My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
152. Lari


__ADS_3

Hari mulai berganti dan Vini mulai sehat kembali, walau Vini masih tak bisa melakukan apapun dengan bebas karena dadanya yang terkadang masih terasa nyeri ketika ia banyak bergerak. Yang bisa ia lakukan hanyalah berbaring di ranjang empuk tempatnya di rawat kini dan makan makanan sehat yang di siapkan oleh sang dokter untuknya.


Selama beberapa hari ini pun, penjaga yang menyiksanya juga tak kunjung kelihatan. Hanya ada sang dokter yang keluar masuk kedalam kamarnya, menyediakan apa yang ia butuhkan.


"Walau kau sudah beristirahat dengan baik! Kau masih tidak boleh banyak bergerak. Kau harus tetap beristirahat di kasur. Kau mengerti?" tutur sang dokter menasehati.


"Ya" jawab Vini menuruti.


"Kalau begitu aku permisi dulu Vini!" pamit sang dokter.


Vini mengangguk singkat menatap kepergian sang dokter yang keluar dari kamar ia dikurung.


Suasana yang sunyi dan hanya menyisakan detik jam yang terus berputar membuat Vini melamun.


"Sudah berapa hari ya, aku disini?" gumam Vini merenung sambil melihat sekeliling.


"2 Minggu? atau 3 Minggu? Berapa lama lagi aku harus terkurung disini? Haruskah aku mencoba kabur?" ujar Vini refleks bangkit dari tidurnya.


"Aw aww ishh!" Vini meringis seperti tersengat karena masih merasakan nyeri di dadanya.


Ia tersadar jika tubuhnya sekarang tidak memumpuni untuk ia berlari ataupun bergerak bebas.


"Tidak! Itu terlalu beresiko, tunggu beberapa hari lagi deh! Sampai nyerinya hilang sedikit! Lagian aku juga belum tau Joe di kurung dimana" tutur Vini membaringkan tubuhnya kembali diranjang.


Ia menatap kearah atap yang berwarna putih.


"Huft! Daddy kenapa lama sekali sih? Apa jangan jangan Daddy tak butuh aku lagi ya?"


Kedua mata Vini membelak dibalik dugaannya sendiri.


"Ah tak mungkin! Lagi lagi aku berpikiran buruk!" tepis Vini.


Vini membalik tubuhnya menjadi miring dan berbaring dengan posisi meringkuk.


"Aku rindu mommy!" gumam Vini dengan mata yang berkaca kaca.


Vini terlalu terlena dengan pikirannya hingga tanpa sadar, bocah yang masih terlalu dini untuk melihat dunia itu kian menjadi suram. Vini yang ceria sudah tidak ada lagi. Harapannya untuk diselamatkan sudah hilang. Ia hanya akan percaya pada dirinya sendiri mulai sekarang.


"Aku bisa melakukannya sendiri! Aku tak butuh Daddy" tutur Vini menggenggam erat sepray di kasurnya.


...****************...


3 hari berlalu lagi dan kini tepat pada malam hari dimana semua orang mulai mengantuk namun masih harus berjaga, terjadi keributan hebat di seluruh tempat.


Brakk brakk


"Hei kau cari disebelah sana dan kau disana!" tutur orang orang yang berlarian dari luar kamar yang Vini tempati.


Suara gaduh semakin ricuh dari luar kamar membangunkan Vini yang tertidur lelap.


Vini mengusap kedua matanya, menoleh ke kanan kiri melihat seisi kamarnya yang kosong.


Ia menatap pintu kamarnya dengan penasaran.


"Dasar bajingan menyusahkan! Berani beraninya dia kabur" umpat sebuah suara yang Vini kenal dari luar kamar.

__ADS_1


Vini yang masih setengah sadar lantas mendekat kearah pintu, menguping pembicaraan diluar pintu.


