
Hari ini Zeara dengan bermodalkan tekat berjalan kearah ruang guru. Zea yang berada didepan ruangan dengan tulisan 'Ruang guru' itu tak beranjak masuk. Dirinya mengedarkan pandangan kearah jendela, mencari cari orang yang bisa memberitahunya alamat dari pria nerd yang saat ini sedang dia khawatir kan.
Pria nerd yang selalu bersamanya itu sudah 2 hari tidak masuk. Dengan kondisinya pria nerd itu membuat pak Burhan selaku pengawas serta seorang guru BP mengijinkan Alvin untuk tidak masuk sekolah.
Zea melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan sampai didekat meja seorang yang ingin dia temui. Zea menatap pria yang merupakan walikelasnya itu datar. Walikelasnya yang baru itu membuat Zea tidak nyaman. Saat pria itu menatapnya membuat Zea risih sendiri.
Apa lagi yang paling Zea ingat saat wali kelasnya memperlakukan Alvin yang ingin perkenalan dikelas seenaknya membuatnya semakin tak suka dengannya. Makanya Zea tak mencoba mengakrabkan diri.
"Permisi pak!" sapa Zea.
"Ohw Zea tumben kamu nemuin bapak, ada apa?" tanyanya.
"Begini pak, saya mau minta alamat rumah Alvin. Saya ingin jenguk dia" jawab Zea menyampaikan niatnya.
"Ohw alamat Alvin tunggu sebentar ya! kamu duduk dulu disini Ze" pria itu menyodorkan kursi.
"Saya berdiri aja pak" tolak Zea.
"Duduk dulu Ze, saya juga mau tanya tanya dulu sama kamu" desak Reno walikelas Zea
Reno yang merupakan Wali kelas Zea ini tidak terlalu tua tapi juga tidak tergolong muda, yah sekitar 27 tahunan. Zea masih kukuh ingin berdiri saja. Ingin sekali dia segera pergi dari hadapan pria itu, Apa lagi tatapannya yang menatapnya dengan aneh, seakan mendambakan.
"Zea ada apa ke ruang guru?" tanya pak Burhan yang menghampiri gadis itu.
"Siang pak Burhan, Zea ingin menanyakan alamat Alvin Pak" sapa Zea menghela nafas merasa lega akan kehadiran pak Burhan.
Pak Burhan mengangguk dengan senyuman. "Pasti mau ngapel ya!" kata pak Burhan membuat senyum Zea mengembang.
Zea kembali mengalihkan pandangannya ke arah wali kelasnya ingin segera menyelesaikan urusannya dengan pria itu. "Permisi pak, jadi alamat rumah Alvin dimana ya pak? Biar saya catat."
"Ohw alamat Alvin ya! ini Ze kamu catat" Reno menyodorkan buku berisi alamat siswa, Zea tak melewatkan kesempatan bergegas mencatat alamat Alvin.
"Terima kasih pak, saya permisi dulu. Pak Burhan saya permisi" pamit Zea ke keduanya, berbalik ingin segera pergi dari hadapan pria itu.
"Eh eh Zea, tunggu sebentar" Panggil Pak Burhan.
Zea menghentikan langkahnya menoleh kearah pak Burhan dan bertanya tanya ada apa gerangan pria itu memanggilnya. Pak Burhan menyuruhnya untuk mengikuti kearah ruang BP yang memang terpisah dari ruang guru.
"Kamu duduk dulu Zea" ucap pak Burhan mencari sesuatu diruangan itu.
Pak Burhan membawa tumpukan dokumen dan menyerahkan beberapa ke Zea. Zea menerima dan menatap dokumen yang merupakan naskah dari film yang akan dilombakan oleh sekolah.
Zea menatap kearah lembar kertas itu dan membacanya. Zea dibuat terkejut ketika namanya tertera disana sebagai pemain utama wanita, namun tak sampai disitu dirinya juga terkejut bahkan sangat ketika dirinya mendapati nama Alvin sebagai tokoh pria pemain utama.
"Pak ini gak salah saya jadi pemeran utama?" tanya Zea menatap kearah pak Burhan.
