
Zea Pov
Aku keluar dari kamar ayu. Kemarin sore aku sudah berkenalan dengan Ayu dan seperti sikap Pakde Tejo dan budhe Lastri yang ramah padaku, Ayupun juga demikian.
Ku jejakan kaki menuju dapur.
"Pagi Pakde, Pagi Budhe, Pagi Ayu" sapa ku melihat ketiganya nampak sedang menungguku.
"Pagi! Loh kok mukanya cemong cemong gitu?" tanya pakde Tejo heran dengan penampilanku.
Aku mengulas senyum pada pakde Tejo, "Gak papa Pakde! Sengaja" ujarku.
Ayu dan budhe Lastri ikut menatapku aneh.
"Gimana sih Zea! Muka cantik kayak gitu kok malah ditutupi. Apa ini cara kayak di film film itu ya? Nemuin teman sejati tanpa memandang penampilan" ujar Ayu berceloteh.
Aku hanya bisa meringis menanggapi perkataan Ayu.
"Bisa jadi" jawabku mengiyakan.
Aku duduk disamping Ayu menatap sopan pakde Tejo dan budhe Lastri.
"Kamu beneran mau kesekolah kayak gini nduk?" tanya Budhe Lastri padaku.
"Iya Budhe" jawabku mantap.
"Yaudahlah kalau kamu maunya gitu!" ujar budhe Lastri tak memperpanjang. Kubalas budhe Lastri dengan senyuman.
Kemudian ku tatap hidangan yang ada di meja. Ku kenali ayam goreng yang ada di piring karena itu aku yang memasak membantu Budhe Lastri sebelum bersiap.
"Ini nasimu, kalau kurang ambil lagi" ujar Budhe Lastri memberikan sepiring nasi padaku.
"Ah makasih budhe" ujarku menerima piring dengan nasi yang disajikan budhe Lastri.
Ku tatap Pakde Tejo dan Ayu yang mulai menuangkan lauk kedalam piring. Ku tunggu mereka dan kemudian ikut mengambil lauk, sepotong ayam goreng dengan sayuran cah kangkung yang amat sederhana ke piring ku. Ku makan dengan lahap sebagai penambah energi untuk memulai hal baru di sekolah baru.
...****************...
Setelah makan aku bersiap dengan membawa tas yang kuisi beberapa buku dan alat tulis, aku ikut bersama Ayu berjalan kaki menuju sekolah. Sebelumnya Pakde Tejo berencana mengantar kami ke sekolah namun ku tolak karena tak ingin merepotkan.
"Masih jauhkan Yu?" tanyaku yang sudah mulai kelelahan pada Ayu.
Sudah 15 menit kami berjalan namun kami belum sampai juga.
"Bentar lagi kok Ze! Tinggal lurus terus belok, udah sampai" ujar Ayu lagi. Sedari tadi Ayu bilang hanya tinggal lurus namun yang kulihat jalan masih belum ada belokan juga.
"Oke" balasku hanya bisa pasrah sambil menghela nafas panjang.
Aku menghela nafas panjang mengikuti langkah Ayu. Aku berjalan terus lalu melihat sekitar. Rupanya tidak hanya kami berdua saja yang berjalan kaki. Beberapa orang dengan seragam sekolah yang sama berjalan disekitaran ku.
"Em Yu!" ujarku memanggil.
Aku berjalan sedikit dibelakang Ayu sambil berbisik.
"Ya?" balas Ayu menoleh.
"Kamu jalan didepan aja! Aku ngomong dari sini" ujarku sedikit mendorong Ayu agar berjalan sedikit kedepan. Ayu tak memperotes.
"Yu! Disekolah nanti! Kalau misalnya kamu malu sama penampilan aku, kamu pura pura aja gak kenal. Lagian aku udah bilang ke mama, kalau kita gak bakal satu kelas. Jadi kamu gak perlu jaga aku" ujarku takut apa yang kukatakan terasa aneh.
Ayu nampak bingung dengan sikap ku, "Kok gitu?" tanyanya menoleh.
Ku benarkan posisi Ayu kembali agar melihat depan. Kami berjalan sambil mengobrol.
"Em Sejujurnya aku gak ingin berhubungan dengan siapapun lagi Yu! Eits bukan karena aku memandang rendah" ujarku takut Ayu salah paham.