"Harusnya ku buat mampus saja bajingan cilik itu, dari pada menyusahkan orang di malam hari seperti ini!" tegas suara penjaga yang sangat Vini kenal.


Suara pria itu lantas membuat Vini bergidik ngeri dan ingatan menyeramkan dimana ia dihajar habis habisan sontak terlintas di ingatannya seperti roll Vidio yang mengalir.


'Siapa bajingan cilik yang dia maksud? apakah Joe?' tanya Vini penasaran dalam batin, dengan tubuh yang masih bergetar.


"Mending kalian berdua segera bantu yang lain buat cari dimana tuh bocah! Bocah itu sangat menyusahkan karena ia kabur saat gelap gelap begini!" tutur seorang pria yang tak Vini kenal.


"Ha kami? Lo nggak lihat kita lagi jaga? Lagian gimana bocah Immanuel yang ada didalam kalau kami pergi?" tanya pria lain yang juga tak ia tahu.


"Ya, kalian tinggal aja dulu! Lagian tuh bocah manja pasti udah tidur, nggak mungkin dia bangun jam segini. Lagian dia pasti gak bakal bisa kemana mana juga karena masih sakit! Kan?" tutur pria itu.


"Tapi! Gue masih gak setuju kalau kita berdua ikut pergi" tolaknya kembali.


"Hei! Ini tuh perintah bos! Lo mau ngabaikan perintah bos cuma karena tuh bocah kaya!" tutur pria itu dengan geram.


"Bukan gitu! Emang lo mau tanggung jawab kalau tuh bocah ikut kabur juga?!" seru keduanya saling berdebat.


"Sudah! Dari pada Kalian debat kayak gini! Mending kalian berdua cari tuh bocah! Biar bocah Immanuel ini gue yang jaga" tutur penjaga yang Vini takuti.


"Lo? Serius? Yang ada dokter ngamuk ke gue kalau lo jaga dia sendirian!" Suara perdebatan ke tiganya terus terjadi di luar kamar.


"Oke! Gue ngalah! Lebih baik kalian berdua aja yang pergi! Biar gue yang jaga! Gimana?" ujar pria yang menyampaikan informasi tentang kaburnya Joe.


"Gitu dong! Ayo! Keburu bos marah nanti" suara langkah kaki keduanya nampak meninggalkan kamar Vini.


"Cih dasar! Bilangan aja mau cari muka ke bos, pakek sok khawatir sama nih bocah segala" kesal pria itu menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Vini dikurung.


'Bukannya ini waktu yang tepat untuk kabur? Lagian kayaknya Joe juga udah kabur!' pikir Vini bersemangat.


Vini memantapkan diri. Ia duduk di depan pintu, menunggu sesaat hingga penjaga di luar sedikit lengah.


"Aduh duh! Gue kok jadi kebelet gini ya" ujar penjaga itu sontak membuat kedua mata Vini membulat.


Vini buru buru bangkit secepat kilatmenuju ke kasur tempatnya beberapa hari ini berbaring. Vini mengangkat selimut, menenggelamkan dirinya di balik selimut.


Cklekk


Pintu kamarnya terbuka. Vini memejamkan matanya dengan takut takut.


Grepp..


Selimut yang menutupi tubuhnya dibuka membuat tubuh Vini menegang membeku.


"Orang lagi tidur gini! Apa coba yang perlu di khawatirin! Aduh duh udah gak tahan gue!" tutur penjaga itu buru buru masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar Vini dikurung.


Vini yang sedang dalam posisi tidur sontak bangkit dan membuat selimut ditubuhnya jatuh. Vini melihat pintu kamar yang terbuka lebar tanpa penjaga disana.


Sontak Vini segera beranjak dari ranjang. Vini melangkahkan kakinya namun tiba tiba menoleh karena gemericik air dari kamar mandi.


Dengan hati hati Vini kembali mendekat ke ranjang, meletakan guling disana sebagai kamuflase, menutupi guling itu dengan selimut. Semoga aja ia tak ketahuan.


