
Tangan Alvin mengarahkan pistol keatas.
Dorr
Alvin melesatkan tembakan yang membuat semua orang terdiam dan mengalihkan pandangan mereka padanya.
"Siapa lo? Besar banget nyali lo, ngeluarin senjata disini" seru seorang ketua geng dengan rambut pelontos bersuara keras pada Alvin.
"I am? Leader of Alegiance" jawabnya dengan senyum terbesit dibibirnya.
"Apa mau lo disini?" tanya mereka memandang sinis padanya.
"Haha..Bukankah kalian mengharapkan kehadiranku disini? Dan sekarang aku sudah disini" Alvin memberi jeda "Kenapa kita tidak bermain saja agar kehadiran ku di sini lebih sedikit bermakna" lanjut Alvin manampilkan senyuman dari balik topeng yang menutupi sebagian wajahnya.
"Ha? Bermain? Pengecut yang tidak pernah hadir sekalipun mengajak bermain" ujar Marko mengejek.
"Kayaknya tuan lo udah gila deh Joe" ucap Marko kembali sambil menertawakan keduanya.
"Jaga ucapan lo!" Sentak Gery pada Marko. Ia berdiri dengan mengepalkan tangan menatap kearah Marko yang mengapit kedua tangan didada. Marko menoleh ke Gery yang bersuara tinggi padanya.
"Hey anak buah rendahan! Berani banget lo bentak bentak gue. sadar diri peringkat lo itu jauh dibawah gue. Gue bos dan lo kacung!" sindir Marko menohok pada Gery.
Joe yang melihat keributan itu hanya diam disamping Alvin. Laki laki yang dikenal sebagai pemimpin Alegiance itu kini tak lagi ikut campur karena dengan adanya Alvin, otomatis kekuasaannya berpindah pada pria itu dan kini Joe hanya bisa bergerak jika diperintahkan.
"Kenapa? Gak bisa balas kan lo!" ucap Marko dengan seringai.
"B@jingan, Emang kenapa kalau lo bos? Lo pikir gue takut!" tantang Gery pada Marko.
"Inget, lo cuma bos yang selalu berada dibawah kelompok kami" balas Gery tak kalah menohok.
"Ger stop! Tuan Ale melihat" tahan pria disebelahnya. Gery membuang muka tak menghiraukan wajah Marko yang sudah padam akan guratan kemarahan.
Semua orang yang menyaksikan adu mulut antara Marko dan salah satu anak buah Joe dibuat terpaku akan suara tawa yang menggelegar.
"Pftt.. HAHAHAHA" tawa Alvin menggelar membuat semua orang bingung.
"Apa yang lucu?" tanya Marko mengepal.
"Kalian semua!" jawab Alvin dengan santai. Sekali lagi Alvin membuat semua orang bingung.
"Melihat kalian, seperti melihat pertunjukan bagi gue!" lanjutnya, membuat meradang.
"Banyak omong! Lo bilang ingin bermain kan? Ayo kita bermain" tantang salah satu ketua geng dipihak Marko.
__ADS_1
"Hahaha... Hanya lo? Gue ingin menantang kalian semua" ucap Alvin melangkah ketengah ruangan.
"Kalian bisa maju!" Alvin masih menampilkan senyumnya. " Gue tak ingin membuang waktu. Jadi kemarilah!" Alvin mengulurkan tangan menggerakkan jari telunjuknya untuk maju.
"Terlalu sombong!" sentak seorang pria maju menerobos kearah Alvin. Dengan sigap Alvin menahan manahan serangan itu. Memelintir tangan pria itu.
Krakk
Suara patah tulang yang nyaring membuat siapa saja meringis.
"Akhhh.." jerit pria itu. Alvin yang merupakan pelaku hanya bisa tertawa nyaring mendengar jeritan kesakitan itu.
"B@jingan!" umpat seorang dari pihak pria yang ia patahkan tulangnya. Pria itu berbondong bondong dengan kawan kawannya yang lain mulai menyerang Alvin.
Alvin mendapat serangan terlihat senang dari balik topengnya. Pria itu balik menyerang dengan mempermainkan lawannya. Tak membuat mereka pingsan untuk mengurangi jumlah lawan melainkan memberikan mereka rasa sakit secara bertahap dari serangan yang Alvin luncurkan pada mereka.
Marko yang melihat kesenangan dari balik topeng itu menggeram marah, pria itu ikut maju dengan beberapa ketua geng yang berada dipihaknya. Mulai menyerang Alvin yang sedang bermain dengan tawa.
"Sial, itu bukan Alvin!" umpat Geo melihat pertarungan yang terjadi dari lantai 2.
"Emang bukan!" ujar Julian menyela.
Geo mencebik dengan perasaan dongkol karena Julian yang menyela ucapannya tanpa tahu apapun.
Bahkan saat ada pukulan yang mengenai dirinya. Bukan menghabisi pria itu dengan sekejap Alvin malah menyiksa pria itu dengan menjadikan tameng dari serangan yang ia dapat. Jelas pria itu menjerit kesakitan membuat tawa Alvin makin kencang.
