My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
62. Dimana adek gue?


__ADS_3

Setelah adegan dimana ia menangis dipelukan Alvin karena teringat akan masa lalu. Pria itu mengajak Zea ke bawah.


Zea menyuapkan sesuap demi sesuap nasi goreng ke dalam mulut. Suara dentingan sendok beradu dengan piring itu terus berbunyi hingga semua itu terhenti karena makanan yang berada di piring telah hilang masuk kedalam perutnya.


Zea menegak minuman disampingnya hingga tandas tak tersisa.


"Udah selesai? Kalau gitu ayo balik ke kamar" ajak Alvin pada Zea saat gadis itu meletakkan gelas dimeja.


Zea termenung mendengarnya.


"Gue mau lihat sekeliling Al! Boleh ya?" pinta Zea pada Alvin.


"Nggak! Itu pasti cuma akal bulus kamu buat nyari celah untuk kabur dari sini kan?!" tolak Alvin menatapnya datar. Zea menelan ludahnya kasar, ketika Alvin mengetahui apa yang ia pikirkan.


"Ayo balik sekarang!" Alvin menarik tangan Zea membuat gadis itu mengikuti langkahnya naik ke lantai atas.


Alvin membuka pintu yang ditempatinya dengan kasar kemudian ia mendudukan Zea diranjang, memegang bahu gadis itu menyuruh Zea menatapnya.


"Dengar baik baik Ze! Kamu gak boleh keluar dari sini tanpa seijin aku. Kalau kamu butuh sesuatu bilang ke Joe. Joe yang bakal memenuhi kebutuhan kamu" ucap Alvin menekan ucapannya diawal.


"Apakah keluar kamar juga dilarang?" tanya Zea menatap Alvin sendu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ya, aku melarang. Selama gak ada aku, kamu hanya boleh berada dikamar ini saja, titik" jawab Alvin.


"Egois" sergah Zea, menatap Alvin menyala.


"Terserah! Aku gak peduli kamu mau bilang aku egois atau apa, yang penting kamu nurut sama aku"


"Gimana kalau gue semakin memberontak disini? Apa yang bakal lo lakuin?" tanya Zea, matanya yang semula berkaca kaca kini menajam menatap kedua mata Alvin dengan berani seakan menantang pria itu.


Alvin tersenyum mendengar itu.


"Coba aja! Tapi inget, semakin kamu memberontak semakin lama kamu ada disini. Juga, ganti cara bicaramu, aku gak suka kamu pakek lo-gue diantara kita" ucap Alvin memberi peringatan Zea.


Zea membuang muka lantaran kesal karena dirinya tak bisa berbuat banyak.


"Jangan banyak protes, kamu istirahat aja. Aku mau balik pulang dulu! Ada hal yang harus aku urus" pamit Alvin. Zea diam tak menjawab.


Alvin memejamkan matanya, berusaha bersabar akan sikap Zea yang acuh padanya.


"Joe bakal kesini nanti. Dia orangku paling setia. Jangan ngelakuin hal yang bisa buat aku marah, kamu mengerti kan?" Alvin menangkup wajah Zea, membuat kedua mata mereka bertemu.


Kedua mata Alvin melihat mata Zea sendu.

__ADS_1


"Aku ngelakuin semua ini, karena aku cinta sama kamu. Asal kamu tahu, rasanya mau mati tau gak? saat kamu bilang putus ke aku. Jangan pernah lakuin hal itu lagi, okay? karena aku bisa menggila jika itu terjadi lagi!" Zea diam saja tak menjawab, seakan ucapan Alvin hanya angin lalu baginya.


"Aku pergi, I love you!" ujar Alvin mengecup kening kepala Zea. Setelah kecupan itu terlepas, tatapan Alvin berpindah kearah bibirnya, kemudian beralih menyambar bibir gadis yang menjadi candunya itu menciumnya dalam dan melepaskannya sebelum ia kelepasan. Dan sebelum meninggalkan gadis itu untuk sementara waktu


Setelah ciuman terlepas. Zea hanya menatap kepergian Alvin dengan pintu yang tertutup itu pasrah, semoga dirinya memiliki peluang untuk bisa kabur dari sana.


...****************...


Alvin mengendarai mobil ke apartemen. Disana ia membersihkan diri dan mengganti pakaiannya menjadi seragam sekolah plus kaca mata bulatnya. Sempurna sudah penampilan nerd Alvin.


Drtt Drtt


Ponsel Alvin bergetar, ia melihat nama yang tertera diponselnya.


"Halo bang! Ada apa? Tumben telpon!" ucap Alvin menerima panggilan.


"Halo Al, Lo tau Zea kemana?" tanya bang Arka to the point dengan nada khawatir bercampur panik.


