My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
41. Sosok Rupawan Alvin


__ADS_3

Geo, Kenan, Julian, dan Satya yang melihat kepergian mobil Alvin. Buru buru masuk kemobil masing masing mengejar mobil Alvin yang sudah melesat pergi. Semoga saja Alvin tak kalap dan melakukan sesuatu yang berbahaya. Karena saat seperti ini Alvin akan mengendarai mobilnya dengan kebut kebutan.


Semua itu terbukti dengan Alvin yang melajukan mobilnya dengan kencang. Darahnya mendesir diliputi rasa kesal dengan rahang yang menegang tak memperdulikan apapun. Melampiaskan kekesalannya kejalanan.


Beda halnya dengan gadis yang disampingnya. Senam jantung sudah dirasakan oleh Zea. Wajahnya memucat seiring laju mobil yang dijalankannya Alvin, apalagi melihat ekspresi Alvin yang mengeras akan amarah.


"Alvin jangan cepet cepet" pekik Zea tertahan, namun tak digubris oleh Alvin. Doa pun sudah ia lantunkan dalam hati


"Alvin pelanin!" Jantungnya terus berdetak menikmati adrenalin yang mencuat seiring bertambah kencangnya laju mobil.


"ALVIN!" teriak Zea kencang.


Teriakan kencang Zea terdengar jelas ditelinganya, ia menoleh seakan tersadarkan lantas mengerem mobilnya mendadak.


Ckitt...


Bunyi decitan ban mobil yang beradu dengan aspal. Untung saja seat beltnya menahan tubuh mereka dengan kuat, sehingga badan mereka tidak terjungkal kedepan. Keamanan yang dia dapatkan sepadan dengan harga mobil yang fantastis. Recommend.


"Maaf Ze! Aku terbawa emosi. Kamu gak apa?" Alvin mencondongkan badannya kearahnya, menampilkan wajah bersalah. Mengecek setiap tubuh Zea, apakah ada luka ditubuh gadisnya itu.


"Lo gila!"


"Sumpah senam jantung gue gara gara elo!"


"Tapi..." Zea menjeda ucapannya, "itu tadi seru banget! Gila" ujarnya dengan kekehan kecil.


Wajah Alvin silih berganti menjadi senyuman tercetak jelas disana.


"Kamu maafin aku?"


"Iya! Lagian lo jadi kalut gini juga gara gara gue!"


Alvin tersenyum, "Gue sayang lo Ze" ujar Alvin seketika. Zea tercekat dengan penuturan Alvin tiba-tiba. Dalam momen ini keduanya seperti terbuai, hanyut akan aliran yang melekat di hati mereka masing masing.


Tiba tiba Alvin semakin mendekat kearah Zea. Matanya tertuju pada bibir merah Zea yang sangat menggugah gairahnya. Rasa nikmat bibir Zea masih terbayang dibenaknya, ketika dia sempat mencuri kesempatan merasakan manisnya bibir itu.


Tanpa sadar Alvin semakin mendekatkan wajahnya. Kedua mata mereka saling bertemu. Alvin melepaskan seat beltnya. Memisahkan jarak antara mereka. Tangannya menangkup wajah Zea membuat keduanya sama sama terbuai.


Bibir Alvin mendarat dibibir ranum Zea. Alvin merasakan rasa manis yang sama seperti yang waktu itu dia rasakan.


Alvin menjauhkan wajahnya ingin tau ekspresi apa yang Zea tunjukan. Gadisnya itu membeku.


Zea kehilangan ciuman pertamanya. Tapi dia tak marah, jantungnya berdetak kencang. Tanpa sadar segaris senyuman tersemat dibibirnya. Dengan kedua pipinya yang terlihat merona.


Darah Alvin berdesir melihatnya, merasa tak puas hanya dengan ciuman singkat. Ia mencoba meraih wajah Zea lagi, dia ingin mendapatkan lebih. Pikiran Zea seketika kosong saat Alvin memajukan wajahnya kembali. Apakah dia akan kehilangan second kiss nya disaat bersamaan.