"Gimana? Kita ikut?" tanya Kenan mendekat kearah Geo yang melihat pertarungan di tepi pembatas.
"Gak" jawab Geo cepat. Tidak mungkin Geo mengirim mereka ke seseorang yang sedang menggila itu. Geo masih bisa berfikir rasional untuk tak masuk kedalam api yang membara hanya karena emosi semata.
Netra netra yang terus mengawasi pergerakan Alvin dibuat sama bergidiknya sama seperti melihat King Aodra bertarung. Gila! itulah yang mereka bisa jabarkan dari pertarungan pemimpin Alegiance saat ini.
Lawan terakhir sudah tumbang dengan ringisan terbesit dibibirnya. Suara jeritan, ringisan, dan keluhan akan sakit terdengar di bibir orang orang dengan Alvin sebagai pusatnya.
Anggota geng Aodra yang melihat itu ikut meringis, untung mereka bukan digeng yang sama dan ketua mereka masih bisa dengan bijak dengan tak mengirim mereka ke pertarungan.
"Yah sudah selesai?!" keluh Alvin dibibirnya dengan sedih.
"Sayang sekali!" ujarnya lagi mengadakan kedua tangan. Mata Alvin menelisik kearah dua geng yang tersisa. Alegiance dan Aodra.
Matanya melesat kearah geng Aodra. Lebih tepatnya kelantai dua dimana teman temannya itu berada. Alvin memberikan senyuman terbaiknya membuat orang orang bergidik ngeri. Matanya dan Geo bertemu. Geo tak memalingkan wajahnya menatap kedua mata Alvin yang ia lihat dari kejauhan dengan seksama.
"Hahahaha.." tawa kecil Alvin lagi dan lagi pecah.
__ADS_1
Dia senang Geo bisa bijak menggantikannya.
"Karena tak ada lagi yang ingin bermain, kalau gitu gue pergi dulu. Bye bye!" ucap Alvin melambaikan tangan meninggalkan ruangan itu dengan menginjak tubuh lawan yang menghalanginya.
Joe dengan setia mengikuti kepergian Alvin dari belakang. Saat Alvin meninggalkan ruangan itu suara sorakan senang terdengar dari dalam. Membuat senyum Alvin detik itu juga kembali padam. Wajahnya berubah menjadi Alvin yang dingin dan datar.
Kesan pemimpin Alegiance yang seorang pysico sudah dia perankan dengan baik. Yap! Alvin bermain peran. Dirinya merubah semua gaya yang biasanya ia terapkan. Alvin yang terkesan dingin dan bringas berubah menjadi Alvin yang murah senyum dan suka bermain main.
Alvin adalah aktor yang hebat.
...****************...
Langkah kaki Alvin terus melangkah ke sebuah ruangan yang gadisnya itu tempati. Penjagaan ketat sudah di tempatkan oleh Joe disana.
Pintu ruangan terbuka, Alvin melesat masuk dengan topeng yang ia pakai kedalam. Sedangkan Joe menyuruh penjaga yang ia tempatkan untuk pergi dari sana.
Alvin yang berada dalam ruangan membelai wajah Zea yang masih terpejam. Laki laki itu mengecup singkat bibir merah Zea dengan cinta.
Tangan Alvin terulur kearah tengkuk dan sela sela kaki Zea. Tubuh gadis itu terangkat.
"Mari pergi!" perintah Alvin kearah Joe dengan Zea yang berada dalam gendongannya.
Kedua pria itu melangkah dengan sekeliling ruangan yang sepi. Saat sudah berada didekat mobil, Joe membukakan pintu untuk Alvin. Alvin dan Zea masuk kedalam mobil sekaligus.
"Jalankan!" titah Alvin dijalankan dengan baik oleh Joe.
Mobil yang mereka naiki terus melaju ke tempat yang antah berantah yang disekelilingnya hanya terdapat pohon pohon tinggi saat mobilnya itu lewat.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Hai! I am back. Aku mau curhat nih...
Ntah kenapa belakangan ini mood ngetik aku lagi turun banget. Sampe sampe saat aku pengen ngetik itu rasanya kosong semua. Bukan karena gak ada ide, tapi emang lagi down aja. Makanya belakangan ini aku update 2-3 hari sekali, sorry banget.
Dan dibalik mood turun, aku juga ngerasain alurnya agak berantakan. Dan kalau dibaca itu rasanya gak banget. Ini yang bikin makin down. Udah coba balikin mood tapi masih tetep gini gini aja. Maklum mood aku musiman.
Harapanku moga aja bisa cepet baikan dan bisa balik update sehari sekali bahkan ngasih crazy up. Tapi jangan terlalu berharap ya 🥺, otakku gak secair author lain xixixi (≧▽≦)
Setelah baca ini jangan lupa like dan komen, untuk selalu dukung karya ini. Jujur aja kadang like dan komen kalian bikin mood baikan.
So, Happy Reading all ♡♡
__ADS_1