
Saat ketiga gadis itu turun kebawah ia melihat bahwa Alvin sedang berbicara bincang dengan keluarga Zea tampak akrab.
"Ma, Pa, Bang!" "Pagi Tan, Om, Bang!" sapa ketiganya.
"Nah ini dia, njemur tau gak gue nungguin kalian" keluh Bang Arka.
Ketiga gadis itu hanya bisa melempar senyum.
"Udah, ayo buruan makan! Bisa telat kalian nanti" ujar Mama Tia mengintrupsi.
Ketiga gadis itu duduk di kursi yang didepan mereka sudah tersedia beberapa makanan yang khusus dibuat oleh mama Tia.
"Ayo Alvin, jangan sungkan-sungkan" ujar Mama Tia.
Mereka makan dengan diam tak ada yang berbicara. Menyuapkan sesendok demi sesendok nasi beserta lauk kedalam mulut mereka. Mereka tau bahwa mereka sedang dikejar waktu, jika mereka makan sambil berbincang sudah pasti mereka akan telat nantinya.
"Huaa Kenyang" seru Icha setelah menyelesaikan makannya.
"Makasih Tan enak banget!" puji Keyla setelah makan.
"The best" Icha mengacungkan jempol membuat Mama Tia tersipu malu dan mengangguk membalas keduanya.
"Sama sama!"
"Masakan mama emang juara" lanjut Zea.
"Istri siapa dulu dong?" Papa Hendra menyombongkan diri.
"Hidih! Mama kok mau sih sama papa! Narsis gitu" seru Arka membuat semuanya tergelak tawa.
"Terpaksa bang! Papamu dulu ngejar ngejar mama. Karena mama bosan dikejar kejar terus akhirnya mama terima deh" ungkap mama Tia.
"Jangan salah ma! Itu tandanya perjuangan papa terbalaskan!" Mama Tia tersipu ketika mengingat kisah cintanya kembali saat masih muda dimana ia tak tertarik berpacaran dan sikap cueknya membuat banyak pria menjauh, kecuali suaminya sekarang yang sampai sekarang tetap bertahan dan terus mengejarnya hingga Hendra berhasil menaklukkan dirinya.
"Aciee ciee, flashback nih ya!" goda para gadis itu kearah Mama Tia dan Papa Hendra.
"Udah udah, kalian kok malah godain mama. Pergi sekolah sana, nanti keburu telat!" ujar Mama Tia.
Ketiga gadis itu cekikikan namun menurut. Zea mengambil tasnya di kamar, Icha dan Keyla mengikuti Zea karena ingin mengambil kunci mobil.
Kemudian ketiga gadis itu turun kebawah.
"Udah siap?" tanya Alvin pada ketiga gadis itu.
"Loh lo bareng Alvin Ze?" Keyla bertanya sambil keheranan.
"Kalian bareng gue" ujar Alvin.
"Bareng gimana?" tanya Keyla.
"Gue bawa mobil, kalian ikut mobil gue" jelas Alvin.
"Ohw gitu, oke!" balas Keyla masih dalam kecanggungan.
"Kita pamitan dulu yuk!" Zea memecah kecanggungan diantara mereka. Nampaknya kedua sahabatnya masih saja tak percaya bahwa Alvin yang ada didepan matanya adalah Alvin yang sama dengan yang mereka lihat dipanggilan video call tadi.
__ADS_1
"Ma, Pa, Bang, Kami pamit berangkat dulu!" ujar Zea.
"Dah tan, om, bang!"
"Kami pergi!"
"Hati hati dijalan ya kalian!" balas Mama Tia.
Mereka lantas pergi keluar rumah. Saat membuka pintu rumah Keyla dan Icha terkejut melihat mobil mewah Alvin. Keduanya kira Alvin akan membawa mobil yang biasa biasa saja, tapi kini mobil hitam mengkilap itu sudah ada didepan mata keduanya.
Mereka sontak bungkam dan menatap kearah Alvin dengan wajah terkejut. Zea sudah menduga hal ini karena pernah melihat beberapa mobil yang seperti pameran dirumah Alvin. Apalagi dengan identitas Alvin yang serba serbi mewah.
Zea kemudian beralih ke Icha dan Keyla.
"Key, Cha, buruan ambil tas lo! Ntar kita telat lo!" ujar Zea membuat mereka tersadar lantas masuk kedalam garasi mengambil tas yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Tas yang didalamnya juga berisi baju olahraga.
Zea yang menunggu kedua gadis itu melirik kearah Alvin yang kini menatapnya. Jantung Zea seakan berdegup kencang saat Alvin menatapnya dengan pandangan yang sulit ia mengerti.
Kemudian Keyla dan Icha kembali.
"Udah yuk!" ujar keduanya.
Mereka masuk kedalam mobil Alvin dengan hening. Zea dan Keyla terpukau dengan mobil Alvin, bukannya norak memang mobil Alvin yang terlampau keren.
Keduanya memandangi Alvin dengan seksama. Mereka semakin tak percaya bahwa pria berkacamata bulat didepannya adalah sosok pria yang tampan. Mereka menimang nimang kembali, mungkin saja mereka salah. Pria yang ada di video call tadi bukanlah Alvin namun orang lain.
