My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
204. Mamasak untuk Alvin


__ADS_3

Zea masuk kedalam apartemen dari depan sana Alvin terlihat sudah bangun sambil membelakanginya.


"Sial! Kenapa gak diangkat sih!" gerutu Alvin kesal pada handphonenya.


Pria itu berbalik sambil menatap fokus pada layar handphonenya.


"Siapa yang datang Joe?" tanya Alvin sambil mengetik sesuatu dihandphonenya.


Zea dan Joe saling bersipandang.


"Nona Zea yang datang tuan!" jawab Joe seketika membuat tangan Alvin terhenti dan mendongak melihat gadis di hadapan itu.


"Kamu kembali?" tanyanya seakan tak percaya.


Zea mengangguk menatap pria itu.


"Em aku ke dapur dulu!" ujar Zea lalu berjalan pergi menuju dapur.


Alvin melihat kearah gadis itu.


Seketika ia sadar dan menyusul Zea ke dapur tanpa memperdulikan Joe disana.


Zea yang berada di dapur mengeluarkan bahan bahan makanan yang ia beli.


"Mau buat apa?" tanya Alvin memperhatikan gadis itu.


"Sup ayam" jawab Zea.


Alvin memperhatikan apa yang Zea lakukan. Mulai dari gadis itu mencuci beras, merebus potongan ayam, sampai memotong motong sayur.


"Tumben banget kamu mau repot-repot gini?!" ujar Alvin membuat Zea melirik.


Zea memutar bola mata tak menanggapi ucapan Alvin. Ia kembali melakukan aktivitasnya, memasukan sayur sayuran yang ia potong kedalam panci yang berisi rebusan kaldu ayam.


Karena melihat Zea yang fokus, Alvin dengan jahilnya membuka tutup panci dan mengaduk aduk sembarang.


Pukk


Zea mengetuk tangan Alvin melihat pria itu tajam. Alvin tersenyum kearah gadis itu tanpa rasa bersalah.


Zea kembali melanjutkan masakannya. Dapat dilihat gadis itu sedang sangat fokus. Sedangkan Alvin didepannya terus menatap Zea dengan intens hingga Zea merasa terganggu karena terus dipandangi oleh Alvin.


Zea melihat Alvin dengan muram, "Lebih baik kamu kedepan sana deh Al! Kamu bikin aku gak fokus dari tadi!" ujar Zea merasa kehadiran Alvin mempengaruhinya dalam memasak.


Alvin tak peduli ia semakin menggoda Zea dengan mengulas senyum manisnya.


"Nggak mau! Lagian aku gak ngapain ngapain. Cuman lihat wajah kamu aja. Emang kamu gak kasihan sama aku? Aku sakit gini masih aja kamu ketusin!" seru Alvin dengan suara manjanya.


Rasanya Zea ingin menggetok kepala Alvin, 'Kalau gue gak kasihan, gue gak bakal kali buat balik kesini lagi dan masakin lo!' seru Zea dalam batinnya.


Zea bersabar sambil melebarkan senyumnya.


Kemudian Zea bergerak kearah penanak nasi yang berada dibelakangnya sambil menampilkan senyum mengejek kesal saat Alvin tak melihat ekspresinya.


Zea terus saja membuat masakannya, ia menganggap bahwa Alvin sedang tak ada disana.


...****************...


Selesai, Zea menyelesaikan masakannya. Sepanci sup ayam beserta nasi putih hangat, juga udang goreng sebagai tambahan. Masakan yang Zea buat adalah masakan rumah yang sederhana.

__ADS_1


"Aku sudah selesai masak! Kamu sekarang cuci tangan gih, terus makan habis itu minum obat, lalu istirahat lagi" ujar Zea sambil mencuci barang barang bekas ia memasak.


Alvin tetap ditempat memperhatikan Zea. Zea mengusap tangannya yang basah dengan lap. Ia bergerak mengambil tasnya yang ia letakkan dimeja dapur dengan sedikit buru buru.


Semuanya sudah beres dan hanya tersisa masakan di meja yang siap disantap, beserta Alvin yang juga ada di meja sedang menunggunya.


"Kamu mau kemana?" tanya Alvin melihat Zea membawa tasnya.


Zea menoleh kearah pria itu, "Pulang! Mau kemana lagi?!" ujar Zea menjawab.


Wajah Alvin seketika berubah menjadi lesu.


"Kamu gak mau nemenin aku makan dulu gitu? Lagian ini juga kamu yang masak" ujar Alvin dengan nada manjanya khas orang sakit.


Zea menggeleng menolak, "Kamu sama Joe aja yang makan! Ini udah terlalu sore, aku gak bisa lama lama disini!" ujar Zea dengan suara lembut meminta pengertian Alvin.


Alvin menghela nafas, "Kalau gitu aku anter" ujarnya.


Zea dengan cepat melambaikan tangan, "Nggak usah nggak usah! Kamu ini, orang lagi sakit masih aja mau kemana mana. Udah aku pulang sendiri aja, kamu disini sama Joe. Terus jangan lupa dihabisin supnya, habis itu minum obatnya! Okey?" ujar Zea meminta kesigapan Alvin.


"Oh!" jawab Alvin mengiyakan.


