
Zea terpaku dengan pelukan Miranda. Ia seketika bingung.
Selama beberapa hari dirumah untuk menjernihkan pikiran. Ia lega setelah bercerita apa yang terjadi dengan dirinya pada keluarganya.
Tapi menjelang ia akan pergi dalam waktu dekat, ia tiba tiba terpikir oleh sosok Alvin.
Harusnya ia benci dan menghindar. Tapi bayangan pria itu yang manis saat memperlakukannya juga tak kalah kuat jauh di lubuk hati Zea.
Zea melepaskan pelukan Miranda.
"Ini bukan salah Tante kok! Ini.." ucapan Zea terjeda ia tak bisa melanjutkan ucapannya. Zea menunduk tak bisa berkata.
Miranda mengusap rambut Zea dengan lembut, "Tante tau! Ini salah Alvin. Alvin terlalu keras buat kamu hingga kamu takut padanya" jelas Miranda.
Zea mendongak melihat Miranda.
"Zea tak ingin dekat dengan Alvin Tan!" ujar Zea merenggut. Wajah Zea nampak sedih karena pilihan yang ia buat sekarang.
"Tante tau!" balas Miranda memahami.
Miranda menoleh kearah kedua orang tua Zea. Keduanya nampak cemas melihat Zea.
Miranda menegaskan diri dengan melembut.
"Em, Permisi, bolehkah saya meminta waktu dengan Zea? Saya pastikan tak akan ada yang terjadi pada Zea!" tutur Miranda meminta ijin.
Mama Tia tersentak kaget. Kedua orang tua Zea saling bersitatap lalu keduanya memandang Zea, haruskah mereka menyetujui? Zea mengangguk pelan. Walaupun Alvin keras padanya, namun wanita di depannya ini selalu berprilaku lembut padanya.
"Karena Zea setuju maka silahkan" ujar mama Tia.
"Makasih!" balas Mommy Mira.
Miranda menatap lekat pada Zea. Ia menggandeng tangan Zea, "Ayo!" ajak Miranda.
Zea bersedia mengikuti langkah Miranda keluar. Hanya dengan pakaian santainya. Zea ikut dengan Miranda.
"Kamu yakin?" tanya Mama Tia masih cemas.
Zea merengut lalu mengangguk, "Tante baik sama Zea. Mama tenang aja, kalau ada apa apa Zea langsung hubungi mama. Jam selalu Zea pakek" ujar Zea menunjukkan jam di pergelangan tangannya.
Karena takut terjadi sesuatu pada putrinya itu. Kedua orang tua Zea tanpa ragu membelikan Zea jam tangan dengan navigasi yang selalu memberitahukan dimana lokasi Zea. Terlihat berlebihan emang, namun sebagai orang tua mereka tak ingin terjadi kesalahan yang sama untuk ke sekian kalinya.
"Saya akan jaga Zea dengan baik" tutur Miranda meyakinkan melihat kecemasan keduanya.
Zea ikut masuk kedalam mobil Miranda tanpa keraguan. Ia yakin bahwa Miranda berbeda dari Alvin.
"Pakai seat beltnya" tutur Miranda disebelah Zea.
Miranda menyetir mobil sendiri membawa Zea pergi dari sana.
__ADS_1
Zea melihat kesekitar jalanan dengan beberapa kendaraan yang melintas. Jika ia pikir pikir, sebentar lagi ia akan meninggalkan kota ini. Tak tega rasanya Zea pergi setelah beberapa tahun tinggal disini. Jika meninggalkan kota ini, Zea juga harus meninggalkan kedua sahabatnya. Zea menyayangkan pilihan yang ia pilih sekarang ini. Tapi mau bagaimana, keadaan memaksa dan ia sudah tidak kuat lagi. Zea ingin kabur lagi untuk terakhir kalinya.
Miranda membawa Zea melintasi gedung gedung tinggi pencakar langit disana. Hingga mobil mereka berhenti di sebuah gedung megah dengan tulisan 'Immanuel group' Zea menatap kearah gedung itu.
Tanpa bertanya Zea tau dimana mereka sekarang.
"Kenapa Tante bawa Zea kesini?" tanya Zea penasaran.
Miranda tersenyum tipis, "Ini gedung milik keluarga kami. Apa kamu tidak tertarik menjadi pasangan dari pemilik gedung ini?!" tanya Miranda pada Zea.
