
Dalam suasana tenang dan damai seperti ini membuat matanya tak kuasa untuk tak memejamkan mata. Alvin yang tak mendengar suara Zea sedari tadi menoleh kesamping, dirinya tersenyum melihat Zea tertidur.
Perjalanan terus berjalan dengan tenang tanpa suara. Zea mengerjapkan mata merasa ada suara yang memanggilnya. Setelah berhasil membuka matanya yang sedikit menyipit dia menoleh kesamping melihat Alvin yang tersenyum kearahnya.
"Udah sampe?" tanya Zea dengan suara khas orang bangun tidur yang membuat Alvin harus meningkatkan pengendalian dirinya.
"Belum! Kita makan dulu"
"Makan lagi?" tanya Zea parau.
Alvin tertawa kecil, "iya, nanti! Nunggu pak Burhan sama yang lainnya"
"Emang kita lagi dimana?" tanya Zea masih setengah sadar.
"Coba lihat" Zea yang bersandar, merenggangkan tubuhnya. Memposisikan tubuhnya duduk. Melihat kedepan tercetak dengan jelas 'Resto kuliner' membuat dia paham. Ini adalah tempat yang dimaksud pak Reno.
Zea juga melihat Icha dan Keyla yang sudah berada diluar. Mereka menghampiri kearahnya. Keyla mengetuk jendela disamping Zea. Zea membuka kan pintu.
"Wih keren" sorak Keyla.
"Mobil sultan, jelas keren lah!" ucap Icha.
Zea dengan kondisi baru bangun, melepas seat belt turun dari mobil. Hari ini tercetak sebagai hari keberuntungannya, karena bisa menaiki mobil super mahal seperti ini.
Alvin yang melihat Zea turun mengikuti.
"Rombongan yang lain masih lama?" tanya Zea melihat sekitar, mencoba menghilangkan rasa ngantuk yang tertinggal.
"Bentar lagi mereka sampai" jawab Geo ikut bergabung.
"Emang dari sini ke tempat syuting berapa lama?"
"Sekitar 15 menitan" jawab Geo membuat Zea melongo. Alvin mendekat kearah Zea.
"Selama itu kamu tidur" ujar Alvin ditelinga Zea, memeluk pinggang Zea posesif.
Zea menampilkan senyum menampilkan deretan gigi putihnya yang dibuat semanis mungkin dihadapan Alvin, dengan kedua matanya yang berkedip kedip. Memeluk Alvin balik. Alvin dibuat gemas oleh tingkah Zea mencium puncak kepala Zea dihadapan semua orang.
"Ekhm, dunia terasa milik berdua!" ejek Keyla. Zea tersentak melepaskan pelukannya pada Alvin, menetralkan jantungnya yang berdegup kencang.
"Udah masuk yuk!" ajak Zea melepaskan diri dari pelukan Alvin menggandeng lengan kedua sahabatnya masuk kedalam. Alvin tersenyum melihat kepergian Zea.
"Sekarang lo jadi murah senyum ya Al" ujar Geo berdiri disamping Alvin yang mengawasi Zea. Alvin langsung merubah raut mukanya menjadi datar. Julian dan Satya sudah pergi mengikuti ketiga gadis itu. Alvin, Geo, dan Kenan berjalan berdampingan dibelakang mereka.
"Inget ini Ge! Kalok lo ngerasa gue udah kelewatan batas akan Zea, bawa Zea menjauh dari gue. Tapi lo harus ngelakuin ini diluar pandangan semua orang, termasuk gue. Main bersih" pesan Alvin pada Geo.
"Gue ragu bisa main main dibelakang lo Al. Kenapa lo gak nyuruh dia aja? Bukannya dia jauh lebih baik dari gue!" Kenan didekat mereka tak paham akan pembicaraan keduanya, hanya bisa jadi pendengar saja.
__ADS_1
"Dia emang bisa main bersih, tapi dia terlalu patuh. Kepatuhannya itu terkadang membawa masalah" ungkap Alvin.
