
Joe menoleh kearah Geo, menepis tangan Geo dibahunya.
"Sebaiknya lo nggak ada niat sedikitpun buat hal itu karena gue gak bakal segan walau lo itu juga termasuk orang tuan. Lo inget ini, kalau perempuan itu buat tuan gue bahagia, gue bakal jaga dia dengan baik. Bakal gue pastiin gadis itu tetap disisi tuan! Jangan harap lo bisa ngelakuin hal hal di luar batas. Terus sekali lagi jaga tuh kawan lo! Bagus kalau selama ini dia diam aja!" ujar Joe berbicara serius, menatap Geo tajam.
Geo tercengang dengan perkataan panjang yang di ucapakan Joe. Jarang sekali Joe berkata panjang seperti ini. Ia menggelengkan kepalanya takjub.
"Hah! Sungguh! Gila! Inilah kenapa Alvin cuma nganggap lo orang kepercayaannya bukan temannya. Karena lo itu cuma melakukan apa yang Alvin perintahkan tanpa mengenal dampak yang Alvin terima dari keputusan yang ia buat" sarkas Geo.
Keduanya saling bersitatap dengan tajam.
"Ah serah lo deh! Cukup sampai disini! Lo nggak bakal dengerin omongan gue juga. Padahal gue mau temenan baik sama lo karena pasti ada kalanya lo sama gue harus bersatu. Tapi memang kita berdua gak cocok, mau bagaimana lagi!" lanjut Geo.
Joe membuang muka, "Gue nggak butuh! Lagian gue anggep lo itu saingan gue. Gue ingin lo menghilang agar gue jadi satu satunya orang kepercayaan tuan!" tekan Joe.
"Dasar gila"
Krepp...
Geo meremas kaleng minuman yang ia pegang. Kemudian ia melemparkannya ke dada Joe.
"Jaga kebersihan!" ujar Geo keras, lantas berbalik meninggalkan Joe.
Joe mengepalkan tangan menatap kepergian Geo.
"Bisa bisanya Alvin nganggep orang kayak dia orang kepercayaan ck! Dapat dari mana sih dia!" gumam Geo kesal.
"Oh ya ngomong ngomong dia tadi bilang buat jaga kawan gue! Lagi? Kawan gue disini cuma ada Kenan sama Julian" Geo merenung. Ia menatap kearah keduanya dari jauh sedang asik mengabadikan gambar.
"Hal ini harus segera gue selidiki!" ujar Geo mendekat pada keduanya.
...****************...
Beberapa waktu berlalu dan matahari dan bulan mulai berganti. Mereka yang ada disana menikmati pergantian itu dan merasa takjub.
Terutama Joe. Dia pria dingin yang tak mementing dirinya sendiri kini merasa apa yang ia lihat sangat menakjubkan. Ingatannya berputar kembali.
"Bebas emang lebih baik!" ujar Joe mengulas senyum di bibirnya. Joe yang hampir tak pernah tersenyum kini menunjukan senyum menawannya bercampur ngeri pada para bawahannya itu.
"Woii udah malem! Angin kencang! Buruan turun gunung!" sorak beberapa orang dari belakang menasehati.
Joe menoleh ke belakang, melihat bagaimana beberapa orang itu mulai berkemas dan hendak turun.
"Bos ayo turun!" ujar Gery pada Joe.
Joe memandang kearah atas dimana hari sudah gelap dan udara dingin benar benar menusuk kulit mereka.
Joe dan rombongannya bangkit.
"Ayo!" mereka berjalan menuruni gunung.
Di sepanjang jalan Joe tak dapat mengalihkan pandangannya pada hal lain. Ia terus menatap beberapa rumah penduduk yang mulai terang dari bawah sana.
Saat ia melihatnya dengan jelas, itu seperti negeri diatas awan bagi Joe.
'Aku sudah melihat semuanya ma! Langit biru pertama kali kulihat dengan tuan Alvin dan kini negeri diatas awan kulihat sendiri dengan kedua mataku walau tuan tak disini' batin Joe sambil berjalan turun.
__ADS_1
Joe tersenyum tipis mengalihkan pandangannya kedepan. Kedua matanya menangkap Alvin yang juga sedang melihatnya.
'Apa tuan melihatku?' batin Joe.
Keduanya saling bertatapan lama, hingga Zea datang memanggil Alvin. Pandangan keduanya terputus berganti Joe yang menatap keduanya.
"Apa kita lanjut turun tuan Joe?" tanya anak buah Joe.
"Kita menetap disini!" jawab Joe memerintah.
"Siap!" balas mereka dengan sigap langsung menyusun tenda.
Joe berjalan mendekat, ia bersandar di pohon menatap kearah depan dimana di ujung sana adalah tempat yang tepat menikmati pemandangan malam.
Kedua mata Joe terus menatap depan memperhatikan bagaimana kedua orang di depannya itu berinteraksi.
"Butuh yang lain?" tanya Alvin pada Zea.
