My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
26. Bikin Kue


__ADS_3

Zea dan Alvin kini sudah berpindah ke subuah gazebon dengan pemandangan danau kecil buatan didepannya. Zea merasa rumah yang mereka tempati ini serba ada.


"Rumah ini megah banget, gue yang ngelihatin aja pusing apa lagi yang punya rumah. Kayaknya butuh seharian deh kalok mau kelilingin wilayah rumah ini" ujar Zea mengutarakan pendapat.


Alvin mendengar penuturan kekasihnya itu dibuat tertawa. Dia mengacak acak rambut Zea sangking gemasnya.


"Oh ya Al, Lo bilang mansion ini milik keluarga Immanuel kan?" tanya Zea menatap Alvin memastikan.


"Iya bener, kenapa? Kamu mau godain anak pemilik mansion setelah tau dia sekaya ini"


"Ih gak dih, Gak tertarik sama sekali. Yang ada aku mual mual ntar kalok deket sama dia, pasti orangnya gimana gitu" Zea dengan ocehannya.


"Emangnya menurut kamu dia gimana?" tanya Alvin menatap lekat kearah gadis kesayangannya.


"Ya gitu tampan, Keren, kaya, dominan, dan Selalu ngelakukan segala hal dengan sempurna. Uh gue bayanginya aja ngeri sendiri pengen mual" papar Zea bergidik ngeri.


"Bhahahaha kamu gemesin banget sih Ze" tawa Alvin mencubit kedua pipi gadis itu gemas.


"Ih main cubit cubit aja, Melar ntar pipi gue" Zea cemberut menangkup pipinya memberi usapan ringan. Alvin tersenyum mendengar nada kesal dari Zea.


Keduanya menatap pemandangan danau kecil yang damai dan menenangkan hati. Zea masih asik dalam lamunannya tiba tiba teringat sesuatu.


"Ohh ya Al, gue sampai lupa. nih buat lo" Zea memberikan kantong belanjaan yang tadi dia beli di supermarket.


"Apa nih?" tanya Alvin menatap kantong yang Zea berikan.


"Roti, buah, sama susu. Gue niatnya kesini mau njenguk lo. Eh sampai sini malah ditembak" terang Zea.


"Hahahaha pacar siapa sih kamu? kok gemesin gini,"


"Gue emang gemesin, baru nyadar?" Zea membanggakan diri. Alvin menggeleng melihat sikap PD dari Zea.


"Al gue mau tanya sesuatu"


"Tanya aja. tapi sebelum itu ubah panggil kamu, masa udah pacaran masih pakek lo-gue"


"Gak enak Al, udah nyaman gini"


"Hah, terserah kamu aja deh" Alvin menggenggam tangan Zea dan mengecup punggung tangan gadis itu. mata Zea membola mendapat kecupan mendadak dari Alvin, menarik tangannya dan mengusap kepipinya.


"Ih main cium cium sembarang"


"Habis kamu bawaannya gemesin, selalu bikin aku candu"


"Ishh" Desis Zea memukul bahu Alvin ringan. Alvin terkekeh mendapat pukulan manja dari Zea.


"Terus kamu tadi mau tanya apa?" Alvin kembali membahas pertanyaan Zea yang sempet tertunda.


"Ohw itu gak jadi deh, gak penting juga" Alvin menatap heran gadis itu.


"Tanya aja, aku gak gigit kok" goda Alvin membuat Zea salah tingkah.


"Ish, oke! jadi gini nih. Dari pada tanya lebih kecerita sih. Ini tentang king"


"Tentang king?" Tanya Alvin. Zea mengangguk.


"Jadi gini!! Lo inget hari dimana kita makan direstoran mewah waktu itu?" tanya Zea.


"Inget, emang ada apa?" Alvin semakin bertanya tanya.


Apakah orang orang itu memangganggu Zea? apa mereka melakukan sesuatu pada Zea? Tapi perasaan tidak mungkin mereka berani melakukan itu setelah dibuat gulung tikar dan hidup susah olehku, pikir Alvin.


"Gini Al selepas gue pulang, gue kan disambut sama Icha dan Keyla. Nah mereka tiba tiba ngasih gue sederetan pertanyaan. Mereka bilang kalok akun insta gue difollow sama king Maka dari itu mereka heboh terus mereka bilang kalok king juga ngepost foto tangan cewek"


Apakah ada yang menggangu gadisnya itu? padahal Alvin sengaja unfoll karena takut jika Zea akan terkena masalah,


"Mereka bilang itu gue! tapi gak mungkin. Terus gue cek akun medsos gue itu. Si king udah unfoll gue. Aneh banget tau gak. Kamu tau sesuatu tentang ini Al?" tanya Zea memastikan.


