
Zea menceritakan segalanya pada kedua orangtuanya. Mulai dari pertama kali ia bertemu Alvin hingga akhirnya ia seperti sekarang ini.
Nyatanya apa yang semestinya terungkap akan terungkap juga pada akhirnya.
"Jadi dia anak seperti itu! Jika tau begini papa gak akan biarin kamu dekat dekat dia" tutur papa Hendra kesal
Arka yang sempat kalang kabut karena menenangkan kedua orangtuanya semakin was was. Ia harus berjaga jaga agar keduanya tidak terlalu gegabah menanggapi masalah Zea.
"Em Pa! Ma! Lebih baik kita keluar, biarin Zea istirahat!" ujar Arka kepada keduanya dengan pandangan berharap, kedua orangtuanya itu mengikutinya.
Kedua paruh baya itu mengangguk mengerti. Keduanya mengusap kepala Zea kembali memberikan kecupan kecil membiarkan putri kesayangannya itu beristirahat.
"Kamu istirahat ya nak! tenang aja ada papa mama!" ujar Mama Tia menenangkan. Zea mengangguk mengerti seraya mengangguk. Ia memejamkan mata hingga suara pintu di tutup terdengar ditelinganya.
...****************...
Arka membawa Kedua orang tuanya itu keruang keluarga untuk berbicara serius mengenai Zea.
"Pa! Ma! Arka harap kita tidak gegabah soal masalah ini!" ujar Arka mendahului.
Arka menatap kedua orang tuanya dengan pandangan tersirat.
Papa Mama Hendra bingung dengan perkataan Arka, "Maksud kamu?" tanya Papa Hendra.
"Jangan melapor ke polisi!" ujar Arka serius.
Mama Tia dan Papa Hendra saling bersitatap.
"Em Arka! Mama tau kalau ini bisa menyangkut masa depan Alvin, tapi mendengar cerita Zea itu sudah keterlaluan. Terus mendengar kalau Alvin punya kelompok seperti yang Zea bicarakan, sepertinya itu bakal sulit kalau hanya bicara secara kekeluargaan!" tutur Mama Tia menjabarkan.
"Arka ngerti ma! Namun, Bukan seperti itu.. Hanya saja.." ucapan Arka terjeda.
"Hanya saja apa Arka? Jangan menyembunyikan sesuatu dari kami!" ujar Papa Hendra gelisah.
Arka menghela nafas, ia mulai menceritakan pertemuannya kembali dengan Geo dan Kenan tadi. Ia juga menceritakan tentang segala yang ia tahu tentang Alvin dari Kenan sebelum ia pulang kerumah.
Hingga kedua orangtuanya itu terdiam tak percaya tentang apa yang Arka sedang katakan sekarang.
"Jadi mustahil kalau kita buat laporan?" tanya papa Hendra kembali setelah Arka menjelaskan.
"Iya! Dari apa yang Kenan bilang, orang tua Alvin itu punya banyak backing dan sulit buat kita laporin Alvin karena selain itu juga kita tak ada bukti" jawab Arka.
"Tapi soal penculikan Zea bukannya Zion yang dijadikan kambing hitam, kita.." ucapan Mama Tia terpotong.
"Nggak bisa Ma! Bakal sulit! Mama lupa selain penculikan setelah Zion di tangkap bocah itu juga terlibat beberapa kasus. Bukti lisan saja tidak cukup" ujar Arka menjelaskan.
Mama Tia mengernyit sambil memegang dahinya, "Kamu benar!" seru Mama Tia.
"Terus, kamu ada rencana apa Bang? Lagian mereka berdua yang ngajak bicara kamu, apakah bisa di percaya?" tanya Papa Hendra kembali.
"Arka juga belum yakin Pa! Mau seberapa tulus mereka tapi mengingat mereka juga teman Alvin, Arka masih belum bisa percaya 100 persen sama mereka" ujar Arka.
"Tapi, melihat sikap mereka. Tak ada salahnya juga, jika kita sedikit mengikuti kemauan mereka" lanjut Arka menjelaskan.
Papa Hendra mencerna setiap ucapan Arka, "Papa ngerti!" seru papa Hendra.
__ADS_1
"Terus demi kebaikan Zea! Pertama tama kita harus bawa Zea pergi dari sini Pa, Ma!" tutur Arka lagi.
"Papa setuju!"
"Zea harus pindah sekolah!" ujar mereka.
...----------------...
Skipp... (Nb: Karena alur yang terlalu berbelit, Mulai dari sini akan langsung menuju ke pelarian Zea, mohon maaf atas ketidak nyamanan nya)
...----------------...
2 Minggu kemudian...
Alvin keluar dari sebuah tempat yang gelap bernama Hole. Tempat yang bahkan untuk bernafas pun sangat berat karena harus selalu waspada akan orang orang di sekitarnya.
Layaknya penjara tempat itu hanya menyajikan pertarungan berdarah yang tiada henti, hingga dapat membuat siapa saja menjadi bengis dan tak pandang bulu.
