
"Apa maksud lo? Jangan jangan lo juga komplotan sama si brengsek itu?" ujar Arka curiga. Arka melotot melihat Geo.
Kenan ikut menatap Geo seperti ia baru sadar jika ia terlalu terburu buru menyetujui keinginan Geo.
"Ge! Gue baru sadar sesuatu! Apa jangan-jangan lo kesini buat nguji gue? Secara lo itu orang yang gak mungkin ngehianati Alvin kek gini?" tanya Kenan memandang Geo curiga. Arka ikut menatap pria di depannya itu lekat.
Geo yang mendapat tatapan kewaspadaan dari keduanya mengangkat tangan.
"Stop! Jangan tatap gue kayak gitu lagi. Gue bakal jelasin!" seru Geo memandang keduanya bergantian.
Kenan dan Arka bersidekap menanti penjelasan Geo.
Geo menghela nafas, "Pertama tama, gue lakuin ini bukan semata-mata karena gue kasihan sama Zea atau berbelas kasih sama Zea. Gue lakuin ini semua juga atas kemauan Alvin. Alvin itu bos gue!" seru Geo.
"Eits dengerin!" tutur Geo menunjuk saat keduanya ingin menyahut ucapannya.
"Alvin itu yang paling tahu soal dirinya sendiri. Sedari awal ia sadar kalau suatu hari mungkin ia bakal menggila dan bikin Zea terluka. Makanya dia dulu bilang ke gue buat bawa Zea pergi kalau kondisi dia sudah tidak terkontrol lagi! Lo ada disana waktu itu!" tunjuk Geo pada Kenan.
Arka menoleh kepada Kenan untuk mengkonfirmasi apakah itu betul? Dan Kenan mengangguk. Ia lalu memandang Geo melihat apakah ada kebohongan yang tersisa di wajah pria itu dengan serius.
"Oke gue percaya dengan ucapan lo! Tapi kenapa gue gak boleh lapor polisi?" tanya Arka.
"Karena itu percuma! Ntar biar Kenan yang jelasin ke lo. Dia sepenuhnya ngerti situasi saat ini. Lagian gue gak bisa lama lama disini. Gue harus cabut!" tutur Geo.
"Tunggu Ge! Sebelum lo pergi, kasih gue alasan kenapa lo pilih gue buat rencana ini? Kenapa gak lo sendiri yang ngelakuin hal ini?" tanya Kenan serius.
"Oke ini yang terakhir! Alasan bukan gue sendiri yang lakuin karena sisi gue udah gak aman, Ken! Ada pria gila yang mau ngehancurin gue. Setiap saat gue selalu was was kalau orang itu nempatin seseorang disini gue. Apalagi dengan kondisi Alvin yang gak kekontrol kayak gini! Pihak gue bakal lebih diam dari biasanya!" tutur Geo menjelaskan dengan ambigu.
"Gue masih nggak ngerti!" tutur Kenan.
"Intinya gue percaya sama lo! Terus, Gue juga dapat bantuan dari pihak dalam. Jadi situasi saat ini masih terkendali dan lo hanya lakuin sesuai rencana gue. Lo tolong jelasin situasi yang lo serap pada Bang Arka! Gue beneran harus cabut saat ini! Orang itu bakal curiga kalau gue menghilang terlalu lama!" tutur Geo menorehkan kepercayaan pada Kenan.
Geo menatap keduanya memegang bahu keduanya.
"Gue harap rencana gue berhasil! Gue ngandelin kalian, termasuk lo Bang! Sebagai pihak keluarga" tutur Geo. Arka mengangguk menyetujui.
"Kalau gitu sampai disini! Gue cabut!" tutur Geo kembali melangkah meninggalkan Kenan dan Arka yang melihat kepergiannya.
...****************...
Arka telah sampai di rumah dengan raut lelah dan letih. Ia melihat kearah mama Tia yang sedang bersantai di depan televisi.
"Baru pulang Bang?!" tutur Mama Tia menyambut Arka.
"Iya Ma! Arka keatas dulu ya" pamit Arka.
__ADS_1
Mama Tia mengangguk dan Arka berlalu pergi kelantai atas. Ia berjalan hingga di depan pintu kamar Zea yang berjarak beberapa kaki dari kamarnya.
Ia menatap pintu adik yang paling ia sayangi itu dengan mata yang berbinar-binar.
Cklekk...
Arka membuka pintu kamar Zea dan masuk kedalamnya. Lalu ia menutupnya dengan rapat.
Arka memandang ke sekeliling kamar Zea dimana foto foto Zea terpajang disana. Mulai dari gadis itu kecil hingga besar.
Kemudian ia menoleh beralih melihat ke balkon dengan Zea yang menatap lurus kearah depan tanpa menyadari keberadaannya.