Tin tin


Beruntung klakson dibelakang mobil membuyarkan keduanya. Zea langsung gelagapan membenarkan posisi duduknya menghadap kedepan. Sedangkan Alvin sudah kembali keposisi semula, melajukan mobilnya ketempat tujuan.


Zea sekali kali melirik kearah Alvin. Ketika pandangan keduanya bertemu, Zea menjadi gugup tak bisa mengkondisikan dirinya.

__ADS_1


'Oh my God, Zea. Sadar! Ciuman pertama lo diambil. Seharusnya lo marah karena first Kiss lo diambil. Bukannya dulu lo berjuang mati matian untuk ngejaga ciuman lo dari Zion. Kenapa sekarang lo ngerasa seneng ciuman lo diambil oleh Alvin. Lo harus coba kontrol perasaan lo Ze!" perang batin Zea.


"Kamu marah?" tanya Alvin memecah batin Zea yang bergejolak. Melihat wajah merah Zea tadi membuat Alvin berpikir Zea marah padanya.


"Ng-nggak" jawab Zea gugup.


"Itu ciuman pertama kamu?" tanya Alvin. Zea mengangguk, lalu tersadar Alvin tak dapat melihat anggukan.


"Iya!"


"Jadi aku cowok pertama kamu!" goda Alvin.


"Bisa dibilang begitu" Alvin tersenyum mendengar penuturan polos Zea.


"Apapun yang terjadi, jangan pernah coba coba untuk pergi meninggalkanku Ze. Aku bisa menjadi monster ganas kalau kamu pergi"


"Moster ganas! Jangan jangan lo alien yang lagi nyamar lagi, Astaga!" ujar Zea berpura pura kaget. Lantas keduanya sama sama tertawa.


"Pacar siapa sih kamu kok gemesin banget!"


"Pak Burhan!" jawabnya. Alvin langsung menoleh ke Zea.


"Loh kok pak Burhan? Harusnya pacar aku dong!" keluh Alvin. Kemudian pandangannya fokus kejalanan kembali.


"Itu tau, kok pakek nanya segala!" Mendengar ucapan sarkas Zea, tak dapat menahan dirinya untuk tak membuat rambut Zea berantakan. Sepertinya mengusap dan membuat rambut Zea berantakan menjadi salah satu hobbynya sekarang.


"Aaa Alvin!" pekik Zea.


"Salah siapa bikin gemas?!"


"Yah salah lo lah, siapa suruh gak bisa bertahan dari pesona seorang Zeara Mauria Mahendra"


Alvin terkekeh akan perkataan Zea yang dibilang terlalu percaya diri.


"Kayaknya aku harus bilang makasih deh sama Mama Papa soalnya sudah bikin anak secantik kamu" rayuan maut Alvin muncul.


Bukannya tersipu malu, Zea menatap Alvin curiga, "lo kok bisa jago ngerayu gini sih, perasaan waktu pertama kali ketemu lo pendiem. Gak banyak bicara gini!"


"Gara gara kamu aku jadi gini!" Zea membelak.


"Maksudnya gue bawa pengaruh negatif gitu?"


"Bisa jadi" Alvin membelokkan arah kendaraan memasuki perkebunan yang membentang. Sebentar lagi mereka akan sampai di Vila.


"Kalok gue bawa pengaruh negatif, harusnya gue jauhin lo dong mulai dari sekarang!"


Alvin menengok Zea, "jangan coba coba!" ancam Alvin tegas. Membayangkan Zea meninggalkan ia membuat rahangnya mengerat terbawa emosi. Buku buku jarinya memutih mencengkeram erat setir mobil.


"Aku gak bakal ngebiarin hal itu terjadi!" ucap Alvin lagi memberi penekanan. Jika bersangkut paut kan dengan Zea yang meninggalkannya dia tak bisa mengendalikan diri.


"Gitu aja marah, lagian gue cuma bercanda" ujar Zea.