Geo paham akan ucapan Alvin tapi memilih untuk bungkam. Karena semua itu belum terjadi. Maka, dia memilih untuk tidak menyetujui maupun menolak keinginan Alvin.
Mereka masuk kedalam resto disambut pelayan disana. Mereka mengarahkan ke ruangan yang sudah ramai karena memang mereka sudah tertinggal oleh yang lainnya.
Mereka duduk disalah satu meja. Zea sudah diapit oleh kedua sahabatnya, membuat Alvin tak bisa duduk disamping Zea. Dia memilih duduk di depan gadis itu yang terpisahkan oleh meja sebagai pembatas.
"Hai boleh join gak?" sapa Vara, lagi dan lagi. Gadis itu selalu saja mendekat, tak ada kata jerah.
Mereka semua bungkam, tak ada yang menjawab Vara. Untung saja meja mereka hanya muat untuk 8 orang. Vara yang tak mendapat jawaban, pergi dengan muka padam menahan malu.
"Cewek pengganggu!" dengus Alvin. Membuat mereka tertawa, padahal dia tidak sedang melawak.
"Parah tuh cewek emang!" seru Geo.
Tak lama kemudian rombongan bus dari tempat syuting datang. Pak Burhan datang bersama anggota crew, termasuk juga Rey sang ketos ada disana.
Rey yang melihat Zea, datang menghampiri.
"Ze, udah nyampe?" ucap Rey basa bagi.
"Udah tau udah nyampe, masih ditanya!" sewot Julian. Kak Rey tak memperdulikan, juga tak membalas. Kalah sudah dirinya jika dibandingkan anggota Aodra.
"Boleh gabung?" tanya Kak Rey.
Padahal dirinya lebih segalanya dari pria itu. Kenapa sampai Zea gadis yang dia kejar dari masa orientasi sampai sekarang malah luluh oleh pria itu. Yang jelas penampilannya jauh dibawah dirinya. Dirinya tak terima dan semakin menyimpan dendam kepada Alvin.
Lantas Rey pergi meninggalkan mereka dari pada dibuat semakin kehilangan muka, apalagi didepan Zea.
Pak Burhan mengatur yang lain untuk duduk sambil menunggu kedatangan bus yang dibimbing oleh pak Reno.
Tak lama kemudian Pak Reno datang bersama yang lain. Pak Reno menghampiri pak Burhan dan menyuruh yang baru datang untuk segera duduk.
Setelah semua duduk rapi dimeja masing masing. Pak Reno menyuruh mereka untuk mengambil makan dengan berurut dari yang terdekat yang ke terjauh. Tapi mereka tak ada yang berani berdiri dan mendahului. Aturan tak tertulis disekolah 'Geng Aodra first' tak ada yang bisa membatah hal itu.
Pak Reno dibuat terdiam. Dirinya tahu bahwa ada beberapa anak anak yang memiliki kekuasaan disekolah. Tapi apakah segitu besar kekuasaan mereka sampai hal seperti ini saja mereka harus menunggu mereka.
Yah tak ada yang bisa dia perbuat, karena ketakutan mereka akan anggota geng Aodra sangat merambat jauh kehati. Apalagi ada rumor yang menyebar mengenai bos Aodra yang tak segan segan menembak orang orang. hal itu sudah terbukti di kejadian pesta kapan hari.
"Kenan! Ajak teman temanmu ambil makanan dulu!" ucap Pak Burhan. Dari keempat anggota Aodra itu, hanya Kenan yang paling tenang.
Kenan bingung haruskan dia bangun dulu. Apalagi disampingnya ada Alvin.
"Kenapa sih orang orang? Mau makan kok ribet banget" gerutu Zea, berdiri lebih dulu.
"Tau tuh, keburu laper gue kalok modelan gini!" tambah Icha mengikuti Zea bersama Keyla.
__ADS_1
Hanya ketiga gadis itu yang terkadang membatah anggota geng Aodra. Apalagi Icha yang selalu membuat keributan karena bertengkar dengan Satya disekolah. Terkadang membuat mereka digunjing karena kegatelan.
