My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
199. Minggu pertama bertemu 2


__ADS_3

Aku menghabiskan burger ditanganku. Padahal aku memakannya dengan perlahan agar mengulur waktu, namun tetap saja habis.


"Sudah selesai?" tanya Alvin membuat ku terkesima.


"Oh! Sudah!" jawabku pelan.


"Kalau gitu ayo!" ajaknya menarikku untuk bangkit.


Aku membelak dan menahan tangan Alvin, "Kemana?" tanyaku dengan takut.


"Kamar!" jawabnya semakin membuat ku semakin takut.


"Ayo!" ajaknya kembali menarik tanganku.


'Tidak bisa! Tidak bisa begini!' batinku berseru, takut Alvin akan melakukan tindakan diluar batas padaku.


"Alvin!! Tunggu Al! Aku gak mau. Kita di depan aja ya? Ya?" pintaku sedikit memberontak. Menggerakkan tanganku agar Alvin melepaskannya.


Tapi tenaga Alvin lebih kuat dari ku. Pria itu seakan tak mendengar dan terus melanjutkan hingga kami sampai di depan pintu kamar.


"Alvin!!" bentak ku keras agar Alvin sadar tentang apa yang ia hendak lakukan.


Alvin melirik kearah ku dan dari bibirnya terbesit senyuman.


Cklekk..


Alvin membuka pintu kamar dan menarikku masuk. Dengan sekeras tenaga aku mencoba untuk tidak masuk kedalam.


"Al!!" panggil ku lagi. Namun tenaga Alvin berhasil membawaku masuk.


Aku masuk kedalam melihat betapa gelapnya ruangan itu.


Ctekk..


Alvin menyalakan saklar lampu di dinding membuat ruangan itu menjadi terang. Aku mengawasi seluruh ruangan. Hanya ada kasur dan layar lebar disana. Serta beberapa hiasan yang menempel di dinding. Ini lebih seperti bioskop dari pada kamar untuk tidur.


"Gimana? Bagus kan? Tapi sepertinya gelap lebih bagus!" ujarnya kembali lalu mematikan lampu.


Ruangan menjadi kembali gelap dan tiba tiba lampu lampu yang tergantung didinding menyala membuat ruangan itu menjadi indah dan berkilauan.


"Wah!!" seruku tanpa sadar.


"Gimana? Aku sengaja membuatnya seperti ini agar kita tidak perlu lagi berjalan jalan keluar" ujar Alvin seperti meminta pendapat dariku.


"Em bagus" jawabku mengakui namun masih dalam suasana canggung dengan Alvin.


"Ayo masuk!" ajak Alvin menggandeng ku kearah kasur. Aku membelak namun aku sudah ditarik Alvin masuk kedalam.


Alvin naik keatas kasur membiarkan ku berdiri di samping kasur. Aku tak berani naik ke kasur, 'Bagaimana jika Alvin macam macam setelah aku naik?' batinku dengan berbagai pikiran negatif.


Alvin menatap ke arahku heran, "Ngapain diam disitu? Naik!!" ujar Alvin seperti memerintah.


"Em!!" aku mengangguk singkat, kemudian duduk diatas kasur. Membiarkan kakiku bergantung di pinggir kasur.


Aku tak bisa terlalu dekat dengan Alvin jadi aku memposisikan diriku duduk di pinggiran kasur.


Di sampingku, aku tahu bahwa Alvin melihat dengan jelas apa yang kulakukan kini.


Aku duduk dengan tenang sambil menunggu Alvin menyalakan layar lebar.

__ADS_1


1 menit, 2 menit, Alvin tak kunjung menyalakan. Aku menoleh kearah pria itu yang seperti menunggu ku dengan terbuka.


"Kok gak dinyalain?" tanyaku pada Alvin.


"Al!" panggilku karena Alvin tak kunjung menjawab.


Alvin terus memandangi ku tanpa berbuat apa apa.


Puk puk..


Alvin menepuk kasur, mengisyaratkan diriku untuk mendekat. Ia melakukannya dengan tatapan mengintimidasi.


"Hah!!" aku menghela nafas, menaikan kakiku keatas ranjang. Kemudian mendekat pada Alvin.


Aku tepat disamping pria itu.


Setelahnya Alvin baru mengambil remot, menyalakan layar lebar di depan kami.


"Ini film yang di rekomendasi Joe! Kita nonton ini saja" ujar Alvin memutar film itu tanpa menanyakan apa yang ingin ku tonton.


"Oke" balasku tak ingin membantah.


Beberapa menit berlalu. Aku menonton layar lebar di depanku dengan seksama. Seperti layaknya sikap Joe yang membosankan, film yang ia rekomendasikan juga sama sepertinya. Membosankan.


"Hah!!" aku menguap tak bisa menahan kantuk yang tiba tiba datang.


Tanpa sadar aku mulai terbuai, memejamkan mata dan masuk kedalam alam tidur.


...**********...


