My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
48. Cemburu


__ADS_3

"Hai Ze!" Sapa Alvin baru sampai didepan rumah Zea.


Zea memasang helm dikepalanya. "Tadi malam kenapa gak balas chatku?" tanya Alvin membuat Zea menoleh.


"Ohw itu, aku ketiduran hehehe" jawab Zea dengan cengiran.


"Kemaren capek banget Al, sampe rumah mandi terus tidur. Jadinya gak bisa balas chat kamu deh!" tambah Zea. Alvin mengangguk menerima alasan yang Zea lontarkan.


Kemudian Zea menaiki motor matic Alvin berpegangan pada pinggang Alvin yang berbalut jaket.


"Kok gak dipeluk!" serunya memperhatikan tangan Zea dipinggangnya.


Zea sedikit ragu apakah dia bisa menahan diri. Namun hal itu tetap dia lakukan agar Alvin tak curiga. Zea menghela nafas panjang memeluk pinggang Alvin seperti biasanya.


"Kamu kenapa?" tanya Alvin mengawasi Zea dari balik spion.


"Gak apa kok, cuma capek aja! Yaudah yuk berangkat!"


Alvin merasa Zea sedikit aneh, tapi pikiran itu ditepis ketika Zea memeluknya erat dengan wajahnya ia tempelkan dipunggung seperti biasa. Kemudian ia melajukan motornya kesekolah.


"Zea!" sapa Keyla dan Icha. Mereka berpelukan dan Alvin sudah terbiasa melihat ketiga gadis itu.


"Ke kantin yuk!" ajak Zea. Icha dan Keyla bibir mereka terangkat membentuk senyuman.


"Kuy!" jawab keduanya.


Mereka pergi kekantin meninggalkan Alvin sendirian. Mereka duduk lalu memesan roti bakar untuk bertiga dan 3 buah minuman.


Zea menyeruput minumannya dengan sedotan sambil merenung, sesekali menyantap roti bakar didepannya.


"Kira kira cara biar Alvin ilfil sama gue gimana ya!" ungkap Zea pelan tanpa sadar.


Sahabat Zea menatapnya heran, "Ha! Ada apa? Ada apa?!" tanya keduanya.


"Nggak!"


Zea menggeleng, sebenarnya ide yang terlintas dipikirannya hanya merubah kepribadian tapi merubah kepribadian yang sudah melekat itu susah sekali.


Zea menghela nafas berat untuk kedua kalinya bertepatan dengan Alvin yang duduk disebelahnya. Dirinya tak sadar Alvin menghampirinya.


"Kamu kenapa? Dari tadi kayak banyak pikiran gitu!" Alvin menyibak rambut Zea yang menguntai kebelakang telinga. Zea tersentak lalu menoleh, sesaat kemudian ia menggeleng sambil tersenyum simpul.


"Gak papa" jawabnya.


Alvin mengernyitkan dahinya, "Yaudah, tapi nanti bilang ke aku kalau kamu ada masalah dan butuh sesuatu" Zea mengangguk dan tersenyum kecut.


'Kalau masalahnya ada di lo gimana? masak gue harus bilang 'Alvin gue keganggu sama kehadirannya lo, gara gara gue tau identitas aslinya lo' kan gak mungkin!" batin Zea berseru.


kring..


"Eh udah bel tuh, balik yuk!" ajak Zea.


Mereka kembali kedalam kelas. Bertepatan dengan Bu killer masuk.


"Ayo anak anak kumpulan pr kalian!" seru Bu Killa membuat Zea dan kedua temannya bertanya tanya.


Mereka baru saja mengikuti pelajaran namun sudah ditagih pr. Ya mana ketiganya ingat.


Zea berbalik kearah Alvin, "Al, Lo udah?" tanya Zea dijawab anggukan oleh sang empu. Rajin banget sih big bos satu ini.


Zea mengangkat tangan, "Bu saya tidak tahu kalau ada pr" ujar Zea meminta pertimbangan pada Bu Killa. Namun Bu Killa tetap Bu Killer seperti namanya.


"Saya tak ada toleransi, yang tidak mengerjakan silahkan keluar!" ujar Bu Killa tegas membuat Zea dan kedua temannya pergi meninggalkan kelas begitu saja.


Lumayan tidak ikut pelajaran yang menguras otak, batin mereka.


Mereka duduk di tepian lapangan basket yang menampakan pemandangan anggota geng Aodra sedang pelajaran olahraga dan mereka kini sedang bermain basket. Zea menyadari ada orang yang duduk disebelahnya menoleh.


"Loh! Kok kamu disini?" sentak Zea kaget akan kehadiran Alvin.

__ADS_1


"Ikutin kamu!" jawabnya. Zea mengantupkan bibir, ia diam tak membalas. Menyuruh kembali ke kelas pun pasti tak mau.


Zea mengalihkan pandangannya kelapangan, ia diam sejenak dan berpikir. Dirinya mengingat ingat dan sempat membaca sekilas artikel mengenai sifat wanita yang tidak disukai oleh pria.


