
Disisi lain Kenan nampak melihat kepergian Zea dari jauh. Ia menyesal kenapa tidak menyatakan perasaan dari dulu dan hanya bersikap cuek ketika ia memiliki kesempatan untuk dekat dengan gadis itu.
"Dia tak akan menerimaku dan Alvin tak akan melepaskannya. Jadi yang perlu ku lakukan sekarang adalah menjaganya dari jauh agar ia bisa memiliki kehidupannya yang tenang seperti yang ia inginkan" gumam Kenan pergi dari sana.
...****************...
Zea Pov
Aku mengajak kedua sahabat ku untuk booking hotel di wilayah terdekat. Hal ini juga karena ku pikir kami akan memiliki percakapan yang panjang dan banyak derai air mata. Hingga aku memilih tempat yang tenang seperti ini.
"Kenapa pakek booking hotel segala sih Ze?" tanya Keyla.
"Hehehe gak papa! Sesekali, biar enak kita ngobrolnya" jawabku.
Aku memilih pelayanan incognito agar identitas ku tak diungkap saat aku menginap disini. Aku memilih tempat yang damai dan tertutup untuk kami.
Aku duduk di ranjang bersama keduanya selepas memesan makanan untuk kami bertiga.
"Jadi," ujar ku bingung ingin bicara bagaimana.
Entah kenapa kini aku merasa canggung dengan keduanya. Mungkin ini karena aku yang terlalu banyak menyembunyikan rahasia dari keduanya, membuatku harus selalu berhati hati dengan apa yang kuucap.
"Kenapa lo mendadak pindah sih Ze?" tanya Keyla memulai percakapan.
"Itu karena orang tua gue Key, Kan udah gue jelasin" jawabku.
Keyla menggeleng, "Walaupun lo udah ngasih gue alasan yang sangat jelas, tapi gue masih ngerasa aneh dengan itu semua Ze" ujar Keyla sangat peka.
Walaupun membohongi Icha itu sangat gampang tapi untuk Keyla yang sangat peka dengan keadaan sekitarnya membuatku kesusahan. Keyla sangat mengenal diriku.
Aku hanya menanggapi dengan senyuman, tak perlu beralasan lagi dan mencoba meyakinkan bahwa aku tidak berbohong.
"Ortu gue beneran mau pindah kerja Key, Cha! Lagian ngapain gue bohong" ujarku dengan sangat mulus.
"Key udah ah! Lagian Zea juga udah bilang gitu. Kita nikmatin aja waktu sekarang sebelum Zea pergi besok" tutur Icha menengahi.
Keyla akhirnya mengalah. "Yaudah deh!" balas Keyla.
Aku menghela nafas lega bahwa hal ini tak lagi berlanjut.
Kami bertiga saling bertatapan satu sama lain. Hingga Keyla bangkit dari kasur.
Aku mengikuti pandangan Keyla yang menuju kearah sofa melihat apa yang dilakukan gadis itu.
Keyla membawa sebuah tas kamera dengan tripod dibawahnya.
"Dapet dari mana Key?" tanyaku menyadari apa yang Keyla bawa.
"Ini punya Kenan! Gue pinjem" jawab Keyla membuatku mengerti.
Lantaran saat menumpang Keyla hanya membawa sedikit barang dan tentu saja didalamnya tak ada benda benda seperti itu.
"Mau ngapain?" tanyaku berjalan mendekat melihat Keyla yang menyiapkan kedua benda itu.
"Gue mau ngerekam momen sebelum lo pergi besok" jawabnya.
Aku tersenyum bangkit ikut membantu Keyla menyiapkan agar posisinya tepat.
"Agak kesini dikit Key" ujarku membenarkan.
Aku bahagia menikmatinya kegembiraan kami.
__ADS_1
Tok tok
Pintu kamar diketuk. Kami menoleh kearah pintu.
"Biar gue aja" ujarku.
Aku berjalan mendekati pintu dengan was was. Ku buka pintu kamar secara perlahan mengintip siapa yang datang.
"Layanan makanan" ujarnya membuatku bernafas lega.
"Ah iya, terima kasih" ujarku sambil memberikan uang tip kepada pelayan.
Aku mendorong troli berisi makanan itu masuk kemudian ikut kembali bergabung dengan Icha dan Keyla yang berada di ranjang.
...****************...
