
Alvin membawa mereka kesebuah kafe acak yang pria itu temukan. Zea, Keyla, Icha dan Alvin masuk kedalam memesan beberapa minuman.
Tringg...
Ponsel Alvin berbunyi.
"Bentar!" ujar Alvin menunjukan handphonenya. Alvin menjauh dari mereka mengangkat panggilan yang ia terima.
"Halo!" ujar Alvin.
"Halo Al! Lo dimana aja sih? Anak anak udah nunggin nih!" ujar pria di balik telpon.
Alvin melihat kearah jam tangannya. Ini udah lewat dari jam yang ia janjikan pada teman temannya itu.
"Tunggu disana! Gue bakal kesana sekarang" cetus Alvin.
"O,oke, buruan!" seru pria itu dari balik telpon mematikan panggilan.
Alvin kembali ke meja Zea berada.
"Dari siapa Al?" tanya Zea.
"Julian" jawab Alvin.
"Ohw!" seru Zea.
Alvin menatap kearah Zea dalam.
"Aku ada urusan di camp! Kamu mau ikut atau tetap disini?" tanya Alvin mengajak.
Zea menatap kearah kedua temannya itu.
"Gimana?" tanyanya.
"Terserah Ze! Tapi gue males kalau ketemu Satya" seru Icha antara menolak dan menerima.
Zea melirik kearah Alvin. Ia sebenarnya juga enggan ikut pria di depannya itu ke dunia gelapnya itu. Zea udah kapok. Ia kapok berurusan dengan Alvin dan gengnya itu.
Zea menggeleng.
"Nggak usah, aku sama mereka disini aja!" ujar Zea.
Alvin mengangguk pelan.
"Okey!" ujar Alvin.
"Kalau gitu, aku pergi!" lanjutnya. Zea mengangguk kecil.
"Bye!" ujar Zea melambai.
Alvin ikut melambai kemudian ia berbalik lalu melangkah, sesekali langkah Alvin terhenti memandang ke belakang menatap Zea.
Sedangkan Zea kini tak lagi menatapnya, ia terfokus dengan obrolan Icha dan Keyla.
__ADS_1
Alvin mendekat ke kasir lalu ia menyondorkan uang sambil menunjuk ke arah meja Zea.
"Siap! Baik!" ujar kasir itu pada Alvin sambil menatap kagum ke arah Alvin.
Alvin keluar dari kafe. Lalu ia masuk kedalam mobil, menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan cafe.
Di kafe Zea, Keyla, dan Icha saling berbincang.
"Lalu rencana lo selanjutnya apa Key?" tanya Zea sekali lagi.
"Ya gitu! Untuk sementara gue bakal ngehindar dari mereka. Lagian ortu gue juga gak bakal datang buat keributan di sekolah kayak dulu, paling nggak nyuruh tuh anak paman gue nungguin gue di depan sekolah. Gue jamin!" seru Keyla mantap.
Zea dan Icha mengangguk angguk mendengar penjelasan Keyla.
"Terus!!??" ujar Zea.
"Yah untuk sekarang sih masih aman. Kalau soal keuangan, gue masih ada duit cash di tas! It's okay!" Keyla mengacungkan jempol sembari tersenyum.
"Ahh.." seru Zea dan Icha mengangguk angguk kecil mendengar hal itu. Keduanya tersenyum masam akan keberanian Keyla.
...****************...
Mereka bangkit ketika hari sudah mulai gelap. Sudah beberapa jam mereka di kafe itu setelah salah satu pelayan datang dan menanyakan apa ada pesanan lain? Karena Alvin sudah membayar jika mereka ingin menambah.
"Lebih baik sekarang cari tempat menginap buat lo dulu Key!" ujar Zea keluar dari kafe bersama dua sahabatnya itu.
"Iya!" balas Keyla.
Disisi lain...
Orang tua Keyla dan Zea berkumpul di ruang tamu kediaman Zea. Mbok Jum kembali membawakan mereka minuman.
"Lo tenang dulu Ja! Kalau lo gini gak heran kalau anak lo sering kabur kaburan" seru Hendra, papa Zea menasehati.
Mama Keyla menenangkan sang suami dengan mengusap punggung pasangannya itu.
"Diminum dulu!" tutur Mama Tia menyajikan minuman yang dibuat mbok Jum.
