My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
98. Keputusan Alvin


__ADS_3

Setelah mendengar cerita Icha Alvin diam. Ketiganya melirik kearah pria itu menunggu jawab. Apakah Alvin akan memberi tahu masalahnya pada Satya atau tidak, dan memilih pria itu yang menyelesaikan sendiri.


"Oke" ucap Alvin.


"Jadi?!" tanya Zea penasaran.


"Akan ku beritahukan hal ini pada Satya!" ujarnya.


Deg


Jantung Icha seakan berhenti berdetak dan menatap kearah pria itu.


"Kumohon Al, jangan! Please, jangan kasih tau Satya!" pinta Icha menggenggam tangan Alvin memohon.


Alvin menarik tangannya yang dipegang Icha, "Aku sudah mempertimbangkannya" ujarnya dengan tegas.


Icha terduduk di kursi dengan tatapan nanar seakan tak percaya bahwa akan tiba hari di mana Satya akan tau semua hal yang ia sembunyikan selama ini..


Pandangan Icha terfokus kedepan bahkan wanita itu tak berkedip sedikitpun.


"Cha!" panggil Keyla memegang bahu Icha.


"Al! Aku mohon" bujuk Zea menggenggam tangan Alvin.


"Nggak!" balas Alvin dingin.


Ketiga gadis itu mulai tertunduk. Butiran bening kembali menetes dimata Icha, namun gadis itu memilih bungkam menahan Isak tangisnya.


Zea terus membujuk Alvin namun jawaban pria itu tetap sama. Zea tahu Alvin adalah pria yang tak mudah mengubah keputusannya. Zea akhirnya diam.


"Kalian mau kemana setelah ini, apa kalian masih mau terus tetap disini?!" tanya Alvin pada ketiga gadis yang diam itu.


Zea menggeleng, "Tidak" ingin rasanya Zea berpindah tempat dari sini. Karena rupanya beberapa orang sempat melihat kearah mereka yang menangis.


"Oke, mau kemana?" tanya Alvin. Kemudian ia melambaikan tangan ke pelayan untuk membungkus kue yang tersisa.


"Terserah" jawab Zea lemas tanpa tenaga.


"Hah!" Alvin menghela nafas.


"Ke apartemen aja, karena tak mungkin kalau balik ke sekolah maupun pulang ke rumah" ujar Alvin. Ketiga gadis itu hanya bisa mengangguk patuh seakan tubuh mereka adalah rumput yang melambai lambai, lemas, dan lunglai.


"Tolong bungkus ini semua!" titah Alvin saat pelayan itu datang.


"Baik!" jawab pelayan itu mulai mengambil kue kue dimeja Alvin guna membungkusnya di meja kerjanya.


Beberapa saat kemudian pelayan itu datang kembali dengan box kue yang dimasukan kedalam kantong plastik.


"Silahkan!" ujarnya dengan ramah.


"Makasih mbak" jawab Zea dan Keyla menampilkan senyum.

__ADS_1


Alvin diam. Sedangkan Icha yang lemas dalam pikirannya sendiri hanya bisa menunduk. Keyla memegangi bahu Icha.


"Ayo Cha!" ajak Keyla. Zea juga setia mendampingi gadis itu didekatnya.


"Sini biar aku bawa" ujar Alvin saat tangan Zea memegangi salah satu kantong yang tadi diberikan pelayan.


"Aku bisa kok" balas Zea tapi Alvin seakan tak menerima bantahan memegang apa yang Zea bawa.


"Sini!" ujar Alvin.


"Oke!" balas Zea melepaskan pegangannya pada kantong itu.


Alvin berjalan mendahului seakan tau bahwa ketiga gadis itu ingin menjaga jarak dengannya apalagi kini sikap Alvin yang kian berubah. Bukan berubah! Sikap Alvin sama, namun mereka baru menyadari bahwa inilah Alvin yang sebenarnya.


"Lo tenang aja Cha! Gue akan coba bujuk Alvin lagi! Percaya sama gue" ujar Zea menyemangati gadis itu.


"Iya Cha, walaupun Satya tau. Kita pasti ada disamping lo! Lo gak perlu peduliin ekspresi Satya nanti. Masih ada kita!" ujar Keyla ikut menyemangatinya.


"Makasih" ujar Icha dengan senyum tipis.


Icha awalnya memang takut untuk memberitahukan semua hal ini pada Satya. Apalagi perempuan perempuan yang membullynya waktu itu sempat mengancamnya jika ia memberitahu Satya.


Maka itu ia diam. Walau bukan hanya karena itu saja ia bungkam. Seperti yang ia katakan sebelumnya. Ia takut bahwa Satya akan menganggapnya lemah, cupu, manja, atau apalah itu yang merendahkannya. Karena selama ia berteman dengan Satya dari kecil, Satya selalu menghinanya dengan kata kata itu karena emang dirinya yang kala itu terlampau manja pada ayah bundanya.


Seperti halnya hujan deras berangin kencang yang mencoba kita terobos namun jika tenaga kita tak bisa menahan akan runtuh juga akhirnya.