Zea menggeleng, "Nggak! cukup!" ujar Zea mengulum senyum.
"Huftt!!" Zea meniup secangkir coklat panas yang di sediakan Alvin untuknya.
Alvin diam tak bergerak dan tak mengalihkan perhatiannya pada Zea barang sedetik pun. Tak memperdulikan betapa ramainya sekitar mereka.
Rambut Zea yang terurai jatuh menghalangi pandangan wajah Zea dari Alvin. Tangan Alvin bergerak, menyikap rambut Zea kebelakang membuat keduanya saling tatap dalam diam.
Ckrekk..
Sebuah kamera foto di abadikan membuat keduanya menoleh.
"Hehehe UPS maaf ganggu!" ujar Icha menutup mulutnya ketahuan.
Zea berjalan mengejar Icha.
Alvin diam di tempat memperhatikan Zea dari jauh kemudian tanpa sengaja ia menyadari keberadaan Joe.
Keduanya kembali bersitatap.
"Kemari!" seru Alvin menggerakkan kepalanya, menyuruh Joe mendekat.
Tanpa ragu, Joe mendekat pada Alvin. Ia berdiri tepat di belakang Alvin.
"Duduklah!" ujar Alvin pada Joe. Joe mengikuti apa yang Alvin mau, duduk di samping Alvin sembari memberi jarak pada pria itu.
Keduanya diam tak saling bicara hanya melihat depan dimana langit di penuhi bintang di atasnya.
"Apa ada yang salah tuan?" tanya Joe ragu tanpa berani menatap.
"Bicara santai saja! Gue masih belum mau identitas gue terbongkar" seru Alvin menyandarkan tangannya, sambil salah satunya menggenggam coklat panas yang merupakan milik Zea.
"Em iya" jawab Joe ragu. Keduanya kembali diam dalam keheningan.
"Al!" panggil Geo dari belakang mendekat.
"Pengganggu ini lagi!" gumam Joe berseru pelan membuang mukanya muak.
__ADS_1
"Buat lo dari Zea!" ujar Geo menyerahkan bubur instan dalam cup yang sudah dimasak pada Alvin.
Alvin menoleh ke belakang, melihat Zea yang sedang berbincang dengan kedua temannya, kemudian ia menatap kearah Geo yang seperti menghindari tatapan.
"Oh!" jawab Alvin menerima cup bubur yang Geo bawakan.
"Kalau gitu! Gue tinggal dulu!" pamit Geo canggung menunjuk kearah belakang. Geo berbalik meninggalkan keduanya.
Alvin melihat kearah Joe yang seakan cuek dan tak peduli dengan kehadiran Geo.
"Ambil!" tutur Alvin menyerahkan bubur cup yang ia bawa pada Joe.
"Ya?" seru Joe.
"Ambil!" perintah Alvin lagi.
"Tapi tuan, itu!" seru Joe enggan, ragu, dan hampir tak bisa menolak.
Alvin dengan wajah datarnya tetap menyerahkan bubur cup yang ia pegang pada Joe dan dengan patuh Joe menerima.
"Makan saja! Jangan pedulikan gue. Ini perintah!" suruh Alvin tegas pada Joe.
"Em! Makasih tuan!" jawab Joe dengan sedikit ragu. Ia mulai menyuap bubur di dalamnya kedalam mulutnya.
Alvin duduk di samping menemani Joe yang makan sambil menegak coklat panas yang merupakan bekas Zea.
Langkah kaki kembali mendekat membuat Alvin menoleh kembali.
"Ekhmm Al! Ini kelupaan!" ujar Geo kembali menyerahkan dua kaleng minuman pada Alvin lalu mengangguk dan berlalu pergi.
"Dasar!" seru Alvin menyeringai melihat itu.
Alvin tersenyum smirk.
"Hahaha.." tawa Alvin membuat Joe menoleh.
"Apa ada yang lucu tuan?" tanya Joe bingung.
Alvin tersenyum, "Tidak ada!" jawab Alvin mengalihkan pandangan ke depan.
Joe semakin mengernyit bingung. Ia menoleh kebelakang mengecek apakah ada yang salah atau ada sesuatu yang membuat tuannya yang dingin ini sampai bisa tertawa seperti itu.
"Kenapa?" tanya Alvin menoleh.
Joe menggeleng, "Anda melunak tuan!" jawab Joe terus terang.
"Sepertinya memang begitu!" balas Alvin ikut berterus-terang.
Joe menatap dalam kearah Alvin dengan penuh kekhawatiran.
"Hah!" Alvin menghembuskan nafas, ia bangkit.
"Lo gak usah khawatir! Gue masih terus siaga setiap waktu!" seru Alvin menatap serius pada Joe.
"Selesaikan dan santaikan diri lo untuk hari ini! Gue yang berjaga!" ujar Alvin berbalik melangkah pergi meninggalkan Joe tanpa melihat lagi.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