Mama Keyla mengambilkan minuman itu, memberikannya ke sang suami agar lebih tenang.
Admaja, papa Keyla menerima minuman pemberian sang istri dan menegaknya untuk menenangkan hati.
"Hah!" papa Keyla menghela nafas sambil mengusap dada.
"Gue nggak habis pikir! Punya anak cewek satu, tingkahnya banyak sekali. Mana ada anak cewek suka mberontak kayak Keyla, sukanya main kabur kaburan. Heran! Diancam bagaimanapun gak mempan!" keluh Admaja.
Hendra dan Tia, orang tua Zea tersenyum mendengar hal itu. Keduanya meringis.
"Kan sama kayak lo dulu! Lo juga gitu! Itu namanya karma Ja!" seru Hendra bergurau.
"Ya kan beda Hen! Gue cowok dia cewek. Apa nggak bisa kalem dikit! Gue juga gak mau maksa kayak gini! Tapi lo tau lah kekhawatiran dari orang tua kayak kita. Lagian dia mau tetep sekolah disini walau jauh dari kita, juga kita terima walau sempat cekcok besar karena kita khawatir kalau ninggalin dia sendiri disini. Terus waktu itu ketahuan ikut balapan liar juga akhirnya kita yang ngalah karena nggak mempan sama sekali walau udah di ancem!" keluh Admaja.
Papa Zea menepuk pundak papa Keyla turut prihatin. Pria itu mengangguk menyetujui.
__ADS_1
"Anak gadis gue juga sama aja, lo sama gue senasib!" tutur Papa Zea meringis.
Mereka menghela nafas panjang.
"Terus kalian mau gimana sekarang?" tanya Mama Tia kepada keduanya.
"Sebenarnya gue pulang kini sama mas Dika dan keluarganya. Karena tuntutan bokap gue, gue gak bisa gitu aja ngabaiin mereka. Apalagi karena sikap Keyla yang selalu bikin khawatir. Gue mau mereka tinggal di rumah terus jaga Keyla. Eh anaknya malah gak mau dan kabur kayak sekarang" seru Admaja.
Hendra dan Tia bersitatap.
"Lo yakin mau nerima mereka balik setelah mereka ninggalin keluarga lo dengan utang utang itu?" tanya Hendra.
Mama Papa Keyla terdiam.
"Sebenarnya aku juga gak terlalu yakin! Tapi karena mengingat dulu mereka pernah jadi bagian keluarga Admaja dan mas juga udah ngelupaiin. Aku sih ikut keputusan dia aja!" bela mama Keyla di sebelah sang suami.
Papa mama Zea mengangguk kecil, keduanya mengerti.
"Kita pikirin caranya sama sama!" ujar Mama Zea menenangkan.
Mereka terdiam saling tersenyum tipis memandang satu sama lain.
...****************...
Keyla, Icha, dan Zea baru saja keluar dari suatu motel kecil yang mereka cari di internet.
"Hah!" ketiganya menghela nafas lelah.
Sudah 3 kali mereka bolak balik mencari tempat untuk Keyla tinggal, tapi yang mereka dapat adalah tempat dengan kualitas buruk.
"Gimana kalau kita cari kak Wendy aja Key! Dia kan selalu update tempat aman buat kita kita yang kabur!" ujar Icha.
Keyla menepis.
"Nggak Cha! Terlalu bahaya kalau ke tempat kak Wendy! Terlalu banyak yang lihat soalnya, lagian tempat dia selalu rame. Takutnya keluarga gue dateng terus bikin masalah di tempat mereka kayak yang dulu!" ujar Keyla menolak.
Zea dan Icha mengangguk setuju.
Ketiganya duduk di tepian jalan layaknya anak hilang yang melihat kendaraan riwa riwi di sepanjang jalan.
Brmm brmm
Segerombolan motor mendekat kearah mereka. Salah satunya berhenti tepat di dekat Zea, Keyla, dan Icha membuat debu mengarah ke tiganya.
"Hei!" seru Icha marah lantas bangkit bersama dengan Zea dan Keyla.
Pria itu turun dari motor melepas helmnya.
"Lo!" seru Icha menunjuk dengan kesal saat mengetahui siapa pria tak sopan itu.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1