My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
208. mendapat ijin


__ADS_3

"Gimana pa? ma? Boleh kan?" tanya Zea memastikan ia mendapat ijin.


Kedua orangtuanya itu saling bertatapan dengan wajah ragu untuk membiarkan Zea pergi ketempat jauh.


"Bukannya gak boleh Ze, tapi papa sama Mama khawatir aja. Kamu pergi liburan 5 hari jauh sekali, apa gak bisa yang dekat dekat aja" ujar Mama Tia menjelaskan.


Zea menatap keduanya, "Karena tempatnya jauh Ma, Pa. Jadi makin bagus, bukannya hal ini bisa dimaksud siap siaga. Lagian Zea sama sahabat sahabat Zea kan juga pernah liburan gini ma. Boleh ya Ma, Pa?" bujuk Zea memelas.


"Apa mama tega ngelihat Zea ngehabisin masa liburan disini sini aja." sambung Zea memelas.


Kedua orangtuanya saling bersipandang lagi, mencari kesempatan.


"Tapi Zea! Disini sini kan juga bagus. Gak perlukan jauh jauh liburan keluar pulau" bujuk Mama Tia.


Zea sedikit sedih, "Emang bagus sih Ma. Tapi Zea tak ada kesan hal baru disini ma, pa. Bukannya papa pernah bilang, kalau ingin punya wawasan baru itu harus pergi ketempat tempat jauh, bersosialisasi dengan orang orang baru. Nah bukannya ini sama aja satu tujuan itu Pa, Ma?!" ujar Zea lagi melontarkan kata kata yang sulit untuk kedua orangtuanya bantah.


Kedua orangtuanya saling bersitatap, mendiskusikan lewat sorotan mata hingga mama Tia mengangguk. Zea tersenyum senang.


"Okelah oke! Kamu boleh pergi!" putus Papa Hendra final, mengijinkan Zea pergi.


"Yeiyy beneran Pa, Ma? Makasih!!" ujar Zea senang memeluk keduanya.


"Tapi ingat Zea! Harus rajin rajin ngabarin Papa, Mama. Jangan bikin papa mama cemas dan khawatir" tutur Mama Tia mempertegas.


Zea mengangguk lalu mengambil sikap hormat, "Oke siap! Laksanakan!" ujar Zea kemudian, Zea tersenyum senang hingga menunjukkan gigi putihnya.


"Oh ya ngomong-ngomong kapan kamu berangkat?" tanya Mama Tia seketika membuat Zea tegang.


Zea bangkit lalu menautkan tangan melihat keduanya dengan canggung, "He-he-he, besok pagi!" jawab Zea membuat keduanya membelak.


"Ha?" seru keduanya.


"Jangan marah dulu! Zea emang udah rencana mau pergi besok setelah dapat ijin kalian. Zea juga udah kemas kemas, semua tidak ada masalah. Papa Mama tenang okey!" seru Zea menahan keduanya.


Kedua orangtua Zea menatap putrinya itu tak habis pikir. Bisa bisanya minta ijin malam malam begini dan besoknya langsung pergi. Mungkin jika malam ini gadis itu tidak dapat ijin dari mereka, ia bakalan langsung pergi tanpa pamit.


"Papa, Mama gak habis pikir! Udah sana kamu tidur, besok pasti perjalanannya panjang" ujar Papa Hendra memerintah.


Zea menurut, mendekat kearah kedua orang tuanya. Mencium pipi keduanya.


"Makasih Ma, makasih Pa. Zea sayang kalian!" ujar Zea dengan senang lalu gadis itu pergi kembali ke kamar.


Zea masuk kedalam kamar. Ia langsung mengambil handphonenya dan menghubungi para sahabatnya.


**Zeara**


Guys, gue udah berhasil dapat ijin


send, Zea mengirim pesan ke grup.


Tak lama kemudian pesan itu dibalas.


Keyla


Wah beneran? Gila gak sabar banget gue


Kalau gitu gue mau cek cek dulu, siapa tau ada barang gue yang ketinggalan


**Ayu**


Kamu udah dapat ijin Ra?

__ADS_1


Kalau gitu aku mau minta ijin ke bapak sama ibuk sekarang


Zeara


aku udah dapat ijin Yu


Kamu mau aku bantuin bicara ke pakde Tejo sama budhe lastri?


Ayu


Gak perlu Ra, bapak ibuk pasti ijinin kalau ada kamu


Yaudah aku pergi sekarang


Zea menatap kearah layar handphonenya. Rencana liburan mereka ini memang sudah lama direncanakan namun baru sekarang mereka meminta ijin.


Zea memandang handphonenya menunggu kedatangan Ayu, apakah gadis itu bisa mendapat ijin seperti dirinya.


Sembari menunggu, Zea mengecek pesan lain.


Alvin


Udah tidur?


Hanya satu pesan yang pria itu kirimkan padanya. Zea melihat itu tanpa niat membalas.


Tringg tringg


Tiba tiba ponselnya berdirinya dan layar berubah menjadi panggilan video.