"Kalok soal itu gue kurang tau Ze, mungkin itu kerjaan teman temannya yang iseng itu" Zea mengangguk angguk.


"terus ada lagi yang mau kamu tanyakan atau mau kamu bahas" Zea diam dan berpikir sejenak.


"Bentar gue pikir pikir" ucap Zea sembari berpikir siapa tau ada yang dia lupakan dan Yap. Zea menjentikkan jari tangannya ke udara.


"Aha ada untung lo ingetin" Ujar Zea mengambil tasnya yang ia letakan disamping dan merogohnya mencari sesuatu.


"Nih dari pak Burhan. selamat Lo jadi pemeran utama pria" Ucap Zea dengan senyum manisnya menyodorkan lembaran naskah pada Alvin.


Alvin mengambil naskah dari Zea, "Oh oke" jawab Alvin melihat sekilas dan meletakan naskah itu sembarang.

__ADS_1


"Kok gitu doang?" tanya Zea memicingkan mata.


"Terus aku harus apa? berteriak bahagia sambil berjoget-joget ria gitu" Ucap Alvin mencubit hidung gadis itu.


Pipi Zea menggembung, "Ya gak gitu juga, paling gak lo seneng gitu senyum. Nih nggak sama sekali" tutur Zea menatap kearah pria yang juga menatapnya.


Alvin mengalihkan pandangan ke arah danau, "Aku gak terlalu suka yang kayak gini"


"Sama dong, gue juga ogah sebenernya tapi gimana lagi. Kata pak Burhan gak boleh diganti" Lesu Zea menyenderkan kepalanya dibahu Alvin.


Alvin merangkul Zea yang menyandar kepadanya dan menumpu kepala gadis itu dengan kepalanya. keduanya menghela nafas.


"Ehem ehem,, maaf nih Tante ganggu" deheman mommy Mira membuyarkan kedua anak manusia yang kini menoleh menatap sang pengganggu.


Miranda mendekat. Kedua anak manusia tadi segera beranjak dari duduknya. Zea menyambut kedatangan mommy Mira dengan senyuman manis plus ramahnya yang membuat siapa saja terpikat, berbeda dengan Alvin yang bermuka masam karena moment berharganya diganggu.


"Ada urusan apa kesini?" ketus Alvin melipat kedua tangannya. Zea menyikut perut Alvin dan mendelik tajam kepada kekasihnya itu.


"Aww Ze!" ringis Alvin membuat dia mengelus perutnya yang disikut Zea.


Zea tak memperdulikan ringisan Alvin menatap kembali wanita yang dia tolong tadi dengan senyum ramah.


"Tante boleh join gak, Tante mau ngobrol ngobrol sama kamu Zea" ungkap mommy Mira membuat Alvin seperti tertusuk panah.


"Mom" tegur Alvin tanpa suara mendengus sebal.


"Eh tentu Tante boleh banget malahan" Zea menyambut wanita didepannya itu.


"Zea suka bikin kue gak? Tante lagi bikin kue nih!!"


"Suka tante"


"Mau bantuin Tante gak? sekalian kita ngobrol disana. Asik kan ngobrol sambil bikin kue"


"Boleh tan, Yuk!"


Alvin dibuat diam seribu bahasa melihat kedua wanita yang kini pergi meninggalkannya memasuki kediaman mewah itu.


"Si*al!" Umpat Alvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan meninju udara melampiaskan kekesalannya.


Alvin berjalan cepat menyusul kearah keduanya yang pergi kearah dapur.


Didapur Zea diberikan Apron supaya pakaiannya tidak terkena bahan kue. Zea dengan antusias asik membuat kue bersama mommy Mira. Alvin yang melihat keduanya datar dan naik ke kamarnya membiarkan kedua wanita itu asik dengan dunianya.


"Zea gimana bisa kenal dekat sama Alvin?" tanya mommy Mira. Zea membantu Miranda mencetak adonan cookies yang tadi dibuat.


"Alvin itu murid baru disekolah Tante, Kebetulan kami sekelas"


"Terus kok bisa dekat gimana? Setau Tante Alvin itu gak pernah bisa deket sama yang namanya perempuan!" tanya Mommy Mira penasaran.


"Mungkin karena Zea yang duluan dekatin Alvin hehehe" kekeh Zea saat mengingat dirinya mengajak Alvin kenalan namun dijawab cuek.


"Kamu yang dekatin Alvin?" tanya Mommy Mira mengalihkan pandangannya kearah gadis yang dekat dengan sang putra itu.