__ADS_1


"Aku gak suka candaan kamu yang kayak gini. Terus mau sampai kapan kamu pakai lo-gue diantara kita"


Tiba tiba udara di sekitar mereka menjadi mencengkeram. Zea menunduk dan merenung, ia sadar bahwa selama ini dia terlalu menjaga jarak. Walaupun dirinya dekat dengan Alvin bahkan sampai berpacaran, tapi jauh didalam hatinya masih ada dinding pembatas yang tak bisa menerima Alvin seutuhnya. Dikarenakan dia tak ingin mengalami kejadian yang sama untuk kedua kalinya. Juga dirinya yang meragukan identitas Alvin.


Mobil yang dikendarai Alvin berhenti diperkarangan vila. Zea dan Alvin keluar dari mobil.


Semilir angin yang menyegarkan dan bebas dari polusi membuat tubuhnya rileks. Zea menghampiri Alvin.


"Al!" panggil Zea, membuatnya menoleh.


"K-kamu marah?" tanya Zea, lidahnya keluh seketika.


"Nggak usah dipaksain, kalau gak bisa!" Zea menelan saliva atas pernyataan Alvin yang menohok


"Yaudah yuk, masuk!" ajak Alvin menggandeng Zea masuk ke Vila. Didalam Vila semuanya berantakan karena berjajar barang barang keperluan pembuatan film.


Alvin dan Zea duduk disofa. Suara deru mobil dari depan vila terdengar oleh keduanya. Kemudian deru mobil itu mati dan berganti dengan suara langkah kaki yang memasuki vila.


"Zea!! Lo gak apa kan?" pekik Keyla dan Icha menghampiri Zea. Mereka sempat panik akan kejadian tadi, juga laju mobil yang dikendarai Alvin terbilang ekstrim.


"Gak apa kok"


"Alvin lo gila ya! Bawa mobil ngebut banget, untung gak kenapa napa!" gerutu Keyla pada Alvin. Alvin diam tak membalas.


"Gue mau ketoilet bentar" ujar Zea sambil berdiri.


"Aku anter" Alvin ikut berdiri namun Zea menolak.


"Gak usah, gue bisa sendiri kok" Meninggalkan mereka menuju toilet yang entah terletak dimana.


Zea berjalan jalan menyelusuri vila berjalan kearah dapur karena setahunya didapur biasanya ada toilet.


Dari luar vila sudah ramai berdatangan. Vara dan yang lainnya memasuki vila. Melihat anggota Aodra juga sahabat Zea dan tentunya Alvin yang sudah duduk disofa. Namun ia tak melihat keberadaan Zea.


Zea yang sudah menuntaskan kegiatannya berjalan kembali ke tempat semula. Dia melihat ada vara dan yang lainnya disana. Dia cuek aja.


Zea duduk disamping Alvin. Mereka menunggu pak Burhan dan pak Reno datang. Setelah mereka datang. Pak Burhan memberi aba aba untuk segera memulai.


Alat alat sudah disiapkan, Zea juga sudah mengganti pakaiannya dengan yang lebih baik. Juga makeup tipis agar terlihat fresh.


Ditempat lain Alvin juga sedikit di makeover. Kulitnya dibuat menggelap seperti pertama kali datang kesekolah. Shasya salah satu teman sekelas Zea dan Alvin yang dulunya bersikap acuh pada Alvin ketika baru datang dibuat tercengang oleh pesona Alvin yang tertutup dengan penampilan culunnya.


Shasya adalah anak dari ekstrakulikuler beauty class. Maka itu dia bisa ikut kemari. Awalnya Shasya sangat iri dengan Zea karena bisa bertindak seenaknya dengan geng Aodra. Namun rasa iri itu hilang ketika melihat kedekatan gadis itu dengan Alvin yang merupakan murid baru dengan tampilan culun. Maka dari itu dia tidak menggangu Zea lagi, karena dia rasa pesaingnya itu sudah hilang.


Sekarang dia kembali dibuat iri karena dibalik tampang culun Alvin ternyata tercetak sosok yang rupawan.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Lanjut gak nih??

__ADS_1


__ADS_2