Disana ia menemukan bahwa pria tidak suka dengan wanita yang manja dan tukang pengekang. Tapi definisi wanita pengekang itu sepertinya sulit ia lakukan, karena Zea bukan tipe seperti itu. Mungkin ia akan lebih condong ke wanita manja dan sesekali menjadi wanita pengekang. Semoga saja aksinya kini dapat mengurangi rasa ketertarikan Alvin padanya.


Zea tersenyum lantas mendekat kearah Alvin. Aksinya dimulai..


"Alvin" panggil Zea.


"Kenapa? Butuh sesuatu?" tanyanya.


"Haus!" jawab Zea. Alvin mengangguk dan mengambil handphonenya mengirim pesan kepada seseorang. Keduanya menunggu sampai seseorang yang dia hubungi datang secepat kilat.


"Pesenan lo!" ujarnya memberikan kantong plastik berisikan minuman plus beberapa camilan. Kemudian pria pengantar makanan itu langsung pria. Ah! Zea lupa akan hal yang satu ini.


Baru juga beberapa menit, gagal sudah rencananya.


Alvin membukakan botol air mineral pada Zea, kemudian memberikannya untuk Zea minum.


"Ehm dunia terasa milik berdua!" deheman Keyla dari samping.


"Tauk tuh! Kita mah apa? Cuma numpang!" lanjut Icha. Keduanya tertawa.


Zea tersenyum kecut mendengar candaan kedua temannya.


"Eh btw, si a'a Kenan keren juga ya waktu main basket. Gue jadi oleng balik nih sama A a Kenan" ujar Icha memperhatikan Kenan yang berada di lapangan.


Ctakk


Zea dan Keyla menyentil telinga Icha berbarengan.


"Aduh sakit oyy!" pekik Icha mengusap telinganya yang memerah.


"Masih mending kita sentil, belum kita gampar. Bener gak Ze!" ucap Keyla meminta persetujuan Zea.


"Hooh, kebiasaan"


Mode ganteng maksimal geng Aodra: Mereka memakai jersey basket, main basket sampai keringatan. Satya dan Julian sengaja berpura pura keren dengan mencetak angka ke ring. Kenan menyibak rambut yang basah akan keringat membuat wajah putih berseri terpampang jelas dan membuat siswi yang melihatnya memekik. Sedangkan Geo karena wajahnya yang basah oleh keringat, ia menggunakan Jersey yang ia pakai untuk mengusap wajahnya, memperlihatkan otot perut Geo yang menggoda.


"KYAAA!" pekik kedua sahabat Zea. Membuat ia menoleh dengan membelak tak percaya. Apalagi Keyla tadi mengomeli Icha sekarang ikut ikutan kegilaan Icha.


"Astaga punya temen kagak bener semua gini nih!" seloroh Zea pada kedua temannya yang bertautan tangan memperhatikan lapangan.


Dirinya kembali terfokus oleh pemandangan didepannya memperhatikan kembali para anggota geng Aodra yang masih bermain basket. Sampai sebuah tangan menghalangi pandangannya.


Zea menoleh kesamping, "Lihat aku aja!" katanya datar namun rahangnya mengeras dan tatapan matanya tajam. Alvin cembukur.


"Cemburu?" tanya Zea sambil menurunkan tangan Alvin yang menghalanginya dengan senyuman.


Alvin merengkuh tubuh Zea dari samping, mendaratkan dagunya dibahu Zea.


"Lihat aku aja Ze!" ujar Alvin memelas. Zea mencoba melepaskan pelukan Alvin karena mereka kini masih ada disekolah asal kalian tahu. Jadi mohon kondisikan.


"Gak mau kamu jelek, udah lepasin! Kita lagi disekolah!" ucap Zea berusaha melepaskan pelukan Alvin.


"Ck" decak Alvin melepaskan Zea.


'Gak tau aja kamu! Aku seganteng apa' batin Alvin memekik kesal.


Ia menoleh mendapati wajah cemburut Alvin. Ia tertawa kecil, lucu saja batinnya. Seorang ketua geng yang disegani cemberut seperti itu.


"Bercanda Al! Gitu aja pakek ngambek segala!" ujar Zea mentoel toel pipi Alvin. Alvin membuang wajahnya kesisi lain, masih tak membalas Zea.


Tak kehabisan ide Zea mengambil hp Alvin yang diletakan pria itu begitu saja disamping. Ia menyalakan kamera dihandphone Alvin.


Jadilah vloger Zeara Mauria Mahendra beraksi.


"Hai guys, lihat nih. Jadi temenaku lagi ngambek. Lihat tuh jelek banget kan!" tunjuk Zea pada Alvin. Semoga saja Alvin makin muak akan dirinya.