Ketiga gadis itu berjalan menuju kearah hidangan yang berjajar rapi dan beraneka ragam. Alvin dan anggota Aodra lain mengikuti dari belakang.
Setelah selesai mereka kembali kemeja masing masing. Zea menatap enggan kearah piringnya. Sejujurnya dia merasa kenyang.
"Kenapa Ze? Gak enak?" tanya Alvin membuat mereka yang satu meja menoleh kearah Zea. Alvin sedari tadi memperhatikan Zea yang mengaduk aduk makanannya, menatapnya tanpa minat.
"Ah nggak kok, enak!" jawab Zea. Memakan kembali walaupun perutnya sudah tak kuat menampung.
Selesai sudah acara sarapan pagi yang mengenyangkan. Dengan perut terisi mereka akan melanjutkan perjalanan kembali.
"Zea!" panggil Pak Reno. Zea yang dipanggil menoleh.
"Iya pak ada apa?" tanya Zea.
"Kamu ikut masuk bus" ujar pak Reno tanpa penjelasannya apapun. Zea menoleh pada Alvin meminta pendapat.
"Zea sama saya aja pak, naik mobil"
"Kalian berdua bisa naik bus bareng. Saya gak mau terjadi apa apa sama pemeran utama film ini" ucap Pak Reno sedikit memaksa.
Alvin menatap pria didepannya ini tajam. Sedikit heran akan perlakuan pria itu pada Zea. Sebagai orang yang peka, Alvin bisa merasakan ada sesuatu yang aneh pada orang yang notabenenya wali kelasnya itu.
"Ayo Zea! Alvin!" ajak Pak Reno.
Dirinya melangkah beberapa langkah, namun tangannya yang digenggam Alvin membuatnya tertahan. Zea sadar kekasihnya tak beranjak dari sana.
Zea memundurkan langkahnya. Berdiri disamping Alvin. Pak Reno yang sadar bahwa kedua anak didiknya itu tidak mengikuti menoleh.
Lagi dan lagi Zea dibuat tercekat oleh wajah Alvin yang dia rasa sedikit menakutkan. Seperti jiwa pria itu tak berada disana lagi. Hanya berisi pandangan tajam membuat hatinya tak tenang.
Tangan Zea bergerak menangkup salah satu pipi Alvin. Alvin yang merasakan sentuhan diwajahnya menoleh. Memandang Zea sekilas kembali memandang walikelasnya itu.
Rasa benci muncul tertuju pada Reno. Sedari awal pertemuan keduanya tidak ada rasa toleran, bahkan terkesan berjauhan. Dengan pak Reno yang menatap Alvin tidak bersahabat terkesan cuek dan Alvin yang tak memperdulikan walikelasnya itu.
Alvin melangkahkan kakinya membuat Zea tertarik mengikutinya. Berlarian kecil menyamakan langkah kakinya dengan langkah lebar Alvin. Sampailah mereka dimobil hitam mewah yang menemani perjalanan mereka sedari tadi yang Zea rasa milik Geo, karena awalnya mobil itu dikendarai Geo.
Alvin membukakan pintu Zea dan menyuruh Zea masuk tanpa mempedulikan panggilan Reno yang berjalan cepat mendekati mereka.
Pak Reno ingin memegang bahu Alvin dari belakang, tapi Alvin menepis.
"Saya sarankan, lebih baik anda tak seenaknya pada saya!" Alvin menatap tajam pria itu, memberi peringatan. Tubuh Pak Reno seketika menegang oleh tatapan intimidasi Alvin. Membuat Alvin sudah memasuki mobil dan mengendari keluar area resto. Meninggalkan pak Reno yang berdiri menatap kepergian keduanya.
Murid murid lainnya melihat hal itu tak bisa berkata kata. Bahkan terkesan kaget lantas menghina Alvin karena gayanya yang sok dibuat buat. Termasuk Rey yang menatap tidak suka Alvin. Gagal sudah rencananya satu bus dengan Zea.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