My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
160. Menyerah


__ADS_3

Hujan sudah reda dan mereka kembali melanjutkan pendakian.


3 jam sudah berlalu dari mereka menunggu hujan reda dan sekarang mereka sudah hampir dekat dengan puncak.


Zea menatap depan dengan mata yang berkunang kunang.


"Hah! Aku udah gak kuat lagi! Aku stop disini" tutur Zea menghela nafas berat, berpegangan tangan pada Alvin.


"Kamu nggak papa?" tanya Alvin khawatir.


"Zea" panggil Arka dari depan, menatap Zea yang sudah lemas.


"Aku udah nggak kuat bang! Capek" keluh Zea melambaikan tangan pada Arka.


"Hah! Aku juga! Stop, mau mati rasanya" sahut Keyla terduduk ditanah sambil mengangkat tangan.


"Menyerah! Gue menyerah!" seru Icha dengan lemas bersandar pada Satya.


Untuk ketiganya mereka sudah mencapai batas. Sulit bagi Zea, Keyla, dan Icha untuk melanjutkan lagi. Apalagi semakin ke depan jalanannya akan semakin menanjak dan walaupun bisa naik, ketiganya akan kelelahan untuk turun kembali karena jelas setelah melihat matahari terbenam, mereka harus cepat kembali turun dan hanya menyisakan jeda sejenak.


Hal ini terjadi karena perubahan rencana yang mendadak. Padahal jika mengikuti rencana awal, mereka akan menetap di atas selama beberapa jam untuk mengabadikan momen. Tapi karena waktu bangun mereka telat, membuat rencana juga berubah.


Zea yang sudah tidak kuat berjongkok dengan nafas yang berderu cepat. Kedua mata Zea terpejam, menundukkan kepala di sela sela kakinya.


"Guys! Gue tunggu di sini! Kalian lanjut aja. Nanti kalau sudah selesai, gue tunggu kalian di camp waktu neduh tadi" ujar Arka pada teman temannya. Arka merasa tak enak pada para temannya itu karena ia terlalu merepotkan. Tapi mau bagaimana lagi, sebagai kakak dan penjaga mereka, sudah tugasnya untuk menemani Zea dan kawan kawannya.


Zea mendongak menatap Arka, "Eh! Abang kalau mau lanjut, lanjut aja! Zea gak papa kok. Lagian masih ada Alvin disini!" tutur Zea pada Arka sambil mengatur nafas.


"Nggak! Abang temenin. Kamu tanggung jawab Abang" Arka menoleh kearah teman temannya itu.


"Sorry guys!" tutur Arka tak enak hati.


"Nope Ka!" jawab mereka santai.


"Oke! Kalau gitu lo hati hati Ka, gue sama yang lain naik dulu!" ujar Bram menepuk bahu Arka. Arka mengangguk, membiarkan teman temannya yang lain itu pergi.


"Hati hati" balas Arka membalas lambaian yang tertuju padanya.


"Gue naik ya ka! Sampai ketemu nanti" ujar Sitha tersenyum pada Arka, Arka kembali mengangguk.


Kemudian pandangan Arka teralihkan pada Alvin yang berjongkok di samping Zea. Arka ikut berjongkok di depan Zea.


"Maaf Bang!" tutur Zea merasa bersalah. Arka tersenyum.


"Tugas Abang itu ngelindungi kamu sama teman teman kamu. Lagian gak naik ke puncak juga gak masalah kok. Lihat! Disini pemandangannya juga bagus. Bener kan? Ngapain capek capek ke puncak buat waktu yang sebentar" tutur Arka menghibur sambil menunjukkan sekitar dimana pemandangan penuh dengan awan dan hamparan hijau dengan beberapa perumahan yang dapat Zea saksikan langsung dibawah sama.


"Disini sudah dekat puncak! Jadi pemandangannya hampir sama seperti diatas. Jadi gak usah merasa gak enak!" ujar Arka.


"Ze! Bangkit yuk, kita cari tempat yang pas buat nonton matahari tenggelam. Yuk!" ajak Arka bangkit, mengulurkan tangan pada Zea.

__ADS_1


Zea mendongak dan tangannya menerima uluran tangan Arka. Zea bangkit.


"Hati hati" ujar Alvin memegangi Zea dari samping. Zea menatap kearah Alvin mengangguk.


Dengan bantuan Alvin Zea berdiri. Alvin yang menuntun Zea menoleh dan tanpa sengaja kedua matanya bertatap dengan mata Arka.


Arka tersenyum membalas Alvin.


'Sepertinya gue gak dibutuhkan lagi' batin Arka melengos melepaskan tangan Zea.


Arka menyingkirkan, melihat kedua teman Zea yang lain. Ia mendekat menatap Icha yang telah dibantu oleh Satya. Sedangkan Keyla berada di samping Icha sendirian sedang mengatur nafas.


Arka berjalan, mendekat kearah Keyla, "Sini pegangan!" ujar Arka mengulur tangan membantu Keyla berdiri.


