
Zea berada di sebelah Alvin, melirik kearah pria yang sedang menyetir itu. Ia tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya, karena ia yakin Alvin tak suka dengan apa yang ia lakukan kini. Zea mentautkan jarinya, memainkan tak tahu arah. Menyalurkan rasa canggung yang kini hinggap di dirinya.
Zea terfokus ke depan tak berani melihat Alvin secara langsung. Hingga beberapa menit keduanya masih diam.
"Seru perjalanannya?" tanya Alvin tiba tiba. Tubuh Zea menegang.
Deg
Kemudian,, Zea menggangguk pelan, "Seru!" jawab Zea ragu.
Alvin diam sejenak tak membalas, melihat kearah depan. Pria itu fokus mengemudi dengan laju sedang mengikuti mobil mobil di depannya.
"Seru ya? Terus! Apa aku bilang kamu boleh pergi?" Alvin bertanya kembali, membuat jantung Zea berdentum cepat. Zea menegang.
"Tidak! Tapi, a, aku sudah meminta ijin" Zea membela diri.
"Apa aku membalas bahwa aku mengijinkan?" Alvin kembali melempar pertanyaan.
Zea terdiam, "Maaf!" pintanya lalu mengulum bibir. Tak ada gunanya lagi mencari alasan, dihadapan Alvin yang selalu benar dan ia yang selalu salah.
"Cih! Lagi? Aku bosan dengan permintaan maaf mu!" tutur Alvin marah. Alvin masih fokus kedepan, Namun Kini kendaraan mereka mulai menyalip nyalip kendaraan yang ada di depan mereka.
'Lagi? Kalau bosan kan tinggal pergi aja! Lagian salah siapa gue jadi sering minta maaf gini? Itu juga karena lo yang suka ngatur apapun yang gue lakukan. Ini salah itu salah, kenapa sih lo gak ngebebasin gue aja? Kenapa hidup gue serumit ini cuma gara gara lo?!' dumel panjang Zea melampiaskan kemarahannya tanpa suara dengan menundukkan kepala, memendam apa yang ia rasakan kini.
'Hah! Dan bodohnya gue masih bertanya tanya akan sikap Alvin yang mengekang ini! Hahaha' Zea tertawa dalam batin. Tangan Zea mengepal dengan kuat diantara sela sela kakinya
Grep
Tubuh Zea yang melamun, tersentak kaget saat kedua tangannya yang saling mengepal di genggam oleh tangan besar Alvin.
Zea sontak menoleh kearah Alvin. Tubuhnya semakin menegang, melihat bagaimana lirikan mata Alvin yang tajam tertuju padanya.
Alvin melihatnya? Melihat ia meluapkan emosi dalam pikirannya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Alvin, salah satu tangan Alvin menyetir dan satu tangannya lagi menggenggam tangan Zea erat.
Benar! Alvin melihatnya.
"Jawab!" sentak Alvin namun masih menjaga nada bicaranya pada Zea.
__ADS_1
"A, a, aku_" Zea tak tahu bagaimana ia harus menjawab.
"Cepat katakan! Dan jangan coba untuk berbohong yang nantinya akan berakhir dengan permintaan maaf lagi. Aku akan langsung mengurungmu kalau itu terjadi lagi!" ancam Alvin dengan penuh kesungguhan.
Deg..
Jantung Zea berdetak dengan cepat dan tak karuan.
"I-i-itu!" Zea gelisah membuat ia terbata-bata.
"Apa pertanyaan ku susah dijawab?"
Zea menggeleng cepat, " Ti, tidak! Emm" Suara Zea tak mau keluar, lidahnya keluh seketika.
Kedua tangan Alvin mengepal kuat. Satunya mencengkeram kemudi dan satunya berada ditangan Zea.
"Ish!" Zea meringis. Menahannya dengan memandang kearah depan. Sonta kedua mata Zea membulat.
"Alvin awas!" pekik Zea melihat bagaimana mobil mereka hampir saja menubruk truk besar yang mau berbelok.
Citt
Dug dug dug dug
Walau berhasil selamat. Jantung Zea semakin berdentum cepat. Bahkan adrenalin yang ia rasakan begitu tinggi. Zea yang lemas menyandarkan dirinya di kursi mobil.
Pikiran Zea terganggu. Sontak gadis itu memejamkan matanya.
"Sayang! Hei! kamu okay?" tanya Alvin cemas salah satu tangannya memegang kemudi dan tangannya yang lain menyentuh wajah Zea yang pucat.