Alvin yang sudah keluar masuk kedalam sebuah mobil yang dikhususkan untuk menjemputnya.
Ia menatap kearah depan tanpa berkedip sedikitpun. Pandangan pria itu berubah, seakan tak ada cahaya tersisa dan hanya menyisakan mata hitam tajam yang siap menghunus siapa saja.
"Anda ingin langsung pulang tuan muda?" tanya sang sopir pada Alvin.
Alvin tak menjawab, ia menoleh melihat bayangannya di jendela kaca mobil.
Rambut Alvin nampak berantakan dan penampilan pria itu nampak kacau tak beraturan.
"Kembali ke rumah!" ujar Alvin dengan suara berat yang nampak sesak untuk di ucapakan.
Sang sopir dengan segera mengendari mobil yang ia bawa menuju mansion kediaman Immanuel.
Tinn..
Sopir itu mengklakson ketika sampai di depan pagar besar kediaman Immanuel. Dengan otomatis pintu pagar terbuka dan nampak kediaman megah yang bisa membuat siapapun terpukau. Kecuali Alvin, pria itu nampak datar bahkan tak menunjukan ekspresi sedikitpun.
"Sudah sampai tuan muda!" ujar sopir memberitahukan.
Tanpa berkata kata Alvin turun dari mobil dan disambut oleh beberapa pelayan.
Dengan wajah datar sedingin es Alvin terus berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya bahkan mengabaikan Miranda.
Alvin naik kelantai atas dimana kamarnya berada. Ia menutup erat pintu kamarnya, langsung menuju kamar mandi.
Alvin melihat pantulan dirinya di cermin. Wajah kusam tak terawat dan rambut yang berantakan.
Ia menyalakan keran air dan membasahi seluruh wajahnya beserta rambutnya.
"Hah! Hah!" nafas Alvin nampak berat ketika berhembus.
Alvin berpegangan pada dinding kaca melihat kembali penampilannya di kaca. Ia menyentuh dadanya yang nampak sesak.
Dengan otak yang terus bekerja. Alvin terus mengawasi sekitar seakan siaga. Pandangannya tertuju sebuah gunting yang terletak di pojok wastafel.
Tangannya bergerak mengambil gunting itu.
__ADS_1
Krkk krkk
Rambut Alvin yang memanjang berjatuhan di wastafel. Tangan Alvin bergerak, memotong helai demi helai rambutnya hingga kini rambutnya memendek.
Alvin kembali menatap tajam dirinya yang seakan berubah.
"Aku datang!" seru Alvin bergumam.
Alvin berjalan menuju bathtub yang sudah terisi air dengan wewangian. Ia masuk kedalamnya menikmati sensasi hangat ditubuhnya kemudian Alvin mulai membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai dengan aktivitasnya Alvin keluar mengenakan bathrobe. Ia berjalan hingga langkahnya terhenti pada cermin wastafel. Ia melihat dirinya dengan penampilan baru.
'Kali ini aku tak akan segan' batin Alvin gelap.
Alvin menuju walk in closetnya dengan berbagai macam pakaian yang tertata rapi. Ia mengambil sebuah kemeja putih di padukan dengan celana hitam yang nampak elegan.
Alvin mulai merapikan dirinya sebaik mungkin hingga pria itu dirasa siap untuk pergi.
Dengan tangan yang menggenggam kunci mobil Alvin keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuruni tangga yang panjang hingga sampai di lantai bawah.
Tanpa menyapa siapapun dan tanpa memperdulikan sekitar. Alvin terus berjalan menuju garasi mengeluarkan salah satu mobil koleksi pribadinya.
Pria itu mulai mengendarai mobilnya ke rumah Zea berada. Hatinya yang menggelap dengan sadar mulai mengatur bagaimana ia harus memperlakukan wanita yang mempermainkannya itu.
Alvin keluar dari mobil. Ia menekan bel rumah Zea.
1 menit 2 menit
Tidak ada sahutan dari dalam bahkan langkah kaki pun tidak terdengar.
Alvin kembali menekan bel. Namun hasilnya tetap sama.
tringg
Ponsel Alvin berbunyi. Ia mengeluarkan handphonenya yang selama ini ia tinggalkan. Ia mengecek siapa yang menelpon.
Joe nama itu tercetak dilayar handphone Alvin.
Alvin mengangkat panggilan.
"Tuan!" seru Joe saat panggilan terhubung.
Alvin tak membalas.
"Maaf tuan, saya kehilangan jejak nona Zea!" ujar Joe dengan nada panik dibalik telpon.
"Aku tau!" jawab Alvin datar langsung mematikan panggilan.
Alvin menatap sekeliling rumah Zea lalu berjalan pergi menuju mobilnya.
Ia masuk kedalam mobil meninggalkan kediaman rumah Zea yang sekarang ini kosong tak ada orang.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1