
"Kamu jahat tau gak!"
"Jahat! Jahat! Jahat!"
Zea terus menyerang dada Alvin hingga Alvin merengkuh Zea dalam pelukannya. Menghentikan serangan gadis itu.
Alvin senang Zea bisa bercanda kembali dengannya.
"Oke stop!" ujar Alvin menatap kedua mata Zea. Zea menghentikan serangannya walau hatinya masih dongkol.
"Untuk ucapanku yang menghamilimu aku memang bercanda. Tapi aku serius marah ke kamu saat kamu membalas sapaan pria lain!"
"Jangan pernah dekat maupun berbicara dengan pria lain, jika kamu tak ingin melihatku mengamuk! Kamu tahu seberapa gilanya diriku kan" tegas Alvin dengan nada serius membuat Zea menelan ludah.
"Tanpa terkecuali?" tanya Zea. Alvin mengangguk.
"Tanpa terkecuali"
"Termasuk Bang Arka?!" tanya Zea kembali.
"Akan ku pertimbangankan" jawabnya.
”emm oke" ujar Zea tak ingin mendebat.
Alvin melepaskan pelukannya, menyibak rambut Zea yang jatuh. Kemudian membelai wajah Zea.
"Kamu milikku Ze!" ungkap Alvin menatap Zea dalam. Tak mendapati respon dari Zea, Alvin bangkit.
"Ayo ikut aku" ajak Alvin menggenggam tangan Zea mengajak gadis itu bangkit.
"Mau kemana?" tanya Zea.
Alvin tak menjawab, melangkahkan kakinya masuk lebih dalam ke apartemennya. Zea mengikuti dibelakang pria itu.
"Duduk disini dulu!" ujar Alvin mendudukan Zea di kursi yang menghadap ke dapur.
Alvin berjalan mendekat ke kulkas.
"Mau minum apa?" tanya Alvin menoleh kearah Zea.
"Air putih aja" jawab Zea. Alvin mengambil air mineral kemasan didalam kulkas. Kemudian pandangannya terfokus pada cup besar dengan tulisan strawberry cheesecake. Ia juga membawa itu kehadapan Zea.
Mata Zea berbinar melihat strawberry cheesecake dalam bentuk es cream itu.
"Kamu mau yang lain?" tanya Alvin pada gadis itu. Zea menggeleng, kedua matanya terfokus pada kemasan es cream didepannya itu
"Mau makan di sofa depan?" tanyanya lagi. Kali ini Zea mengangguk dan menatap Alvin.
Alvin mengambil sendok yang berada di rak terhubung dengan meja.
"Ayo!" ajaknya. Zea membawa es cream ditangannya dan selebihnya dibawa oleh Alvin. Tangan Alvin dan Zea bertautan berjalan kearah ruang depan dimana tempat ia dan Zea diawal.
Zea dan Alvin duduk di sofa. Alvin memberikan sendok pada Zea karena ia tahu Zea tertarik dengan kemasan yang gadis itu bawa. Ia membuka segel air mineral yang ia bawa.
"Minum dulu" tutur Alvin memberikan botol itu pada Zea. Zea menerima dan meneguk sedikit air didalamnya.
"Udah?!" tanya Alvin saat Zea menyerahkan air mineral padanya. Alvin menerima dan menutup kembali botol minuman itu dan meletakannya dimeja.
Zea nampak antusias membuka kemasan es cream yang ia bawa. Matanya berbinar saat melihat isi didalamnya. Satu suapan masuk kedalam mulut Zea membuat gadis itu girang.
Alvin mengambil remot tv membuka aplikasi didalam televisi yang menayangkan berbagai film.
__ADS_1
"Mau nonton apa!" tanyanya pada Zea yang masih melahap es cream dengan nikmat.
"Terserah!" jawabnya.
Alvin memilih salah satu film di televisi secara random. Kemudian ia berjalan mendekati Zea duduk disamping gadis itu.
Alvin membawa Zea kedalam pelukannya dan gadis itu tak bisa memberontak. Nyatanya pelukan Alvin sangat nyaman dan pas untuknya.
"Al!" panggil Zea setengah bergumam.
"Ya?" jawab Alvin sambil memandangi wajah Zea yang melihat kearah depan sambil menyuapkan es cream yang dipegangnya kemulutnya sendiri.
"Boleh nanti aku keluar sama bang Arka?" Zea meminta izin. Dahi Alvin mengkerut.
"Nggak" jawabnya dengan tegas.
Zea diam, mungkin ia akan pergi secara diam diam nanti jika masih tidak diperbolehkan.
Zea kembali memandang kearah layar televisi besar dihadapannya itu. Menikmati film yang ia tonton.
"Aku mau ke kamar dulu! Kamu tunggu disini! Jangan kemana mana" ujar Alvin beranjak dari duduknya.
