
Sore ini setelah menempuh perjalan jauh dan berakhir istirahat sejenak di penginapan sewaan. Mereka mulai bergerak kembali.
Dengan udara dingin khas wilayah pegunungan serta jaket tebal melekat di tubuh mereka masing masing.
Mereka kini mulai meninggalkan penginapan menuju mobil masing masing.
Begitu pula Zea. Ia berjalan mendekat kearah mobil Alvin dengan canggung.
'Akh gue masih gak bisa ngelupain kejadian tadi! Bisa bisanya gue tidur di pangkuan Alvin dan, ukhh!' batin Zea menjerit.
Zea menutup wajahnya dengan kedua tangan sebelum ia menampilkan senyum tipis saat melihat Alvin. Zea membuka knop pintu mobil Alvin mulai masuk kedalam, begitu juga Alvin. Zea menghembuskan nafas pelan agar mengurangi groginya sebelum duduk di samping Alvin.
Ia yang masih saja gugup menggulung jari tangannya, memainkan tangannya dipangkuan sambil menatap ke depan dengan malu.
Alvin menoleh melihat apa yang Zea lakukan, bibirnya menyungging senyum.
"Ekhmm.." Alvin berdehem membuat Zea menoleh.
"Kenapa?" tanya Zea bengong.
Alvin menggeleng, menampilkan senyuman pada Zea hingga Zea membuang muka karena malu.
'Lucu sekali!' batin Alvin.
Tubuh Alvin bergerak condong ke arah Zea. Sontak Zea menoleh dan seketika ia menahan nafas saat wajah tampan Alvin tepat di depan wajahnya. Mata Zea membola, ia menatap lurus ke kedua mata Alvin.
Bibir Zea terkatup rapat. Hingga kepala Alvin bergerak miring, membuat tubuh Zea mundur ke belakang namun sandaran mobil menghalanginya hingga Zea tak bisa bergerak.
Zea gugup, wajahnya mulai memerah antara malu atau marah. Alvin tersenyum lebar melihat itu.
Sregkkk...
"Seat beltnya!" ujar Alvin memasangkan sabuk pengaman untuk Zea.
"Oh oh!" Zea gugup tida bisa menjawab.
Alvin menatap wajah Zea kembali.
Tuk!
Jari Alvin menyentil dahi Zea.
"Auu!" pekik Zea mengusap dahinya. Zea menoleh, menatap Alvin tajam. Tapi yang ditatap hanya tersenyum dan memasang seat belt. Lalu mulai menyalakan mesin mobil.
dug dug..
Jantung Zea berdentum cepat.
'Astaga jantung gue!' pekik Zea dalam batin.
Alvin menjalankan mobilnya keluar dari wilayah penginapan. Ia membelokkan mobilnya kearah jalanan, mengikuti mobil di depannya yang juga bergerak entah kemana tujuan mereka selanjutnya.
Mobil melaju dan selama melaju Alvin tak berbicara. Membuat jantung Zea normal kembali, begitu juga rasa gugup Zea.
Hanya kesunyian yang ada membuat Zea dapat merasakan lelah karena hanya duduk sedari tadi.
"Huft capek!" gumam Zea pelan menyandarkan dirinya di pintu mobil sambil menikmati pemandangan luar.
Alvin yang Indra pendengarannya tajam sontak menoleh menatap ke arah Zea.
"Mau dibatalin aja campingnya? Apa kita pulang aja?!" saran Alvin menatap depan sambil sesekali melirik Zea.
"Apa?" tanya Zea tak paham akan ucapan Alvin yang tiba tiba.
"Kita cari penginapan buat istirahat! Kamu batalin buat ikut naik gunung dan kita langsung pulang ke rumah! katanya kamu capek! Kita ke gunung lain kali aja ya?!" jelas Alvin sedemikian rupa.
Mata Zea membelak mendengarnya, "Nggak! Enak aja, aku bakal tetap ikut" ujar Zea sambil cemberut. Zea merasa Alvin akan kembali memaksa dirinya agar tidak ikut mendaki.
Alvin melirik kearah Zea yang terlihat tidak ingin kesenangannya direbut. Ia yang mencoba memahami Zea berbicara lebih lembut agar Zea tak menyalapahami ucapannya.