Zea mulai membuka mata melihat bagaimana Alvin mencemaskannya. Tapi yang membuat Zea salah fokus adalah Alvin yang tidak memperhatikan jalan, namun masih menjalankan laju mobil dengan satu tangan. Seperti tidak ada jerahnya.
Sontak wajah Zea memadam.
Dug
Zea mendorong tubuh Alvin dengan sekuat tenaga. Membuat pria itu sedikit terjungkal balik, ke tempatnya berada. Alvin melebarkan mata, tersentak kaget tak percaya dengan apa yang Zea lakukan.
"Alvin! Kamu bikin orang jantung tau nggak? Hampir aja tadi nubruk!" seru Zea marah pada Alvin. Nafasnya berhembus tak teratur bahkan sedikit tersegal segal.
__ADS_1
"Maaf!" ujar Alvin merasa bersalah membuat Zea kaget.
"Kamu itu kalau marah, bisa nggak sih ngontrol diri kamu!" tekan Zea marah.
"Zea! Aku minta maaf, cukup!" tekan Alvin dan dengan emosinya Alvin menambah sedikit kecepatan mobilnya.
"Mudah sekali kamu minta maaf? Tadi aja aku, kamu marahin kayak tadi dan hampir celaka. Lagian disini aku nggak sepenuhnya salah Al, siapa yang nggak balas pesan aku? Kamu kan? Terus! Kalau kamu aja nggak balas gimana aku tau kamu nggak ngijinin? Jangan kamu pikir aku ini cenayang bisa tau segala hal?! Lagian, Aku minta maaf kayak tadi, itu karena aku nggak ingin memperpanjang masalah. Dan bisa bisanya kamu bilang bosan dan mau mengurungku kembali!" Zea tersenyum miring, dadanya sesak.
"asal kamu tau ya! Kamu itu serem kalau lagi marah, bawaan suka ngancem dan emosi! Kayak iblis tau nggak! Lihat aja tadi! Gara gara kamu marah, kita hampir celaka. Bisa nggak sih, diomongin baik baik. Nggak perlu pakek marah, ngancem, dan emosi kayak gini. Aku capek tau nggak? harus ngikutin segala hal yang kamu mau. Aku juga capek, setiap hal yang aku perbuat harus selalu diawasi, bahkan untuk berpikir pun kamu juga harus tau. AKU CAPEK Al!" bentak Zea emosi. Lagi lagi Zea kembali meluapkan amarahnya. Ia tahu tak seharusnya ia mengatakan ini semua.
Zea membuang muka enggan menatap Alvin. Kedua mata Zea mulai berair. Alvin yang ada di kursi kemudi melihat bagaimana Zea mengeluarkan apa yang ia pikirkan. Ia juga melihat bagaimana perubahan wajah Zea yang sendu dari pantulan kaca di samping Zea.
Hati Alvin sedikit di liputi rasa bersalah. Amarahnya yang tadi meluap seakan sirna.
Apakah ia emang salah? Jika itu benar, ia akan mencoba mengubah seperti yang Zea inginkan.
"Kemari!" tutur Alvin membuat gerakan, Alvin merentangkan salah satu tangannya ke arah Zea dan tangannya yang lain masih tetap sama, fokus pada mengemudi.
Zea yang masih dalam kondisi tak karuan, diam sejenak tak menuruti Apa yang Alvin mau. Zea sibuk mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa suara.
"Sayang! Zea! Kemari" perintah Alvin lagi sedikit melembut.
Zea mau tidak mau harus menuruti apa yang Alvin inginkan. Zea mengusap air matanya, menahan agar tidak ada yang jatuh di hadapan Alvin.
Gadis itu melepaskan selt beltnya. Mengikuti arahan Alvin untuk duduk di pangkuannya.
"Good girl" ujar Alvin mengusap rambut dan Kepala Zea menenangkan Zea yang berada dalam pangkuan dengan posisi menyamping.
Alvin menyandarkan Zea ke dadanya. Memberikan sentuhan hangat yang menenangkan.
"Maafkan aku!" pinta Alvin dengan sesekali mengecup puncak kepala Zea.
Perlakuan Alvin membuat Zea yang mencoba menahan air matanya kembali turun.
Zea membekap mulutnya Manahan isakan tangis. Namun sayang tubuhnya ikut bergetar seiring air mata yang ia keluarkan.
"Hiks hiks" tangis Zea.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