My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
157. Berangkat


__ADS_3

Setelah Arka pergi hanya tersisa Zea, Alvin, Keyla, dan Icha. Zea menoleh melihat sekitar dimana teman teman abangnya itu ramai saling mengobrol satu sama lain.


Zea nampak tak berhenti tersenyum menikmati suasana di sekitarnya. Ia begitu antusias membayangkan bagaimana mereka akan mendaki nanti. Namun berbeda dengan Alvin yang nampak risi berada di tengah-tengah keramaian itu. Apalagi membayangkan ia akan memasuki wilayah pegunungan yang penuh dengan tumbuhan, membuat ia sedikit tidak nyaman. Jantungnya berdebar, bukan karena ia takut tapi ntah perasaan mengganjal apa yang ia rasakan kini.


Alvin menggelengkan kepalanya agar ia tersadar, ia menghembuskan nafas panjang kemudian bersidekap di sebelah Zea sambil memejamkan mata. Tapi suara percakapan yang saling bersautan membuat Alvin kesal. Alvin membuka mata menoleh kearah Zea.


Grepp!!


Alvin menggenggam tangan Zea membuat Zea menatapnya.


"Kesini!" ujar Alvin menarik Zea.


"Eh! Zea!" tukas Icha dan Keyla membelak melihat Alvin membawa Zea.


"Lah mau dibawa kemana sahabat gue!" tukas Icha cemberut.


Zea tertarik mengikuti langkah Alvin hingga pria itu membawanya ke pinggir, sedikit menjauh dari keramaian.


Mereka berdiri saling berhadapan.


"Tas!" seru Alvin mengadahkan tangan pada Zea.


Zea terdiam bingung tak segera merespon tindakan Alvin, "Eh eh eh!" kaget Zea, karena Alvin tiba tiba berdiri di belakangnya melepaskan tas gunung dipunggungnya.


Alvin membawa tas Zea di salah satu bagian bahunya. Berjalan kearah sebuah batu besar. Kemudian ia meletakan tasnya dan tas Zea di rerumputan kecil di dekat batu besar itu.


Alvin menatap kearah batu itu, ia membersihkan dedaunan yang ada di atasnya.


Alvin menoleh, menatap kearah Zea yang terdiam memandangnya.


Sragg sragg..


Alvin menyapu kedua tangannya, membersihkan kotoran yang menempel. Lalu ia mengusap tangannya di baju yang ia kenakan.


"Kemari!" tutur Alvin mengulurkan tangan pada Zea.


Zea menatap uluran tangan Alvin, kemudian tangan dan kakinya bergerak ke arah pria itu.


Zea tersenyum tipis menerima uluran tangan Alvin. Sedangkan Alvin menggenggam tangan Zea erat, membawa Zea ke sisinya.


Alvin duduk batu besar itu dengan Zea yang berdiri.


"Duduk" ujar Alvin memerintah.


Zea bingung menatap kearah Alvin.


Dimana ia harus duduk? Pikir Zea.


'Apa aku harus duduk di rumput?' batin Zea.


"Sini!"


puk puk..


Alvin menepuk pahanya sambil menatap kearah Zea.


"Ha?" Zea terbengong. Wajah Zea memerah. Tiba tiba ia mengingat kembali kejadian ia tertidur di pangkuan Alvin.


Zea menggeleng kepalanya kuat.


"Tidak tidak! Aku berdiri aja" tolak Zea membuang muka sambil tersenyum canggung.


Ia malu untuk menatap Alvin. Ingatan tentang apa yang terjadi di mobil masih melekat di benak Zea.


"Yakin gak mau?" tanya Alvin lagi menggoda.


Zea mengangguk kuat.


Melihat itu Alvin tersenyum miring.


Alvin bangkit dari duduknya, menatap kearah Zea.


"Eh!" seru Zea mundur satu langka, melepaskan genggaman tangan Alvin.


Alvin melepaskan jaket yang ia kenakan, meletakkannya di batu dimana ia duduk.

__ADS_1


"Sini! Duduk!" titah Alvin menarik Zea yang sedikit menjauh, memposisikan agar Zea duduk di atas batu besar itu.


"Ngg_" tolak Zea terjeda.


Alvin menatap Zea tegas tanpa bantahan.


"Oke!" ujarnya.


Zea duduk di batu itu mengikuti kemauan Alvin. Yah! bukan hal buruk juga di perhatikan seperti ini oleh kekasih sendiri. Zea tersenyum senang dalam batin.


