
Zea terus mengikuti orang yang mengejar Alvin dari jarak aman, bahkan ia mematikan lampu depan mobilnya agar tak ketahuan. Sampai ia melihat kumpulan motor itu berhenti disana. Zea memundurkan mobilnya beberapa meter agar tak terlihat.
Zea tetap berpikir logis, dia menahan keinginannya untuk menerobos langsung kearah mereka. Jika ia bertindak gegabah, yang ada bukan menyelamatkan Alvin, ia malah menimbulkan korban jiwa lain. Selain itu banyaknya alasan yang terkumpul diotaknya yang membuat ide bar bar itu harus kembali ia urungkan.
Zea mematikan mesin mobilnya, kemudian ia turun dari mobil dengan berbekal handphone yang ia bawa. Sejujurnya Ia tak memiliki apapun yang bisa ia jadikan senjata dimobil, yang ada hanya makanan ringan yang baru ia beli tadi. Dirinya mengendap endap mendekat kearah mereka, lalu bersembunyi dibalik pohon.
"Lo udah terkepung, tamat riwayat lo sekarang King!" ucap salah satu dari mereka. Sekumpulan orang itu menyeringai dan mengarahkan senjata pada laki laki yang sudah turun dari motor dan melepaskan helmnya itu. Memperlihatkan wajah tampan dengan aura yang pekat.
Didalam hati sekumpulan orang itu bersorak senang. Rencana yang mereka susun kini berhasil. Alvin jatuh kedalam jebakan mereka. Dan kini Alvin terjebak di dua sisi. Tak ada tempat untuknya kabur lagi. Alvin sudah tak dapat bergerak, dirinya terkepung.
Disisi lain, bibir Alvin mengantup, wajahnya datar tak berekspresi, ia sudah menebak bahwa hal ini akan terjadi. Tiba tiba wajah datar dan mata tajam itu menelisik kearah semua orang disana.
Alvin menundukan wajahnya menutupi wajahnya dengan tangan "Hahahaha" tawa menawan Alvin menggema membuat semua orang yang ada disana waspada.
Alvin mengangkat wajahnya, memamerkan senyum mempesonanya dihadapan sekumpulan lawannya. Mereka mengepal dan menggertak gigi, geram dengan wajah Alvin karena tak ada ekspresi takut sama sekali diwajahnya.
"Beraninya lo ngeremehin kita" tekan salah satu dari mereka, dengan rahang mengeras.
"Go head strike me down'" tantang Alvin sambil memunculkan seringai mengejek.
"Habisi pria itu, serang!" teriak salah satu dari mereka memancing emosi yang lain. Mereka menyerbu kearah Alvin.
Zea yang ada dibalik pohon membekap mulutnya melihat hal itu. Dengan rasa takut yang ia tekan, Zea memutar otak, berpikir apa yang harus ia lakukan.
Ting..
__ADS_1
Sebuah ide muncul dibenaknya. Ia mengambil handphonenya disaku, menghidupkannya mencari audio sirene polisi dengan tergesa gesa. Dirinya tak memiliki hal yang dapat menyelamatkan Alvin dengan sempurna. Setidaknya dia mencoba.
Dengan bekal ide yang ia lihat di drama saat dimana adegan sang wanita menakuti orang yang menghadang sang pria dengan cara yang sama. Membuat ide itu terlintas dibenaknya. Namun percayalah, dibalik hal itu Zea juga memikirkan konsekuensi. Jika berhasil, mereka akan pergi dan Alvin akan selamat. jika gagal, Zea akan lari membuat beberapa orang mengejar dirinya, saat dimasa pengejaran ia akan menelpon polisi. Dengan begini ia rasa dapat mengurangi beban Alvin dan mengulur waktu untuk pria itu.
Zea mengangguk angguk kepala saat dirasa idenya cukup bagus. Saat ia ingin membunyikan sirine, Zea menatap kearah mereka. Memastikan situasi.
Detik itu juga tubuh Zea bergetar hebat, Matanya membola, dia tak dapat menahan keterkejutan didepan matanya kini. Handphone yang ada ditangannya terjatuh karena kini kedua tangannya membekap mulutnya agar tak berteriak.
Mata Zea terus memperhatikan Alvin yang kini menyerang mereka dengan beruntal. Ingin rasanya Zea menutup mata melihat Alvin yang kini sedang kesetanan. Pria itu menghajar sekumpulan orang itu tanpa ampun. Senjata yang mereka bawa berbalik kembali menyerang mereka ditangan Alvin. Tubuh mereka yang terkena senjata itu membuat kucuran darah keluar. Dimata mereka sudah tersirat tanda pengampunan, ingin rasanya mundur dan menyerah, tapi Alvin tak membiarkan hal itu terjadi.