Zea mengangguk, "Iya, Zea yang pertama ngajak kenalan, Ngajak kekantin juga walau ditolak sama Alvin, terus Zea juga pernah ngajak Alvin kesekolah anak jalanan_" Zea mengoceh menerawang apa yang dilakukannya dengan Alvin.


"Terus terus apa lagi yang pernah kamu lakuin sama Alvin?" tanya Mommy Mira antusias kepada gadis itu. Maklum jiwa mudanya kembali muncul jika dekat dengan gadis seusia Zea.


"Alvin baik loh Tante. Alvin pernah ngajarin Zea, Terus Alvin juga pernah belain Zea, Alvin dan Zea juga pernah....blushh" Wajah Zea seketika merona mengingat adegan suap yang terjadi diantara mereka.


Miranda kembali menoleh mendengar ucapan Zea yang terhenti, "Eh kok merona gitu pernah apa nih hayo!! Pernah apa!!" goda Mommy Mira menoel Noel pipi Zea.


"ih gak kok Tante, cuma pernah goncengan berdua aja" Zea malu mengalihkan pandangan.


"Iya deh Tante percaya. udah selesai kan? yuk kita oven!" Zea mengangguk dan membantu mengangkat loyang dan meletakan kedalam oven.


"Udah beres, tinggal tunggu matang aja" Zea tersenyum menanggapi ucapan Mommy Mira, melepas Appron yang dia pakai.


"Yuk duduk disana. Bi Wati tolong bikinin minum ya" pinta mommy Mira.


Sebenarnya mereka tidak hanya berdua saja di dapur. banyak pelayan yang ada disana namun ruangan yang Zea dan mommy Mira tempati dipisah oleh pembatas yang dimana ada ruangan pribadi mommy Mira untuk membuat kue dan ruangan memasak hidangan makan.


Zea mengambil tasnya dan mengikuti Mommy Mira duduk di sofa, tak lama kemudian datang bi Wati membawa minuman.


"Emm Tante boleh nanya gak?"


"boleh tanya aja!" seru mommy Mira meminum minumannya.


"Orang tua Alvin itu yang mana Tan? Alvin bilang orang tuanya pelayan disini?" tanya Zea penasaran celingukan mencari.

__ADS_1


"oh,, oh,, kalok soal itu mending kamu tanya langsung aja ke Alvin Ze" ucap Mommy Mira bingung harus menjawab Apa.


Zea mengangguk angguk tak ingin bertanya lebih jauh, "Oke deh tante"


Dari arah belakang Alvin yang datang dengan wajah datar bercampur kesal yang dia sembunyikan, dengan kunci motor ditangannya menghampiri kearah kedua wanita yang sedang ngobrol ntah apa yang diobrolin.


"Al" panggil Zea menyadari kehadiran Alvin yang mendekat, Mommy Mira ikut menoleh.


"Mau kemana?" tanya Mommy Mira melihat kearah putranya.


"Saya ada urusan Nyonya, tuan king terkena masalah nyuruh saya anterin motor keperusahaan" jawab Alvin.


Mommy Mira mengangguk paham jika ada masalah diperusahaan yang didirikan putranya itu.


Alvin kini mengalihkan pandangannya pada gadis yang baru saja menjadi kekasihnya itu.


"Ze aku ada urusan, aku sekalian anterin pulang yuk!" ajak Alvin. Zea mengangguk patuh.


Zea beranjak berdiri dan berpamitan pada Miranda.


"Tante Zea pamit dulu ya!" Pamit Zea mencium punggung tangan Miranda diikuti Alvin.


"Alvin pergi dulu"


"Hati hati"


Alvin menggenggam tangan Zea berjalan keluar rumah menuju garasi. Alvin membuka garasi mobil dan wow sekali lagi kediaman Immanuel memukau Zea. Deretan mobil mobil sport berjajar rapi disana. Alvin kembali membawa Zea memasuki ruangan itu, Zea hanya mengikuti langkah Alvin sambil memandang kanan kiri.


"Ini garasi apa pameran mobil sih. Mobil mobil disini udah kayak mobil mobil di fast and furious yang pernah gue tonton. Cakep bener, mulus, mengkilap" gumam Zea pelan.


Zea yang mengikuti langkah Alvin sampai pintu yang sama dengan pintu garasi didepan. Alvin membukanya dan Zea dibuat tercengang berkali kali lipat. Antara takjub dan ingin ketawa. Zea melihat deretan motor sport yang berjajar, namun yang membuat takjub diantara deretan motor sport itu terdapat motor yang Zea kenal. Yap! Motor yang biasa Alvin gunakan untuk mengantar jemput dia.