Keduanya diam tak bersuara. Sedangkan Zea terus menoleh ke sekitar. Ia menikmati semilir angin yang berhembus ke wajahnya. Menikmati matahari yang sepertinya bisa menghilangkan sewaktu waktu.


Prittt....


Suara peluit mengagetkan Zea. Zea menoleh mencari sumber suara.


"Guys kumpul!" teriak Ivan memanggil.


Zea sontak berdiri, mengambil tasnya yang tergeletak di tanah.


"Ayo Al!" ajak Zea refleks memegang lengan Alvin.


Alvin mengangguk sembari tersenyum. Tanpa basi basi Alvin mengambil jaketnya, menyelampirkan dibahunya. Kemudian ia mengambil tasnya memakainya di punggung.


"Berat nggak? Sini aku bawain!" ujar Alvin mengarah pada tas Zea.


"Nggak usah! Nggak berat kok! Aku bisa bawa sendiri. Nggak seru kalau ke gunung gak bawa yang berat berat hehehe" tolak Zea sambil tersenyum, menghargai tawaran Alvin.


"Yuk Al!" ajak Zea lagi menggandeng tangan Alvin.


"Oke!" Alvin membalas gandengan tangan Zea, mengikuti Zea mendekat ke rombongan.


Zea menuntun Alvin mendekat kearah teman temannya yang sudah bergabung dengan Satya, Kenan, Geo, dan Julian.


"Udah semua? Gimana? Gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Arka mendekati mereka.


Zea menoleh kearah teman temannya. Kemudian ia menggeleng, "Nggak ada kok bang!" jawab Zea.


"Yaudah kalau gitu! Bentar lagi kita nanjak! Siap diri ya!" tutur Arka pada mereka.


Zea dan kawan kawan menunggu selama beberapa saat, kemudian Bram datang bersama Malik dari dalam basecamp.


"Bang mau tanya!" tutur Zea membuat Arka menoleh. Arka mengangkat satu alisnya.


"Itu yang duduk sama Abang di kedai tadi kan? Itu temen Abang? Terus ini kok jadi rame gini? Mereka ikut juga bang? Abang kok gak bilang kalau ada temen Abang yang lain juga? Ku kira cuma temen kampus Abang doang!" ujar Zea bertanya tanya sambil menatap abangnya itu.


Arka tertawa kecil mendengar pertanyaan yang Zea lontarkan, "Kalau tanya itu satu satu Ze hahaha!" ujar Arka.


Arka menatap kearah Malik, "Dia itu teman Abang dari lama, cuma sekarang beda kampus. Lalu soal mendaki sekarang ini kejadiannya gak terduga sih! Panjang kalau di ceritain! Intinya Bram yang nyuruh mereka gabung dan punya usut Abang kenal sama ketuanya. Dia Malik! Masa kamu nggak inget? dia pernah main ke rumah juga lo! Inget nggak?" tanya Arka menatap Zea, Zea menggeleng.


"Nggak inget" jawab Zeam.


"Cih yaudah kalau gak inget. Pokoknya karena tujuannya sama, jadilah rencana mendaki bisa bareng kayak gini. Lagian yang gak terduga itu kamu, Abang kira cuma bawa 3 atau 4 orang aja. Ternyata bawa sekampung!" omel Arka menoel dahi Zea.


"Hihihi itu gak sengaja Bang! Mereka nih tiba tiba ikutan!" balas Zea menampilkan senyum menunjukkan gigi rapinya, lalu mendelik ke arah anggota geng Aodra itu.


Arka mendengus, mengalungkan lengannya di leher Zea, membawa Zea kedalam dekapannya.


"Untung adek sendiri!" ujar Arka mengusap usap rambut Zea kasar.


"Ih Abang!" rengek Zea.


Sedangkan Alvin yang melihat interaksi kakak beradik itu seketika panas. Ingin melerai tapi sepertinya ia tak bisa terus menerus mendominasi Zea untuk dirinya sendiri. Setidaknya untuk yang satu ini ia harus tahan.


"Al!" tutur Julian muncul di samping Alvin dengan berbisik.


Alvin melirik kearah Julian, mengangkat alis.


"Itu, Gue tadi gak sengaja ngelihat Joe dan beberapa anak buahnya di sini. Kayaknya mereka mau bikin ulah deh Al!" lapor Julian di telinga Alvin.


Alvin menoleh kearah Julian dengan Geo, Satya, dan Kenan dibelakangnya. Alvin memiringkan kepala, menatap kearah Geo.


