My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
65. Pelampiasan Rindu


__ADS_3

Setelah kepergian kedua orangtuanya. Bang Arka menatap kearah Alvin. Ia sedikit menyesal karena mencurigai pria itu.


"Al! Ikut gue cari udara segar diluar yuk!" ajak Arka padanya. Alvin mengangguk tak menjawab mengikuti langkah bang Arka. Seakan pria itu terkejut parah dengan Informasi yang diterimanya.


Bang Arka dan Alvin duduk di depan rumah. Bang Arka mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya.


"Mau?" tawar Bang Arka padanya. Alvin menggeleng sebagai jawaban.


Bang Arka mengendikan bahu serasa menyalakan rokoknya dengan pematik api.


Arka menempatkan sebatang rokok di bibirnya dan mulai mengepulkan asap sambil menatap langit malam.


Hening diantara keduanya dengan bang Arka yang menghisap rokok dibibirnya dan Alvin yang diam tak bersuara, seakan memikirkan sesuatu.


"Yakin gak mau?" tawar Bang Arka lagi pada Alvin.


"No thanks!" tolak Alvin lagi.


"Kenapa? Bukan selera lo?" Bang Arka mengangkat salah satu Alisnya.


"Gak! Gue lebih suka vape dari pada rokok!" jawab Alvin.


Bang Arka dibuat tertawa akan kejujuran pria itu.


"Gue bukan perokok aktif, asal lo tau. Gue ngerokok kalau lagi butuh aja. Kayak sekarang" ujar Arka dengan senyum simpul dibibirnya.


"Ini rokok gue beli tadi setelah gue cari tau apa luka lo itu lo dapat dari nyari adik gue atau luka yang dibuat buat. Sejujurnya gue gak bisa percaya sama lo" seru bang Arka masih mengulas senyum tipis dibibirnya.


"Gue tau!" gumam Alvin, "Dan itu wajar!" lanjutnya.


"Thanks udah ngertiin gue!" Bang Arka mengulas senyum. "Sebenarnya gue juga gak mau terlalu curiga ke orang lain. Tapi, semenjak gue sempat kecolongan sekali, gue jadi meragukan semua orang didekat gue, termasuk lo. Bahkan sampai saat ini walaupun bukti sudah terarah ke Zion. Gue masih belum bisa percaya sepenuhnya sama lo!" jelas Bang Arka.


Alvin mengangguk berusaha mengerti akan apa yang Arka rasakan.


"Gue harap lo bisa gue percaya Al!" ujar Arka menoleh ke arah Alvin yang juga menatapnya.


"Gue gak bisa ngobral janji ke lo Bang! Tapi gue bakal berusaha buat ngasih yang terbaik buat Zea!" balas Alvin menanggapi Bang Arka di sebelahnya.


"Gue pegang omongan lo!" ucap Arka.


Laki laki itu kemudian berdiri lalu menepuk pundak Alvin.


"Masuk! Dingin! Istirahat aja di sini kalau lo mau!"


Alvin menggenggam, "Nggak usah! Gue pulang aja. Besok gue lanjutin cari Zea!" tolak Alvin ikut berdiri.


"Oke!" balas Arka.


"Sampain salam gue ke Mama papa lo bang!"


"Iya ntar gue sampai-in"


"Gue balik dulu!" pamit Alvin diangguki bang Arka.


"Ya!" ujar bang Arka.

__ADS_1


Alvin berjalan ke arah motornya yang terparkir di halaman rumah Zea.


...****************...


Setelah meninggalkan kediaman Zea. Alvin tak lantas kembali ke apartemennya maupun mansion keluarganya. Laki laki itu memilih pergi ke basecamp karena biasanya teman temannya itu berada disana saat malam hari. Dan pasti mereka tau akan kabar menghilangnya Zea.


Alvin melepaskan kaca mata yang menengger dihidungnya sambil memasuki basecamp gengnya itu.


"Nih dia orangnya! Baru aja diomongin. Gimana Al? Zea udah ketemu?" tanya Satya melihat kedatangan Alvin.


"Iya Al! Kok bisa sih baby gue hilang? Mau gue suruh anak anak nyari?" sahut Julian ikut bertanya.


"Belum dan gak perlu. Kalian gak usah ikut campur masalah ini! Gue akan urus sendiri." jawab Alvin.


"Udah gue capek, gue mau istirahat. Kalian jangan ganggu gue!" perintah Alvin, meninggalkan mereka ke ruangan yang biasa ia pakai.


Ke empat orang itu menatap heran ke arah Alvin.


"Mungkin lagi banyak pikiran!" bela Kenan untuk Alvin. Julian dan Satya mengangguk angguk kepala, membenarkan ucapan Kenan.


"Ehm, gue mau nyusul Alvin dulu!" tutur Geo.


"Oke! Ati-ati kena terkam lo!" gurau Julian terkekeh. Geo hanya mengulas senyum tipis atas gurauan Julian.


Geo pun pergi dari sana menuju dimana tempat Alvin biasanya berada saat di basecamp. Ruangan paling pojok dan jarang dimasuki orang lain.


Geo membuka pintu ruangan itu dan mendapati Alvin sedang menghisap Vape ditangannya dan di tangan lain sedang memegang handphonenya.