Hingga hari sudah menjelang malam. Kami bertiga sudah berada didalam mobil. Lebih tepatnya aku mengantar keduanya pulang.
Tiba dirumah Icha, aku ikut turun dari mobil. Ku tatap sendu keduanya.
"Ze! Zea!" ujar keduanya langsung memelukku dengan erat. Ku peluk balik keduanya tak kalah erat.
Kedua air mataku menetes. Tak ku sangka waktunya tiba juga untuk ku pergi. Rasanya waktu kami bertiga di hotel itu begitu singkat.
"Lo harus inget sering sering hubungi kita ya Ze!" tutur Icha. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman karena mungkin aku tak bisa melakukan itu karena tempat yang ku tuju.
"Iya" jawabku satu kata tanpa janji.
Ku lepaskan pelukan, ku pandang keduanya dengan tulus.
"Lo jaga diri disana baik baik ya Ze!" ujar Keyla menasehati.
"Kalau gitu gue pergi dulu ya!" pamitku.
keduanya menggenggam tanganku enggan melepaskan. Kusatukan tangan keduanya lalu menepuknya dengan pelan dan melepaskannya dengan perlahan.
"Gue pergi!" pamitku lagi.
Aku membuka pintu mobil masuk kedalamnya.
"Dah!" aku melambaikan tangan dan dibalas oleh Icha dan Keyla.
Kunyalakan mesin mobil dan kemudian ku tancapkan gas meninggalkan rumah Icha.
Sesampainya dirumah kulihat mobil bak terparkir didepan rumah.
Aku turun dari mobil menghampiri beberapa orang yang sedang duduk di teras rumah seperti menunggu kedatanganku.
"Ma, Pa" sapa ku pada keduanya.
Kulihat seorang pria yang berada di dekat keduanya.
Kuulas senyum menyapa pria itu.
"Halo" sapaku menyalimi pria itu.
"Halo! Ini Zea kan" ujarnya membalas.
"Iya" jawabku sambil tersenyum.
Aku melihat kearah kedua orang tua ku.
__ADS_1
"Zea ini temen papa! Panggil aja pakde Tejo. Dia yang mau antar kamu kesana" ujar papa.
Aku tau bahwa akan ada orang yang mengantar ku pergi. Namun kupikir dia akan datang besok, tak kusangka bahwa semuanya dipercepat.
Mama mengelus kepalaku dengan sayang. Mama masuk kedalam rumah hingga beberapa saat kemudian Mama kembali dengan tas ransel dan jaket tebal.
"Nanti papa sama Mama nyusul ya! Kamu hati hati dijalan" ujar Papa berbicara.
Mama membantuku memakaikan jaket dan tas dipunggung ku.
Krepp
Mama memelukku erat.
"Kamu hati hati dijalan ya! Kalau ada apa apa hubungi mama" tutur Mama khawatir.
"Iya ma! Pasti" jawabku membalas pelukan mama.
Ku lepaskan pelukan kami dan aku berganti memeluk Papa.
"Hati hati dijalan! Tunggu papa mama nyusul kesana" ujar Papa.
"Iya Pa" jawab ku.
Cklekk
Pintu rumah dibuka. Abang Arka keluar dari dalam rumah.
"Udah mau berangkat?" tanya Abang padaku.
Aku menganggukan kepala.
Abang mengacak acak rambutku, "Abang akan kesana setelah urusan disini selesai" ujar bang bang Arka.
"Em" jawabku mengerti.
"Yaudah ayo berangkat Zea" ujar pakde Tejo.
"Iya pakde" jawab ku mengikuti langkah pakde Tejo.
Pakde Tejo membantuku membukakan pintu mobil bak menuntunku masuk kedalam.
Kulihat disana keluargaku sedang memperhatikan.
Kulambaikan tangan pada mereka.
"Kita berangkat ya nduk!" ujar pakde Tejo dengan logat orang desa.
Pakde Tejo menyalakan mesin mobil dan suara khas mobil bak terdengar nyaring di telingaku.
"Berangkat" ujar pakde Tejo.
Aku mengulas senyum melambaikan tangan kepada keluarga ku.
"Dah Ma, dah Pa, Dah bang! Zea berangkat" ujarku.
Pakde Tejo menjalankan mobil baknya meninggalkan rumah. Membawaku pergi dari kota ini. Meninggalkan apa yang ada disini.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1