Zea berwajah aneh. Ia menoleh kearah Miranda, "Tidak" jawab Zea cepat.
"Kamu yakin?" tanya Miranda.
"Iya" Zea menjawab tegas.
"Oke" seru Miranda.
Miranda kembali melajukan mobilnya. Ia mengajak Zea berkeliling.
"Sebenarnya kita mau kemana tan?" tanya Zea setelah mereka berputar putar tak tahu arah.
Miranda menoleh mengulas senyum manis pada Zea.
"Tante mau ngajak kamu jalan jalan sebelum kamu pergi" ujar Miranda membuat Zea bungkam.
Zea tau bahwa wanita di sampingnya ini ikut membantu kepindahan sekolahnya lewat Geo. Zea menunduk dengan perasaan sedih.
Zea semakin tak tega, "Apakah pilihan Zea sekarang ini pilihan yang tepat Tan? Atau apakah yang Zea lakukan sekarang ini bakal sia sia saja nantinya? Zea bingung" keluh Zea dengan terbuka pada wanita di sampingnya itu.
Zea merasa nyaman dengan mommy Mira.
Mommy Mira hanya bisa tersenyum tipis, "Tante tak tau! Setiap pilihan pasti akan ada resikonya. Tapi untuk sekarang sepertinya pergi juga bukan keputusan yang salah. Kamu hanya perlu menguatkan diri untuk masa mendatang dan disini tante akan membantu sekuat yang tante bisa" ujar Miranda.
Zea mengangguk pelan, "Begitu! Zea mengerti, Makasih tan" ujar Zea menoleh sambil tersenyum ramah.
"Sama sama" jawab Miranda.
Miranda mengendarai mobilnya dengan bercakap cakap dengan Zea di sepanjang jalan hingga mobil Miranda berhenti di sebuah restoran mewah.
"Ini" ujar Zea melihat keluar jendela.
"Tante laper! Temani Tante makan yuk!" ajak Miranda.
"Oke" jawab Zea. Dengan hati tenang Zea melangkah keluar dari mobil mengikuti Miranda.
Ia melihat restoran di depannya itu.
Tempat yang sama ketika Alvin mengajaknya dulu.
__ADS_1
'Sudah lama tidak kesini!' batin Zea.
Mereka masuk kedalam restoran disambut oleh menejer disana.
Zea bersitatap dengan pria yang ia kenal itu.
"Sudah lama anda tidak kesini nona Zea! Sekarang anda datang bersama nyonya Immanuel ya!" ujar Marko dengan maksud lain.
Zea tersenyum ramah pada Marko, "Iya" balas Zea.
Mommy Mira melihat keduanya, "Marko tolong siapkan ruangan yang biasanya!" ujar Miranda takut Zea tak nyaman.
Marko mengangguk kecil, "Silahkan!" ujar Marko mengantar keduanya.
Zea mengikuti dari belakang sambil melihat ke sekeliling.
Ia melihat beberapa dekorasi yang sama dengan yang waktu itu ia lihat.
Ia juga ingat dengan drama yang terjadi saat ia dan Alvin pertama kali datang kesini.
'Setelah di pikir pikir betul juga! Manajer ini tak akan melepaskan kami dengan begitu mudah jika tak memiliki hubungan dengan tempat ini. Pelayanan setelahnya juga tidak masuk akal. Bodohnya gue!' batin Zea tersenyum smirk kembali pada ingatannya saat datang bersama Alvin.
Cklekk
"Silahkan!"
Ruangan dibuka, Zea masuk kedalam duduk berhadapan dengan Miranda.
Marko menyodorkan daftar menu pada keduanya. Marko menunggu beberapa saat.
"Apa yang ingin anda makan nyonya Miranda?" ujar Marko bertanya.
Miranda menutup daftar menu, lalu ia melihat Zea.
"Apa yang ingin kamu makan Zea?" tanya Miranda kearah Zea yang nampak tak berminat.
"Em Zea gak laper Tan, biar tante aja yang pesan" ujar Zea menolak dengan halus.
"Yakin?" tanya mommy Mira.
"Iya" jawab Zea.
Mommy Mira menoleh menyerahkan daftar menu pada Marko lalu ia menyebutkan beberapa menu kearah Marko.
"Siapkan camilan dan minuman juga untuk Zea" ujar mommy Mira diakhiri
"Baik" Marko dan para pelayan lain pergi menyisakan Zea dan mommy Mira.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