
Zea melewati hari harinya dengan baik. Hubungan jarak jauhnya dengan Alvin juga sudah berlangsung selama 2 bulan. Dan selama 2 bulan ini ia melihat betapa tulusnya sikap Alvin yang sering bolak balik hanya untuk menemui dirinya. Bahkan pria itu tak pernah mengeluh sama sekali.
"Al!" ujar Zea memanggil sambil menyodorkan sendok makanan ke bibir Alvin.
Alvin melirik sekilas dan tanpa banyak bertanya membuka mulut, menerima suapan dari Zea. Kemudian Alvin tak lagi menoleh ke arah gadis itu dan matanya hanya tertuju kearah laptop yang ia pangku.
Zea dengan telaten terus menyuapi Alvin hingga makanan yang ada di piring itu habis tak tersisa. Kemudian ia mengambil gelas yang ada di meja mendekatkannya pada bibir Alvin dan kali ini Alvin melirik kearahnya sambil menegak air didalam gelas.
"Makasih!" ujar Alvin tersenyum kearah Zea.
"Sama sama!" jawab Zea.
Zea menatap kearah pria itu melihat bekas air yang menempel dibibir Alvin. Tanpa pikir panjang Zea mengambil tisu dan hendak mengusap bibir pria itu. Seketika ia tertegun saat Alvin ikut memandangnya.
"Ekm!" Zea berdehem pelan sambil menunjuk kearah bibir Alvin. Dan sebagai balasan Alvin memajukan wajahnya meminta Zea melakukannya.
Tangan Zea bergerak mengusap tisu ke bibir Alvin. Alvin yang melihat itu tersenyum dengan hangat akan perhatian yang Zea berikan padanya.
"Em, Kamu mau buah Al? Aku siapin buah di dapur bentar ya!" ujar Zea bertanya namun gadis itu juga tak menunggu Alvin untuk menjawab. Zea beranjak bangkit, berjalan menuju dapur dengan langkah cepat.
Alvin melihat pergerakan Zea sejenak kemudian ia kembali fokus ke laptopnya.
...****************...
Zea masuk ke area dapur dengan jantung yang berdebar debar. Ia menoleh kearah tempat Alvin berada melihat pria itu kembali fokus pada Laptopnya.
"Hari ini sungguh aneh!" ujar Zea tak mampu memahami apa yang ia lakukan sekarang.
Sejak Ia datang hingga kini semua terasa berjalan begitu cepat dan seakan normal.
Apalagi, Hal yang tak Zea mengerti adalah kenapa Alvin bisa bertahan sampai sekarang dalam kondisi ini!
Mungkin apa yang Zea lakukan kini adalah sejenis rasa bersalah bercampur dengan ketulusan yang ia miliki.
Hal ini bermula saat pagi tadi ia melihat kedatangan Alvin dan Joe yang sampai lebih dulu di lobi apartemen. Namun, Apa yang ia lihat sungguh membuat Zea heran. Saat ia masuk kedalam lobi, ia melihat bagaimana Joe tak lagi beraut wajah datar. Ia melihat bagaimana Joe berdebat dengan Alvin akan suatu hal.
Flashback
"Tuan! Anda tak bisa begini tuan. Dokter sudah menyarankan bahwa anda.."
"Berisik!" bentak Alvin keras menatap Joe sengit.
"Akhir akhir ini lo bener bener cerewet! Lagian gue tau kondisi tubuh gue sendiri, Lo gak perlu urus!" lanjut Alvin memarahi Joe.
Joe yang dibentak dan dimarahi oleh Alvin hanya bisa diam ditempat, menatap Alvin yang meninggalkannya berjalan memasuki lift.
Alvin benar benar tak peduli pada pria itu. Bahkan sampai tak pedulinya, Alvin juga tak melihat kedatangan Zea dibelakang sana. Mata Alvin tertuju fokus pada benda yang ada ditangannya. iPad yang Zea tau digunakan pria itu untuk bekerja.
Zea memperhatikan semua itu dari belakang sana hingga Joe berbalik bertatapan mata dengan Zea.
__ADS_1
Joe melihat kearahnya dan Zea hanya bisa mengangguk lalu kembali berjalan melewati pria itu.
"Tunggu!" ujar Joe dengan suara dinginnya membuat Zea berhenti berjalan.
Joe mendekat kearahnya dan berdiri tepat didepannya. Namun apa yang menjadi perhatian Zea adalah tatapan mata dari Joe. Zea seketika dibuat gelisah oleh pria itu, hingga Zea membuang pandangan untuk mengalihkan suasana takut didirinya.
"Lo harus tanggung jawab!" ujar Joe dengan nada menekan pada Zea.
Zea mengernyit tak paham akan pernyataan Joe.
"Maksudnya?" Zea balik bertanya.
"Lo yang buat tuan gue sakit! Jadi lo harus tanggung jawab atas tuan gue!" ujar Joe lagi.
