My Posesif Nerd

My Posesif Nerd
148. Teman senasib


__ADS_3

"Dasar iblis kecil sialan!" Maki sang penjaga setelah sang bos keluar.


BUGH!


Penjaga itu kembali menendang Vini kecil membuatnya kembali meringis. Vini mengepal erat kedua tangannya menatap sang penjaga dengan wajah sinis.


Sang penjaga yang di tatap seperti itu menjadi geram dan murka. Tapi sebelum ia menjadi sangat murka, sang penjaga keluar dari ruangan itu untuk menghubungi dokter seperti perintah sang bos. Ia masih berusaha menahan diri agar tidak semakin kalap.


Sedangkan Vini kecil yang meringkuk, mengerang kesakitan masih berusaha untuk duduk. Ia bukanlah orang yang lemah, ia adalah penerus dari perusahaan besar Immanuel group. Harga dirinya yang tinggi, membuat Vini juga tak mau kalah. Ia tak terima jika dipandang rendah.


Akhirnya setelah berusaha Vini berhasil untuk duduk. Vini menghela nafas panjang, menyandarkan tubuhnya ditembok.


"Tindakan yang bodoh untuk memprofokasi penjaga itu!" tutur bocah lain, dalam sel dan keadaan yang sama dengannya. Sama sama memiliki memar.


"Sebaiknya kau berkaca terlebih dahulu! Kau bahkan lebih parah dariku!" sarkas Vini melirik kearah bocah itu.


"Yang benar saja! Disini tidak ada kaca! Bagaimana mungkin aku bisa bercermin Hihihihi" tutur bocah itu seraya tertawa kecil.


Vini tak membalas. Ia membuang mukanya, menyilang kan tangan. Membuat keduanya saling diam.


"Kenapa kau bisa diincar olehnya?" tanya bocah itu memulai percakapan dibalik kesunyiannya dan Vini.


"Karena aku kaya" jawab Vini singkat dengan polosnya.


"Wow! Emang seberapa kaya dirimu hingga kau bisa sampai di culik?" tanya bocah itu penasaran.


"Immanuel group! Apa kau tau?" jawab Vini sembari bertanya.


"Aku tidak tahu! Aku tidak pernah melihat dunia luar" ujar bocah.


Vini bisa melihat, bagaimana ekspresi bocah itu berubah menjadi sendu.


"Sudah berapa lama kau terkurung disini?" tanya Vini penasaran.


Ia menggeleng, "Aku tidak ingat!" jawabnya.


Bibir Vini terkatup rapat mendengar hal itu. Ia semakin penasaran.


"Apa kau memiliki hubungan dengan penjahat itu?" tanya Vini.


"Aku tak tahu" jawabnya lagi.


"Cih! Kau sungguh tak asik!" seru Alvin merasa jawaban bocah itu tak sesuai dengan apa yang diharapkan.


"Hehehe! Dari pada kau penasaran soal aku, lebih baik ceritakan soal dirimu" tutur bocah itu.

__ADS_1


"Soal diriku? Apa yang ingin kau dengar?" tanya Alvin kembali.


Bocah itu mengernyitkan dahi, menyentuh dagunya sembari berpikir "Em, aha! Bisakah kau cerita tentang kekayaanmu?" tanya bocah itu antusias.


"Kekayaanku? Sure!" jawab Vini.


Vini kemudian bercerita tentang ia yang memiliki rumah besar yang biasa disebut Mansion oleh para pelayannya. Kemudian Vini juga bercerita tentang kondisi rumahnya dimana ia memiliki lapangan yang luas, taman yang besar dengan gazebon didalamnya, kemudian ia juga memiliki helikopter dirumahnya, juga tentunya sebuah lapangan golf besar, tak hanya itu, Vini menceritakan segala fasilitas yang ada dirumahnya dengan antusias.


"Di rumah aku juga punya kamar game yang luas, nanti kalau kita bebas, akan ku ajak kau kesana!" ujar Vini, bocah itu mengangguk dengan mata berbinar dan tersenyum lebar.


"Janji ya?" ujarnya. Vini yang ingin menjawab dibuat terdiam oleh suara dari pintu masuk.


Kriett


Pintu penjara berderit, masuklah dua orang yang merupakan penjaga dan pria berbaju putih kedalam ruangan.


"Mana yang harus diobati?" tanya dokter itu menatap keduanya.


"Dia" tunjuk penjaga pada Vini.


Dokter itu mendekat ke arah Vini yang sedang duduk. Vini menetap keduanya dengan sinis.


"Hei bocah! Jangan mulai! Apa apaan tatapanmu itu, apa kau tidak punya sopan santun! Dia kesini untuk mengobati mu!" ujar sang penjaga kesal merasa diremehkan.


"Kau pikir aku butuh?!" balas Vini semakin sengit membuat penjaga menggertak giginya.


"Huft!" penjaga itu hanya bisa membuang mukanya dan menghela nafas, enggan menatap bocah kurang ajar didepannya itu.


"Biar ku obati lukamu dulu! Baru kau bisa melakukan hal sesukamu pada penjaga itu!" ujar sang dokter membujuk.


Vini membuang mukanya, tanpa sengaja ia melihat kearah teman senasibnya itu.


"Lebih baik kau obati dia dulu! Dia lebih parah dari pada aku" tunjuk Vini pada bocah itu.