"Yakin?" tanya Alvin lembut dan Zea menjawab dengan mantap, "Yakin" tegas Zea.
__ADS_1
"Oke! Kalau gak kuat bilang ke aku. Aku gak mau kamu sampai kenapa napa" ujar Alvin kembali melihat depan, mengikuti beberapa mobil yang ada di depannya.
Zea tertegun, "Iya" jawab Zea mengulas senyum tipis di bibirnya.
Hanya sekitar setengah jam dari penginapan, mobil mereka kembali berbelok. Sebuah rumah makan sederhana yang tidak terlalu besar menjadi tujuan mereka.
Mobil mobil terparkir, terjejer di pinggir jalan yang begitu luas.
"Yuk yuk isi tenaga yuk!" seruan dari luar terdengar.
Zea dan Alvin yang sudah memarkirkan mobil turun dari mobil. Keduanya ikut masuk kedalam rumah makan itu menghampiri Icha, Keyla, Geo, Kenan, Satya, dan Julian yang sudah duduk di salah satu meja.
Walaupun tempatnya tak begitu besar, namun orang di dalamnya begitu ramai. Zea menatap ada rombongan lain juga di dalamnya.
Ia mengawasi, melihat rombongan lain yang sudah datang lebih dulu itu, mendekati teman kampus abangnya itu. mereka bersalaman dan nampak berbicara dengan akrab. Zea mengernyit.
"Yang laper langsung pesen aja ya guys!" ujar Ivan di depan si pemilik warung yang melayani.
Zea, Alvin, Keyla, Icha, dan anggota Aodra yang lain duduk di satu meja yang sama, menunggu.
"Ze!" panggil Arka, Zea menoleh. "Ajak temen temen kamu pesen makanan. Nanti Abang yang bayar. Abang tinggal kesana dulu ya!" tutur Arka pada Zea.
"Iya Bang!" jawab Zea.
•°•
Arka pergi meninggalkan Zea menuju kearah teman temannya. Membiarkan gadis memiliki privasi untuk bercakap-cakap.
"Ka!" panggil seseorang melambaikan tangan ke Arka.
Arka mendekat duduk di samping pria itu.
"Bro!" keduanya bersalaman ala pria.
"Gimana kuliah lo?" tanya pria itu pada Arka.
"Gitu gitu aja, Lo?" Arka bertanya balik.
Mata pria itu bergerak menatap kearah Zea dan kawan kawannya.
"Zea ya?!" tanya pria menunjuk Zea dengan dagunya.
"Iya" jawab Arka menghidupkan handphonenya.
"Udah gedhe aja! Siapa tuh? Pacar Zea" tunjuk pria itu kembali pada Alvin. Arka menoleh dan Alvin yang merasa di tunjuk juga menoleh, menatap balik pada Arka dan pria itu.
Alvin mengangguk pelan dibalas anggukan juga oleh Arka dan pria itu. Setelah itu Alvin kembali fokus ke Zea.
"Peka juga dia!" ujar pria itu mengulas senyum. Arka tak menjawab kembali mengecek pesan di handphonenya.
Tak berapa lama kemudian pesanan mereka datang.
"Misi mas pesanannya" ujar sang pemilik rumah makan mulai menata makanan yang di pesan ke meja.
"Makasih!" balas mereka.
Pesanan mereka datang dan mereka mengehentikan percakapan, mulai makan dengan lahap. Mengisi tenaga sebelum nantinya berjalan menaiki gunung selama beberapa jam nantinya.
"Udah semua? Yuk kalau udah kita lanjut perjalanan ke basecamp" ujar pria di samping Arka.
Arka dan teman satu kampusnya ikut bangkit.
"Tunggu bentar!" tutur Arka.
Arka berjalan mendekat pada Zea yang juga sudah selesai makan.
"Ze! Mereka teman teman Abang dari kampus lain. Mereka ikut join sama kita. Nanti kalau kalian butuh bantuan, kalian bisa juga bilang ke mereka. Jangan ragu bilang kalau ada apa apa! Keselamatan tetap nomor 1, oke?" tutur Arka kembali menasehati.
