
Joe dan para anak buahnya berjalan menanjak kearah puncak gunung.
"Bos! Itu barusan, King Aodra kan?" tanya salah satu anak buah Joe bernama Gary.
Joe menoleh ke belakang, mengangguk singkat.
"Wah! Apa bos tau dia bakal disini dan mengatur penyerangan disini?" tanyanya lagi.
tuk!!
kepala Gery di ketuk dari belakang membuat Gary membelak dan mengusap belakang kepalanya.
"Lo ini bicara apa sih! Yakali kita ngelawan di tempat ginian. Kalau ngomongo suka ngaco lo Ger!" balas salah satu anak buah Joe.
"Tauk! Padahal Tuan Joe udah bilang kalau kita disini cuma mau refreshing!" lanjut lainnya.
Gery berwajah masam, menekuk kepalanya dengan cemberut.
"Ya kan siapa tau aja, Bos punya siasat diam diam buat ngalahin King disini" tutur Gery masih membalas.
Mereka hanya bisa menggeleng memaklumi sifat Gery yang sembrono.
"Sudah diam! Jalan aja! Lo nggak capek apa ngoceh terus sepanjang jalan!" tutur pria berambut Bob. Bibir Gery terkatup, mengikuti langkah Joe yang berjalan di depan.
"Oh ya, Btw, itu tadi King sama perempuan kan? Pacar? King punya pacar? Gue kok nggak tau ya!" ujar anak buah Joe membelak mengingat mereka terlalu fokus pada Alvin hingga mengalihkan perhatian pada Zea.
"Bener juga! Wah! pantes di tutup gitu! Mungkin takut kita apa apain tuh perempuan. Hahahaha akhirnya king punya kelemahan juga" ujar Gery mencelos.
"Stt, Berisik! Gue ingetin kalian semua! Jangan coba coba ganggu perempuan King! Kau bisa mati kalau mencoba menargetkan gadis itu!" tutur Joe tajam tanpa bantajan menatap kearah anak buahnya itu menohok.
"Ah iya!" jawab mereka menunduk, melirik satu sama lain.
"Lo sih!" bisik salah satu dari mereka menyenggol bahu Gery.
"Ayo, percepatan perjalanan! Kita harus sampai ke puncak sebelum matahari turun" ujar Joe memerintah.
"Siap!" jawab mereka tegas.
Joe dan anak buahnya terus bergerak hingga menuju puncak. Rasa lelah mereka abaikan demi mengikuti langkah Joe. Entah apa yang Joe inginkan hingga mereka berakhir menaiki gunung seperti ini. Tanpa sebab tanpa aba aba Joe memerintah mereka untuk menyiapkan persiapan pendakian dan disinilah mereka berakhir.
Puncak gunung dengan awan yang mengelilingi, di temani semilir angin yang kuat. Melihat bagaimana matahari masih di atas dan hanya menunggu waktu, ia akan turun dengan sendirinya.
"Hah! Akhirnya!" seru anak buah Joe bersorak senang.
Mereka terduduk di tanah bersama beberapa orang lain menikmati indahnya sekitar wilayah pegunungan dari atas.
Joe terdiam melihat pemandangan sekitar.
"Kenapa Tuan Joe?" tanya sala satu anak buah Joe memperhatikan Joe yang terdiam.
"Bukan masalah!" jawab Joe singkat.
'Jadi seperti ini rasanya melihat pemandangan dari atas!' batin Joe mencelos.
Joe memejamkan mata merasakan angin yang menembus kulit wajahnya.
"Hah!" Joe menghembuskan nafas panjang kemudian ia menoleh ke segala arah hingga ia bersitatap dengan Geo.
Joe terdiam sejenak, bertatap dengan Geo selama beberapa saat.
"Kalian istirahat saja dulu! Gue mau berkeliling" ujar Joe pada anak buahnya tanpa mengalihkan perhatian pada Geo.
__ADS_1
"Oh! Oke Tuan Joe!" balas mereka mengacungkan jari.
Joe bergerak sembari bersipandang dengan Geo. Geo dari kejauhan menatap kearah Joe sambil tersenyum smirk.
Puk!!
"Ken, Jul! Gue kesana dulu ya!" seru Geo menepuk bahu Kenan dan Julian sambil menggerakkan kepalanya kearah Joe yang berada disana.
"Perlu gue temenin?" tanya Kenan.
"Gak usah! Bukan hal serius. Gue cuma sebentar!" ujar Geo sambil tersenyum meyakinkan.
"Hati hati" tutur Kenan.
Puk pukk..
Geo menepuk bahu Kenan lagi, meninggalkan Kenan dan Julian disana bergerak menghampiri Joe.
Geo datang, ia duduk di samping Joe yang sedang menikmati pemandangan di pinggiran tanpa takut bahwa bisa saja ia terjatuh ke bawah.
"Kenapa lo naik sampai sini? Bukannya lo disini karena mau dekat dengan Alvin? Alvin dibawah kalau lo kehilangan dia!" tutur Geo menatap Joe.
Joe tak menjawab masih melihat kearah depan.
Pandangan Geo teralih melihat apa yang Joe lihat. Keduanya melihat hamparan hijau dan beberapa rumah penduduk dari jauh.
