My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
82. Awas mie ayam panas


__ADS_3

"Bro!" sapa Satya melambaikan tangan kearah Alvin. Alvin mengangguk.


Kemudian langkah Alvin mendekat, mengambil kursi dimeja lain dan duduk disebelah Zea.


Zea seketika tegang saat Alvin duduk disebelahnya.


Alvin menatapnya tajam kearah Zea yang duduk terpaku menatap kearah mangkok mie ayamnya. Seleranya langsung hilang saat itu juga.


"Kenapa gak dihabisin!" ucap Alvin dengan nada dingin pada Zea.


"Ehm ini mau dihabisin kok" Zea menelan sisa makanannya dengan berat. Ia selesai menghabiskan semangkok mie ayam dan kini berganti pada minuman disampingnya.


Lidahnya yang merasakan sensasi dari cabai membuat ia menyeruput minumannya hingga habis. Zea kemudian bernafas lega saat merasakan sensasi pedas menghilang sedikit demi sedikit karena minuman yang mengalir dari bibir, lidah, dan masuk ke tenggorokannya.


"Wih ini dia yang dari tadi bikin Alvin kelimpungan cari kesana-kemari, taunya disini!" Seru Julian datang bersama Kenan dan Geo.


"Astaga ini kenapa mahluk astral pada ngumpul disini sih!" ujar Icha kesal melihat kedatangan Julian. Jika Satya dan Julian disatukan, kacau sudah dirinya akan dua pengganggu yang suka bikin onar itu.


"Duduk bro!" balas Satya pada Ketiganya.


Ketiga pria itu langsung datang mendekat ke meja yang awalnya Zea, Keyla, dan Icha tempati.


"Geser geser!" seru Julian.


Ketiga pria itu duduk berdesak desakan saling merapat pada Keyla dan Icha.


"Woy! Ini mejanya kecil. Main gesar geser aja!" amuk Keyla membuat mereka tersentak. Keyla itu jarang marah namun sekali marah nyeremin.


"Mampus lo, amuk aja Key!" seru Icha menyemangati Keyla.


Zea yang berada di depan keduanya cekikan melihat sahabatnya itu marah.


"Lucu ya?" ujar Alvin ditelinganya seperti bisikan setan. Tubuh Zea lantas menegang.


Zea menoleh menatap kearah pria itu yang kini menatapnya intens.


"Aduh neng ini lama lama kursi sama meja saya jadi rusak kalau gini caranya!" ujar Mang mie ayam membuat mereka menoleh.


"Itu pakek meja yang satunya, disatuin kan bisa!" lanjut mang Mie mengarahkan.


"Nggak usah mang, mereka emang ribet. Kita udah selesai kok mang. Biar mereka aja. Ayo Ze, Cha!" ucap Keyla membalas.


Keyla dan Icha bangkit. Saat Zea ingin bangkit tangannya kembali ditahan oleh Alvin.


"Zea disini, nemenin gue!" tegas Alvin menatap Zea intens.


Keyla dan Icha yang awalnya ingin membayar dan pergi menjadi tertahan. Mereka melupakan bahwa sekarang Alvin kini bersama dengan Zea.


Zea menatap kedua temannya bimbang. Haruskah ia menolak dan memilih pergi bersama kedua temannya? Atau memilih menetap bersama Alvin? Ingin ia memilih bersama kedua sahabatnya itu namun ia tak kuasa menolak Alvin.


"Yaudah kita gak jadi balik" putus Keyla kembali ketempat semula bersama Icha. Mereka mengurung buat untuk pergi. Zea pun kembali duduk di samping Alvin.

__ADS_1


"Mang! Mie ayam lima ya!" ujar Geo memesan.


"Siap! Tapi mejanya, mamang benerin dulu. Masak kalian mau sempit sempitan gitu!" ujar Mang ayam.


"Biar mereka benerin sendiri aja mang! Jangan dimanja!" Icha berucap.


"Iya mang!" lanjut Keyla.


"Ohw oke, siap!" "Makasih!


Mang Mie ayam kemudian pergi ke tempat dimana gerobak mienya dan mulai membuatkan pesan.


Sedangkan kini mereka berdiri dan mulai mengatur meja. Mereka merapatkan dua meja dan menata tempat duduk.


"Pak Reno tadi panggil lo kenapa Al?" tanya Icha kepo sembari menunggu.


Semua tatapan kemudian menuju pada Alvin ikut penasaran.


Alvin menghela nafas, mengambil sebuah kertas yang ia lipat didalam sakunya dan memperlihatkan ke semua orang.


*Formulir pendaftaran ekstrakulikuler*


"Oh gue juga dapet!" ujar Geo ikut meletakan formulir nya di meja.


Mereka akhirnya paham alasan Alvin dipanggil kekantor oleh pak Reno, ber-oh ria. Setelah itu Alvin dan Geo mengambil kembali formulirnya dan meletakan disaku celana masing-masing.


Mereka saling berbincang hingga suara mang Mie ayam memecah mereka.


"Makasih mang!"