"Ze!" panggil Arka pada adiknya itu.
Zea tersentak dan menoleh kearah Arka.
"Eh Abang! Ngapain kesini?" tanya Zea tersenyum.
Arka melihat senyum Zea. Orang yang melihat hanya mengira Zea tersenyum seperti biasa, tapi dihadapan Arka kini senyuman Zea terlihat layu dan tak bersemangat.
Arka mendekat lalu memeluk Zea erat.
"Eh!" seru Zea tersentak oleh pelukan Arka yang tiba tiba.
"Kamu pasti takut ya dek selama ini!" Tutur Arka pelan mengusap kepala Zea dari belakang.
Zea yang mendengar bisikan pedih dari suara Arka tak bisa lagi menahan air mata. Bendungan yang ia buat agar tidak lemah itu seketika ambruk dan berjatuhan.
Air mata mengalir deras dari kedua kelopak mata Zea.
"Hwaaa!! Abang hikss hikss! Hwaa Zea takut Abang... Hwaaa..." Isak tangis Zea kencang hingga terdengar dari bawah rumah Zea.
Zea menangis tersedu-sedu di pelukan Arka. Air matanya membanjir pakaian Arka hingga basah.
Cklekk..
"Zea! Arka! Ada apa?" tanya Mama Tia datang dengan panik dari lantai bawah mendengar raupan Zea.
Ia melihat kedua anaknya sedang berpelukan dan menangis di balkon. Ia mendekat menatap keduanya.
Zea yang tak berhenti menangis, mendongak menatap kehadiran sang ibu yang selama ini menyayanginya dengan sepenuh hati. Dengan mata yang masih mengeluarkan air mata, Zea menatap wajah Arka.
Arka mengangguk dan melonggarkan pelukannya pada Zea.
"Mama hiks hiks! Zea takut Mama hiks.." tangis Zea pecah di pelukan wanita yang melahirkan itu.
__ADS_1
Mama Tia yang melihat putri kecil yang selalu ia manjakan ini menangis tak kuasa untuk menahan air mata walau ia tak tahu sebabnya.
Arka mendekat ikut memeluk kedua wanita yang paling ia pedulikan itu.
Mbok Jum yang juga ikut mendengar suara tangis kencang Zea dari bawah juga ikut naik. Ia melihat dari pintu memandangi keluarga itu.
"Tuan!" ujar mbok Jum mendapati kedatangan majikannya itu.
Papa Hendra datang selepas pulang kerja mendapati istrinya dan kedua anaknya itu menangis.
Ia mendekat menghampiri ketiganya ikut bergabung menenangkan ketiganya.
Papa Hendra tak ingin bertanya lebih dulu. Ia membiarkan anak dan istrinya itu menangis sampai puas barulah ia akan mengambil bagian.
...****************...
Zea kini sedang duduk di kasur di temani Papa Hendra, Mama Tia, dan Arka. Gadis itu nampak gugup menghadapi ketiga.
Karena perkataan Arka tadi ia tanpa sadar langsung menangis di pelukan sang Abang tanpa mengkonfirmasi apakah abangnya itu tahu tentang apa yang ia hadapi atau abangnya itu menyemangati karena masalah lain.
Zea menautkan kedua tangannya sambil menunduk tak bisa menatap ketiganya.
Mama Tia menemani di samping Zea sambil mengelus kepala Zea agar gadis itu lebih terbuka pada mereka.
"Jadi ada masalah apa ini?" tanya Papa Hendra mulai angkat bicara.
Mama Tia menatap kearah kedua anaknya itu bergantian agar menjelaskan tentang apa yang terjadi.
Arka menghentikan tangan Zea yang saling bertautan. Ia menggenggam tangan Zea dengan erat hingga Zea menoleh.
"Percaya sama Abang! Percaya sama Papa Mama. Abang punya cara agar kamu bebas! asal kamu cerita sama kami apa yang sebenarnya terjadi!" tutur Arka membujuk Zea.
Zea menggeleng, "Zea takut Bang! Dia terlalu menakutkan!" seru Zea enggan.
"Ze! Abang tau! Abang juga takut setelah mendengar semuanya. Tapi kita nggak bisa berdiam diri begini! Lagian bukannya kamu punya waktu 2 minggu!" ujar Arka di akhir membuat Zea membelak menatap Arka.
"Abang tau segalanya?" tanya Zea pada pria itu. Arka mengangguk.
Mata Zea kembali berkaca kaca.
Arka mendekat, kembali mendekap Zea dalam pelukannya.
"It's okay Ze! It's okay!" tutur Arka menenangkan.
Mama Tia dan Papa Hendra yang tak tahu akar permasalahannya saling bersitatap dengan bingung.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