
Joe merapikan bekas piring dan gelas Zea. Gadis itu sidikit tak enak hati pada Joe karena melakukan pekerjaan seperti ini.
"Kenapa tidak meminta orang lain saja?" tanya Zea mengawasi setiap gerakan Joe yang menumpuk piring dan gelas yang sudah kosong.
"Tuan melarang semua orang disini selain saya untuk mendekati Anda" jelas Joe.
"Oh!" Zea hanya beroria saja. Ia seakan sudah mulai hafas dengan sikap posesif Alvin.
"Saya akan keluar, lebih baik anda melanjutkan tidur karena kini sudah malam. Kalau anda butuh apa apa, anda bisa memanggil saya" ucap Joe. Zea mengangguk sebagai balasan.
"Saya permisi!" pamit Joe meninggalkan kamar dengan piring dan gelas ditangan pria itu.
Zea menatap Joe yang menghilang dari balik pintu.
Zea beranjak dari kasur menuju kearah jendela dikamarnya. Jendela yang terpagar membuat ia mustahil untuk keluar. Walaupun tak terpagarpun ia juga akan kesusahan untuk keluar dari sana.
Gadis itu menatap kearah luar mencoba melawan rasa takutnya. Ia memandangi pohon pohon tinggi dan gelapnya malam sambil menggigit bibir bawahnya. Tak bisa ia pungkiri, jika ia kabur dari sini pada malam hari, jelas ia akan merinding ketakutan.
Zea terus menatap keluar jendela. Ingin rasanya ia menikmati hembusan angin malam, namun apa daya dirinya yang terkurung dalam ruangan seperti ini. Hanya merasakan udara dingin dari AC yang menyala.
"Apa yang harus gue lakuin? Gue belum ngantuk!" gumam Zea.
Gadis itu kembali ke kasurnya, menyibak selimut berharap ia bisa tertidur lagi. Tapi matanya tak ingin terpejam, rasa kantuknya pergi entah kemana.
Zea terdiam dalam pikirannya, otak Zea bekerja. Zea memikirkan apa yang nantinya akan menimpanya.
"Apa gue bener harus nurut sama Alvin?" gumam Zea bertanya. Zea seakan tak puas jika hanya menuruti apa yang Alvin mau. Ingin Zea melawan tapi dirinya tak mempunyai apapun yang bisa mengalahkan Alvin. Gadis itu menimang sejenak.
"Apa gue coba kabur aja ya? Tapi gimana caranya? Gue keluar kamar aja gak boleh. Kalau gue kabur, Joe bisa habis ditangan Alvin!" pikiran Zea berkelana.
"Apa gue coba baik-baikin Alvin aja? Dia bilang jika gue nurut, gue bisa keluar dari sini. Mungkin itu satu satunya cara. Gue akan pura pura baikin Alvin dan cari kesempatan untuk kabur disaat Alvin lengah. Tapi apa ini bakal berhasil?" tanya Zea. Selama terkurung, pikiran Zea menjadi semakin negatif. Zea selalu merasa bahwa ia tak akan berhasil. Gadis itu benci bukan main pada hal itu, ia benci dengan dirinya yang selalu merasa bahwa dirinya itu lemah dan tak akan sanggup melawan Alvin.
Zea yang terbaring di kasur, mengepalkan tangan. "Gak! Gue gak boleh berpikir negatif. Gue harus coba cara ini, walaupun bisa aja cara ini gagal. Tapi tak ada salahnya jika gue coba!" ungkap Zea bertekat.
__ADS_1
Zea memejamkam mata dengan tekat yang tersimpan di dirinya.
"Lo bisa Ze! Lo pasti bisa! Lo udah pernah lewatin hal kayak gini, gue yakin sekarang lo pasti mampu untuk lewatin lagi" ucap Zea menyemangati dirinya.
Gadis itu membayangkan rencananya untuk pergi dari Alvin berjalan dengan sempurna. Sampai akhirnya angan agan Zea itu berhasil membuatnya terlelap. Zea tidur dengan menampilkan senyum dibibir gadis itu, menandakan bahwa Zea bermimpi indah.
...****************...
Keesokan harinya...
"Ini buku sketsa yang anda minta nona!" ujar Joe memberikan buku dan beberapa kebutuhan yang tergabung menjadi satu bagian.
"Makasih" ucap Zea. Joe mengangguk dengan wajah yang tak berubah sama sekali, wajah Joe datar tak menampilkan senyuman sedikitpun. Bahkan Zea terkadang bertanya tanya 'apakah Joe pernah tersenyum?' karena mau keadaan apapun itu Joe jarang berekspresi.
"Kenapa kau menjadi anak buah Alvin?" tanya Zea tiba tiba pada Joe.
"Karena tuan adalah orang terhebat yang pernah saya temui!" jawab Joe apa adanya.
"Hanya karena itu?" Zea kembali bertanya.
"Karena Alvin mengalamatkan mu, kamu memilih mengabdikan diri untuk Alvin. Seperti itu?" tanya Zea lagi.
"Ya! anda bisa menganggap begitu!" seru Joe.
