My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
68. Butuh privasi


__ADS_3

Alvin memeluk Zea erat. Gadis itu sudah menyelesaikan makannya. Alvin mengajak Zea pergi ke balkon, melihat pohon pohon tinggi di sekitar mereka.


"Sampai kapan aku disini?" tanya Zea kembali sendu.


"Ntah" jawab Alvin apa adanya. Zea mengepalkan tangan mendengar jawaban Alvin yang tak pasti.


"Sekolah gue gimana Al?" tanya Zea menatap nanar dirinya sendiri.


"Gue heran! Kalian semua kenapa sih heboh banget soal sekolah. Kamu lupa sekolah kamu itu milik siapa?" dengus kesal Alvin.


"Tapi gue-" ucap Zea terpotong.


"Berapa kali aku bilang! Sekali lagi kamu pakai lo-gue diantara kita. Aku jamin kamu bakal lama disini. Rubah sikap kamu, kalau kamu mau keluar dari sini!" ancam Alvin geram.


"Maaf!"


Zea kembali diam tak bersuara. Apakah menjadi takdirnya terikat dengan Alvin? Zea bingung akan segala hal yang kini menimpanya. Otaknya menyuruhnya untuk menuruti segala yang Alvin mau, tapi batinnya menolak. Jika ia hanya diam dan mematuhi pria itu, apa bedanya ia dengan boneka hidup. Hanya bisa bergerak jika digerakkan, tapi tak bisa bicara sedikitpun.


"Sore nanti aku pulang. Aku gak bisa lama lama disini. Kondisinya belum kondusif. Kamu disini sama Joe. Aku bakal penuhin segala permintaan kamu, kecuali kalau kamu ingin pergi dari aku. Jangan terlalu banyak pikiran, yang aku mau cuma kamu balik menjadi Zea yang menyukai dan selalu tersenyum padaku. Aku sayang kamu!" Alvin memutar balikkan tubuh Zea. Ia ingin mencium bibir Zea lagi. Tapi segera Zea menjauhkan wajahnya.


Alvin memegang wajah Zea, membuat ia memejamkan mata. Ciuman Alvin tak mendarat dibibirnya melainkan didahinya. Zea merasakan kecupan hangat Alvin yang terlepas, sedikit demi sedikit ia membuka matanya perlahan. Ia melihat wajah Alvin yang juga melihatnya, tersenyum dengan senyuman menawan pria itu.


Hati Zea seakan ingin goyah kembali. Tapi sebisa mungkin ia tahan. Pria di depannya adalah pria yang berbahaya. Sangat berbahaya.


'Gue gak boleh goyah! Tahan perasaan lo Ze!' batin Zea bergejolak.


Alvin menanti balasan dari Zea, namun ucapan itu tak kunjung datang membuat Alvin kembali geram. Alvin sebisa mungkin menahan amarahnya. Memang apa yang ia harapkan dalam kondisi sekarang? Segila gilanya dia, ia tak ingin melukai Zea lebih dalam, walaupun kini hati dan perasaan Zea memang sudah terluka olehnya.


"Cih!" decih Alvin membuang muka.


Zea menatap kearah pria itu, 'apakah Alvin sudah muak dengannya?" batin Zea bertanya-tanya. Jika itu benar haruskah ia senang? Itu harus. Karena dengan begitu tak akan ada yang namanya Alvin di hidupnya lagi.


Zea akan terbebas dengan segala ancaman yang datang melalui pria itu. Batin Zea bersorak senang tanpa sadar bibir Zea ikut menyungging senyum.


"Kenapa kamu?" tanya Alvin melihat senyum Zea sekilas karena gadis itu kembali merubah raut mukanya menjadi datar. Zea menggeleng menjawab pertanyaan Alvin.


Alvin tak percaya begitu saja. Ia menatap Zea curiga, Apa yang dipikirkan Zea sampai gadis itu kembali tersenyum walau masih terjebak dengan kondisi sekarang?


"Jawab aku! Apa yang kamu pikirkan?!" ucap Alvin mendesak Zea. Zea kembali menggeleng. Mata Alvin menatap kearah Zea, Zea melihat kedua mata Alvin bergidik takut. Pikirannya kembali ke adegan dimana Alvin menghabisi lawan lawannya, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Padahal kedua mata Alvin menangkap dengan jelas lawannya yang bersimbah darah, meringis kesakitan, maupun berteriak akan anggota tubuhnya yang dirasa hancur, tapi tak ada rasa iba sedikitpun dari pria itu.

__ADS_1


Zea memalingkan muka tak ingin bertemu lagi dengan mata Alvin yang mengintimidasi. Alvin dibuat semakin curiga akan tanggapan gadis itu.


"Apa kamu mau main tebak tebakan sama aku?"


"Nggak, a-aku gak mikir apa apa Al. Aku cu-cuma mengingat suatu hal yang lucu! Iya aku cuma mengingat sesuatu hal yang lucu!" jawab Zea berkilah lidah.


"Hal yang lucu? kalau gitu jelaskan padaku hal lucu apa yang membuat mu tersenyum?" kekeh Alvin. Zea dibikin semakin was was karena Alvin yang terus mengejar detail apa yang ia pikirkan.


"Apakah aku harus mengatakannya?" Zea bertanya balik.


"Tentu" jawab Alvin tanpa rasa ragu sedikitpun.