"Itu karena aku yang gak bisa dekat dengan orang lain. Jadi," aku menatap Ayu berharap. Walau Ayu tak bisa melihatku.
"Bisakan Yu? Kamu gak perlu khawatir kalau misal Pakde sama Budha tanya. Bilang aja aku bisa beradaptasi dengan baik" ujarku.
Ayu menepis tanganku yang memegangnya. Ia berhenti dan kami saling berhadapan.
__ADS_1
"Kamu mau aku bohong?" tanyanya.
Aku mengangguk, "Please! Kali ini aja" ujarku memelas.
Walau kami baru kenal. Namun kami merasa dekat. Apalagi dengan sikap Ayu yang polos membuat ku lebih mudah memahami gadis itu.
Ayu nampak tak setuju, tapi ia juga mengernyit melihat sikapku yang serasa berharap, "Yaudah kalau kamu mau gitu" balas Ayu setuju.
Aku menatap Ayu dengan senyuman.
"Makasih" seruku.
"Em Kalau gitu kamu duluan aja! Aku nyusul dibelakang! Sana!" ujarku mendorong Ayu agar pergi lebih dulu.
"Oke" balas Ayu melangkah lebih cepat.
Aku berjalan sedikit berjarak dengan Ayu yang berada didepan. Ku pandangi terus langkah Ayu takut jika Ayu berbelok dan aku tertinggal.
Ctakk
"Auu" Aku terjatuh ke tanah hingga telapak tanganku terasa panas karena menahan. Ku toleh kebelakang melihat sumber masalah. Rupanya tali sepatu ku terlepas.
"Aishh!" seru ku kemudian bangkit. Kutepuk kedua telapak tanganku yang terkena debu, kemudian kutepuk juga rok panjang seragam sekolahku yang juga ikut kotor.
"Hah!" aku menghela nafas kemudian berjongkok membenarkan tali sepatu dengan kuat agar tak terlepas kembali.
Aku bangkit kemudian mendongak kedepan dengan terheran-heran, "Loh?" ujarku kaget lantaran jalanan yang tadinya ramai menjadi sepi.
Ku toleh depan belakang melihat tak ada lagi orang.
"Kemana mereka? Kok jalannya cepet banget" ujarku kembali melangkah kaki dengan cepat mencari jejak orang orang yang tadinya ada disekitar ku.
Ku cari mereka sambil melihat lihat dimana keberadaan letak sekolah baruku lantaran ini baru pertama kalinya aku kesini.
Langkah kakiku berhenti saat melihat sebuah bangunan lumayan besar berada disebelah kiri jalan yang sedikit masuk kedalam.
Aku berjalan kearah sana sambil menatap sekitar dan melihat lihat. Kembali kupandangan bangunan itu sambil menajamkan mata.
Namun tiba tiba mataku membelak.
"Pak tunggu pak" seruku berteriak sambil melambaikan tangan dan dengan segera ku berlari.
Aku berlari sekuat tenaga kemudian mengambil nafas panjang saat aku berhasil masuk kewilayah sekolah.
"Hah hah tunggu pak tunggu" ujarku masih tersegel segal saat gerbang hanya menyisakan sedikit cela.
"Kalau berangkat jangan siang siang neng! Untung bapak baik mau nahan pintu" ujar pria itu.
"Eh iya pak makasih! Maaf tadi saya kebingungan karena baru pertama kali saya kesini" ujarku beralasan.
"Oh anak baru! Pantes, yaudah sana masuk. Kelas udah mau mulai itu neng!" ujarnya.
Aku mengangguk, "Makasih pak" ujarku sekali lagi sebelum melangkah menuju dalam sekolah.
Kulihat sekitar. Sekolahku ini memang tak sebesar Immanuel school bahkan mungkin hanya beberapa bagian dari Immanuel school. Lebih tepatnya disini hanya ada sebuah gedung besar dengan dua lapangan besar di depannya. Bahkan salah satunya hanya tanah berpasir dengan dua gawang di sampingnya.
Aku terus bergerak maju masuk kedalam mencari dimana ruang guru untuk melapor.
Karena gedung yang sederhana tak membutuhkan waktu yang lama bagiku untuk menemukannya.
Tok tok tok
Ku ketuk pintu ruangan guru dengan sopan lalu membukanya sedikit.
"Permisi" ujarku.
