
Dari siang hingga menjelang malam. Zea dan teman temannya fokus mengerjakan tugas, hingga punggung mereka dibuat lelah karena terlalu sering membungkuk untuk menulis.
"Akhirnya selesai!" seru Zea lelah setelah sekian lama menulis di karton besar yang nantinya akan menjadi bahan persentasi untuk kelompoknya.
Zea merenggangkan tubuh kemudian mengambil handphone yang ada ditas. Ada banyak sekali pesan yang Alvin kirimkan padanya.
Alvin
Sedang apa?
Apa kerja kelompok mu sudah selesai?
Kenapa tak membalas?
Apakah masih lama?
Hubungi aku jika sudah selesai?
Zea
Apa kamu tidak melihat pesanku?
Sudahlah jika kamu tidak lihat.
Hari ini aku akan pulang lebih cepat. Penerbangan ku diganti di sore hari ini.
Hubungi aku nanti malam jika kamu tidak sibuk
Pesan beruntun dari Alvin membuat Zea tak bisa berkata. Zea mengirimkan pesan balasan untuk Alvin
Zea
Aku sudah selesai. Maaf baru balas, aku tidak melihat telpon dari tadi
Kemudian Zea mematikan kembali handphone, melihat kearah teman temannya yang mulai berkemas pulang.
"Kalian gak mau nunggu dulu? Bentar lagi ada tukang bakso lewat. Ayo makan sama sama. Aku yang traktir" ujar Zea membuat mereka terhenti.
"Ah gak usah Ra, takut ngerepotin" ujar teman Zea dengan segan.
"Nggak repot kok! Kalian tunggu aja bentar. Biasanya jam jam segini lewat!" ujar Zea meyakinkan meraka untuk menunggu.
Tuk tuk tuk tuk
Tak lama setelah Zea berkata. Apa yang Zea ucapkan benar benar datang. Tukang bakso yang selalu lewat setiap hampir menjelang malam didekat rumahnya ini datang.
"Nah tuh! Aku panggil dulu ya" ujar Zea.
Zea dengan segera bangkit dan memanggil tukang bakso yang mendorong gerobaknya itu.
"Bakso!!" panggil Zea melambaikan tangan.
Tukang bakso itu menoleh pada Zea, "Sini bang!" ujar Zea mengayunkan tangan memanggil.
"Bakso ya nduk?" tanyanya dengan suara keras dari jauh, Zea mengangguk.
"Oke siap Abang kesana!" ujarnya dengan cepat tukang bakso itu mendorong gerobaknya datang dan berhenti di depan rumah Zea.
"Zea!!" panggil Ayu dan teman sekalasnya datang mendekat.
"Bang! Buatin buat mereka ya. Tanya aja mereka maunya gimana" ujar Zea sambil menunjuk pada kawan kawannya.
__ADS_1
"Oke siap Abang layani!" jawab Abang tukang bakso mengacungkan jempol.
Zea berbaik kearah teman temannya.
"Kalian persen sendiri ya! Aku mau manggil bang Arka dulu, siapa tau mau" ujar Zea menunjuk kearah rumah.
"Oke Ra!" jawab mereka.
Zea masuk kedalam rumah, kemudian menuju kamar abangnya.
Tok tok tok
Zea mengetuk pintu.
"Bang! Ada tukang bakso diluar. Abang mau bakso gak?" ujar Zea setengah berteriak didepan pintu.
"Boleh Ze! Komplit ya, jangan pedes pedes" ujar Arka membalas dari dalam kamar.
Zea lantas pergi dari depan pintu kamar Arka dan berjalan ke dapur mengambil mangkok untuk dirinya dan Arka.
Zea kemudian kembali keluar. Saat ia diluar Zea melihat teman temannya sudah dengan mangkok dari Abang bakso masing masing.
"Bang! Es nya sekalian. Terus ini nambah dua mangkok lagi" ujar Zea sambil meletakkan mangkoknya di gerobak Abang bakso.
"Oke siap!! Alhamdulillah rejeki nomplok" jawab Abang bakso dengan senang.
Zea berbalik melihat kearah teman temannya yang seperti sedang menunggunya.
"Kalian nunggu apa? Udah makan aja dulu, ntar aku nyusul" ujar Zea mempersilahkan teman temannya itu menyantap bakso masing-masing.
"Makasih Ra, traktiran"
"Makasih Ra!"
Zea mengangguk, "Sama sama! Gak perlu sungkan" balas Zea.
Kemudian mangkok baksonya dan Arka sudah siap.
"Aku kedalam bentar ya, mau kasih ini ke Bang Arka. Kalian kalau mau nambah silahkan aja, bebas. Puas puasin" ujar Zea semakin membuat mereka bersemangat.
"Makasih Ra! Baik banget. Bungkus boleh?" ujar salah satu kawan Zea bergurau dan perkataan itu langsung diserbu dengan seruan dan senggolan dibahu.
Zea melihat itu tersenyum senang.
"Boleh. Pesen aja kalau mau!" jawab Zea tak mempermasalahkan.
"Aku masuk dulu ya! Yu tolong!" ujar Zea sambil mengkode Ayu untuk menjaga kawan kawannya.