Kini Joe merubah sikapnya menjadi super dingin pada Zea, bahkan tatapan mata permusuhan dimata Joe terlihat sangat jelas.
Zea menghembuskan nafas menatap Joe.
"Oke, gue harus apa?" tanya Zea pada Joe. Zea menerimanya begitu saja tanpa banyak berdebat.
Joe menatap Zea dengan sinis, "Lo naik aja dulu, nanti gue kasih tau lo harus apa!" ujar Joe kemudian berbalik badan keluar dari lobi apartemen. Joe melakukan itu karena ia tahu tuannya itu menunggu kehadiran gadis ini.
Zea menatap kepergian pria itu, ia ikut berbalik berjalan kearah lift menyusul Alvin yang sudah naik lebih dulu.
Ia berdiri di depan pintu, mengetuk pintu. Zea menunggu beberapa saat dan dari Alvin menyambut kedatangannya.
"Selamat datang!" ujar Alvin menyambut Zea dengan senyuman.
Alvin menyambut Zea mengulurkan tangannya membawa Zea kedekapannya.
Zea mengikuti langkah Alvin yang membawanya ke sofa. Disofa ia dapat melihat iPad dan laptop yang tergeletak disana.
Zea memegang tangan Alvin yang merangkul dipundaknya. Seketika ia mengernyit akan suhu badan Alvin yang tak normal.
Ia menatap kearah pria itu, 'Ia beneran sakit!' batin Zea merasa bersalah.
Alvin dan Zea duduk di sofa sambil saling bersipandang.
"Kamu..." ujar keduanya berbarengan.
"Kenapa?" tanya Alvin mengalah. Alvin menanyakan lebih dulu apa yang hendak Zea katakan.
"Kamu sakit?!" ujar Zea bertanya.
Alvin tersenyum pada Zea, "Bukan masalah! Hanya sedikit tidak enak badan aja" jawab Alvin seakan dirinya buka masalah besar.
Alvin membenarkan posisi duduknya, mengambil laptop disampingnya dan mendudukkan pangkuannya.
"Hari ini aku banyak pekerjaan! Jadi aku tak bisa mengajakmu banyak berbicara. Kamu temani aku disini aja, oke?" ujar Alvin kemudian menarik nafas dalam.
__ADS_1
"Oke!" jawab Zea.
Alvin mengacak-acak rambut Zea, ia tahu apa yang Zea pikirkan. Walaupun terlihat tak peduli gadis itu pasti khawatir padanya.
Tok tok tok
Pintu apartemen diketuk membuat Zea menoleh.
"Biar aku aja!" ujar Zea berinisiatif. Ia segera bangkit dan berjalan cepat kearah pintu.
Zea langsung membuka pintu, siapa lagi yang mengetuk pintu kalau bukan Joe.
Ia dapat melihat Joe membawa kantong ditangannya.
"Ini makanan dan obat buat tuan Alvin!" ujar Joe menyerahkan kantong ditangannya pada Zea.
Zea menerimanya melihat isi didalamnya.
"Untuk sekarang tuan Alvin bakal menolak untuk makan, minum obat dan istirahat! Jadi anda harus berinisiatif menyuapinya, kemudian tuan Alvin juga akan menolak minum obat. Disini anda tak perlu memaksa, biarkan tuan meyelesaikan pekerjaannya dulu setelah itu ingatkan untuk minum obat. Selebihnya anda urus sendiri, sesuai yang anda mau!" ujar Joe kembali berbicara formal pada Zea.
"Aku paham!!" jawab Zea.
"Kalau begitu saya permisi!" lanjut Joe mengangguk singkat kearah Zea kemudian menutup pintu apartemen.
Zea berjalan masuk kedalam apartemen, melihat Alvin yang masih fokus pada Laptopnya.
Zea melewati pria itu. Ia berjalan kedalam masuk ke wilayah dapur untuk menyiapkan makanan Alvin.
Flashback off
Begitulah akhirnya hingga ia berakhir menyuapi Alvin.
Zea yang berada di dapur menyiapkan berbuahan untuk pria itu makan. Kemudian ia kembali mengecek kantong belanjaan yang diberikan oleh Joe.
Zea mengambil sesuatu dari dalam kemudian membolak baliknya.
Zea pergi dari dapur sambil membawa piring berisi buah dan plester kompres ditangannya.
Ia kembali duduk disamping Alvin, meletakan buah dipiring diatas meja.
Zea membuka stempel kompres ditangannya. Kemudian mengarahkan kekening Alvin.
Alvin seketika menengok melihat apa yang hendak Zea lakukan.
"Pakai ini! Biar panasnya turun!" ujar Zea sambil memperlihatkan benda ditangannya.
Alvin mendekat, mengijinkan Zea untuk menempelkan benda itu dikeningnya.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