"Iya! Cari siapa?" tanya salah satu guru perempuan yang ada didalam ruangan.
"Em saya Zeara Bu! Saya murid baru. Saya disini mau melapor" ujarku menjelaskan identitas diri dan tujuan.
"Ah murid baru. Udah ditunggu dari tadi! Bu Fatimah ini murid pindahannya datang" ujar wanita tadi setengah berteriak.
__ADS_1
"Kamu lihat kesana! Itu Bu Fatimah, kamu temui beliau" ujarnya sambil menunjuk kearah meja dengan seorang wanita disana yang nampak melambai kearah ku.
"Terima kasih Bu" balasku menunduk dengan sopan.
"Sama sama" ujarnya.
Aku mendekat kearah guru yang dipanggil Bu Fatimah itu.
"Pagi Bu" sapaku.
"Pagi!" balasnya nampak hangat dan terbuka.
Kulihat kearah Bu Fatimah yang nampak sedikit terheran sambil memandangi lembaran kertas yang didalamnya seperti data diriku.
Aku melihat beliau hanya dengan tersenyum ramah tanpa komentar apapun. Mungkin Bu Fatimah heran dengan fotoku yang berbanding berbeda dengan diriku saat ini.
"Halo Zeara! Perkenalkan saya Fatimah panggil aja Bu Fatih. Saya yang menjadi wali kelas kamu saat ini sampai lulus nanti. Jadi kalau kamu membutuhkan bantuan ibu, cari saja ibu, mengerti?" serunya.
"Iya Bu, terimakasih" jawabku.
"Kalau begitu ayo ibu antar kamu ke kelas" ujar Bu Fatimah bangkit.
Aku mengangguk mengikuti Bu Fatimah berjalan beriringan dengan beliau. Kulihat kedalam kelas yang kulewati. Beberapa murid nampak menoleh kearah ku.
Hingga langkah Bu Fatimah berhenti di sebuah kelas.
"Tunggu sebentar ya" ujarnya. Aku mengangguk.
Tok tok
Bu Fatimah mengetuk pintu kelas dan seorang guru perempuan muncul dari dalam.
"Maaf mengganggu pembelajarannya Bu Ratih! saya membawa murid baru untuk kelas ini" ujar Bu Fatimah.
Guru perempuan itu menoleh melihatku, "Oh nggak masalah Bu Fatimah, ayo masuk" balasnya.
Entah kenapa guru disini lebih ramah dari pada di sekolahku yang hanya ada segelintir guru yang ramah padaku, salah satunya pak Burhan. Hatiku tiba tiba perih mengingat kenangan disana.
"Zeara kamu sama Bu Ratih dulu ya" ujar Bu Fatimah.
"Iya Bu" balasku.
Ku ikuti langkah Bu Ratih masuk kedalam kelas. Hingga diriku menjadi pusat perhatian satu kelas membuatku refleks menunduk takut.
Rasa kepercayaan diri yang selalu ku tanam tiba tiba aja menguap begitu saja berganti dengan rasa gelisah takut bahwa keberadaan ku akan ketahuan.
"Wah!" seru sorak mereka. Beberapa dari mereka berbisik mengomentari penampilanku.
"Anak anak perhatikan! Kita kedatangan kawan baru. kamu, silahkan perkenalkan diri kamu pada semuanya" ujar Bu Ratih padaku.
Aku mengangguk dan menarik nafas panjang, "Halo semua kenalin namaku Zeara Mauria Mahendra, panggil aja aku Ze," aku terdiam.
"Ah maksudnya panggil aja aku Ara" ujarku meralat panggilan hingga terlihat bahwa aku sedang gugup.
Aku melirik pada mereka dan mereka semua terdiam tak ada yang membalas.
'Sudah kuduga' batin ku. Namun inilah yang kuharap kan.
Aku menoleh membuang pandangan tak menatap mereka lagi.
"Em Hai Ara salam kenal" seru seorang gadis tiba tiba dibelakang sana menyapaku terlebih dahulu membuatku mendongak melihat siapa itu.
"Hai Ara selamat datang!"
"Hai Ara"
"Ara kamu pindahan dari mana?"
Suara beruntutan menyerbu membuatku bingung dengan apa yang terjadi. Aku hanya bisa terdiam sambil mengulas senyum tipis pada mereka.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