
Langkah kecil Alvin terus berlari, melawati pohon demi pohon, melangkah lurus kedepan hanya berfikir bahwa ia harus segera menjauhi dari rumah besar itu sebelum ia ketahuan.
"Hah hah hah!" hembusan nafas Alvin terus menderu dan semakin berat seiring dengan banyaknya langkah ia berlari.
Alvin mengabaikan rasa lelahnya dan terus melangkah maju.
'Aku harus cepat! Aku tak boleh berhenti! Aku harus segera pergi dari sini! Aku harus tetap berlari! Aku tak boleh tertangkap lagi! Kalau tertangkap lagi aku akan menderita lagi! Aku tak mau! Aku harus cepat pergi' batin Alvin berseru. Keinginan melarikan diri Alvin semakin kuat. Ia tak memperdulikan kaki kecilnya yang terluka oleh semak semak bahkan bebatuan kecil yang menusuk kulitnya. Alvin hanya berpikir bahwa sekarang ia harus berlari, ia harus kabur, ia harus melarikan diri, karena hanya ini satu satunya kesempatan ia bisa pergi dari sana.
Ia yang sudah tak mempercayai daddynya bahkan keluarga lagi beranggapan, jika kini ia tak dapat kabur. Maka ia akan mati.
Keringat mulai membanjiri tubuh Alvin yang terus berlari. Ia tak tahu sudah berapa lama ia melangkah, hingga tenaganya hampir habis terkuras.
"Uhukk uhukk! Huftt hah hah hah hah! aku lelah!" tutur Alvin memberhentikan langkahnya sejenak, menyandarkan tangannya ke sebuah pohon yang memiliki tanda seperti yang digambarkan oleh sang dokter pada peta mininya.
Kepala Alvin mulai pusing dan penglihatannya mulai kabur. Alvin yang sudah tak kuat untuk berlari memilih duduk sejenak.
Ia mengadahkan kepala, menatap kearah langit yang gelap. Kemudian ia membuka tangan yang menggenggam barang pemberian sang dokter, menatap barang yang sang dokter berikan sambil bertanya tanya harus ia apakan barang itu. Alvin menatap segulung perban, sebotol obat dan peta kecil pemberian dokter.
Pandangan Alvin terhenti menatap botol kecil yang berisikan obat yang dokter berikan.
"Ini obat apa ya?" bingung Alvin melihat botol kecil putih polos yang berisi obat tanpa nama terang bahkan kegunaannya.
"Hah! Dasar dokter payah! Memberi obat tapi tak di jelaskan kegunaannya" kesal Alvin meletakan obat pemberian sang dokter ke tanah.
Kemudian ia beralih ke perban yang dokter berikan. Ia menatapnya sembari berpikir, apa yang bisa ia lakukan dengan perban itu. Kemudian ia menatap kakinya yang lecet penuh luka gores.
Dengan cepat Alvin membalut kakinya yang penuh luka dan kotor akan tanah dengan perban yang ia miliki. Alvin tak memperdulikan kebersihan, yang ia pikirkan adalah bagaimana kakinya terlindungi dan ia bisa kembali berlari tanpa rasa sakit.
Alvin mulai membalut salah satu kakinya, kemudian ia menoleh kesekitar mencoba mencari sesuatu, hingga ia menemukan sepotong ranting kayu yang bisa ia gunakan untuk memotong perban yang ia pakai.
Alvin menggunakan segenap tenaganya untuk memotong perban dengan ranting hingga berhasil terputus, namun seperti yang diharapkan, hasilnya tidak rapi. Tapi Alvin tak peduli, ia mengikat kedua ujungnya dengan erat hingga membungkus kakinya. Setelah itu, Alvin melakukan hal yang sama pada kakinya yang lain dan dalam sekejap Alvin selesai membalut kedua kakinya.
Alvin kembali berdiri dan sedikit meloncat merasakan apakah ikatan pada perban dikakinya sudah erat.
