
Pagi hari...
Zea yang masih berbalut selimut dibuat terlonjak kaget oleh suara alarm yang dia buat kemaren dan lupa dia nonaktifkan. Alarm dari handphonenya yang dia gunakan untuk bangun lebih awal agar dapat membuat bekal untuk Alvin menjadi bumerang untuknya.
Zea yang masih setengah sadar, merangkak kearah handphone yang dia cas dinakas. Mengambil handphonenya dan mematikan alarm yang berbunyi. Zea menatap deretan setelan jam yang tertera disana. Semua jam hampir diangka yang sama hanya membedakan beberapa menit saja. Dan sialnya Zea terbangun di alarm pertama, yaitu pukul 04:15.
Zea menggerutu kesal. Kenapa dari semua jam alarm yang dia pasang pada saat itu, dia harus bangun pada alarm paling pagi. Padahal waktu itu dia telat bangun sekitar 15 menit lebih lambat dari alarm kedua yang dia tetapkan untuk membuat bekal Alvin, karena kasurnya yang tak ingin terpisah darinya. Lebih tepatnya Zea yang tak ingin pisah dari tempat tidurnya itu.
"Ish enak enak mimpi tidur diatas awan, malah dibangunin" Zea menggerutu melempar hpnya kesamping dan menenggelamkan wajahnya dibantal mencoba tidur kembali.
Zea memejamkan matanya dengan harapan dia bisa tidur kembali. Zea memposisikan tubuhnya menyamping ke kanan mencari posisi nyaman, tapi tak dapat membuatnya mengantuk kembali. Kemudian dia menyamping kekiri, juga tidak berhasil. Zea tidur terlentang, berusaha memejamkan matanya agar bisa pergi ke dunia mimpi.
Detik demi detik berjalan, Zea membuka matanya dengan jengkel. Melihat kearah langit langit kamarnya.
"Huft!!" dengus Zea.
Zea yang tadinya berbaring merubah posisinya menjadi duduk, menyandar disandarkan kasur.
Menatap jam dinding yang bertengger ditembok pas didepannya. Matanya mengikuti pergerakan arah jarum jam yang berputar.
Zea menghela nafas, mendongak menyandarkan kepalanya dibantal menatap keatap kamarnya. Menghirup nafas lagi, membuang nafas berat lewat mulut, "Hah!! mandi aja deh!" gumam Zea lirih, bangkit dari kasur menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit, Zea keluar kamar mandi dengan handuk dibadannya melangkah kearah lemari pakaian. Zea tak lantas menggunaan seragam sekolah, ia memakai pakaian rumahan biasa, yaitu sebuah kaos putih dengan celana pendek sebagai dalaman untuk roknya nanti. Sesudahnya ia berjalan kearah meja rias, menyisir rambutnya juga memoles bedak tipis diwajahnya.
Zea menuruni tangga kearah ruang keluarga berniat menonton tv. Siapa tau aja ada kartun pagi yang bisa dia tonton. Zea mengonta ganti saluran televisi dan tak dapat menemukan apa yang dia cari. Tak kehabisan akal Zea membuka you tube ditelevisinya menekan nekan tombol di remotnya hingga ditelevisinya muncul deretan huruf. Zea memilih milih yang akan dia tonton dan menekan tombol diremotnya. Muncul dua ulat berwarna merah dan kuning dengan tingkah kocaknya.
Zea cekikikan melihat itu, lumayan bisa meredakan rasa kesalnya sedari tadi.
...****************...
Mama Tia yang ingin menuju kearah dapur mendengar cekikikan dari ruang keluarga. Hatinya was-was, siapa orang yang jam segini udah bangun. Kalok Mbok Jum gak mungkin, orang suaranya kayak masih muda. Kalok putrinya Zea malah mustahil, karena putrinya itu kebo. Susah dibangunkan jika jam segini.
Kemarin itu hanya keberuntungan, kekuatan gadis yang sedang kasmaran, makanya putrinya itu dapat bangun pagi walau tak sepagi ini. Dam Mama Tia percaya tak ada bangun pagi kedua kalinya untuk gadis itu karena dia tahu bahwa Zea akan banyak aktivitas. Apalagi kemaren sehabis diantar Alvin pulang, Zea mengeluh capek. Jadi untuk itu adalah Zea, mustahil.
Kembali ke Mama Tia..
__ADS_1
Dengan langkah kaki ringan Mama Tia mengendap endap dan pas sekali ada tongkat baseball yang terletak disana. Mama Tia meraihnya dan memasuki ruang keluarga. Pandangan Mama Tia menatap kearah seluruh ruangan, tak ada siapapun!!
Mama Tia terlonjak kaget saat tv-nya yang tadinya dia rasa berwarna hitam kemudian menampilkan sosok larva kuning yang berjumlah banyak sedang menjadi zombie. Kumpulan larva kuning itu mengejar seorang larva merah. Dan Mama Tia dibuat semakin cemas karena kini pakaian yang dia pakai berwarna merah.
Mama Tia menatap kesekitar ruangan, tak ada siapapun yang terlihat disana. Suara cekikikan itu kembali terdengar, Mama Tia yang tadi menoleh kesamping semakin pias, ketika dia kembali menoleh kearah sofa. Karena didepannya kini tiba-tiba muncullah sosok wanita dengan rambut panjang duduk disofa dengan suara cekikikan, membelakanginya.