Tapi melihat mobil yang mereka naiki sekarang membuat mereka menyadari satu hal bahwa Alvin itu pria kaya.
Arah mata Keyla dan Icha semakin intens menatap Alvin, membuat Alvin memejamkan mata dan menghela nafas.
"Kenapa?" Zea balik bertanya.
"Bukan kamu! Aku tanya ke mereka, kenapa ngelihatin aku terus" ujar Alvin meraih tangan Zea.
"Nggak! Kita gak ngelihatin lo kok!" bantah Keyla.
"Hooh, Kita gak ngelihatin kok. kege'eran banget sih lo!" tambah Icha.
"Udah sana buruan nyetirnya! Lihat ini! Oh My God udah jam segini!" teriak Keyla saat melihat jam ditangannya yang menunjukkan bahwa 5 menit lagi gerbang akan ditutup.
"Ha sumpah?" ujar Icha menatap kearah jam tangannya. Benar saja hanya tersisa 5 menit sampai gerbang tertutup.
"Al! Buruan lo gaspoll. Bisa bisa kita kenal hukuman kalau telat gini!" pekik Keyla.
"Iya Al, buru!" ujar Icha.
Alvin tak menghiraukan masih melajukan mobilnya dengan santai.
"Oii, gue dicuekin! Ze, bilangin ke pacar lo, bisa gak nyetir lebih cepat!"
"Iya Ze, gue gak mau dihukum. Mana ntar ada pelajaran olahraga lagi!" pinta Icha memohon.
Zea menatap kearah Alvin yang cuek, "Al, bisa kamu cepetin laju kendaraannya?!" pinta Zea.
"Oke! Kamu pegangan!" ujar Alvin menurut.
__ADS_1
Kedua sahabat Zea mencebik kesal lantaran perkataannya tadi tak dihiraukan oleh Alvin. Tapi sekali Zea berbicara pria itu mengiyakan. Dasar bucen.
Kedua tangan Keyla dan Icha bersindekap karena kekesalannya.
Brummm...
Alvin menambahkan kecepatan mobilnya membuat Keyla dan Icha tersentak kebelakang. Mereka membelak dengan jantung berdetak cepat seiring bertambahnya laju mobil Alvin.
"Gila! Gila! Gila" seru para gadis itu.
Pria itu terus melajukan mobilnya, menyalip kendaraan demi kendaraan bahkan menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi. Sedangkan wajah pria itu menampilkan raut biasa saja tak ada ketegangan sedikit pun.
Alvin terus melajukan mobilnya hingga gerbang sekolah terlihat didepan mereka. Gerbang itu hendak ditutup oleh satpam sekolah.
Tin tin
Alvin membunyikan klakson masih dalam kecepatan tinggi membuat guru dan satpam sekolah yang berjaga disana hendak menutup gerbang terjengkang kaget. Melihat mobil Alvin yang terus melaju dan bertambah kencang membuat satpam kembali membuka pintu gerbang.
Brumm
Mobil Alvin berhasil masuk kedalam sekolah, namun pria itu tak berhenti begitu saja langsung menuju ke parkiran sekolah.
Citt..
Bunyi rem mobil Alvin membuat Icha dan Keyla terjungkal kedepan karena kedua gadis itu tak memakai sabuk pengaman. Sedangkan Zea jantungnya memacu cepat dan tubuhnya ditahan oleh Alvin agar Zea tidak terjungkal. Walau itu tak mungkin karena sabuk pengaman yang dipakai gadis itu aman terlindungi.
"Lo gila!" ujar Keyla pada Alvin.
Ketiga gadis itu langsung turun dari mobil.
"Hosh hosh hosh!" nafas ketiganya ngos ngosan padahal mereka tidak sedang selesai berlari.
"Parah lo Al!" ujar Icha melihat Alvin yang keluar dari mobil menghapiri Zea.
"Maaf, kamu baik baik aja?" tanya Alvin khawatir pada Zea.
"Baik baik aja gimana! Untung gue gak punya sakit jantung. Bisa meninggal detik ini juga gue gara gara lo!" sewot Icha.
Zea menghela nafas menatap kearah Alvin lalu mengangguk pertanda ia baik baik saja
Keyla mendekat pada Icha, "Udah Cha! Gak sepenuhnya salah Alvin juga karena kita yang minta cepet. Akhirnya kita berhasil sampai sekolah dengan selama juga kan!" ucap Keyla agar Icha meredakan emosinya. Icha dengan nafas memburu akhirya tenang.
Alvin yang tak peduli apa kata kedua sahabat Zea itu beralih memegang tangan Zea, Ia menggenggam tangan gadis itu untuk membawanya pergi.
"E, e, e, mau lo bawa kemana sahabat gue?" tanya Icha.
"Kelas" jawab Alvin singkat.
"Hey kalian semua! Buruan masuk kelas" tutur seorang guru pada murid muridnya yang masih berada di wilayah itu.
Akhirnya beberapa orang yang tersisa bubar. Begitu pula dengan Keyla dan Icha yang mengikuti Zea dan Alvin kembali kedalam kelas.
Ketiganya berjalan santai sampai mereka tak mengindahkan beberapa orang yang mulai berbincang tentang mobil yang mereka tumpah. Mobil dengan harga yang selangit.
TBC
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