"Sama sama, silahkan disantap!" ujar Mang ayam kembali ke gerobaknya.


Kelima pria itu mendapat masing masing satu mangkok. Alvin melihat kearah Zea yang berbincang dengan Keyla dan Icha. Ia menggeser mie ayamnya kehadapan Zea.


"Buat kamu!" ujar Alvin pada Zea. Para nyamuk diantara keduanya itu melongo melihatnya. Tapi mereka mencoba menetralkan wajah seakan sudah biasa.


"Aku udah kenyang Al" tolak Zea. Ia memang sudah kenyang setelah menghabiskan satu porsi mie ayam tadi.


Keempat pemuda didepannya itu sesekali melirik melihat tontonan didepannya dengan mulut yang menyeruput mie ayam.


Alvin menatap enggan mie ayam didepannya. Dan kini Zea dan Alvin sama sama menatap mie ayam yang tak tau siapa yang akan memakannya.


"Dari pada tuh mie ayam kalian lihatin gak habis habis, sini buat gue aja!" ujar Julian hendak mengambil mangkok Alvin namun ditepis oleh Satya.


"Serakah banget sih lo!"


"Yah kan dari pada dibuang, sayang!" bela Julian.


"Ya pesen lagi lah sono! Mangkok lo aja belum habis, mau nambah!" tukas Satya. Julian mencebik bibir dan melanjutkan makannya.


Geo yang mendengar pertengkaran kilas itu menggeleng gelengkan kepala.

__ADS_1


"Lo suapin aja tuh Ze! Alvinnya. Gue jamin habis dah tuh mie ayam" seru Geo memberi saran.


Zea dan Alvin saling berhadapan. Alvin menatapnya cuek. Zea yang canggung berbalik menatap kedua sahabatnya yang kini menoleh tak melihatnya seakan membiarkan Zea untuk melakukan apapun yang Zea mau.


Zea menghela nafas kemudian mengambil sebotol saos yang tersedia. Ia melihat wajah Alvin yang biasa saja kemudian menuangkan saos secukupnya. Kemudian ia beralih ke mangkok kecil yang menjadi sumber kenikmatan walau terkadang membuat orang suka keringatan hingga menjulur lidah.


Ia mengambil satu sendok sambal dalam ukuran besar. Alis Alvin mengerut melihatnya.


"Kurangin!" ujar Alvin. Zea mengangguk dan mengurangi setengah lalu menuangkan dimangkok. Zea mengaduk mie hingga tercampur.


Kemudian tangan Zea beraksi menggulung mie menggunakan garpu dan sendok.


Hap


Suapan pertama masuk kedalam mulut Alvin membuat orang yang melihatnya menggeleng. Zea terus menerus menyuapkan kedalam mulut Alvin dan pria itu melahapnya dengan wajah datarnya.


"Misi!" sapa beberapa orang membuat mereka kembali menoleh. Zea menukik alis melihat orang orang itu membawa nampan berisi minuman juga bungkus snack.


"Ini pesanannya, kami pamit dulu ya!" ujar pria itu buru buru ingin pergi.


"Eits tunggu dulu! Kemari kemari!" Julian melambai menahan kepergian mereka lalu mengambil uang dari sakunya.


"Buat jajan!" ujar Julian menyelipkan uang disaku pria tersebut. Menepuk dada pria itu menyuruh pergi.


"Makasih kak!" ujarnya dengan senyum berlalu pergi dengan kedua temannya itu.


"Lo kasih berapa Jul?" tanya Satya disampingnya.


"Ceban" jawabnya enteng. (Rp. 10.000)


"Ha? Seriusan?" tanya Satya tak percaya. Ia dan yang lainnya tertawa tak membayangkan bagaimana ekspresi mereka!


"Ya kagak lah! Gile aja ngasih ceban!" seru Julian.


"Hahahaha, habis lo tadi bilang ceban. Ya gue percayalah!" ucap Satya mengusap sudut matanya yang berair.


"Gini nih! Orang pasti ngira gue pelit kagak pernah ngasih dhuwit asal main suruh aja!" Keluh Julian berdecak.


"Ye!! Emang kagak pernah kan? Ini aja gue kaget lo kasih! Ada makna apa sampe ngasih segala?"


"CK, lo emang tau gue banget. Itu tuh gue kasih karena perayaan rekor putus gue hahaha!" keduanya kemudian kembali saling tertawa.


"Sialan! udah gue duga!" umpat Satya ikut tertawa bersama Julian.


"Udah oyy! Malah bercanda. Buruan keburu masuk nih! Nyerocos mulu, kayak Kenan tuh diem!" ujar Keyla. Pandangan mereka kemudian melirik kearah Kenan yang melanjutkan makannya.


"Kenapa?" tanyanya.


Geo, Satya, dan Kenan menggeleng dan melanjutkan makannya. Zea pun begitu. Ia tak ada henti menyuapi Alvin sedangkan Keyla dan Icha kini menyantap bungkus snack yang beberapa pria tadi bawa.


TBC

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2