing kelas pilih satu perwakilan untuk memimpin berdoa dan pemanasan didepan" tutur pak Reno.


"Lo aja Nik, lo kan ketua kelas"


"Iya Nik, lo aja" ujar beberapa siswa di kelas Zea.


"Kebiasaan emang kalian. Gini aja baru nganggep gue ketua kelas" keluh Niko namun masih berjalan kearah depan dengan wajah cemberut.


"Oke girls dimohon tenang jangan membuat keributan!" ujar Julian membuat para gadis itu menahan diri untuk tidak berteriak. Namun masih menebar senyum membuat para gadis itu seperti cacing kremi.


"Oke cukup! Kalian berdua pimpin teman teman kalian untuk berdoa setelah itu pemanasan. Silahkan dimulai!" Pak Reno mundur kebelakang membiarkan kedua pria itu memimpin.


"Baik teman teman"


"Oke Guys"


Ucap Niko dan Julian berbarengan.


"Sebelum kita mulai pembelajaran marilah kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa mulai" lanjut keduanya.


Semua murid yang ada disana menundukan kepala. Ada yang berdoa serius, ada yang masih celingukan menatap kanan kiri, ada yang berdoa namun yang dibaca adalah doa makan, ada juga yang pura pura berdoa.


"Oke selesai"


"Selesai" ujar keduanya menyudahi.


Mereka menegakkan kepala menyudahi doa. Setelah itu berganti ke pemanasan.


"Hitung ya guys.. satu.."


"Satu"


"Dua"

__ADS_1


"Dua"


"Tiga"


"Tiga"


"Empat"


"Empat..."


Dan seterusnya..


"Angkat kaki kanan guys!" ujar Julian menginterupsi. Semuanya mengikuti. Banyak yang kesulitan pada pemanasan kali ini.


Zea mengangkat kaki kanannya dengan kaki kirinya yang melompat lompat kecil maju mundur untuk menyeimbangkan dirinya. Zea terus melakukan itu hingga membuatnya mundur kebelakang.


Sebuah tangan menahan tubuhnya membuat Zea menoleh. Zea terkesima sesaat ketika melihat siapa yang menahan tubuhnya.


'Sejak kapan Alvin dibelakang gue?" batin Zea.


Pria itu menatap Zea dengan pandangan yang selalu Zea sulit mengerti. Mata Alvin terus mengawasi. Zea yang dipandang hanya bisa melihat kedepan melanjutkan pemanasan.


Ia memajukan tubuhnya agar Alvin tak lagi menahannya saat kakinya mulai berganti posisi. Namun lagi lagi Zea terjengkang kebelakang membuat Alvin menahannya.


"Hati hati" ujar Alvin, Zea mengangguk tanpa bisa berucap.


Beberapa saat kemudian pemanasan selesai. Zea merasa canggung akan sekitarnya mendekat kearah Keyla dan Icha yang ada didepannya.


"Sudah pak!" lapor kedua pemimpin itu.


"Jika sudah selesai, sekarang kalian memutari lapangan basket. 2 putaran untuk putri dan 5 putaran untuk putra"


"Yah pak!" protes para muridnya.


"Tidak ada protes. Setelah itu kalian bisa melanjutkan pertandingan basket antar kelas" ujar pak Reno.


"Pak saya capek! Saya boleh pengecualian ya pak!" ujar salah satu siswi.


"Iya pak saya juga pak, boleh ya pak" mohon siswi yang lain.


"Emm maaf untuk kali ini semua wajib melakukan. Setelah selesai bapak ijinkan kalian bebas. Mau kekantin boleh. Asal jangan bikin masalah. Dukung teman teman kalian yang akan beradu kali ini!" ujar pak Reno.


"Yah pak! Boleh ya! Kalau nggak ngambek nih saya!" ujar siswi itu masih membujuk.


"Tetap tidak bisa, silahkan dimulai" ujar Pak Reno.


"Caper banget sih mereka. Mau maunya dekat sama tuh guru! Bodoh banget!" ujar Icha melihat kumpulan gadis yang mendekati pak Reno.


"Mereka kan gak tau Cha! Walau dikasih tau pun mereka bakal bantah!" Keyla menanggapi.


"Cih!" decih Icha.


Zea hanya bisa menatap sendu pada kumpulan gadis itu. Alvin dibelakang Zea kembali mengernyit heran akan apa yang sebenarnya para gadis itu lakukan. Dan apa yang sebenarnya terjadi.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2