
Alvin yang telah mengantar Zea kerumah kini kembali ke kediaman Immanuel untuk menemui sang daddy. Bukan hanya daddynya yang ingin menyampaikan sesuatu, Alvin juga ingin menyampaikan sesuatu pada sang daddy.
Alvin masuk ke dalam ruangan kerja sang daddy. Dan seperti biasa! Tanpa permisi, Alvin duduk di sofa bahkan sebelum Exel menyuruhnya.
Daddy Exel yang melihat kelakuan Alvin hanya bisa cuek karena terbiasa, duduk didepan Alvin sambil membawa dokumen. Meletakan dokumen itu di atas meja.
Alvin mengambil dokumen itu membuka dan membaca isi didalamnya.
Dahi Alvin mengernyit saat kata demi kata meresap di otaknya.
"Apa maksudnya ini dad?" tanya Alvin menatap kearah daddynya dengan pandangan tidak suka.
"Seperti yang tertera disana" ujar Daddy Exel bersidekap menatap balik ke arah Alvin dengan wibawa.
"Daddy mau aku pergi perancis?" tanya Alvin.
"Yap! Lebih tepatnya, Daddy mau kamu gantikan Daddy untuk negosiasi dengan salah satu perusahaan disana" jawab Daddy Exel.
"Berapa lama?" Alvin menatap serius kearah daddy-nya.
"Ntahlah! Bisa 3 sampai 5 hari atau bisa jadi selama seminggu, bahkan lebih. Itu tergantung dirimu dan daddy mau yang terbaik" ujarnya.
Alvin menggeram kesal. Jika ia menerima pekerjaan ini artinya ia tak akan bisa bertemu dengan Zea. Bahkan beberapa menit setelah ia mengantar Zea pulang, ia sudah rindu padanya. Apalagi beberapa hari.
Alvin menatap kearah daddynya, "Apa alasan Daddy ingin aku pergi kesana?" Alvin curiga.
Exel berekspresi datar, "Kenapa kamu bertanya? Bukankan ini sudah biasa?!" jawab sang daddy berbalik melempar pertanyaan padanya.
"Daddy sengaja?" Alvin mengepalkan tangan meremas dokumen, membuat buku buku jarinya memutih.
Saat Alvin diapartemen tadi sang daddy yang tiada angin dan hujan datang ke apartemennya. Kenapa harus datang? Bisa saja kan sang daddy menelpon! Lalu kini sang daddy menyuruhnya untuk pergi melakukan perjalanan bisnis ke Perancis untuk beberapa hari.
Sang daddy tak menjawab.
"Alvin nggak mau" Alvin melempar dokumen itu ke atas meja yang menjadi pembatas antara dirinya dan sang daddy.
"Kau tidak bisa menolak Alvin! Itu sudah menjadi kewajibanmu" Alvin yang di didik sebagai pewaris tunggal perusahaan itu hanya bisa menggeram marah.
Walaupun Alvin dapat membangun perusahaan sendiri. Namun Immanuel group adalah fokus utamanya. Perusahaan yang sudah diwariskan untuk sang daddy dari sang kakek yang membuat perusahaan menjadi sebesar ini dan kini akan diturunkan padanya.
Perusahaan dengan cakupan yang amat besar membuat Alvin yang masih muda harus bisa berfikir ekstra dan membuat keputusan dengan bijak.
Ingin sekali sebelumnya Alvin menolak dan hanya fokus ke perusahaan gamenya. Tapi mengingat kasih sayang dari sang kakek nenek juga kedua orangtuanya, juga disertai didikan yang kuat membuat Alvin sulit untuk mengabaikan.
"Lebih baik Daddy cari orang lain" ujar Alvin membuang muka.
"Jangan kekanakan Alvin" tegur sang daddy melihat sikap menyebalkan Alvin.
"Cih! Daddy kira aku tidak tahu. Daddy menyuruh orang lain untuk mengawasi ku dan apakah itu bukan tindakan kekanakan? Dan dengan gamblangnya sekarang daddy menyuruhku untuk negosiasi proyek!" sarkas Alvin marah pada sang daddy.
"Itu tidak disengaja" jelasnya tidak berbohong.
__ADS_1
"Oke tidak disengaja! Tapi walau begitu, dengan sengaja daddy datang ke apartemen ku dan mengganggu!" tuding Alvin murka.
"Daddy hanya mau menyelamatkan seorang gadis dari terkaman anak singa yang sedang marah dan gelap mata. Tidak ada hal yang salah dengan hal itu!" sahut sang daddy tak mau kalah dan merasa dirinya benar.
"Daddy terlalu ikut campur" tandas Alvin menekan kan.
Keduanya saling bersitatap. Exel melemaskan tubuhnya dengan menempatkan sikutnya di paha dan tangannya bertaut.
"Daddy tak pernah menghalangi apapun yang ingin kamu lakukan Alvin. Kali ini Daddy ikut campur karena tak mau kamu menyesal nantinya. Besok pergilah ke Perancis untuk negosiasi dan sekalian tenangkan kembali pikiranmu! Tidak ada bantahan?" tutur sang daddy.
"Daddy gila? Besok?" Alvin tersentak kaget karena tak diberi jeda.