'Iblis!" pekik Zea dalam batinnya. Ia masih tak mempercayai adegan yang kini sedang ia lihat. Bruntal dan tak berbelas kasih, itulah yang bisa ia pikirkan ketika melihat Alvin sekarang.
Dirinya menyaksikan wajah Alvin yang bertarung dengan raut muka datar, namun sesekali pria itu tersenyum membuat tubuh Zea bergidik ngeri. Adegan didepannya ini tak sekeren film action yang pernah ia lihat bersama bang Arka, maupun semempesona sang pemeran utama didrama saat memukuli orang orang jahat.
'Bego! Bego! Bego! Bisa bisanya gue punya pikiran nolongin iblis kayak dia!' seru Zea memukul mukul kepalanya, merutuki kebodohannya. Zea meletakan tangannya dipohon menompang tubuhnya yang lemas agar tidak jatuh.
Zea masih mengawasi pertarungan Alvin yang kini hanya tersisa sedikit. Alvin membuang senjata yang ia pegang, mereka yang masih tersisa menatap Alvin dengan wajah penuh dengan ketakutan. Mereka mengambil posisi agar diri mereka siap saat Alvin menyerang.
Mata Alvin masih berkabut dengan kesenangan, menikmati sensasi yang sudah jarang ia rasakan. Ia menerjang kearah mereka yang tersisa. Ia membuat 5 orang yang tersisa tumbang hanya dalam sekejap mata. Tangannya penuh dengan darah dari para musuhnya itu.
Zea melihat Alvin yang sudah selesai dengan semua lawannya. Dimatanya kini Alvin terlihat sedang merenggangkan tubuhnya. Alvin menyeka beberapa tetes keringat didahinya dengan lengannya.
Sampai pandangan Zea jatuh pada dua orang yang bangkit membelakangi Alvin. Kedua orang itu dengan pelan mengambil senjata ditangan mereka.
Mata Zea membola.
__ADS_1
"HYAAA!" kedua orang itu menyerang Alvin bersamaan.
"ALVIN!" pekik Zea.
Alvin yang mendengar hal itu menoleh menghabisi kedua orang yang menyerangnya itu dalam sekejap. Zea yang refleks memekik bersembunyi di balik pohon. Ia membungkam mulutnya.
Jantungnya berdesir, dirinya tak ingin lama lama berada disana. Zea melangkah kakinya, berlari cepat untuk segera pergi dari tempat itu sebelum Alvin menyadari keberadaannya. Walaupun suara Zea yang memekik itu sudah jelas adanya.
Jantung Zea berdegup kencang, 'Lari! Lari! Gue gak boleh terkejar! Gue gak boleh ketangkap oleh iblis itu! Gue harus lari!' batin Zea ketakutan.
Langkah kaki Zea terus melangkah, dirinya terus mengumpat kenapa dia memarkirkan mobilnya terlalu jauh. Senyum Zea mengambang ketika melihat keberadaan mobilnya. Namun senyum itu juga dalam sekejap hilang ketika melihat seorang pria yang berada tak jauh dari mobilnya.
'Itu siapa?!" batin Zea bertanya tanya, 'Gak mungkin itu Alvin, Alvin masih ada dibelakang gue' celetuk Zea dalam hati. Karena minimnya pengelihatan, netra Zea yang juga buram karena tertutup keringat tak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas.
Zea tak memperdulikan sosok didepannya, Melewatinya begitu saja. Saat Zea melewati pria itu, tangan pria itu menahannya. Zea menerobos karena dirinya tak memiliki banyak waktu, namun pria itu menahan tangannya, membuat Zea meronta melepaskan dirinya dari pria itu. Zea menggunakan segala kekuatan dan keahlian yang tersisa untuk lepas dari pria itu.
Tak tahukah bahwa dirinya kini tengah melarikan diri dari kejaran sang iblis. Sosok pria yang tak Zea kenal mulai kewalahan menahannya. Membuat pria itu tak ada pilihan lagi memukul tengkuk Zea.
Tubuh Zea seketika limbung, mata sedikit demi sedikit terpejam. Ia bisa melihat mobilnya. 'Padahal tinggal sedikit lagi!" batin Zea berseru.
Langkah kaki mendekat kearah keduanya, "Tuan!" sapa pria itu dengan hormat. Bertepatan dengan menutupnya mata Zea, menandakan gadis itu pingsan.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1