"Kalau gitu aku pulang dulu! Bye bye!" Zea melambaikan tangan. Kemudian berbalik pergi dari apartemen Alvin.


Alvin termenung ditempat melihat masakan Zea. Lalu Joe datang menghampiri.


"Nona Zea sudah pergi tuan!" ujar Joe memberitahukan. Alvin mengambil kursi lalu duduk di depan masakan Zea. Mengambil piring dan mangkok yang gadis itu sediakan. Mengambil masakan Zea untuk ia santap.


"Ngapain disitu?!" tanya Alvin melirik pada Joe yang berdiam diri ditempat.


"Sini makan! Walaupun gue mau habisin sendiri, gue juga gak sanggup lakuin itu!" ujar Alvin dengan candanya mengajak Joe bergabung.


Kemudian tanpa ada kata keduanya makan bersama dengan tenang.


...****************...


Zea sampai dirumah. Ia memarkirkan mobil papa Hendra di garasi samping rumah. Kemudian ia masuk kedalam rumah.


Biasanya jam segini, mama dan papanya belum pulang. Setiap pekan kedua orangtuanya itu selalu disibukan dengan kegiatan, makanya ia bisa dengan berani keluar dari rumah bertemu Alvin tanpa sepengetahuan mereka.


Zea masuk kedalam rumah seperti biasanya.


"Habis dari mana Ze?" ujar seseorang mengagetkannya.


"Astaga! Abang!" ujar Zea melihat siapa yang datang.


Zea mengusap dada sambil menatap pria itu.


"Abang udah pulang? Kapan Abang kesini?" tanya Zea balik bertanya.


"Tadi pagi! Kamu habis dari mana? Dari pagi sampai sore Abang tunggu kok baru pulang sekarang" Arka tak menyerah dengan pertanyaannya. Ia kembali menanyakan dari mana saja Zea pergi hingga baru pulang sekarang.


"Ahh Zea habis pulang jalan jalan bang! Suntuk dirumah. Mama sama Papa juga pergi gak tahu kemana" ujar Zea menjawab apa yang terlintas diotaknya.


"Ohw! Udah makan?" tanya Arka mempercayai Zea.


Zea menggelengkan kepala, "Belum!" jawab Zea.


"Bagus deh kalau gitu. Kamu temani Abang keluar! Sekalian mau lihat lihat sekitar" ujar Arka mengajak Zea.

__ADS_1


"Tapi Zea baru aja.." Zea mau menolak.


"Udah ayo!!" Arka memaksa.


Pria itu menarik Zea mengajak Zea pergi. Zea dengan lesu menemani Arka pergi.


Arka membawa Zea melihat jalanan. Zea yang sudah capek hanya bisa termenung melihat keluar jendela.


"Mau makan apa Ze?" tanya Arka pada gadis itu setelah berputar-putar mengelilingi jalanan.


"Apa aja bang! Terserah!" jawab Zea lesu karena ia juga udah lapar sedari tadi.


Arka mengangguk angguk mengerti.


"Makan, makanan tenda aja ya?" ujar Arka meminta pendapat.


"Iya boleh!" jawab Zea.


Arka melihat kanan kiri, mencari warung tenda mana yang ramai. Karena ia yakin jika warung itu rame pasti masakannya enak.


"Disini aja ya Ze!" ujar Arka mulai meminggirkan mobil, memarkirnya di pinggiran jalan. Zea mengangguk pelan.


'Warung bebek goreng' itulah nama yang tertulis disana.


"Ayo!" Arka turun dari mobil disusul oleh Zea. Keduanya masuk ke warung tenda mencari tempat dimana mereka bisa duduk.


"Rame banget!" ujar Zea melihat kesekeliling.


Ia dan Arka terus mencari tempat duduk ditempat yang ramai itu. Hingga sepasang pelanggan pergi karena sudah selesai. Zea dan Arka dengan cepat mendekati tempat itu sebelum diambil oleh orang lain.


Pelayan membersihkan piring piring dimeja bekas orang sebelumnya. Lalu memberikan menu pada Arka.


"Mau pesen apa Ze?" tanya Arka sambil melihat menu.


"Samain aja Bang!" jawab Zea.


"Oke, siap!! Kita mukbang sore ini!" ujar Arka kemudian memanggil pelayan.


Arka menyebutkan berbagai makanan yang ada di menu dengan kalap.


"Bang Arka udah cukup, itu aja!" ujar Arka setelah selesai membuat Zea melongo.


"Hehehe maaf Abang kalap! Habis diluar negeri jarang ada makanan kayak gini!" seru Arka beralasan.


Zea mencebik kearah pria itu kemudian menunggu pesanan mereka datang.


Zea dan Arka menunggu sedikit lama hingga semua makanan yang mereka pesan datang.


"Bang! Siapa yang bakal habisin ini semua?" seru Zea kaget akan pesanan Arka.


"Tenang! Nanti Abang yang bakal habisin!" ujar Arka dengan penuh semangat.


Zea menghirup nafas dalam, ia bersiap untuk membulatkan perutnya karena ia sekarang juga sama laparnya seperti Arka. Lain dimulut lain di perut.


Keduanya menatap makanan di meja mereka dengan mata berbinar-binar. Nyatanya keduanya lapar dan dengan senang hati menyantap hidangan di meja dengan kalap. Tanpa tersisa.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2