"Yap! Daddy sudah pesankan tiket dan pastikan untuk tidak terlambat. Kamu akan kesana ditemani Geo" Alvin kembali tercengang dengan apa yang sang daddy ucapkan. Mereka punya jet pribadi yang bisa mengantar kapan-pun. Tapi kenapa ia diberikan tiket?
"Tiket? Daddy mau aku naik pesawat? Kenapa tidak pakai Jet pribadi?" tanya Alvin.
"Jet akan Daddy pakai untuk ke Jepang dengan mommy mu besok, jadi kamu harus naik pesawat komersial" jawab sang daddy sekali lagi membuat Alvin mati kutu.
Sang daddy yang bertugas sebagai kepala perusahaan membebankan tugasnya untuknya dan dengan enaknya dia ingin pergi berlibur. Apakah Daddynya ini lupa kalau dirinya sekarang hanyalah seorang pelajar.
"Jet yang lain?" Alvin bertanya.
"Tiket sudah di pesan Alvin! Jangan buang buang uang. Lagian penggunaan jet pribadi tidak baik untuk udara!"
What the hell?! Apa daddynya sekarang sedang bercanda dengannya? Ingin sekali Alvin menghantamkan tinjunya di wajah sang daddy jika saja ia tak memiliki rasa hormat.
"Udah ah! Daddy mau ke kamar, Daddy sudah kangen mommy! Ingat jangan sampai ketinggalan. Pesawat take off pagi hari" ujar sang daddy.
"Huft Iya" balas Alvin pasrah. Kemudian Exel bangkit meninggalkan Alvin sendirian diruangan itu.
Tut Tut
Suara operator masuk dan menyatakan panggilan tak terhubung. Tak banyak berfikir, Alvin mencoba menelpon Kenan untuk memastikan Geo ada bersamanya atau tidak.
Tut....panggilan terhubung!
"Halo kenapa Al?" tanya Kenan to the point.
"Geo ada sama lo?" Alvin balik bertanya.
"Geo? Geo tadi pulang duluan Al, karena ada panggilan dari bokapnya. Gue gak tau kenapa!" jelas Kenan.
"Oh oke, thanks" ujar Alvin menjauhkan handphone dari telinganya. Mematikan panggilan telponnya dengan Kenan.
Alvin lantas berjalan kearah kamarnya untuk mengganti pakaian.
Dengan pakaian yang simpel dilengkapi jaket hitam, Alvin keluar dari rumah menuju garasi mengeluarkan motor Hitam mengkilapnya dan segera melajukannya menuju ke rumah Geo.
Hanya butuh beberapa menit untuk ia sampai di rumah Geo yang letaknya amat dekat dengan rumahnya.
Tin tin
__ADS_1
Alvin membunyikan klakson dan satpam rumah Geo membukakan gerbang untuknya. Alvin kembali melajukan motornya masuk kerumah Geo, memarkirkan motornya didepan rumah tanpa mengambil kunci yang menggantung.
Alvin masuk ke dalam rumah Geo, sudah seperti rumahnya sendiri.
"Den Alvin" sapa seorang wanita tua yang merupakan pembantu rumah Geo.
"Dimana Geo Bik?" tanyanya.
"Aden Geo lagi di ruangan makan sama ibuk den" jawabnya. Alvin menggangguk.
Alvin yang mengetahui struktur rumah Geo langsung berjalan menuju ke ruangan makan.
Saat ia masuk, ia melihat Geo sedang di meja makan sedang menyantap hidangan sendirian.
"Ge!" sapa Alvin membuat Geo menoleh.
"Al" balasnya.
"Ngapain kesini?" tanyanya.
"Ntar! Lo lanjut tin aja makan lo! Gue tunggu di depan" ujar Alvin tak menjawab pertanyaan Geo memilih pergi dari ruangan makan menuju ruang tamu.
Geo yang mendapat kunjungan mendadak, buru buru menghabiskan makannya.
"Udah selesai Ge?" tanya seorang wanita keluar dari dapur.
"Udah Ma, diluar ada Alvin. Aku kesana dulu ya" ujarnya.
"Oh ada Alvin! Yaudah, ntar mama anterin minum buat kalian" ujar Mama Geo.
Geo pergi menghampiri Alvin.
"Ngapain kesini Al?" tanya Geo duduk menatap kearah Alvin yang kini juga melihatnya.
"Bokap lo udah kasih tau?" Alvin balik bertanya.
"Soal ke Perancis Kan?" Alvin mengangguk. "Udah kok, udah siap semua. Gue juga udah di briefing sama bokap gue. Tinggal tunggu keberangkatan aja" ujar Geo.
"Bagus deh kalau gitu! Besok pagi pagi, lo ke rumah gue. Kita berangkat dari rumah gue!" ujar Alvin.
"Ha? Pagi? Kan kita berangkat ke bandaranya nanti malam Al! Pesawatnya take of pukul 00.23 dan kita harus berangkat sejam sebelum pesawat take of. Gimana sih?" Geo bertanya keheranan.
"Serius?" Alvin mengerjap menatap Geo.
"Iyalah masak gue bohong Al" ujar Geo.
"Sialan!" kesal Alvin.
Dada Alvin berdesir. Daddynya mempermainkannya. Alvin merengut dengan hati yang kesal.
'Awas aja!' batin Alvin penuh dendam.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