Tongkat baseball itu ia angkat didepan dada. Bersamaan dengan itu tv-nya menayangkan adegan dimana suasana sedang hujan. Membuat suara rintikan hujan di televisi itu, menjadikan suasana semakin mencekat.
Mama Tia yang sudah siap sedia mengangkatnya tinggi-tinggi tongkat baseballnya hendak memukul sosok didepannya bertepatan dengan sosok wanita itu menoleh kearah Mama Tia.
"KYAAAAA..." teriak Mama Tia melayangkan serangan.
"AAAAAAA..." sosok wanita itu ikut berteriak sambil melindungi dirinya dengan kedua tangganya, refleks karena merasa akan mendapat serangan.
Suara kedua wanita berbeda generasi yang berteriak itu membuat seisi rumah heboh sangking kencangnya suara keduanya.
"Zea!" "Mama!" ucap keduanya serempak.
"Ada apa ini?!" tanya Papa Hendra yang mendekat dengan langkah terburu buru ketika mendengar teriakan keras keduanya, disusul Bang Arka yang berjalan turun tangga.
"Ma! Ada apa?" tanya Bang Arka.
"Loh kok Zea sih Ma? kan Mama yang ngagetin Zea. Mana Zea mau dipukul pakek tongkat baseball lagi" bela Zea.
"Loh kok malah Mama Ze? orang kamu yang ngagetin Mama kok. Kamu ngapain nakutin Mama pura pura jadi hantu gitu. Salah kamu pokoknya" balas Mama Tia.
"Ih Ma! kok gitu? lagian kan Mama yang teriak duluan, Zea mah refleks jadi ikut teriak" sangkal Zea lagi.
"Udah udah kok malah berantem, ini gimana ceritanya?"
Flashback
Zea yang asik menonton larva sambil tiduran disofa dengan cekikikan karena melihat adegan lucu disana tak menyadari bahwa Mama Tia mendengar suaranya yang membuat Mama Tia was-was.
Mama Tia memasuki ruangan bertepatan dengan kartun larva didepannya ini sudah tamat hanya menyisakan warna gelap untuk memilih episode selanjutnya. Karena suasana yang gelap dan Mama Tia yang takut tak menyadari bahwa tv itu menyala karena layarnya gelap, juga jarak Mama Tia yang agak jauh dari TV membuat Mama Tia tak dapat melihat keseluruhannya.
__ADS_1
Saat Mama Tia mendekat, hal itu bertepatan dengan Zea yang menekan tombol diremotnya melanjutkan menonton episode selanjutnya. Dan ternyata episode selanjutnya sudah pernah ia tonton walau tidak sampai tamat membuat film larva itu terpotong sampai bagian tengah menampakan adegan dimana larva kuning menjadi gerombolan hantu. Dan sikap kedua mahluk itu membuat Zea makin cekikikan bahkan sampai beranjak dari posisinya, bergerak duduk.
Dengan posisi duduk, Zea kemudian mengganti episode ditvnya dan nampak disana episode kali ini berjudul 'Rain'. Mama Tia yang terlalu fokus pada Zea dan pikir buruknya tak melihat ketika Zea mengganti episode.
Pikiran negatif yang ada dibenak Mama Tia, membuat wanita itu bersiap mengayunkan tongkatnya bertepatan dengan Zea yang menoleh karena merasa ada pergerakan dibalik punggungnya.
Seperti yang terjadi sebelumnya, Zea berteriak kaget karena teriakan Mama Tia dan karena Mama Tia yang membawa tongkat baseball diarahkan kepadanya membuatnya refleks melindungi diri.
Falchback off
...****************...
"Gitu Pa, Bang, ceritanya" jelas Zea sesudah bercerita.
"Bhahahaha!!" tawa Papa dan Bang Arka kemudian meledak mendengar penjelasan Zea. Karena apa yang menimpa keduanya.
"Bukan salah Zea loh Ma" Zea masih membela diri.
"Ish kamu ini, bikin Mama jantung tau gak. Lagian kamu tumben banget bangun sepagi ini." papar Mama Tia.
"Maaf Ma, Zea juga gak tau tiba tiba aja kebangun" ungkap Zea. Walau Zea merasa tidak salah, namun permintaan maaf itu penting. Karena dari lubuk hatinya, dia merasa bersalah karena membuat Mama Tia takut dan kaget, walau semua itu tak ia sengaja.
"Iya Mama maafin, Maafin Mama juga ya!" pinta Mama Tia membuat Zea langsung mendekap kepelukannya.
"Ehem! lanjut aja pelukannya, Papa mau siap siap dulu" pamit Papa Hendra meninggalkan ketiga orang disana.
"Abang juga, mau keatas dulu"
Kedua pria yang ada dikeluarga itu pergi meninggalkan dua wanita itu disana.
"Udah ah kok malah peluk pelukan terus, udah Mama mau bantuin Bi Jum" ucap Mama Tia melepaskan pelukannya.
Zea kemudian pergi kekamar untuk bersiap siap dengan seragam sekolahnya dan tas yang ia bawa dan letakan di ruang keluarga. Kemudian Zea menuju ruang makan untuk sarapan.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Happy Reading 。◕‿◕。