"Gak Zea itu udah fiks dari penulis naskahnya, semangat ya Zea. Berikan yang terbaik, soalnya hadiahnya gak main main lo ini. Bisa aja ntar kamu ditawari syuting film beneran"
"Ini beneran gak bisa diganti pak?" tanya Zea kembali memohon dengan puppy eye.
__ADS_1
"Gak bisa Ze, Itu simpanan naskah terbaik dari penulis yang merupakan alumni sekolah ini. berhubungan sesuai tema dan pemain, makanya dia memberikan naskah simpanannya ini ke sekolah buat dilombakan" Jelas pak Burhan memberi pengertian.
Zea pasrah mendengar penuturan Pak Burhan, Alasan Zea dipilih menjadi pemeran utama adalah karena mereka percaya Zea adalah murid yang multitalenta. Zea pintar dalam pelajaran, Zea terkadang juga dijadikan model oleh sekolah jika ada event, tak hanya itu Zea juga kerap mengikuti lomba lomba dan hasilnya gadis itu tak pernah mengecewakan. Serta masih banyak lagi pertimbangan yang membuat gadis itu terpilih.
"Oh ya bapak minta tolong berikan juga ke teman teman kamu, sama berikan ini juga ke anak anak nakal itu. Bapak pusing lihat kelakuan mereka, masa tadi bapak dapat laporan kalok mereka mecahin ring basket sekolah. Habis itu mereka langsung tinggal bolos, mentang mentang ikut anggota geng anak pemilik sekolah jadi menyepelekan"
"Kamu juga Zea, tumben gak bolos lagi. Dulu kamu juga sering bolos kan waktu kelas 1. Sekarang kenapa gak bolos lagi? udah ada pacar ya, makanya gak bolos lagi!" ucap pak Burhan sembari menggoda Zea.
"Bukan gitu pak, lagi mode tobat saja saya pak. Terus saya sama Alvin belum pacaran" bantah Zea menjawab dengan malu malu.
"Bukan belum pacar, tapi otw jadi pacar kan Ze" Goda pak Burhan lagi sambil tertawa. Zea memalingkan wajahnya mencoba menyembunyikan semburan di wajahnya yang dapat dipastikan terdapat rona merah akibat gombalan dari pak Burhan.
Pak Burhan mengacak acak rambut murid yang dulunya sering menjadi teman santainya saat gadis itu membolos ataupun telat datang kesekolah.
"Kadang heran saya sama kamu, Asal kamu tau. bapak sering dengerin curhatan anak anak soal pacarnya yang kalok lihat kamu selalu kesemsem. Tapi sekarang kamu sukanya sama yang modelan Alvin gitu"
"Emang Alvin kayak gimana pak?" tanya Zea penasaran. Mengenai sosok Alvin Dimata orang lain.
"Kamu ini pura pura gak tau, ya gitu Ze culun gitu. Bapak aja jarang lihat yang penampilannya kayak Alvin disekolah ini. Ada yang pakek kacamata juga, biasanya mereka cuma berpenampilan rapi gak se culun Alvin gitu" ungkap pak Burhan. Zea membenarkan ucapannya.
Alvin memang berbeda, namun itu yang Zea sukai. Pria yang biasa saja, tidak mengejar kesempurnaan.
"Yaudah pak saya permisi dulu, saya malah keasikan sama bapak disini. Yang ada saya gak jadi istirahat" pamit Zea.
"Jangan lupa berikan itu ke teman dan anak anak nakal itu ya Ze. Yang lainnya nanti bapak berikan sendiri. Besok kalok Alvin masuk kita langsung kumpul sepulang sekolah, kalok gak ya disela sela pembelajaran"
Zea meninggalkan ruangan itu menuju kantin ketempat temannya berada. Zea melangkahkan kakinya cepat.
Zea mencari cari keberadaan kedua orang yang menjadi teman baiknya alias sahabatnya. Zea menemukan keduanya yang sedang asik makan sedang membelakanginya. Ide jahil muncul dibenaknya.
Zea berjalan mengendap endap, dirinya bersiap siap dan..