Kemudian dengan langkah cepat Vini segera keluar dari kamar, mengabaikan penjaga yang berada di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Hah hah hah!" Vini berlari dengan nafas yang terengah-engah. Melewati ruangan demi ruangan yang tak tahu apa isi didalamnya.


Vini berlari menelusuri rumah mewah yang sepi itu guna mencari jalan keluar.


Hingga larian kecil Vini terhenti karena dirinya berpas-pasan dengan sang dokter yang selama beberapa hari ini merawatnya.


Vini diam ditempat hingga suara sang dokter membuatnya tersadar.


"Kau mau kabur kan? Kemari! Biar aku bantu" tutur sang dokter melambaikan tangan ke arah Vini. Membuat Vini yang selama ini di rawat olehnya mendekat tanpa takut pada pria itu.


Sang dokter menggandeng tangan kecil Vini kearah ruangannya dimana dulu Vini pernah dirawat disana dalam keadaan tak sadarkan diri dan terluka parah.


Sang dokter membuka pintu tempat ia bekerja yang menampakan adanya jendela di dalam sana, karena memang hanya ruangannyalah satu satunya yang memiliki akses untuk terhindar dari segala pengawasan di dalam rumah besar itu.


Sang dokter menutup pintu dan hanya menyisakan keduanya.


"Ambil ini!" dokter itu memberikan secarik kertas kecil pada Vini.


Vini menerima dan melihat apa yang sang dokter berikan.


"Itu peta kecil pengingat yang ku gunakan untuk bisa keluar dari sini! Joe, Ia mencuri pisau bedah ku untuk ia gunakan melawan sang bos yang sedang menyiksanya dan akhirnya ia berhasil kabur namun banyak penjaga yang mengejarnya"


"Kalau kau khawatir pada Joe, Joe pergi ke arah sini! Walau sedikit jauh, namun, jika ia berhasil ia akan sampai dijalanan. Tapi jika kau lewat sini, akan lebih dekat dan sedikit penjaga yang berada disana karena mereka fokus mengejar Joe. Itu pilihanmu! Ku harap kau berhasil kabur juga Vini!" lanjut sang dokter menunjuk peta yang ia berikan sembari menatap kedua mata Vini lekat.


"Makasih!" ujar Vini menggenggam kertas kecil di dadanya yang berdentum kencang.


Sang dokter mengangguk, membukakan jendela di ruangannya yang terhubung langsung dengan dunia luar dan saat jendela itu dibuka hembusan angin malam yang menerpa keduanya dan pemandangan pohon pohon tinggi serta beberapa rerumputan kecil juga beberapa tanaman liar yang di padukan gelapnya malam terpampang jelas di mata keduanya.


"Keluarlah!" tutur sang dokter.


Vini melangkah kakinya keluar melalui jendela.


"Vini tunggu!" ujar sang dokter membuat aksi Vini terhenti.


Dokter itu menuju rak obat mengambil sesuatu dari dalam sama.


"Bawa ini! Siapa tau jika kau butuh" dokter itu melempar segulung perban juga sebotol obat kecil pada Vini dan di tangkap oleh bocah itu.


Vini lantas keluar melewati jendela ruangan sang dokter.


"Hah!" Vini menghembuskan nafas lega.


"Semoga beruntung bocah Immanuel!" tutur sang dokter.


Vini menoleh, "Alvin Immanuel! Itu namaku dan kau harus ingat itu dokter" ujar Vini datar.


Dokter itu tersenyum tipis.


Alvin menunduk kemudian berbalik. Ia memulai melangkah kaki kecilnya yang tak beralas kaki itu keluar dari sebuah rumah besar tempat ia dikurung.


"Semoga beruntung Alvin!" ujar sang dokter menatap langkah kecil Alvin yang mulai menjauh dari tempatnya berdiri.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2