
"Soal pembullyan Icha? Bukannya lo udah tahu ya, masalah pembullyan ini?" ujar pria itu.
Satya diam masih dengan sorot mata tajam.
"Serius lo gak tau?" tanya pria itu heran.
"Kalau gue tau, gue gak akan nemuin lo sekarang" sarkas Satya.
"Gue pikir lo tau dan gak peduli soal dia. karena gue lihat lo selalu kelahi sama dia kalau ketemu" tukas pria itu.
"Apa gue emang terlihat gak peduli dengan Icha saat itu?" Satya bertanya.
"Gak juga sih. Bingung gue harus mulai cerita dari mana" tuturnya.
"Lo bisa mulai dari mana aja, Bas" ucap Satya.
Julian yang ada disana diam menyimak dan sesekali mengambili camilan diatas meja tak lupa pula ia memesan minuman pada pelayan bar yang datang menghampirinya.
"Oke oke, Gue akan cerita apa yang gue lihat dari sudut pandang gue" Satya mengangguk, "kalau gitu gue mulai dari pertengkaran kalian setiap ketemu. Yah lo tau lah, gimana lo sama Icha terus bertengkar setiap ketemu."
"Gue tau" ucap Satya.
"Yah, gue bisa mulai dari sana. Lo tau dimata lo dan Icha pasti menganggap bahwa kalian berdua sedang bertengkar karena rasa kesal satu sama lain." Tapi tidak dengan orang lain yang merasa kalian terlalu akrab, terlalu romantis, terlalu sweet, hingga menimbulkan rasa iri dan cemburu dan berdampak pada Icha!" pria itu diam sejenak mengambil minumannya dimeja dan meminumnya sedikit.
"Yah mungkin itu asal mula kejadian pembullyan. Apa lagi saat mereka tau Icha sahabat masa kecil lo, membuat mereka makin menjadi" Satya mendengarkan dengan seksama.
"Ada tuh ketika lo gak masuk sekolah waktu itu karena lo sibuk ngurus urusan geng lo yang baru mulai. Saat itu gue gak sengaja lihat Icha sedang dibully dibelakang sekolah. Gue lihat Icha disiram pakai air kotor, dilempari apalah itu gue gak tau, dia dijambak, lalu ditendang"
"Terus lo?"
"Gue pengen nolongin tapi gak bisa! Lo tau kondisi gue saat itu. Gue bukan lo!" ujarnya kembali menegak minuman beralkohol-nya itu.
"Siapa?" tanyanya.
"Siapa yang bully dia?" tanya Satya kembali dengan raut wajah mengeras dan tangan mengepal.
"Lo bisa tebak siapa cewek yang berusaha deketin lo kayak kucing garong walau udah di tolak mentah-mentah sekalipun" jawabnya.
"Dia?!" ujar Satya menebak nebak.
"Siapa lagi coba kalau bukan dia!" tutur pria itu membenarkan.
"Hah!" Satya menghela nafas berat. Ia merasa, dadanya sesak akan apa yang Icha terima atas dirinya.
"Tapi yang gue denger saat itu ada yang nolongin si Icha dari bully-an mereka, Sat. Gue gak tau siapa itu!" ujarnya memberi informasi.
Keduanya kini saling diam dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Gue gak punya kekuatan saat itu Sat. Gue yang dulu bukan gue yang sekarang !" ujar pria itu menatap kearah gelas yang ia pegang menggoyang goyangkannya pelan, membuat isi didalamnya ikut bergoyang.
Satya tersenyum tipis, "Yah lo yang sekarang sudah sukses, bahkan lo bisa balas dendam pada mereka yang ngehina lo dulu!" Satya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Itu perjalanan yang berat" Bastian tersenyum dan terkekeh kecil mengingat bagaimana dirinya yang dulu.
"Kalau lo ikut gue, lo gak bakal ngalamin hal itu" gurau Satya.
"Hahahaha" pria itu tertawa kencang.
"Bisa aja lo!" tukasnya.
"Lagian kalaupun gue dikasih kesempatan lagi untuk memilih, gue akan tetap memilih seperti sekarang. Gue gak cocok sama geng lo yang serba berduit"
"Cih! Alasan" Satya dan Bastian sama sama tersenyum tipis.
"Gue bisa insecure kalau semisal gue ikut gabung sama lo, apalagi tampilan gue dulu yang lo tau lah, culun, cupu, jelek, dan suka dibully, terus gak lupa pula gue juga miskin! Lengkap sudah!" tukasnya masih dengan senyuman.