Zea mencoba menenangkan diri sejenak, ia mengalihkan pandangannya.


"Aku cuma mengingat Icha sama Keyla aja!" bohong Zea tak berani menatap Alvin langsung.


Alvin meneliti Zea, gadis itu berbohong. Buktinya Zea tak berani menatapnya langsung.


"Kamu bohong! Beritahu aku yang sebenarnya!" ucap Alvin memaksa. Zea menghela nafas berat menatap tajam ke arah Alvin.


"Apakah hanya tersenyum saja aku dilarang? Mau kamu apa sih Al? Gak cukup kamu ngurung aku kayak gini? Aku juga butuh privasi Al! Gak semua hal kamu harus tahu!" ucap Zea muak dengan sikap Alvin.


"Ze! Kamu tanya apakah kondisi sekarang cukup buat aku? Gak Zea, gak cukup! Sebelum aku merasa bahwa kamu milikku sepenuhnya, aku gak bakal pernah merasa cukup!" jawab Alvin menekan setiap apa yang ia katakan.


"Egois tau gak?! Kenapa gak sekalian aja kamu bunuh aku? Bunuh aku dan jadiin aku mayat hidup atau boneka biar bisa kamu pajang dan miliki semau kamu!" cecar Zea mengeluarkan emosi yang ia pendam.


"Aku gak suka dengan kata katamu!" ujar Alvin sinis.


"Ha? Gak suka? Kalau gak suka, bebasin aku dari sini. Aku mau pulang Al. Aku mau kamu pergi menjauh dari hidup Aku! Ku mohon!" ucap Zea memelas pada Alvin, mengatup kedua telapak tangannya.


"Hahahaha..." Alvin tertawa kencang, Zea menatap pria didepannya ini bergidik ngeri. Tapi tak berlangsung lama tawa itu menghilang, Alvin kembali serius menatap Zea.


"Ujung ujungnya ini yang kamu mau. Kamu ingin pergi dari sini?" tanya Alvin memandang Zea serius. Zea mengangguk pelan, sedikit ragu menjawab.


"Kamu ingin aku pergi menjauh dari hidup kamu?" Zea mengangguk kembali, sedikit antusias.


"Kamu ingin bebas dari aku?"


"Ya!"

__ADS_1


"Jadi itu yang buat kamu tersenyum tadi?!" Zea yang ingin kembali menjawab Alvin tersentak kaget, matanya membola melihat Alvin.


"Kenapa? Kaget? Bener kan tebakan aku?" Alvin menampilkan senyum miring. Mencekal tangan Zea agar gadis itu tidak kemana mana.


"Denger ini baik baik Ze! Simpan kata kataku ini di otak cantikmu itu. Kamu gak akan pernah bisa lepas dari aku. Sampai kapanpun! Lebih baik kamu buang pikiran untuk pergi menjauh dari ku, karena itu gak bakal terwujud!"


"Dan satu hal lagi! Kalau kamu menyayangi kedua orang tuamu, mulai sekarang lebih baik kamu nurut sama aku" lanjut Alvin. Zea yang mencoba melepaskan cekalan tangan Alvin terhenti.


"Maksud kamu?"


"Kamu nurut sama aku, aku jamin kedua orang tua kamu akan aman!"


"Kamu mau nyelakain orang tuaku?" tanya Zea membelak tak percaya.


"Aku tak sepicik itu Ze, mungkin hanya merusak sedikit pekerjaan mereka" Alvin menampilkan senyum manis dibibirnya.


Zea tak bisa lagi membantah ucapan Alvin, gadis itu diam. Membuat Alvin tersenyum senang. Padahal Alvin tak ingin menggunakan kedua orang tua Zea sebagai ancaman, namun bagaimana lagi? Zea terlalu susah untuk menurut.


Apakah hal ini terjadi karena Zea yang kurang mengetahui tentang dirinya? pikir Alvin.


"Seperti kita perlu berkenalan dari awal lagi Ze! Agar kita saling mengenal lebih dalam!" ucap Alvin. Bibir Zea menganga seakan menertawakan apa yang Alvin lakukan.


Zea melayangkan aura permusuhan pada Alvin.


Alvin menyodorkan tangannya. "Kenalin! Aku Alvin. Alvin Exelino Immanuel. Ketua dari geng Aodra yang biasa dipanggil King, Aku juga tuan dari geng Alegiance yang bergerak didunia bawah. Aku juga pemilik sebuah perusahaan dan tak kalah penting, aku pewaris tunggal seluruh kekayaan keluarga Immanuel! Salah satunya sekolah yang kamu tempati itu!" ucap Alvin memperkenalkan diri. Zea sedikit tercengang akan perkenalkan Alvin.


"Gimana? Bukankah aku adalah pria yang diminati banyak orang akan kekuasaan dan hartaku yang melimpah?"


Zea tersenyum sinis, "Aku sama sekali gak tertarik dengan hartamu!" cecar Zea tak kunjung menjabat tangan Alvin, membuat Alvin menurunkan tangannya kembali.


"Aku tau dan karena itu aku menyukaimu" Alvin kembali melemparkan senyum manis pada Zea.


"Gak seharusnya gue kenal sama lo" Zea mendengus.


"It's too late babe! Sekarang kamu sudah digenggaman ku!" ujar Alvin tersenyum kearah Zea.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2