Sonta keduanya menoleh kearah bocah yang kini menunduk karena ditatap.


"Dia tak butuh perawatan! Bos kami melarang kami untuk merawat dia!" ujar sang dokter.


Vini melebarkan matanya, ia tercengang oleh hal itu.


"Kalau dia tida diobati, aku juga tidak mau diobati!" tukas Vini dengan suara keras, kembali memberontak.


"Hei bocah!" tutur sang penjaga mengayunkan tangan kembali geram dengan sikap Alvin.


Tapi hal itu berhasil ditahan oleh sang dokter.

__ADS_1


"Anda tenang dulu! Jika ada apa apa dengan dia, kita akan dimarahi bos. Juga, kita akan berurusan dengan keluarga Immanuel jika dia terluka parah" tutur sang dokter membuat penjaga itu tersadar dan menurunkan tangannya yang ingin kembali menghajar Vini.


"Lalu bagaimana? Bocah ini menolak untuk diobati. Lalu jika kita menuruti kemauan bocah ini, kita akan dimarahi oleh bos karena melanggar perintahnya!" tutur sang penjaga.


Dokter itu merenung dan berpikir sejenak sambil melihat kedua bocah didepannya itu dengan wajah dan badan penuh luka. Ia melirik kearah bocah dibelakang yang nampak tak memperhatikan mereka dan bersikap acuh pada keduanya. Ia sedikit merasa iba.


"Kita obati keduanya" putus sang dokter.


"Ha? Anda serius? mau menentang perintah bos?" tanya penjaga itu.


"Selama bos tidak tau itu tidak masalah kan? Lagian yang paling penting adalah merawat bocah dari keturunan Immanuel itu terlebih dahulu, karena dia memiliki nilai yang tinggi! Kalau sampai terjadi sesuatu padanya kita juga yang akan kena amuk, jadi lebih baik kita turuti aja kemauan bocah itu" ujar dokter menyampaikan pendapat.


Penjaga itu tampak berpikir dan merenung, "Baiklah aku setuju! Tapi ini hanya rahasia kita berdua ya dan kalian juga jangan bilang hal ini ke bos karena kalian sendiri nantinya bakal tamat jika ia tahu" ancam sang penjaga pada Vini dan bocah dibelakangnya.


"Baik" Jawa bocah di belakang. Sedangkan Vini hanya bisa acuh pada penjaga itu.


Dokter mendekat kearah bocah di belakang Vini, karena sebelumnya Vini bersekeras ingin temannya itu diobati dulu walau dokter sudah menjanjikan akan mengobati bocah itu. tapi Vini tetap waspada dan bersikeras. Dokter pun menurut.


"Buka bajumu Joe! Biarkan aku mengobati lukamu" ujar sang dokter.


'Ohw jadi namanya Joe!' batin Vini kecil melihat bagaimana Joe diobati.


Joe yang tidak pernah diobati, meringis meratapi luka lukanya yang amat lebam bahkan cukup parah. Dokter sendiri bergidik ngeri melihat bagaimana seluruh luka itu ada di tubuh anak kecil seperti Joe. Juga merasa heran bagaimana Joe bisa bertahan sampai sekarang.


"Hei paman! Apa kau yang melakukan semua ini?!" tanya Vini marah pada sang penjaga.


"Hei, enak saja kau bilang begitu! Walau aku suka memukul, tapi aku tidak pernah menghajarnya sampai seperti itu ya! Asal kau tau!" bantah sang penjaga.


"Tapi kau pernah memukulinya kan?" sentak Vini semakin sengit.


Sang penjaga gelagapan kemudian menunduk seperti orang yang ketahuan, "Ya aku memang pernah memukulinya, tapi tidak separah itu! Selebihnya itu perbuatan bos, makanya kalau ada bos kau yang sopan. Kalau tidak kau bisa dihajar menjadi seperti dia" tukas sang penjaga masih membela diri. Vini diam merenung sembari mencerna akan kata kata penjaga yang seakan menakutinya.


Diusianya yang cukup kecil, Vini terbiasa berpikir kritis dengan menduga duga apa yang terjadi oleh Joe. Apakah Joe itu sama sepertinya? Seorang anak orang kaya dan berakhir di culik seperti? Vini jadi penasaran dan ingin menanyakan lebih jauh tentang Joe.


Tapi hal itu harus terpendam sejenak karena gilirannya pun tiba. Alvin di obati oleh dokter itu, ia sedikit meringis berusaha menahan agar tidak diremehkan oleh penjaga didepannya itu. Hingga pengobatan selesai.


"Pengobatannya selesai! Kalau gitu saya pergi dulu!" tutur sang dokter bangkit.


"Biar saya antar!" ujar sang penjaga, diangguki oleh sang dokter.


Keduanya berjalan meninggalkan ruangan itu, membiarkan kedua anak kecil itu menikmati suasana sunyi dalam penjara.


Apalagi ketika penjaga itu hendak keluar, dengan sengaja ia mematika lampu dan membuat sekeliling kedua bocah itu menjadi gelap. Vini dapat melihat senyuman smirk yang di sematkan penjaga itu sebelum keluar.


"Bajingan sialan!" umpat Vini mengepalkan tangan.

__ADS_1


TBC


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2