Zea langsung mengecek sekitar. Ia mendekat ke pintu dan mengunci pintu kamar.


"Hai!!" sapa pria di panggilan telponnya saat Zea mengangkat panggilan.


"Gimana? Udah mikirin saran aku untuk liburan bersama?" tanya Alvin membuat Zea gugup.


"Em, maaf. Aku sudah ada rencana lain untuk liburan kali ini. Maaf!!" ujar Zea memelas dengan rasa bersalah.


Alvin seketika diam, wajahnya nampak pias akan penolakan Zea.


"Maaf!!" seru Zea lagi menyesal.


"Oke gak masalah" ujar Alvin datar.


Zea mengulas senyum pada pria itu. Zea perlahan duduk dikasur mengarahkan kamera agar tak terlihat koper dan tas yang tergeletak disamping meja belajarnya.


"Sedang apa?" tanya Alvin pada Zea.


"Nggak ada! Hanya sedang duduk santai dikamar aja" jawab Zea.


"Kamu?" Zea bertanya balik.


Layar handphone Alvin berputar. Pria itu menampakkan bulan yang bersinar terang dengan pemandangan dibawah rumahnya. Dimana tanaman disana nampak bercahaya akan sorotan lampu.


"Gimana? Cantik kan?" ujar Alvin mencairkan suasana.


"Wah, cantik!!" Zea tersenyum sumringah akan pemandangan yang ada dilayar handphonenya.


Zea menikmati pemandangan yang Alvin tunjukkan.


"Aku sedang duduk santai disini. Gimana kamu suka?" tanya Alvin.

__ADS_1


"Suka!" jawab Zea tanpa pikir panjang.


"Tapi aku tidak suka. Karena tidak ada kamu disini!" ujar Alvin dengan nada bicara sedih.


Zea tak bisa berucap.


"Ze! Apakah kamu bisa pertimbangin datang kesini. Aku tau kamu ada rencana liburan lain, tapi kamu bisa kan, kasih aku waktu satu atau dua hari untuk bersamaku" ujar Alvin membujuk.


tok tok tok tok


Pintu kamar diketuk membuat Zea terpanjat kaget.


"Ada yang ketuk! Sebentar" ujar Zea tak membalas perkataan Alvin sebelumnya.


"Siapa?" Zea bangkit bergerak kearah pintu, ia bertanya memastikan siapa yang mengetuk pintu.


"Zea ini aku Ayu! Aku udah dapat ijin dari bapak ibuk. Apa kamu bisa tolong bantuin aku buat kemas kemas?" ujar Ayu dari balik pintu.


Zea terdiam sejenak, lalu memandang ke layar handphonenya.


"Tunggu sebentar ya Yu!" ujar Zea membalas.


Zea sedikit gugup takut rencana liburannya diketahui oleh Alvin.


"Kamu mau pergi?" tanya Alvin dengan nada suaranya menjadi dingin.


"Iya" jawab Zea.


"Oh oke" balas Alvin.


"Kalau gitu aku akhiri dulu ya panggilannya! Ayu perlu aku buat bantuin dia" ujar Zea meminta ijin untuk mematikan panggilan.


"HM" Alvin hanya bergumam tak mengiyakan juga tak menolak.


"Soal perkataan kamu tadi, mungkin aku bisa pertimbangkan. Kalau gitu, bye bye! sampai nanti" pamit Zea melambaikan tangan pada Alvin.


"Ah, sampai nanti" jawab Alvin terpaku.


Zea langsung mematikan panggilan sambil bernafas panjangnya.


Ia meletakkan handphonenya dikasur, lalu berjalan membuka pintu kamar dimana Ayu sedang menunggunya.


"Ayo!" seru Zea pada gadis itu.


Ayu tersenyum senang. Ia nampak riang. Ayu menggandeng lengan Zea, lalu keduanya keluar dari rumah setelah berpamitan kepada orang tua Zea.


Zea dan Ayu berjalan kearah rumah Ayu. Zea melihat pakde Tejo dan Budhe Lastri yang berada didepan rumah.


"Malam pakde, budhe" sapa Zea dengan hangat.


"Malam Zea" balas keduanya.


Lalu Zea dan Ayu melewati orang tua Ayu. Mereka masuk kedalam rumah ke kamar Ayu. Zea melihat koper yang ia berikan pada Ayu tergeletak dilantai dengan beberapa pakaian didalamnya yang sepertinya sudah Ayu pilih untuk bawa.


"Aku udah kemasin beberapa, tapi takut ada yang kurang jadi aku mau minta tolong sama kamu buat ngecek" ujar Ayu.


Zea tersenyum kearah wanita itu.


"Kalau gitu, aku lihat dulu listnya!!" Zea membantu Ayu mengecek barang bawaan Ayu dengan seksama.


Ia membantu gadis itu memilihkan apa yang perlu dibawa dan apa yang perlu ditinggal hingga koper Ayu rapi dan penuh didalamnya.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2