"Hanya ingin" jawab Joe berwajah datar.
Geo mengernyit menatap Joe, "Maksud Lo?" tanyanya bingung.
Joe menoleh menatap Geo yang kebingungan. Ia berbalik beralih ke tasnya, mengeluarkan 2 kaleng minuman dari dalam.
Geo semakin bingung namun masih menerima kaleng minuman yang diberikan Joe.
Ctekk..
Kedua kaleng minuman itu dibuka. Geo menoleh pada Joe. Ia mengendikan bahu.
"Mau bersulang?" tanya Geo mengangkat kaleng minuman dari Joe.
"Hm" jawab Joe mengangguk singkat.
Tukk..
Keduanya bersulang mengangkat tinggi kaleng yang mereka bawa, menegak isi minuman di dalam kaleng itu masing masing.
"Arghh.." seru Keduanya menikmati segarnya soda beralkohol yang mereka minum.
Keduanya tak saling berbicara. Geo dan Joe menatap kearah depan sambil menikmati minuman ditangan masing masing.
"Heran! Lo dengan gampang menerima apa yang gue kasih! Lo nggak takut minuman yang gue kasih ke lo itu gue racuni?" tanya Joe kembali menegak minuman beralkoholnya.
Geo tersenyum smirk menoleh pada Joe, "Nggak! Lo nggak seberani itu untuk ngebunuh gue yang adalah tangan kanan Alvin, tuan lo! Bener bukan? Selama gue setia dan menjadi orang kepercayaan Alvin, lo nggak bakal ngelakuin hal hal berbahaya ke gue" jawab Geo dengan percaya diri.
"Gak sopan, lo manggil tuan hanya dengan nama saja! Nggak tau diri ck!" ujar Joe sinis mengeram marah.
Geo melirik, "Apa salahnya? Walau dia bos gue, tapi di juga teman gue! Dasar psikopat!!" seru Geo menatap Joe tak kalah sinis.
Joe membuang muka mendengar hal itu.
"Dih, orang aneh!" lanjut Geo ikut membuang muka.
__ADS_1
Keduanya kembali diam.
"Hah dasar! Oke gue salah! Harusnya gue sopan ke Alvin" seru Geo mencoba mencairkan suasana.
"Tuan Alvin!" tekan Joe membenarkan.
"Ah tau lah! Udah kebiasaan! Serah gue! Kalau Alvin nyuruh gue panggil tuan, baru gue panggil dia tuan, titik" omel Geo kesal.
Geo menegak minumannya frustasi. Padahal ia hanya mencoba mengakrabkan diri dengan Joe, tapi sudah sesusah ini.
Sedangkan Joe disampingnya tanpa sadar tersenyum tipis mendengar nada marah dari Geo.
Keduanya kembali diam.
Joe mengingat kembali ketika bertemu dengan Alvin dan Zea tadi.
"Tuan minta gue buat jaga nona Zea!" ujar Joe tiba tiba.
Geo menoleh, menyesap minumannya. "Gue tau" jawab Geo.
"Tuan juga nyuruh gue buat mengawasi nona Zea!" ujar Joe.
"Gue juga tau!" jawab Geo.
"Terus tuan juga pernah membawa nona Zea ke markas!" adu Joe.
"Markas Alegiance?" tanya Geo penasaran.
"Iya!" jawab Joe menggangguk.
Geo terdiam.
"Terus?" tanya Geo melanjutkan.
"Tuan pernah melihatkan dirinya yang kehilangan akal di hadapan nona Zea!" Geo membelak.
"Serius? Kapan?" tanya Geo tegas.
"Waktu acara tahunan di markas, tuan di cegat oleh beberapa orang dan nona Zea melihatnya. Itu juga pertama kalinya tuan datang dan membuat kami senang. Lalu setelah selesai acara tuan membawa nona ke markas rahasia Alegiance yang ada di tengah hutan" jawab Joe menjelaskan.
"Lo nggak tau soal ini?" tanya Joe pada Geo.
"Gue hanya tau secara singkat! Kalau di pikir pikir lagi itu siasat yang menarik. Orang tua Zea datang dan mengira Alvin pahlawan namun ternyata ia penjahat yang sebenarnya hahahaha" ujar Geo dengan tawa.
"Begitu ya! Tuan Alvin tak memberitahukan segalanya padamu!" ujar Joe senang.
"Sialan!" umpat Geo melihat wajah Joe yang tak enak dipandang. Joe sangat senang tapi berusaha menutupi emosinya. Memuakkan.
"Setelah lo tau ini semua. Lo nggak berniat buat nyelamatin nona itu dari tuan kan?" tanya Joe curiga dan penuh istimidasi.
Geo terdiam dan meneguk habis minumannya. Lalu ia bangkit dengan berpegangan pada bahu Joe.
Puk puk..
Geo menepuk bahu Joe, "Mungkin iya, mungkin tidak" ujar Geo menjawab. Dari sikap Geo yang terkadang lembut, Joe selalu merasa bahwa Geo selalu menghalangi apa yang Alvin ingin perbuat.
Geo selalu bisa membatasi tindakan yang Alvin lakukan jika itu tak baik dan Joe tak suka dengan itu semua.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1