Author POV


Alvin menyandarkan Zea kedalam dekapannya. Membiarkan Zea tertidur di pelukannya.


Tangan Alvin bergerak, menyikap rambut Zea yang jatuh menutupi wajahnya.


Alvin terus memandang Zea hingga pandangannya jatuh ke tangan Zea yang ia lihat sedari tadi terus berada di dalam saku celananya.


Ia penasaran dengan apa yang Zea sembunyikan. Hingga ia menemukan botol semprot di saku Zea.


"Emm!" Alvin mengernyit saat mencium bau menusuk dari botol itu.


Ia menatap kearah Zea kesal.


"Apa kau berniat menghalangi ku dengan ini? uhm, dasar!" dumel Alvin melempar botol itu ke pojokan membuat botol itu menggelinding menjauh.


Alvin menangkup wajah Zea, melihatnya dengan penuh arti.


"Padahal waktu ku disini cuma sebentar dan kau malah tidur! Sepertinya aku cukup membuatmu nyama bukan?" gumam Alvin bertanya pada Zea.


Alvin mengusap pelipis Zea, kemudian ia membaringkan tubuh Zea, membiarkan gadis itu berbaring di kasur.


Alvin menatap wajah Zea yang sedang tidur dengan seksama. Seperti tak ingin melewatkan setiap detik dari apa yang ia lihat.


Cup


Alvin mencuri ciuman Zea. Pria itu merasa senang bahwa kekasihnya ini kembali lagi padanya.


Cup

__ADS_1


Alvin melakukannya lagi dan sebuah senyuman terbesit dibibirnya.


'Haruskah aku melakukannya lebih jauh?' batin Alvin dengan ide ide licik di kepalanya.


Bibir Alvin terbesit senyuman. Ia mulai menyentuh wajah Zea, kemudian beralih ke bibirnya, menghisapnya dengan lembut agar tak membangunkan Zea.


Ciuman Alvin sangat menuntut dikala Zea membuka sedikit bibirnya yang menjadi terobosan untuk Alvin.


"Ekmm.." rengek Zea dalam tidurnya merasa tak nyaman.


Alvin menghentikan ciumannya beralih menatap wajah Zea.


"STT!!" desis Alvin mengusap rambut Zea agar gadis itu tenang.


Melihat Zea yang tak lagi menggeliat. Alvin melanjutkan aksinya, memberikan beberapa kecupan dan hisapan di leher Zea yang seakan mengijinkan melakukan itu, hingga leher Zea meninggal bekas.


"Cantik!!" puji Alvin melihat bercak merah yang ia buat.


Ia menatap Zea yang masih tertidur. Kemudian mengacak-acak rambut gadis itu.


"Sepertinya kamu lelah beberapa hari ini! Jadi tidurlah dengan baik!" gumam Alvin melihat betapa lelapnya Zea tidur.


Alvin ikut membaringkan tubuhnya juga, berbaring di samping Zea. Melihat wajah Zea yang tertidur selama beberapa jam hingga pria itu ikut mengantuk karena ketenangan yang Zea berikan.


...****************...


Zea bangun merasakan berat dibadannya. Ia mengerjapkan mata melihat Alvin yang ikut tertidur disampingnya.


Tangan dan kaki Alvin merangkul erat tubuhnya. Membuat Zea tidak bisa bangun.


Zea memandang sekitarnya yang gelap, hanya menyisakan lampu lampu di dinding.


'Aku ketiduran!' batin Zea berseru, sadar dengan situasi sekarang.


'Jam berapa ini?' batin Zea bertanya. Ia menggerakkan tangannya, melihat jam yang ada disana.


Zea membelak kaget karena waktu menunjukkan pukul 18:00, malam. Berapa lama ia tertidur??


Dengan segera Zea bangkit. Mendorong tubuh Alvin, menyingkirkan Alvin yang memeluk tubuhnya hingga pria itu terbangun.


Alvin yang setengah sadar melihat bagaimana Zea tergesa-gesa mengambil barang-barangnya.


"Mau kemana?" tanya Alvin memperhatikan Zea.


"Em, aku mau pulang! Ini udah malam. Mama pasti udah cariin aku!" jawab Zea apa adanya.


Zea bingung harus bagaimana. Apalagi sekarang mama papanya pasti tak bisa menghubunginya karena ia meninggalkan jam tangan digitalnya dirumah. Lagipula jika ia kenakan, itu juga sia sia karena tidak berfungsi.


"Tunggu sebentar! Akan aku antar" ujar Alvin sambil bangkit dari kasur.


"Ah gak usah aku bisa pulang sendiri" jawab Zea dengan cepat menolak.


Alvin mengacak-acak rambutnya kemudian menatap kearah Zea lagi.


"Akan aku antar, titik. Tunggu diluar sebentar. Aku mau cuci muka" ujar Alvin lagi tanpa bantahan.


"Oh!!" Zea mengangguk menuruti kemauan Alvin. Menunggu di ruangan depan sambil gelisah, alasan apa yang akan ia gunakan nanti.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2