__ADS_1


"Temen? Pacar Ze!" ralat Alvin makin kesal


"Ah iya Pacar! Kamu cowok siapa sih kok marah marah gini!" seru Zea masih memvidio Alvin dengan kamera depan yang juga memperlihatkan wajahnya.


Alvin yang dividio hatinya ingin tertawa akan kelakuan Zea namun ia tahan. Dia berpura pura tak menjawab, semoga saja Zea merayunya agar tak marah. Namun kenyataannya berkatawa lain.


"Pacar gue ngambekan guys! Kita lihat siswa main basket aja yuk!" ajak Zea berbicara sendiri kearah kamera. Alvin menatap Zea yang ingin meninggalkannya.


Saat Zea berdiri, ia ditarik kembali oleh Alvin.


"Eh eh!" sentak Zea kaget dirinya ditarik kepelukan pria itu.


"Sini aja!" ujar Alvin membuat Zea kembali kesisi samping pria itu. Zea mematikan rekaman vidio yang ia ambil.


"Kok dimatiin?" tanya Alvin melihat Zea mengembalikan hpnya ketempat semula.


"Gak papa, gak seru!" jawabnya.


"Aku mau ke Icha sama Keyla!" pinta Zea menunjuk keduanya. Kini kedua temannya itu sudah ada disamping lapangan langsung menyoraki Kenan dilapangan. Sedikit berjarak dengan Zea.


"Nggak kamu disini aja, nemenin aku!" Alvin memeluk erat Zea disampingnya tak membiarkan gadis itu pergi.


"Ayolah Al!" pinta Zea memelas.


"Diem" ujar Alvin datar, tegas, dan tajam. Kalau biasanya Zea akan melawan namun kini dia diam saja. Zea mengerucut bibirnya menompang tangannya didagu melihat kelapangan.


Alvin mengacak acak rambut Zea karena gemas, mendekap gadis itu kepelukannya. Kemudian ia meraih handphonenya, jika luang seperti ini ia akan melihat kondisi perusahaan dan mengecek apa yang Joe lakukan.


"Kamu ngapain sih?" tanya Zea mendongak melihat Alvin yang sibuk dengan handphonenya. Merasa dicuekin.


'Kalau asik main handphone sendiri mending biarin gue sama Icha Keyla kek!' gerutu Zea dalam hati namun tak berani ia ucap.


"Bentar" jawabnya. Tapi pandangannya masih fokus kelayar handphone dengan jarinya bergerak dilayar itu. Beberapa menit berlalu.


"Mending biarin aku sama mereka kalok kamu cuekin aku kayak gini" keluh Zea tak bisa menahan lagi. Dirinya hanya bisa berdiam diri dipinggiran melihat kedua sahabatnya berseru ria melihat pertandingan basket dua kelas dijadikan satu itu.


Alvin menoleh dan melihat kekasihnya yang mukanya tertekuk kemudian ia menyimpan handphonenya kembali.


"Sekarang gantian kamu yang ngambek nih ceritanya?!" goda Alvin mencubit pipi Zea gemas.


"Aww!" pekik Zea mengelus pipinya.


"Pulang sekolah jalan mau?" tanya Alvin pada Zea.


Zea menimang, sedikit ragu untuk menerima tawaran Alvin. Namun dia tak memiliki alasan untuk menolak. Pun dia tak ada janji dengan kedua sahabatnya, kalaupun bilang dadakan dengan kondisi Alvin yang mengawasi, bisa bisa bikin ia curiga.


Zea tak menjawab, "Mau kemana emang?" tanya Zea balik, ingin memastikan Alvin akan membawanya kemana.


"Makan!" jawab Alvin. Zea mengangguk.


'Cuma makan doang!" serunya dalam hati tak bisa menolak jika itu pasal makanan.


"Mau" jawab Zea cepat menerima ajakan Alvin. Alvin tersenyum Zea menyetujui ajakannya.


"Sumpah A a Kenan sama Geo keren banget!" ujar Icha kembali ketempat Zea berada. Zea bangun menghampiri keduanya, kini Alvin tak menahannya.


"Gimana?" tanya Zea memastikan.


"Keren lah Ze! Muantep!" Keyla mengacungkan jempol. Sepertinya mereka puas setelah cuci mata.


"Balik kelas yuk, kayaknya pelajaran Bu killer dah selesai deh!" ajak Zea membuat keduanya mengangguk.


Mereka berempat kembali kekelas bertepatan dengan Bu Killa keluar kelas.


"Kalian berempat nanti jangan ada yang istirahat, kumpulkan prnya ke saya sebelum bel istirahat selesai. Dan jangan harap kalian bisa lolos sebelum semua jawaban kalian benar!" ujar Bu Killa meninggalkan mereka.


"Lah! Tuh guru apaaan dah? Tadi cuma nyuruh keluar kelas doang, aneh banget tuh orang. Sirik sama lo kali tuh Ze!" sewot Keyla dan Icha masuk ke kelas. Zea tak menanggapi. Mereka masuk kedalam kelas mengikuti pelajaran selanjutnya.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2