"Dor" teriak Zea mengaggetkan keduanya.
Icha yang sedang asik makan bakso tersedak begitu pula dengan Keyla yang menyemburkan jus jeruk nya.
"ZEA" Pekik keduanya melihat siapa yang menganggetkan mereka.
"Ze Lo ngagetin tau gak"
"Sabar gue Ze. untung gue gak mati keselek bakso"
keluh keduanya memukul bahu Zea. Zea yang mendapat pelampiasan kesal dari keduanya malah sibuk tertawa terpingkal-pingkal.
"Hehehe sorry!! nih bawa, gue mau pesen dulu" Zea menyerahkan tumpukan naskah yang diberikan pak Burhan kepada keduanya lalu pergi meninggalkan mereka menuju penjual bakso.
Bakso emang makanan terbaik. Zea yang sudah membawa nampan berisi bakso dan jus stroberi kesukaannya menghampiri keduanya.
Zea mulai meracik baksonya dengan saos dan sambal yang ada dimeja. Membiarkan kedua temannya yang masih sibuk membaca naskah.
__ADS_1
"Wih Lo jadi pemeran utama bareng si Alvin Ze. uhuyy pertemuan pertama yang bikin smriwing" kekeh Icha tak dipedulikan Zea. Zea masih sibuk dengan bakso dihadapannya memakannya dengan lahap.
Zea yang sudah menghabiskan bakso yang dia makan mulai meminum jusnya. Puas rasanya jika perut sudah terisi.
"Lo tadi ngomong apa Cha?" tanya Zea kembai selepas mengenyangkan perutnya.
"Gak, gue cuma ngomong soal naskah kok Ze" jawab Ze.
"Selamat Ze udah jadi pemeran utama, si Vara pasti kepanasan lihat lo jadi pemeran utama" Ucap Keyla membayangkan wajah marah Vara.
"Gue sebenernya ogah, tapi kata pak Burhan gak bisa diubah. Terus masalah Vara biarin aja udah males gue berurusan sama dia, bener kata Alvin buat apa nanggepin orang utan" ucap Zea membuat mereka tertawa.
Sebentar lagi bel masuk berbunyi. mereka berjalan kembali ke kelas.
Mereka sampai kekelas tanpa ada gangguan sama sekali bahkan dari Vara dan teman temannya, sepertinya perempuan itu masih belum tau jika Zea yang jadi pemeran utama untuk film kali ini.
Zea dan Icha duduk dibangku masing masing sedangkan Keyla duduk dibangku yang Alvin tempati. mumpung belum bel ngobrol ngobrol dulu mereka.
"Key Cha, nih kalian bawa" ucap Zea menyerahkan naskah pada keduanya.
"Kok Lo kasih ke gue banyak gini Ze?" tanya Icha menatap tumpukan kertas yang diberikan Zea padanya
"Rumah lo kan deket Satya, sekalian Lo serahin ke dia sama sekalian titip buat teman temannya"
"Emangnya gak bisa dikasih disekolah?" tanya Icha.
"Tadi pak Burhan minta tolong kasih itu ke mereka. Kalok lo keberatan gak apa, ntar biar gue dianter bang Arka kasih tuh naskah" terang Zea pada Icha.
"Jangan deh, kasihan lo kalok kerumah gue. Biar gue aja yang kasih"
"Makasih Cha"
"Sama sama"
"Terus itu punya siapa Ze?" sela Keyla yang tadi mendengar percakapan keduanya melihat kearah satu naskah yang tersisa.
Zea menoleh kearah naskah yang ditunjuk Keyla. "Itu punya Alvin, ntar gue antar ke rumah dia" jawab Zea.
"Lo mau kerumah Alvin?" tanya keduanya Zea mengangguk.
"Iya gue mau kesana sekalian jenguk" jawab Zea.
Kring
Bel berbunyi membuat semua murid bubar dan Keyla kembali kebangkunya semula. Mereka berfokus kearah pembelajaran. Sedangkan disela sela pembelajaran Zea berpikir apa yang harus dia bawa untuk menjenguk Alvin dan Apa yang disukai pria itu.
TBC
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1