"Zea? Bukannya dirumah? Emang ada apa bang? Kok lo panik gitu!"


"Zea gak ada dirumah!" seru Bang Arka.


"Maksudnya?" tanya Alvin pura pura tak mengerti.


"Ha? Lo bercanda kan bang? Gue kerumah sekarang!" ujar Alvin dengan nada panik langsung mematikan panggilan.


Pria itu menyimpan handphonenya disaku dengan senyum mengembang dibibirnya.


Alvin yang sudah sampai didepan rumah Zea, masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.


"Bang Arka!" panggil Alvin mendekat kearah pria itu.


Pria itu berdiri tepat di samping pintu yang terbuka lebar.


Bang Arka menoleh kearah Alvin, mendekat kearahnya. Dapat dilihat bang Arka pucat pasih bercampur panik.


Saat jarak keduanya makin mendekat, bang Arka mencengkeram kerah baju Alvin erat.


"Dimana adik gue?" tanya Bang Arka dengan nada tinggi dan tatapan tajam kepadanya.


Seketika Alvin membisu, 'Apakah dirinya ketahuan? Atau ada seseorang yang mengetahui dirinya membawa Zea? atau mungkin Joe meninggalkan jejak mengenainya?" batin Alvin bertanya tanya. Namun semua itu ia tepis mengingat Joe adalah orang yang selalu waspada, tak mungkin Joe melakukan kesalahan kecil dalam tugas seperti ini.


"Lo tenangin diri lo dulu bang, gue tau lo panik!" ucap Alvin menahan tangan bang Arka yang berada di kerahnya.

__ADS_1


Saat menyadari orang yang ia cengkram adalah Alvin, bang Arka segera melepaskannya.


"Sorry!" pinta bang Arka memijat kepalanya yang berdenyut.


Bang Arka seakan kehilangan akalnya karena kini Zea hilang untuk kedua kalinya. Dia tadi sempat mengira bahwa Alvin adalah Zion, maka dari itu ia bersikap agresif.


"Bang Arka!" panggil Keyla dan Icha dari kejauhan.


"Zea kemana bang? Kok bisa dia hilang lagi itu gimana ceritanya?" tanya Keyla dengan panik menuding pertanyaan kepada bang Arka.


Akhirnya bang Arka menceritakan kronologi sebelum Zea menghilang, dimana gadis itu pamit keluar sebentar. sebelum gadis itu pulang juga sempat mengangkat panggilan dari Mama Tia dan menyuruh mama Tia untuk tidur duluan. Namun saat dicek pagi harinya, mereka sangat syok ketika mendapati Zea belum pulang dari semalam. Akhirnya membuat Mama Tia pingsan karena merasa bersalah tak mencegah Zea pergi.


"Astaga! Padahal gue udah ngingetin Zea buat gak keluar malam bang!" seru Icha setelah cerita diakhiri.


"Emang ada apa? Apa yang lo tau Cha?" tanya Bang Arka mengorek Informasi dari gadis itu.


Icha sedikit ragu untuk menceritakan menoleh kearah Keyla, diangguki oleh gadis itu.


"Buruan Cha, kasih tau gue apa yang lo tau?!" tuding Bang Arka.


"Jadi kemarin malam itu acara tahunan antar geng bang! Gue udah peringatin Zea untuk gak keluar rumah! Tapi takutnya–" jelas Icha, tak melanjutkan ucapannya. Gadis itu menatap penuh penyesalan membuat bang Arka mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


"Sial! Anjing!Brengsek!Bangsat!" umpat bang Arka dengan penuh sumpah serapah.


Bang Arka dengan nafas memburu mengalihkan pandangannya melihat Alvin yang termenung. Bang Arka pikir Alvin syok berat saat itu.


"Al!" panggil Bang Arka membuat Keyla dan Icha ikut menoleh kearah Alvin.


Alvin mendongakkan wajahnya menatap bang Arka yang memanggilnya. Wajah Alvin seolah pucat pasih dan air mata Alvin meluruh menetes jatuh dari sana.


"Al!"


"Ah gue gak papa. Sorry! Gue harusnya jagain Zea, gue harusnya selalu ada buat Zea! Sial ukh!" ucap Alvin mulai tak kuasa menahan tangis menutup kedua matanya dengan tangan agar tak terlihat oleh ketiganya.


"Lo gak perlu nyalahin diri lo Al, ini–" ucapan bang Arka terputus.


"Gak bang ini salah gue, gue bakal cari Zea sekarang!" ucap Alvin mengusap air matanya, pergi meninggalkan mereka menaiki motor maticnya tak memperdulikan panggilan yang memanggilnya itu.


Alvin melajukan kendaraannya dengan senyum mengembang disana.


"Mulai rencana selanjutnya!" gumam Alvin dengan smirk diwajahnya.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2