"Kalau gue jadi loh sih, gue gak peduli dan milih tetap gabung ke geng gue, dari pada gue harus diketuai oleh bocah kemarin sore kayak ketua lo tuh!" ujar Satya.
"Sialan lo ngehina ketua gue di depan gue. Lagian gitu gitu, ketua gue otaknya encer, gak kayak lo!" ujar Bastian masih dalam gurauan.
"Ye malah bahas otak. Coba sini adu sama gue, gue jamin tuh ketua lo bakal kalah sama gue!"
"Jelas kalah lah bego!" Keduanya sama sama tertawa.
"Sat, balik yuk! Bosen gue dengan ocehan lo berdua!" dumel Julian berwajah masam.
Keduanya menoleh menatap Julian dan piring diatas meja.
"Jelas lo bosen, orang makanan di meja udah lo habisin" gerutu Satya.
"Ayo Sat! Pulang!" rengek Julian pada Satya.
"Bentar" ujar Satya.
"Ayolah Sat, lagian lo udah tau kan siapa pelakunya!" ujar Julian masih merengek. Bangkit menarik tangan Satya.
"Iya njirr, nyusahin lo kek bocah!" ujar Satya ikut bangkit.
Bastian juga ikut bangkit.
"Gue anter kedepan!" Mereka kemudian melangkah kearah depan.
Mereka sampai didepan pintu masuk bar.
"Bas, gue mau lo cari tau siapa aja yang terlibat dalam masalah pembullyan Icha dengan detail. Gak mungkin hanya mereka yang bully Icha, gue mau informasi siapa yang bully dia sampai sekarang. Gue gak peduli soal siapa mereka, yang jelas gue bakal buat perhitungan sama mereka" tegasnya.
__ADS_1
"Oke" jawab Bastian.
"Kalau perlu lo bilang ke ketua lo itu untuk cari informasi yang gue mau. Gue bakal bayar berapapun" ujar Satya serius.
Bastian tersenyum miring, "Inilah kelebihan ketua gue. Ketua gue emang gak jago berkelahi kayak lo, tapi kalau soal mencari informasi dia jagonya, gue aja bisa semua ini karena dia!" ucap Bastian tersenyum lebar.
"Terserah lo! Gue mau informasi ini secepatnya"
"Oke akan gue sampai-in. Lo gak perlu bayar karena ketua gue masih dalam suasana hati senang karena ketemu dengan tuan Ale saat itu!" ujarnya.
"Njir! Udah beberapa hari berlalu juga. Dasar pemuja!" seru Satya.
"Hooh masih aja diangan angan!" Julian menyahut.
"Lo gak tau gimana rasanya setelah penantian panjang, akhirnya lo bisa ketemu sama orang yang lo kagumi dan hormati! Masih berbekas uy, gue pun juga begitu!"
"Cih serah dah, gue hanya bisa bilang selamat kalau gitu" tutur Satya.
"Yoi thanks"
"Datanglah ke club utama. Mereka masih pesta disana sampai minggu depan. Sayang gue gak bisa ikut karena gue harus jaga club disini" ucapnya lesu.
"Ha-ha-ha, apes banget nasib lo!"
Bastian mengendikan bahu, "Mau bagaimana lagi?!" ujarnya.
"Permisi, ini kunci dan motornya" ujar penjaga itu memberikan kunci dan motor Satya.
Satya mengambil kuncinya dan penjaga itu pergi.
"Gue pergi dulu, gue tunggu informasi secepatnya!"
"Oke, nanti gue kirim ke lo"
"Gue cabut" pamit Satya menaiki motornya dan memakai helm begitu pula dengan Julian yang menyusul.
Bastian melihat helm yang digunakan Julian merapatkan bibir menahan tawa. Beginikah Anggota geng utama Aodra yang merupakan geng terbaik saat ini.
Ia hanya bisa menatap geli kearah keduanya yang sudah melaju pergi itu. Kemudian ia masuk kembali kedalam club untuk mengabari ketuanya itu. Salah satu anggota utama dari geng Alegiance dan yang merupakan anggota termuda disana.
Ia tak tahu apakah mereka bisa mengalahkan geng Aodra jika kedua pemimpin mereka saling beradu. Walau persaingan ada, tapi mereka tak bisa menuntut tuan mereka yaitu tuan Ale, untuk bersaing dengan King dari Aodra. Mereka akan puas dengan posisi sekarang jika itu kemauan dari tuan yang mereka layani itu. Tuan Ale dari Alegiance.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Happy Reading ♡♡
__ADS_1