Alvin berjalan kembali. Ia menoleh ke dua arah yang berada dalam peta dengan bingung.
Alvin merapatkan bibir sembari berpikir, bahwa haruskan ia egois sekarang? Tapi tiba tiba ia teringat kejadian ketika Joe membelanya dari penjaga yang ingin melukainya. Ia juga meyakinkan dirinya bahwa ia bisa keluar sekarang ini juga atas aksi nekat dari Joe.
"Aku harus menolongnya!" tegas Alvin memandang ke depan.
Alvin mulai kembali melangkahkan kakinya. Dengan kaki kecilnya itu, ia berlari bersama hembusan angin sambil waspada menoleh ke kanan dan kiri apa bila ada penjaga yang mendekat.
Hingga dari kejauhan, Alvin dapat melihat sorot lampu senter dari beberapa orang yang mulai mendekat. Alvin refleks menyembunyikan dirinya di balik pohon besar yang ada di dekatnya.
Deg deg... Deg deg...
__ADS_1
Jantung Alvin mulai terpacu cepat, rasa gelisah menghampirinya. Alvin memejamkan mata ketika beberapa langkah kaki mendekat.
'Bagaimana ini, bagaimana? Bagaimana jika aku ditangkap?'
Rasa percaya diri yang biasa Alvin tunjukan seakan meluapkan. Akal sehatnya sudah tak lagi berjalan. Hal hal yang ia pelajari ketika berada di kediaman Immanuel juga seakan lenyap dari dirinya. Alvin kacau karena kehilangan rasa percaya diri yang selama ini ia jadikan pacuan dari setiap rintangan yang ia hadapi.
"Huft! Sial, Dasar Freddy sialan! Beruntung sekali dia bisa menangkap tuh bocah! Pasti dia bakal cari muka lagi ke si bos!" Celetuk pria A, salah satu diantara mereka.
Kedua mata Alvin membelak mendengar hal itu, 'Joe tertangkap?!' batin Alvin berseru.
"Haish! Udahlah jangan ngomongin si bajingan psikopat itu! Lo nggak inget gimana nasib si codet gara gara dia?" tukas pria B membuat keduanya terdiam.
Mereka menghela nafas berat saat mengenang bagaimana salah satu diantara mereka mati dengan kondisi mengenaskan.
"Hah! Tapi emang iya ya si Freddy yang mukanya polos kayak bocah kemarin sore itu yang ngebunuh si codet? Bukannya gak ada bukti? Perasaan tuh orang gak bakal bisa menang kalau ngelawan gue" tutur pria A dengan pdnya.
Dug!!
"Udah lo nggak usah banyak berkhayal! Gue denger si Freddy itu pernah jadi salah satu anak buahnya Immanuel group, jelas kalau dari segi kemampuan dia itu lebih hebat timbang lo!"
"Lagian, emang gak ada bukti. Tapi gue denger denger dia sendiri udah ngaku ke bos kalau ia yang bunuh si codet karena si codet ngehianati si bos. Bisa di lihatkan, selicik apa bajingan itu" ujar pria C.
"Bener banget! Gue juga pernah dengar kalau ada orang yang ngelaporin dia ke bos karena Freddy membuat kesalahan waktu itu, tapi yang ada besoknya tuh orang yang ngelapor langsung sekarat dan harus dirawat selama beberapa bulan. Gue denger denger juga nih ya, kekuasan freddy di markas itu nggak kecil loh! karena mata mata Freddy di markas itu ada di mana mana, nggak kalah sama bos walau posisi dia cuma sebagai penjaga penjara bawah tanah. Tapi informasi yang dia punya, bikin semua orang di markas nurut sama dia" ujar pria B berbisik.
Alvin mendengarkan dengan seksama percakapan mereka dengan tak sabaran. Dengan tubuh yang masih tegang takut jika ketahuan, Alvin berusaha menghindar agar tak terlihat oleh pandangan mata ketiganya.