"Ayo Ze!" ajak Alvin memasuki ruangan itu berdiri disamping motor butut Alvin. Alvin memasangkan helm pada Zea. Alvin juga memakai helmnya bedanya dia tak menggunakan helm yang biasa dia pakai antar jemput Zea. Dia menggunakan helm yang cocok dengan motor sportnya.


Alvin menaiki motor sport hitam yang biasa dia gunakan. Zea tertegun, ntah kenapa melihat Alvin menaiki motor sport terlihat seperti adegan slow mo dan itu terlihat keren dimatanya.


"Ayo Ze naik" Ajak Alvin, Zea mengerjapkan mata dan berada di dekat motor Alvin.


Alvin memberikan tangannya untuk Zea pegang membantunya naik. Zea memegang tangan juga pundak Alvin menaiki motor itu.


Zea memeluk Alvin membuat pria yang dari tadi menahan kesal yang meluap itu tersenyum. Alvin kemudian melajukan motornya.


"Alvin" panggil Zea setengah berteriak saat mereka baru saja keluar gerbang kediaman Immanuel.


"Kenapa?" tanya Alvin.


"Lo turunin gue dihalte aja, ntar gue pulang naik taksi. Gue takut ntar lo kena marah" ujar Zea. Alvin terkekeh mendengar perkataan Zea, yang ada bukan Alvin yang kena marah tapi orang orang yang kerjanya gak becus dan membuat perusahaannya terkena masalah itu yang akan dia habis habisan marahi.


"Lo tenang aja, aku gak bakal kena marah kok, kamu pegang lebih erat" pinta Alvin, Zea menurut dan mengeratkan pelukannya.


"Gue beneran gak apa kalok Lo turunin gue dihalte" ucap Zea keras kembali meyakinkan.


"Aku yang gak baik baik aja, udah kamu diem! Aku antar sampai rumah" Ucap Alvin kembali membuat Zea mencebik bibir. Alvin melihat ekspresi Zea dari balik kaca spion tersenyum dan memegang tangan Zea yang merangkul pinggangnya dengan satu tangan. Zea langsung menampik tangan Alvin.


"Gak usah pegang pegang, fokus nyetir" ketus Zea. Alvin sangat gemas dengan gadis itu namun kembali memfokuskan pandangannya kejalanan.


"Al!" panggil Zea kembali saat Alvin menghentikan motor karena lampu lalu lintas berwarna merah.


Alvin menoleh ke arah Zea, "Kenapa Ze?" tanya Alvin menanggapi kekasihnya.


"Lo keren! gue kira Lo gak bisa naik motor sport..." Alvin tersenyum senang, dirinya merasa diatas awan mendapat pujian dari Zea.


"Tapi gue lebih suka motor lo Al, gue lebih suka yang sederhana. Gak suka yang serbah mewah, walaupun indah dan menakjubkan gue tetep nggak suka" Zea melanjutkan ucapannya bertepatan dengan lampu lalu lintas menjadi hijau. Alvin segera melajukan motornya kerumah Zea.


Motor Alvin sampai didepan rumah Zea. Zea turun dari motor berpegang pundak Alvin dan pluk! berhasil.


Zea melepaskan helmnya, "Thanks Al." Ucap Zea memberikan helm yang dia gunakan pada Alvin.


"Kamu bawa aja, besok gue jemput." ucap Alvin, Zea menarik helmnya kembali, berpamitan pada Alvin. Alvin menitip salam sebelum Zea memasuki rumahnya terlebih dahulu seperti biasa. Setelah memastikan Zea memasuki rumah Alvin meninggalkan rumah Zea.


Dalam perjalanan menuju perusahaan. Alvin kembali merenungkan perkataan Zea tadi.


"Gue lebih suka motor lo Al, gue lebih suka yang sederhana. Gak suka yang serbah mewah, walaupun indah dan menakjubkan gue tetep nggak suka"


Kemewahan? Itu adalah sesuatu yang selalu melekat dalam diri Alvin. Mau seberapa keras dia menyingkirkannya itu adalah hal yang mustahil, karena dirinya sendiri orang yang selalu mengincar kemewahan.


Dengan perasaan kalut Alvin melajukan motornya dengan cepat. Dirinya butuh pelampiasa dan dengan kondisi perusahaannya yang dalam masalah kini merupakan tempat yang tepat untuk dia meluapkan semua emosinya kepada anak buahnya yang tak berguna itu.


Omo omo kasihan banget orang orang yang dapat pelampiasan amarah Alvin(ᗒᗩᗕ)

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2