Zea seakan ingin tertawa, hanya alasan sederhana itu membuat pria itu terlibat dengan Alvin. Hutang budi karena menyelamatkan nyawa adalah mendapatkan anak buah setia seperti Joe.
"Kalau gua memohon sama lo untuk bantu gue keluar dari sini, apa lo bisa?" tanya Zea ragu ragu. Pertanyaan ini tiba tiba terlontar begitu saja.
"Anda ingin saya mengkhianati tuan?" tanya Joe menangkap apa yang Zea bicarakanlah.
Zea menjadi gugup seketika.
"Maksud gue, bukan mengkhianati tapi sedikit menentang" ucap Zea membenarkan.
__ADS_1
Joe diam menatap Zea datar, "Maaf! saya tak bisa melakukannya. Saya tak akan pernah melanggar perintah tuan, cukup waktu itu saja karena anda memaksa dan mengancam saya. Dan saya sarankan, sebaiknya anda urungkan semua rencana yang ada dipikiran anda itu. Karena itu semua tak akan berhasil!" ucap Alvin memberi nasehat pada Zea.
"Lebih baik anda mulai menerima keadaan bahwa anda adalah milik tuan!" tutur Joe melanjutkan ucapannya membuat Zea terdiam.
Pria yang berwajah datar itu berbicara banyak padanya. Entah kenapa Zea merasa tak terima dengan apa yang Joe ucapan, seakan dirinya hanya akan menjadi milik Alvin dan memenuhi semua yang Alvin suka.
Zea menatap Joe sembari tersenyum manis pada pria itu. Tapi senyum yang ia berikan adalah senyum palsu.
"Hahahaha..Kami terlalu serius Joe! Padahal aku hanya bertanya sembarang an saja. Lagian aku juga mulai sadar kalau aku tak akan bisa lepas dari Alvin!" ucap Zea memutar balik keadaan. Ia merubah senyumnya menjadi sendu, seakan ia suda pasrah akan keadaan.
"Maaf jika kata kata saya meyinggung anda nona. Sepertinya saya terbawa emosional" ungkap Joe sedikit mengiba, tapi wajahnya tak berubah sama sekali. Datar dan kaku.
"Kalau begitu saya akan pergi dulu, jika anda butuh sesuatu saya ada diluar" pamit Joe pada Zea.
"Makasih Joe untuk buku sketsanya" ucap Zea.
"Itu sudah tugas saya" balas Joe kemudian meninggalkan ruangan Zea.
Zea menghela nafasnya panjang, menekuk lututnya, menenggelamkan wajahnya disana. Hampir saja ia membuat Joe curiga padanya. Mungkin ini kecerobohan Zea, karena melihat Alvin dengan gampangnya memukul Joe, membuat rasa dendam atau tak terima ada pada Joe. Itu yang Zea pikiran. Tapi siapa sangka bahwa Joe adalah orang yang terlampau setia pada Alvin. Seperti yang Alvin katakan sebelumnya. Bahwa Joe adalah anak buahnya yang paling setia.
Zea tak bisa terus meratapi nasibnya seperti ini. Zea membuka buku seketsa yang ia minta pada Joe. Ia mulai menggoreskan garis dan lengkungan di lembar kertas itu. Zea melampiaskan emosinya dalam kertas. Zea kembali melakukan apa yang dulu ia suka pada lembaran kertas itu.
Menggambar! Menciptakan sesuatu yang baru. Padahal Zea sudah lama meninggalkan kegemarannya kini, namun siapa sangka bahwa terkurung disini membuat Zea menggoreskan pensil di buku sketsa kembali.
Kegembiraan lama Zea yang sempat teredam karena orang orang selalu mengira bahwa desain yang ia buat adalah contekan dari desain sang mama yang seorang desainer, juga cemohan bahwa ia beruntung menjadi putri desainer membuat karya yang ia desain dengan susah payah menjadi sesuatu yang tak ternilai dan selalu dikira bahwa karya itu ada karena bantuan sang mama. Membuat Zea harus menghentikan kegemarannya itu. Membuat Zea memutuskan untuk tak lagi mengangkat pensil kembali.
Tapi nyatanya barang yang ia minta secara asal dapat menjadi dia tempat melampiaskan emosinya.
Zea terus menorehkan emosinya di kertas. Ia membuat model pakaian yang menunjukan emosinya saat ini. Sebuah pakaian untuk orang yang sama tertekan sepertinya, namun dengan harapan pakaian yang ia gambarkan dapat membuat orang itu melangkah maju dengan berani. Sama seperti yang akan ia lakukan kini.
Zea tak akan berhenti di sini dan hanya menerima kenyataan saja. Ia akan mencari celah sekecil apapun untuk bisa keluar dari penjara terkutuk ini.
Bagaimana dengan ancaman Alvin mengenai orang tuanya? Untuk kedua orangtuanya Zea yakin bahwa kedua orangtuanya akan mendukung apapun yang dia lakukan. Mereka tak akan membiarkan dirinya bersama dengan Alvin jika mengetahui sisi gila pria itu.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