Suara patahan ranting terinjak oleh kaki kecil Alvin. Kedua mata Alvin membelak dan Alvin membekap mulutnya agar tak bersuara.
"Woi kalian ada denger sesuatu nggak?" tanya pria B. Pria A dan C yang semula masih berdebat tentang Freddy mengernyit dan menggeleng.
"Tunggu sebentar biar gue periksa, kayaknya dari arah sana deh" tunjuknya kearah pepohonan arah Alvin bersembunyi.
Suara langkah kaki pria itu mendekat, membuat jantung Alvin kembali berdetak cepat.
'Apa aku langsung kabur aja ya?' batin Alvin gelisah. Ia tak dapat lagi berpikir jernih karena rasa trauma yang ia dapatkan terus muncul dimana ia dihajar habis habisan dan harus menderita sakit selama beberapa Minggu.
tringg tringg..
Suara panggilan dari pria A membuat keduanya menoleh.
"Woii ada panggilan nih!" tutur pria A membuat langkah kaki pria C yang hampir sampai di dekatnya itu terhenti.
Alvin bernafas lega.
Pria A mengangkat telpon dan mulai berbicara dengan orang di sebrang telpon yang tak bisa Alvin dengar.
__ADS_1
"Oke kami akan kembali! Siap!" tutur pria A yang mengangkat telpon.
"Ada apa?" tanya pria B.
"Joe menggigit Freddy dan kabur! Kita di suruh balik buat cari tuh bocah" jawab pria A.
'Joe berhasil kabur? Nice Joe' batin Alvin gembira.
"Hah! Dasar Freddy tak becus! Kalau sudah ditangkap, ya di ikatlah! Bisa bisanya ngebiarin anak kecil seperti itu kabur" cetus pria A kesal.
"Lalu kita gimana? Apa kita kembali lagi buat cari tuh bocah?" tanya Pria C mendekat.
"Ogah! Mending kita cabut aja! Biar itu jadi kerjaan si Freddy, biar dia tanggung jawab sendiri karena buat tuh bocah kabur. Lagian dia sama yang lain pasti juga balik buat cari tuh bocah! Dari pada kita capek cari tuh bocah mending kita balik ke markas aja, toh kita juga gak dapat imbalan apa apa kalau nemuin tuh bocah. Pasti si Freddy yang di puji karena bisa nangkep tuh bocah balik!" tutur pria A dengan kesal.
"Haha tumben ucapan lo bener! Gue setuju! Mending kita balik aja, yang lain pasti juga ikut bantu cari tuh bocah. Kita nggak perlu ikut campur bantu mereka, mending kita senang senang aja di markas!" balas Pria B menampilkan senyuman diwajahnya.
"Lo gimana?" tanya pria A pada pria C.
"Em gue juga setuju!" jawab pria C.
"Yaudah ayo!" ajak pria A.
"Tunggu dulu! Gue masih penasaran sama suara yang gue dengar tadi! Gue mau ngecek dulu!" ujar pria C berjalan menjauh.
"Cih! Buruan!" tutur pria A.
Pria C kembali berjalan kearah pepohonan yang sempat ia curigai dengan langkah cepat.
Kosong. Pria itu menoleh ke kanan kini, melihat sekitar, mengecek apakah ada hal yang mencurigakan.
Tapi sekelilingnya sepi kecuali kedua rekannya yang ada di belakangnya.
"Woii buruan! Ada apa sih? Paling lo cuma salah denger aja!" ujar pria A tak sabaran.
Pria C berjalan mendekat kembali kearah rekannya.
"Nggak ada apa apa, kosong! Mungkin gue emang salah denger aja!" jawabnya.
"Yaudah! Yuk balik ke markas, kita ngopi sambil main catur disana"
"Ayo! Nggak sabaran gue! Kita taruhan ya!" tutur pria A penuh semangat.
Mereka pergi dari sana masuk lebih dalam ke area pepohonan, menuju rumah besar yang menjadi markas mereka singgah.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