"Lo pergi Ge!" perintah Alvin pada Geo.


Satya, Kenan, dan Julian mengernyit.

__ADS_1


"Oke!" jawab Geo menerima perintah.


"Gue pergi bentar!" ujar Geo menepuk bahu Kenan dan Satya. Ia berjalan pergi.


"Mau kemana?" tanya Keyla menahan Geo.


"Toilet sebentar! Gue kebelet" jawab Geo.


Keyla mengangguk membiarkan kepergian Geo.


"Lah lah! Kok Geo sendiri? Biar gue temenin, takut ada apa apa!" ujar Julian hendak pergi.


"Gak usah" tahan Alvin mengulur tangan, "Biar dia sendiri" ujar Alvin mengalihkan kembali pusat perhatiannya pada Zea.


Julian hendak menjawab namun ditahan oleh Kenan. Kenan menggeleng, membuat Julian mundur.


"Tes! Oke guys kita briefing sebentar. Sebelum kita mulai pendakian, pastikan kalian paham betul rute pendakiannya. Untuk itu kita bagiin rute pendakian pada kalian semua. Nih oper!" ujar Bram menggunakan toa mini, membagikan lembaran kertas berisi peta pendakian dan beberapa larangan yang tertera pada mereka.


"Oke! Untuk jelasnya, kalian bisa baca sendiri aturan aturannya di kertas yang dibagikan. Lalu gue tekankan lagi, pastikan tidak meninggalkan sampah sekecil apapun di alam. Juga pastikan kalian selalu waspada akan hal hal kecil sekalipun. Jika ada apa apa, langsung bicara terang terangan pada orang terdekat atau bisa segera sampaikan ke gue. Terus! selama pendakian, pastikan tidak ada yang terpisah dari rombongan. Gue mau semuanya tetap aman, berangkat aman pulang pun aman. Paham guys?" tanya Bram berteriak diakhir.


"Paham!" jawab mereka serentak.


"Siap untuk mendaki?" teriak Bram lagi.


"Siap!!" teriak mereka berbarengan.


"Oke kalau gitu sekian! Sebelum kita mulai pendakian. Mari berdoa dahulu, berdoa menurut agama dan kepercayaan masing masing. Berdoa mulai!" tutur Bram. Mereka mulai menunduk kepala dan berdoa bersama.


"Selesai!"


"Mari pergi!" suara Ivan, teman Arka berteriak.


"Woaaaaa!!" teriakan menggema.


"Hati hati guys! Yang rapi" ujar Sitha, teman kampus Arka ikut mengkoordinir.


Tepat setelah berdoa. Rombongan yang layaknya karya pariwisata itu mulai teratur berjalan.


"Siap semua kan? Teman temanmu gak ada yang kurang kan Ze?" tanya Arka pada Zea, menoleh ke belakang.


Zea menoleh, melihat siapa saja yang hadir dari perwakilannya.


"Geo masih dibelakang! Bentar lagi dia kesini!" ujar Alvin memberitahu.


"Ohw Oke! Kita tunggu sebentar" balas Arka mengangguk.


Mereka menunggu sekejap dan tak begitu lama, Geo kembali.


"Hai! Maaf lama" ujar Geo sedikit berkeringat, menampilkan senyum tipis pada mereka.


"Oke gak papa! Karena udah lengkap semua. Yuk jalan" ajak Arka membimbing.


Alvin mengait tangan Zea, menggenggam Zea agar gadis itu tak lepas dari pengawasannya. Kemudian mereka berjalan mengikuti rombongan.


"Gimana Ge?" tanya Kenan penasaran akan hasil yang Geo dapat. Apakah geng Alegiance itu kesini untuk membuat ulah dengan mereka atau hanya sekedar berlibur ditempat yang sama secara kebetulan.


Alvin melirik.


"Gak gimana gimana. Katanya kesini cuma mau lihat sunset, aneh banget!" ujar Geo mengendik bahu menatap Alvin.


"Kalian lagi ngomongin apa sih?" tanya Icha penasaran.


"Bukan apa apa. Lo nggak usah ikut ikut" jawab Satya ketus bersikap cuek.


"Ishh apaan sih!" gerutu Icha cemberut, tak suka perilaku ketua Satya.


"Biarin aja untuk saat ini!" ujar Alvin memerintah.


"Oke" jawab mereka.


Mereka berjalan kedepan, mengikuti rute perjalanan panjang yang mengarahkan mereka ke arah gunung. Melihat banyaknya pepohonan yang berada di sekitar mereka.


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2