Melihat kepergian Alvin, Zea mengendikan bahunya. Zea tak tahu apa yang dilakukan Alvin dikamar memilih mengacuhkan pria itu. Ia tak ingin ikut campur.
Zea yang terlalu fokus dengan film di depannya juga pada es cream dipeluknya tak menyadari bahwa ada beberapa orang yang memasuki apartemen Alvin.
"Pokoknya gue mau main duluan!"
"Oke, lu main sama gue. Kita bettle!"
"Gue jabanin!"
"By, kok lo ada disini?" tanya Julian melihat keberadaan Zea. Satya menyikut perut Julian.
"ucapan lo!" peringatnya.
"Sorry typo!"
Zea bingung dengan keadaan saat ini hanya bisa mengulas senyum.
"Hai!" sapa Zea.
"Ngapain kalian kesini?" tanya Alvin datang dengan pakaian yang berbeda.
Mata Julian dan Satya memincing. Sedangkan Kenan diam dengan gaya coolnya.
"Kalian pada ngapain berdua-duaan di apartemen!" tutur Satya tak menghiraukan pertanyaan Alvin.
"Pasti pada gini ya!" sahut Julian menyatukan jari jari kedua tangannya, lalu menyatukan kedua ujungnya seperti simbol orang berciuman.
Keduanya menaik turunkan alis dengan senyum menggoda.
"Hayolo ngaku!" ujarnya mereka kembali.
Zea yang mendapat godaan seperti itu tak bisa menahan semburan merah diwajahnya. Ia memilih memalingkan muka.
"Brisik pergi sana!" ujar Alvin tak memperdulikan mereka berjalan mendekat kearah Zea kembali, duduk disamping gadis yang sedang malu malu itu.
Ketiga pemuda itu tak mengindahkan usiran Alvin ikut duduk disofa didekat keduanya.
"Lo ambil camilan sono Jul" ujar Satya mendorong tubuh.
__ADS_1
"Lah kok gue, lo aja sono!" jawab Julian tak terima.
"Berisik lo pada, gue aja" Kenan berdiri berjalan kearah belakang menuju dapur.
Alvin memeluk Zea dari samping. Sedangkan Zea kini sedang malu malu ria. Untung es creamnya sudah ia letakan di meja.
"ehm ehm!" deheman Julian dan Satya melihat kemesraan Alvin dan Zea.
Zea mencoba melepaskan tangan Alvin yang memeluknya.
"Al" panggil Zea.
"Biarin aja. Anggap cuma ada kita berdua disini!" ujar Alvin
"Dih!" gidik Julian dan Satya berbarengan.
Zea hampir saja tertawa akan tingkah dua teman Alvin itu. Namun ia mencoba mengabaikan dan fokus difilm.
"Kenan lama banget sih!" gerutu Julian tak kunjung melihat Kenan datang.
Pandangan Julian kemudian tertuju kearah meja. Ia melihat cup berwarna pink yang terlihat menggoda. Tangannya terulur mengambil cup besar itu.
"Taruh kembali!" ujar Alvin tegas menatap Julian.
"Minta dikit Al" balas Julian. Alvin memberikan tajam seakan menusuk pria itu.
Akhirnya Julian meletakkan cup besar itu kembali diatas meja.
"Cih!" decih Julian.
"Kenapa sih? Makan aja kali Jul, itu setengahnya belum gue sentuh kok!" ujar Zea pada Julian.
"Nggak!" tegas Alvin tak mau dibantah menatap Zea tajam.
"Cowok lo pelit Ze!" ujar Julian menggerutu membuat Zea merapatkan bibir menahan tawa. Seorang Alvin dibilang pelit?
Tak lama kemudian Kenan kembali dari dapur. Kenan meletakan apa yang ia bawa di atas meja.
"Lama amat lo!" gerutu Julian.
"Lah kok cuma minuman doang Ken?" tanya Satya memperhatikan meja didepannya.
"Gak ada camilan didapur. Udah gue cari cari, makanya gue lama!" jelas Kenan.
"Lo lihat kan Ze! Apartemen mewah tapi kulkas kosong" omel Julian membuka salah satu botol minuman.
Zea hanya bisa terkekeh mendengar omelan kesal Julian sedangkan Alvin mencebik bibir.
"Cerewet lo Jul! Beli aja dibawah apa susahnya sih! Mau dibantai Alvin lo ngomel mulu" tutur Satya.
"Ck! Mager Sat, lo aja sono" suruh Julian.
"Bangsat lo emang, ogah gue! Minum aja noh sampe kenyang sampe kembung!" seloroh Satya.
"Apaan sih nih ribut ribut!" ujar Geo datang mendekat kearah mereka.
Keributan yang dibuat Julian dan Satya membuat mereka tak menyadari kedatangan Geo.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1