Mereka menatap kearah teman kampus lain Arka yang melambai ke arah Zea dkk. Zea dkk balas melambai.
"Iya bang" jawab mereka.
__ADS_1
"Udah ka?" teriak Malik (Ketua plus teman Arka dari kampus lain). Arka memberi acungan jempol.
"Yuk guys cabut!" serunya mulai meninggalkan rumah makan bersama yang lain.
Arka mendekat ke Alvin, menepuk bahu Alvin dan berbisik di samping pria itu.
"Al! Inget, Jaga adek gue! Gue gak bisa selalu ngawasi dia. Makanya! Gue tugasi lo buat jaga dia! Bisa kan?" tanya Arka memastikan kembali.
"Bisa" jawab Alvin singkat mengangguk.
"Good"
Arka menjauh menatap kearah Zea. Arka tersenyum tipis mengusap rambut Zea kasar.
"Ih Abang!" keluh Zea menata rambutnya kembali.
"Icha Keyla ayo!" ajak Arka pada dua sahabat Zea.
"Duluan ya Ze!" ujar Keyla.
"Dada Ze!" Icha melambaikan tangan.
Zea mengangguk, mengikuti keduanya dengan Alvin dibelakang karena mereka akan melanjutkan kembali perjalanan dengan mobil.
Hanya beberapa menit dari rumah makan, akhirnya sampai juga mereka di basecamp. Udara yang dingin dan beberapa pendaki yang tidak mereka kenal berkumpul disana.
Zea keluar dari mobil, di lanjut Alvin.
"Aku ambil tas ke Abang dulu ya Al!" pamit Zea pada Alvin diangguki oleh pria itu.
"Iya" jawab Alvin.
Zea mendekat kearah Arka yang mulai mengeluarkan isi bagasinya ditemani Keyla dan Icha.
"Sini Bang! Punya Zea!" tutur Zea mengambil Alih tas gunung yang di keluarkan Arka.
Zea menerima, membawa tasnya di punggung. Kemudian membantu Arka dengan barang bawaan yang lain.
Tak berapa lama, Alvin mendekat dengan membawa tas gunung yang sama dengan miliknya.
Zea menatap kearah Alvin sebelum ia terfokus oleh seorang pria yang bersandar tepat di samping mobil Alvin dengan masker dan kaca mata hitam berdiri disana.
"Joe!" gumam Zea mengenali.
"Dia ikut?" tanya Zea pada Alvin tanpa menunjuk.
"Mungkin!" jawab Alvin.
"Udah semua kan? Ayo kumpul" ajak Arka berdiri di samping Zea setelah menutup pintu bagasi mobil.
Zea mengangguk, menggandeng lengan abangnya itu dengan Alvin, Keyla, dan Icha yang ikut berjalan di sampingnya.
Sedangkan Geo, Kenan, Julian, dan Satya sudah berjalan di depan. keempat pria itu sudah berkumpul di depan dengan teman teman Arka lain. Ketiga nampak bersemangat kecuali Satya.
"Ah! Gini aja udah bagus banget! pasti seru deh ini!" tutur Icha bersemangat terhenti sejenak oleh pemandangan sekitar Basecamp yang indah. Sedangkan dari jauh Satya mengawasi gadis itu.
"Cha! Jangan banyak gerak Ish! Ntar lo capek duluan sebelum mulai, yuk!" tutur Keyla menasehati. Keyla menggandeng tangan Icha menarik gadis itu ke arah rombongan.
"Iya iya" jawab Icha cemberut, kembali berjalan bersama Keyla menyusul Zea yang sudah sedikit di depan dengan Arka dan Alvin.
Mereka dikumpulkan dalam barisan dan beberapa orang lain berdiri di depan untuk mendaftar. Mereka bergantian memasuki basecamp.
"Kalian tunggu di sini dulu ya! Gue mau daftarin kalian dulu!" tutur Arka pada keempatnya.
"Iya Bang!" jawab Icha dan Keyla antusian.
Zea melepaskan gandengan di lengan abangnya itu. Membiarkan Arka pergi meninggalkan mereka, bergabung dengan Bram, Ivan, dan beberapa temannya dari kampus yang lain mendata masuk ke dalam basecamp.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1