Langkah kaki Geo mendekat kearah Alvin yang sepenuhnya terfokus kedalam handphonenya. Geo yang berada di dekat Alvin memincing saat ia melihat sekilas wanita yang ada di layar ponsel bosnya itu.


"Gue datang karena siapa tau lo bakal butuh sesuatu!" jawab Geo.


"Gak ada yang gue butuhin! Lo balik sana ke yang lain" usir Alvin.


"O..oke" jawab Geo, lalu hendak pergi meninggalkan Alvin. Namun sebelum itu ia berbalik, Geo mengatakan hal yang membuat Alvin menoleh kearahnya.


"Zea ada sama lo kan?" tanya Geo pada Alvin. Alvin menatap tajam kearahnya. Kemudian pria itu menghela nafas karena ia sempat terpancing emosi.


"Ya" Jawab Alvin apa adanya.


Bibir Geo terkatup karena Alvin tak membantah pertanyaannya.


Mata Alvin melirik ke arah Geo yang diam tak bergerak.


"Rahasiakan hal ini pada siapapun! Gue kasih tau lo, karena lo orang yang gue percaya!" pungkas Alvin.


"Oke akan gue rahasiain. Tapi jangan mengurungnya terlalu lama. Dia juga harus sekolah!" pesan Geo mengingatkan Alvin.


"Apa penting ngurusin sekolah? Kalau sekolah yang lo punya itu milik lo? Lo lupa?!" tutur Alvin tersirat dengan smirk dibibirnya.


Bibir Geo kembali bungkam seketika, "Gue emang gak bisa ngebantah lo!" canda Geo dengan tawa, mengusap kepalanya yang tidak gatal.


Alvin menatap Geo, mendongak wajah sambil menyungging senyum, "Lo emang gak pernah bisa ngebantah omongan gue!" tukas Alvin.


Keduanya sama sama tertawa.

__ADS_1


"Terserah lo dah! Gue ke anak anak dulu!" ucap Geo kemudian berjalan kembali kearah pintu.


"Join kalau lo udah gak kalut jauhan sama Zea. Gue tau lo gak capek!" tukas Geo di ambang pintu sebelum meninggalkan ruangan itu.


Geo pun pergi meninggalkan Alvin diruangan itu sendirian.


Alvin hanya bisa tersenyum tipis. Geo emang tau batasan yang Alvin miliki.


Setelah ia merasa cukup memandangi Zea, walau ia tak pernah puas untuk manatap wajah Zea. Akhirnya Alvin bergabung dengan teman temannya.


"Minum Al?" tawar Kenan pada Alvin yang berjalan mendekat.


Alvin menghampiri Kenan, duduk di kursi juga mengambil minuman yang Kenan berikan padanya.


Alvin menegak minuman yang diberikan Kenan menikmati sensasi rasa dari minuman yang Kenan berikan.


"Resep baru?" tanya Alvin setelah mencicipi minuman yang Kenan berikan.


"Yoii, Gimana?" tanya Kenan meminta pendapat.


"Not bad, but over strong!" jawab Alvin. Kenan mengangguk setuju dengan jawaban Alvin.


"Oh ya? Omong omong wajah lo kenapa? Gue baru sadar muka lo bonyok gitu!" tukas Julian yang muncul ntah dari mana berdiri di samping Kenan.


"Hooh gue juga baru sadar! Siapa yang ngehajar lo, Al?" ujar Satya bertanya.


"Bukan siapa siapa. Gak penting!" jawab Alvin cuek. Mendengar jawaban Alvin, keduanya hanya mengendikan bahu. Walau masih sedikit penasaran.


Ditengah perbincangan teman temannya yang asik berbincang bincang satu sama lain mengenai hal hal yang gak penting, Alvin yang menyesap minuman ditangannya tetap diam seakan pikirannya berkelana jauh.


Pyarr


Bunyi barang pecah membuyarkan pikiran Alvin. Alvin menoleh ke sumber suara dengan matanya yang menajam dan guratan yang menyatakan bahwa ia terganggu.


"Berisik!" ketus Alvin ke anggota gengnya yang membuat keributan.


Mereka menunduk mendapat sorotan amarah dari Alvin.


"Maaf King!" pinta mereka.


Diruangan itu memang tidak hanya dirinya dan keempat soibnya itu saja, namun juga ada anggota yang lain walau keduanya sedikit berjarak.


"Cih!" decih Alvin lalu berdiri meninggalkan ruangan itu.


"Mau kemana King?" tanya Geo dengan suara keras saat Alvin pergi.


"Gym!" jawab Alvin singkat, tak lagi memperdulikan teman temannya. Kini yang ia butuhkan sekarang adalah pelampiasan rindu.


Sedangkan Kenan, Geo, Satya, dan Julian melihat kepergian Alvin dengan tanda tanya besar di otak mereka. Mereka merasakan perubahan yang terjadi dengan Alvin. Mereka merasa Alvin saat ini adalah Alvin yang dulu, saat mereka baru memulai pembentukan geng. Alvin yang tegas dan tak bisa dibantah sedikitpun, juga Alvin yang tak menerima kesalahan apapun.


Padahal beberapa hari ini semenjak mengenal Zea, Alvin kian berubah menjadi lebih ekspresif. Bahkan pria itu bisa menampakan wajah wajah pria yang sedang jatuh cinta. Sebesar ini kah perubahan Alvin saat Alvin kehilangan Zea? itu yang mereka pikirkan.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2