"Makasih bang" ujar Keyla berkeringat dingin memegang tangan Arka. Bangkit dengan bantuan Arka.


"Terakhir abang lihat, nggak jauh dari sini, sekitar 10 menit, ada tempat camping yang cocok buat lihat matahari tenggelam! Gimana kalau kita kesan?" tanya Arka meminta pendapat.


"Boleh!" jawab Satya dan Alvin berbarengan.


"Kalau begitu Ayo!" ujar Arka, memegang tangan Keyla, berjalan lebih dulu menuntun mereka turun ke bawah.


Satya dan Icha mengikuti, begitu pula Zea dan Alvin.


Langkah Alvin berhenti menatap Kenan, Julian, dan Geo yang mengikuti dibelakangnya.


"Ngapain kalian ikut? Kalau kalian mau lanjut! Lanjut aja! Gak usah perhatiin gue!" ujar Alvin dingin menatap ketiganya.


"Tunggu! Ayo!" ujar Alvin hangat menuntun Zea berjalan turun.


Ketiganya melongo melihat perubahan sekejap mata itu. Mereka menggeleng kemudian saling memandang dengan keraguan. haruskah mereka lanjut atau ikut Alvin turun dan memberhentikan pendakian atau terobos aja naik. Toh Alvin nggak melarang.


"Lebih baik kita lanjut aja! Sayang udah sampai sini" ujar Geo berpendapat.


"Oke! Gue setuju!" ujar Kenan mengiyakan.


"Gue juga!" seru Julian bersemangat.


Akhirnya Geo, Kenan, dan Julian melanjutkan pendakian mereka yang sudah di depan mata.


Sedangkan Alvin, Zea, Satya, Icha, Arka dan Keyla melangkah turun dengan langkah pelan.


Hingga tanpa sengaja Alvin melihat Joe dan anak buahnya yang sedari awal menjaga jarak dengan mereka mendekat.


Kedua mata Alvin yang tajam menatap kearah Joe dan anak buahnya. Alvin memejamkan mata kemudian mengalihkan pandangannya pada Zea.


"Bentar!" ujar Alvin berbalik menghadap Zea, menarik Zea masuk kedalam pelukannya mencoba menutupi Zea dari pandangan anak buah Joe yang melewatinya.


"Eh!" pekik Zea kaget menghadapi serangan Alvin tiba tiba.

__ADS_1


Langkah Alvin dan Zea terhenti dan seakan membeku saat Joe dan anak buahnya saling tatap dengan Alvin.


Dua diantara mereka adalah anak buah kepercayaan Joe yang sudah mengenalinya, juga ada beberapa yang belum tau identitasnya gandanya.


Beberapa dari mereka menunduk menatap king Aodra dengan senggan dan takut. Ada juga yang menatap penuh angkuh.


"Ayo!" ujar Joe pada anak buahnya. Mereka melewati Alvin dan Zea begitu saja.


Alvin menoleh, melihat Joe dan anak buahnya yang naik, melanjutkan perjalanannya ke puncak.


"Al!"


"Al!" panggil Zea mendorong dada Alvin agar pria itu tersadar.


Alvin yang tersadar mengendurkan pelukannya, menangkup wajah Zea yang terlihat letih itu.


"Ah Maaf! Gimana? Capek gak? Mau aku gendong?" tawar Alvin penuh perhatian.


Zea terdiam menatap Alvin dengan mata memincing.


Kemudian ia menggeleng, "Nggak usah" jawab Zea melepaskan tangkupan tangan Alvin di wajahya. Ia kembali menatap depan dimana Keyla, Icha, Arka, dan Satya kini sudah berjarak dengan posisinya sekarang.


Zea menghela nafas lelah, berjalan dengan sangat pelan karena kakinya sekarang sudah bergetar tak kuat menahan beban tubuh yang ia bawa.


"Tunggu!" Alvin mendekat kearah Zea, memegang tangan Zea agar Zea berhenti.


Langkah Zea terhenti dan menatap kearah Alvin.


Alvin melepaskan tas gunungnya, memakainya kembali di depan badan. Kemudian ia berjongkok di dekat Zea.


"Naik!" ujar Alvin tegas.


Zea menatap kearah Alvin yang berada di bawahnya. Ia menoleh kearah sekitar dimana ada pendaki lain yang juga menuju puncak.


"Jangan ganggu perjalanan orang lain! Ayo naik!" ujar Alvin lagi membujuk Zea.


"Iya" jawab Zea tanpa ragu, mendekat kearah Alvin, naik ke dalam gendongan Alvin.


"Hati hati! Jalannya turun" ujar Zea dengan takut.


Alvin tersenyum mendengar itu.


"Tenang! Kamu gak bakal jatuh kok! Aku gak bakal biarin kamu luka" ujar Alvin lagi mendekap kaki Zea di pinggangnya.


Hup!!


Alvin bangkit, mengikuti langkah Arka dan Satya yang sudah di depan.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2