Ayu lantas mengangguk dan Zea masuk kedalam memberikan bakso ditangannya pada Arka.
Skipp...
Teman temannya sudah pergi dan menyisakan dirinya dan Ayu yang sedang berada didalam kamar.
"Yu! Makasih ya buat hari ini. Padahal kamu gak ikut punya tugas tapi malah repot repot datang kesini" ujar Zea tulus pada gadis disebelahnya.
"Sama sama Ze, gak perlu segan. Lagian kamu juga sering bantuin aku buat belajar kan. Itung itung balas budi" ujar Ayu menjawab Zea.
Zea tersenyum melihat wajah Ayu, ia seketika jadi teringat dua sahabatnya. Sudah berapa lama Zea tak lagi menghubungi keduanya.
"Yu!" panggil Zea.
__ADS_1
Ayu menoleh, "Mau ku kenalin sama sahabat ku yang ada di kota gak? Aku udah lama gak ngehubungi mereka" ujar Zea mengajak Ayu untuk berkenalan dengan duo sahabatnya itu.
"Sahabat kamu yang ada di kota?" tanya Ayu melihat Zea.
Zea seketika mengangguk dengan cepat.
"Boleh! Teman teman kamu pasti juga baik kayak kamu" ujar Ayu lagi.
Zea dengan semangat mengambil handphonenya. Ia mengetik nomor salah satu sahabatnya yaitu Keyla yang sudah ia hafal diluar kepala.
Titt titt
Panggilan berdering. Zea menatap handphonenya menunggu berharap Keyla mengangkatnya.
"Halo? Ini siapa?" tanya Keyla dari telpon saat panggilan terhubung.
Zea tersenyum senang saat ia mendengar suara Keyla lagi. Zea langsung menekan tombol yang mengganti ke video call.
"Keyla ini Ze" ujar Zea menjawabnya.
Seketika layar handphonenya berubah dan menampakkan wajah masing masing.
"Zea!!" teriak Keyla dari seberang sana dengan antusias.
"Cha! Zea Cha!!" panggil Keyla lagi dengan girang melihat Zea kembali menghubunginya.
"Zea Ze!! Ini beneran lo?!" ujar Icha seketika muncul dari balik telpon.
Zea sangat senang dan mengangguk dengan semangat.
"Kalian apa kabar?" tanya Zea.
"Ah lo yang apa kabar? Lo kemana aja Ze? Udah berapa bulan lo nggak hubungi kita. tega lo Ze, tega!!" Seru Icha masih dengan antusias yang sama dan wajah yang cemberut mengingat Zea tak pernah menghubungi semenjak kepergiannya.
Zea seketika murung, ia jadi ikut sedih.
"Sorry soal itu! Gue yang salah! " ujar Zea dengan rasa bersalah.
"Cih, Lo kira semudah itu dapetin maaf kita. Kalau lo emang merasa bersalah, lo kasih tau dong ke kita, lo sekarang dimana? Biar kita susul lo kesana!" ujar Keyla dengan nada tegas karena ia rindu berat dengan kebersamaannya dengan Zea.
Zea tersenyum tipis kearah keduanya, "Sorry Key, Cha! Walaupun gue kasih tau kalian juga bakal sulit datang kesini. Tempat gue ini jauh dari tempat kalian berdua. Jadi lupain aja niat kalian mau nyusul, buang buang duit" ujar Zea mengemukakan fakta.
Ia dapat melihat raut wajah cemberut keduanya.
"Oh ya ini kenalin! Ayu anak pakde ku" ujar Zea memperlihatkan Ayu pada keduanya.
"Hai!" sapa Ayu dengan malu malu mengingat percakapan Zea dan sahabatnya tadi.
"Oh Hai juga Ayu! Kenalin aku Keyla, ini Icha. Kami sahabat Zea yang telah dilupakan" ujar Keyla mendramatisir. Icha melambaikan tangan dari balik telpon pada Ayu.
Zea yang mendengar perkenalan dari Keyla menjadi tak enak hati, "Eh Nggak kok! Zea gak lupain kalian, Zea bahkan sering cerita tentang kalian. Bilang sahabat ini lah itulah, aku sering banget dengar tentang kalian dari Zea" ujar Ayu membela Zea.
Zea sedikit menghangat mendengar pembelaan Ayu.
"Oh masa? Beneran nih?" tanya Keyla tak percaya.
"Iya! Serius, Zea bilang kalian....." Ayu dengan semangat menceritakan tentang apa yang telah Zea ceritakan padanya. Tentang keseharian Zea di tempatnya dulu yang tak jauh jauh dari adanya Icha dan Keyla.
"Ahh gue jadi keinget!!" seru Keyla merasa dirinya kembali ke masa lalu. Keyla dan Icha senang bahwa faktanya Zea tak melupakan keduanya.
Ayu yang melihat hubungan Zea dan kedua sahabatnya itu kembali membaik, menoleh pada Zea dengan senyuman dibibirnya. Ia merasa senang bahwa sahabat Zea sangat baik padanya dan juga seru seperti apa yang Zea pernah ceritakan.
__ADS_1
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