Tak beda dengan Icha yang terus mendapatkan ejekan dari Satya membuat hati Icha menggelap ingin memberontak, ingin membuktikan bahwa ia tidak seperti itu. Namun apa daya Icha yang tak lagi mampu menahannya. Bahkan sampai ia harus diam saja dikala pembullyan terjadi. Saat pembullyan pun Icha enggan mengatakan bahwa ia menjadi seperti ini karena Satya. Dan ia mengatakan dan memohon kepada orangtuanya untuk tidak mengatakan kondisinya pada siapapun yang sedang terpuruk saat itu termasuk kepada sahabat bundanya itu. Kecuali Zea yang kala itu dekat dengan Icha dan melihat secara langsung Icha dibully.


Mereka sampai didepan teras kedai yang terparkir motor dan mobil yang berjajar disana. Mereka mendekat ke mobil Alvin.


"Kamu didepan!" ujar Alvin saat Zea hendak masuk bersama Keyla dan Icha.


Zea mengangguk lalu mengelus lengan Icha, menyemangati gadis itu. Alvin membukanya pintu untuk Zea. Dan Zea masuk kedalam.


Kue yang dibawa Alvin sudah ia letakan kedalam bagasi mobil.


Alvin memutari mobil masuk ke dalam mobil, duduk dikursi kemudi.


Alvin menoleh kearah Zea. Rupanya Zea sudah memasang selt beltnya lebih dulu. Lantas ia mulai melajukan mobilnya kearah apartemen.


Zea, Keyla, dan Icha hanya bisa diam sepanjang perjalanan. Tak ada suara berisik yang selalu ketiganya lontarkan.


"Al" panggil Zea lebih seperti gumaman.


"Nggak" jawab Alvin tegas.


"Tapi_" ucapan Zea terjeda.


"Nggak ada tapi tapi!" sahut Alvin.


Zea sangat geram akan Alvin, tapi ia tak bisa memaki pria itu.

__ADS_1


"Please Al!" Zea hanya bisa memohon.


"Aku lakukan ini buat kamu, ini keputusan terbaik!" ujar Alvin menatap kearah Zea sebelum kembali fokus ke jalan.


Zea menggepal kan tangan dan menggertak gigi. Tahu apa Alvin tentang yang terbaik untuknya? Apakah Alvin itu peramal atau dukun atau apalah yang bisa tahu apa yang ia sukai dan tidak sukai. Apa yang ia butuh dan tidak butuh. Ingin rasanya Zea melampiaskan amarah pada Alvin, tapi posisinya saat ini membuat ia harus lebih banyak bersabar.


Jika tidak Alvin akan kembali dengan ancamannya. Karena satu yang Zea selalu yakini, Alvin akan melakukan apapun yang pria itu mau walau beresiko besar sekalipun.


"Ze!" panggil Icha membuat Zea menoleh kearah belakang.


"Ya?" jawab Zea.


"Nggak perlu lagi! Alvin benar, gue gak mau


hal ini sampai berlarut-larut" ujar Icha menampilkan senyum pada Zea.


"Lo yakin Cha?" tanya Keyla disebelahnya.


"Yakin" ujar Icha mantap.


"Tapi bisa gue minta satu hal sama lo Al" ujar Icha.


"Apa?" tukasnya.


"Boleh jangan memberitahukan hal ini ke Satya dalam waktu dekat, hati gue belum siap" ungkap Icha.


"Akan gue pertimbangan" jawab Alvin tak pasti.


Icha menyandarkan tubuhnya disandaran mobil menghela nafas dalam menghirup udara sebanyak banyaknya dari ruang mobil yang tertutup itu.


Ia akan mengikuti saran Alvin kali ini. Karena jika ia sendiri yang bilang, rasanya Icha tak mampu.


Beberapa menit kemudian ketiganya sampai diapartemen Alvin. Mereka turun dari mobil membawa kue yang tersisa mengikuti Alvin masuk kedalam gedung apartemen itu.


Mereka berjalan kearah lift yang biasanya mereka pakai. Dan rupanya lift itu dipakai untuk membawa muatan yang amat besar. Karena tak ingin menunggu, akhirnya Alvin mengajak keduanya melewati pintu depan.


Ketiganya dibuat takjub saat mereka masuk dari arah lobi yang disana nampak furniture mewah terpajang. Sebelumnya Zea melewatkan hal ini karena Alvin langsung mengajaknya menaiki lift dari basemant sampai kelantai dimana apartemen Alvin berada.


Mereka masuk kedalam lift dan Alvin menekan lantai tempatnya tinggal. Menunggu beberapa saat dan berjalan beberapa langkah akhirya mereka berada didekat pintu apartemen Alvin.


Tit cklekk


Alvin menekan tombol dan membuka pintu, mengajak ketiga gadis itu masuk. Dari arah ruang depan langsung terdengar suara berisik.


"Kalian!"


Mereka saling bersipandang dan bertatap tatapan. Dan Icha kembali menegang saat itu juga.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2